NovelToon NovelToon
BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM

BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:646
Nilai: 5
Nama Author: Imron Tohari

Maya Kirana, perancang busana berjiwa halus, berselisih dengan Rendra, konsultan teknis yang dingin dan kaku di ajang Indonesian Fashion Week. Sentuhan tak sengaja pada relief candi kuno melempar kesadaran mereka ke masa lalu, mengungkap takdir reinkarnasi sebagai sepasang kekasih kerajaan, Raden Jayendra dan Putri Kirana.

Saat persaingan memanas, studio Maya disabotase dan lisensinya dibekukan akibat fitnah plagiarisme dari rival mereka, Victor dan Clarissa. Di tengah krisis, Maya dan Rendra bersatu memadukan kelembutan sutra dengan kriya logam presisi. Didukung Rian, kakak Maya, mereka menggelar uji materi terbuka untuk membersihkan nama baik.

Jelang panggung Grand Final, Rendra mengorbankan material karya rahasianya dan mengundurkan diri sebagai desainer misterius berinisial REN demi menyelamatkan gaun Maya sekaligus menjebak Victor ke jalur hukum. Mahakarya kolaborasi sutra dan logam tersebut akhirnya meraih Juara Utama IFW, menyatukan kembali cinta serta takdir masa lalu Maya dan Rendra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imron Tohari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM BAB 12

BAB 12

Pendar cahaya keemasan dari Sanggar Kerajinan logam di Keraton tidak meredup. Tapi di luar bangsal, gedoran pintu kayu bergema keras bersama teriakan garang para prajurit.

"Dobrak pintunya! Patih Mahisa telah memberi perintah mutlak untuk menghabisi Raden Jayendra dan Putri Kirana!" amuk suara Ki Tumenggung Reksa dari luar, diselingi dentang beradunya bilah pedang yang dihunus dari sarungnya.

Rendra—dalam raga Raden Jayendra—segera bergerak pasang badan di depan Maya. Tangannya menggenggam erat perisai dada berbalut kain sutra emas yang baru saja selesai mereka satukan. Seiring memori raga Raden Jayendra yang kian menyatu utuh dengan kesadaran analitisnya sebagai Rendra, ia kini memahami secara utuh posisi politis rentan yang disandangnya.

Ia adalah pangeran dari takhtaan wilayah utara yang telah ditundukkan oleh kedaton ini. Pengabdiannya sebagai empu kriya dan ahli tempa logam di istana sejatinya merupakan jaminan tak tertulis atas kesetiaan negerinya. Kedudukannya yang terasing dan tanpa faksi pelindung menjadikannya sasaran paling mudah bagi Mahapatih Mahisa untuk dijadikan kambing hitam atas segala kekacauan politis.

Sementara Maya—dalam raga Putri Kirana—memiliki posisi yang berseberangan sekaligus saling terkait. Sebagai putri tunggal dari selir kesayangan Sang Raja, Putri Kirana memegang tempat tersendiri di hati penguasa kedaton, membuat kedudukannya sangat diperhitungkan oleh para bangsawan Senior. Hubungan dekatnya dengan pangeran tawanan seperti Raden Jayendra dipandang sebagai ancaman serius bagi dominasi Mahapatih Mahisa, sekaligus alat manipulasi yang sangat sempurna untuk menjatuhkan moral Sang Raja.

"Patih Mahisa ingin menggulingkan Ayahanda Raja untuk merebut takhta utuh sebelum fajar terbit," bisik Putri Kirana cepat. Matanya yang tajam menatap pintalan pintu sanggar yang mulai retak dan menyerpih akibat hantaman balok kayu dari luar.

"Dia sengaja memutarbalikkan kenyataan," timpal Raden Jayendra dengan nada dingin terkontrol, matanya meneliti sudut-sudut ruangan untuk mencari celah evakuasi.

"Dia menuduh busana zirah-tenun ini sebagai media sihir untuk melumpuhkan Raja. Dengan begitu, saat Raja tewas di tangannya malam ini, seluruh tuduhan makar dan pembunuhan akan ditimpakan sepenuhnya pada kita."

"Dan dia berniat membantai kita di sanggarini agar kita tidak pernah mendapat kesempatan membela diri di hadapan Sang Raja," sergap Putri Kirana, merapatkan tubuhnya di balik punggung lebar Raden Jayendra.

"Tetapi Patih Mahisa terlalu menyombongkan pengaruhnya," bisik Raden Jayendra seraya menyampirkan perisai zirah-tenun sakral itu ke dadanya, mengikatnya kuat dengan tali kulit tempaan.

"Dia lupa... tidak semua prajurit dan perwira di kedaton ini bisa dibeli dengan janji manis dan kepingan emasnya."

BRAAK!

Pintu kayu sanggar kerajinan hancur berkeping-keping. Serpihan kayu jati terlempar ke udara bersamaan dengan masuknya Ki Tumenggung Reksa yang memimpin belasan prajurit berpedang terhunus. Asap tempaan membubung tinggi disiram angin malam yang masuk mendadak.

"Habisi mereka berdua! Jangan sisakan napas untuk pengkhianat!" perintah Tumenggung Reksa penuh nada kebencian.

Namun, sebelum mata pedang pertama sempat terayun menembus asap, Raden Jayendra sudah menerjang maju lebih dulu. Ia menyambar tangkai besi penyepuh berujung membara yang baru saja diangkat dari tungku pembakaran. Dengan satu putaran lengan yang presisi dan bertenaga, ia mengibaskan besi membara itu melingkar di udara.

Percikan api keemasan menyambar ke segala arah, menciptakan barikade pendar panas yang membakar ujung jubah para prajurit terdepan. Jeritan kaget dan kekacauan seketika membuyarkan formasi serangan mereka.

"Lewat lorong belakang, Putri Kirana! Cepat!" seru Raden Jayendra tanpa berpaling, matanya terkunci pada gerakan Tumenggung Reksa.

Putri Kirana bergerak lincah tanpa ragu. Ia merangsut maju, menyibak tirai kain tenun tebal yang menyembunyikan pintu rahasia menuju lorong belakang sanggar. Sambil memeluk erat zirah tenun sakral di dadanya, Putri Kirana dan Raden Jayendra menerobos kegelapan lorong sempit kedaton, memacu langkah menembus malam menuju pelataran dalam.

DENTANG! DENTANG!

Gema pukulan gong perunggu tanda bahaya mengudara di kejauhan, bergema dari arah Alun-alun Kedaton. Langkah kaki Raden Jayendra dan Putri Kirana mendadak terhenti secara paksa begitu mereka keluar dari lorong sempit dan menjejakkan kaki di lantai batu pelataran tengah yang dinaungi pilar-pilar kayu jati.

Di hadapan mereka, berdiri sepasukan prajurit bersenjata tombak panjang yang berjejer rapat dalam barisan tempur. Di barisan paling depan, berdiri sosok tegap Senopati Wira—perwira garis depan berwatak keras yang kedudukan militernya tepat satu tingkat di bawah Patih Mahisa.

"Kalian tidak bisa lari lebih jauh lagi, Raden Jayendra!" seru Senopati Wira menggelegar seraya melangkah dua pijakan ke depan. Matanya yang tajam menatap penuh kecurigaan pada perisai emas-perunggu yang terikat rapat di dada Jayendra.

"Senopati Wira, dengarkan aku!" potong Putri Kirana tegas. Ia memajukan langkahnya, berdiri di hadapan mata tombak tanpa menyisakan rasa gentar sedikit pun. Wibawa darah bangsawan dan keberanian intuitifnya memancar kuat melalui tatapan matanya.

"Kau adalah perwira kehormatan yang telah mengikrarkan sumpah setia di atas prasasti kerajaan untuk membela Ayahanda Raja, bukan untuk menjadi hamba dari ambisi pribadi Patih Mahisa! Malam ini, Patih Mahisa sedang menyusupkan racun ke dalam cawan pengantin kerajaan dan berniat melakukan kudeta berdarah di Balairung Utama!"

Senopati Wira mengerutkan keningnya, matanya bergerak menyapu raut wajah Putri Kirana yang penuh kesungguhan. Ada keraguan yang mulai mengikis ketegangannya.

"Patih Mahisa memberikan laporan resmi bahwa kalian berdua menyatukan ilmu sihir dan kriya terlarang untuk melumpuhkan daya tahan Sang Raja—"

"Bohong!" sergah Raden Jayendra cepat, melangkah maju menyatukan barisan bersisian dengan Putri Kirana.

"Buka matamu dan lihat karya ini secara langsung, Senopati!" Raden Jayendra mengetuk permukaan lempengan perunggu berbalut sutra di dadanya. "Ini adalah zirah perisai dada—perpaduan sempurna antara kekuatan kerajinan logam dan kelembutan tenun sakral. Kami menempa karya ini malam demi malam bukan untuk makar, melainkan untuk melindungi dada Sang Raja dari ancaman panah beracun musuh! Jika kau masih meragukan kataku, tanyakan langsung pada Tumenggung Reksa yang mengejar kami dari belakang!"

TAP! TAP! TAP!

Gema langkah kaki yang tergesa-gesa memecah ketegangan pelataran batu. Tumenggung Reksa muncul dari balik lorong bersama lima prajuritnya dengan keris terhunus dan napas memburu.

"Senopati Wira! Kenapa kau justru bermalas-malasan dan bersilat lidah dengan mereka?!" teriak Tumenggung Reksa penuh amarah, tidak menyadari udara dingin yang telah melingkupi pasukan di depannya.

"Bantai mereka berdua sekarang juga! Patih Mahisa telah menyiapkan tiga ratus keping emas dan posisi adipati untukmu begitu takhta berganti sebelum fajar ini!"

Suasana pelataran mendadak hening seketika. Perkataan spontan yang keluar dari mulut Tumenggung Reksa runtuh seperti lolongan pengakuan di tengah malam. Reksa baru menyadari kekeliruan fatalnya saat melihat raut wajah Senopati Wira berubah sangat dingin dan berbahaya.

"Tiga ratus keping emas dan janji posisi... untuk mengganti takhta junjungan kita malam ini, Tumenggung?" bisik Senopati Wira dengan suara berat yang menggetarkan udara.

Sadar dirinya telah tergelincir kata dan membocorkan konspirasi rahasia tersebut, wajah Tumenggung Reksa berubah pucat pasi bagai mayat. Ia menyetapak mundur, mencoba berbalik lari kembali ke lorong, namun Senopati Wira memberikan isyarat tangan yang sangat cepat.

"Ringkus Tumenggung Reksa dan seluruh anak buahnya!" perintah Senopati Wira menggelegar, memotong seluruh celah melarikan diri.

Dalam hitungan detik, belasan prajurit tombak di bawah komando Senopati Wira bergerak mengepung, merobohkan, dan melucuti senjata Ki Tumenggung Reksa beserta para pengawalnya tanpa ampun. Senopati Wira melangkah mendekat ke arah Reksa yang tersungkur di atas lantai batu, lalu dengan kasar merenggut kantong kain tebal dari balik jubah sang tumenggung.

Begitu tali ikatannya direnggut putus, berhamburan kepingan emas berukir lambang asing dan gulungan surat perjanjian rahasia yang terstempel cap lilin pribadi milik Patih Mahisa.

Senopati Wira memungut gulungan surat itu, membacanya sekejap, lalu mendongak menatap Raden Jayendra dan Putri Kirana dengan tatapan penuh penyesalan sekaligus penghormatan.

Dengan tergesa-gesa Senopati Wira mengiringi Raden Jayendra dan Putri Kirana ke Balairung Utama sebelum Patih Mahisa melangkah lebih jauh pada agenda besar pengkhianatannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!