NovelToon NovelToon
PENYESALAN YANG DATANG TERLAMBAT

PENYESALAN YANG DATANG TERLAMBAT

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Rumah Tangga / Selingkuh / Tamat
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Alya menjalani pernikahan perjodohan dengan Arga, pria kaya yang tidak pernah benar-benar menerimanya sebagai istri. Saat Alya berusaha mempertahankan rumah tangga mereka, Arga justru masih menjalin hubungan dengan kekasih lamanya dan mengabaikan kesetiaan istrinya.
Diam-diam, Alya menahan penyakit parah dan luka hati yang semakin dalam. Hingga suatu hari, ia memilih pergi tanpa meminta apa pun lagi.
Arga mengira Alya akan kembali. Namun ketika hari berganti dan rumah terasa semakin sunyi, ia mulai menyadari bahwa perempuan yang selalu ia abaikan adalah satu-satunya orang yang tulus mencintainya. Saat Alya akhirnya ditemukan dalam keadaan kritis, penyesalan Arga telah datang terlalu terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pintu ICU yang Tidak Pernah Tenang

Pagi di ruang perawatan intensif tidak pernah terasa seperti pagi.

Tidak ada sinar matahari yang hangat masuk melalui jendela. Tidak ada suara burung atau deru kendaraan yang biasa membuat dunia terasa tetap bergerak. Yang ada hanya cahaya lampu putih, bunyi monitor yang teratur, dan langkah perawat yang datang pergi tanpa henti.

Arga masih duduk di kursi di samping ranjang Alya.

Tubuhnya terasa kaku karena tidak tidur. Matanya panas. Namun ia tidak berani memejamkan mata terlalu lama. Setiap kali ia melakukannya, ia teringat wajah Alya yang sesak napas semalam.

“Alya,” bisiknya.

Perempuan itu membuka mata perlahan.

“Mas belum tidur?” tanyanya, suaranya sangat lemah.

“Sudah sedikit.”

“Bohong.”

Arga tersenyum tipis. “Kamu juga belum tidur nyenyak.”

“Aku sakit.”

“Kamu tidak perlu mengingatkan aku.”

Alya menatapnya lemah. “Kalau Mas nggak tidur, nanti Mas sakit.”

“Kalau aku tidur, aku takut kamu panggil dan aku tidak dengar.”

Alya terdiam.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi membuat matanya kembali panas.

Dulu, ia sering berharap Arga akan khawatir seperti itu. Ia berharap suaminya bertanya apakah ia sudah makan, apakah ia baik-baik saja, apakah ia butuh ditemani. Namun harapan itu selalu berakhir dengan Arga yang pulang larut, pergi lebih dulu, atau memilih Keisya.

Sekarang Arga ada.

Tetapi Alya tidak yakin apakah kehadiran itu akan bertahan.

“Mas,” panggilnya.

“Iya?”

“Kalau aku membaik, Mas masih akan seperti ini?”

Arga menatapnya.

Pertanyaan itu terlalu jujur.

Terlalu menakutkan.

“Aku akan berusaha,” jawabnya.

Alya menghela napas pelan. “Mas selalu bilang berusaha.”

“Aku tahu.”

“Lalu apa yang berubah?”

Arga menunduk.

Ia tidak punya jawaban yang sempurna. Ia tidak bisa menghapus tiga tahun kesepian Alya hanya dengan mengatakan bahwa ia akan berusaha. Ia tidak bisa membuat perempuan itu percaya hanya karena ia kini duduk di samping ranjangnya.

“Aku tidak tahu bagaimana membuat kamu percaya,” kata Arga jujur. “Tapi aku tidak mau pergi.”

Alya menatapnya.

“Mas pernah bilang begitu.”

“Dan aku gagal.”

“Ya.”

“Maka kali ini aku tidak akan berjanji dengan kata-kata saja.”

Alya memejamkan mata.

“Mas selalu bilang begitu juga.”

Arga terdiam.

Ia tahu Alya benar.

Kata-kata sudah terlalu sering ia gunakan. Kata-kata menjadi tempat pelarian ketika ia tidak ingin bertanggung jawab. Kata-kata menjadi cara termudah untuk membuat Alya diam, untuk membuat perempuan itu berharap, lalu meninggalkannya lagi ketika kenyataan datang.

Arga menggenggam tangan Alya.

“Kalau begitu,” katanya pelan, “jangan percaya kata-kataku dulu.”

Alya membuka mata.

“Lalu aku harus percaya apa?”

“Percaya apa yang aku lakukan setelah ini.”

Alya menatapnya lama.

Lalu ia mengangguk kecil.

“Baik.”

***

Pukul delapan pagi, dokter datang bersama dua perawat.

“Selamat pagi,” sapa dokter itu. “Bagaimana kondisi Ibu Alya semalam?”

“Masih sesak sesekali,” jawab Arga. “Tapi tidak separah semalam.”

Dokter memeriksa layar monitor, lalu menatap Alya. “Saturasi oksigen Ibu sedikit membaik. Tekanan darah juga lebih stabil. Namun angka darah Ibu belum menunjukkan perbaikan yang memadai.”

Alya mengangguk lemah.

“Apakah saya harus transfusi lagi?” tanyanya.

“Belum. Kami akan menunggu hasil laboratorium terbaru. Jika trombosit dan hemoglobin Ibu turun lagi, kami akan menindaklanjuti.”

“Berapa lama lagi saya harus di sini?” tanya Alya.

Dokter menatapnya dengan simpati. “Saya tidak bisa memastikan. Yang penting, Ibu Alya jangan memaksakan diri. Tubuh Ibu sedang berjuang.”

Alya menunduk.

Tubuhnya sedang berjuang.

Kalimat itu terdengar asing, tetapi juga menyakitkan. Selama ini ia mengira dirinya yang harus terus berjuang—bertahan dalam pernikahan, menahan sakit, menyembunyikan kesedihan. Ternyata tubuhnya juga sudah lama berjuang tanpa ia sadari.

Arga memperhatikan wajah Alya.

“Dok,” katanya, “apakah Alya boleh makan?”

“Boleh, asalkan porsi kecil dan makanan yang lunak. Jangan dipaksa.”

“Baik.”

Setelah dokter pergi, Arga mengambil ponselnya.

Ia membuka pesan kepada Mbok Sari.

**Arga:** *Mbok, tolong siapkan bubur ayam tanpa bumbu yang terlalu kuat. Kirim ke rumah sakit. Alya perlu makan sedikit.*

Balasan Mbok Sari datang segera.

**Mbok Sari:** *Baik, Tuan. Mbok buatkan sekarang. Tolong jaga Non Alya.*

Arga menatap pesan itu.

*Jaga Non Alya.*

Kalimat sederhana yang terasa seperti teguran.

Ia memasukkan ponselnya ke saku.

“Nanti Mbok Sari kirim bubur,” katanya.

Alya menatapnya. “Mas yang suruh?”

“Iya.”

“Kenapa Mas yang suruh?”

“Karena kamu perlu makan.”

“Aku bisa minta perawat.”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa?”

Arga menatap Alya.

“Karena aku ingin melakukan sesuatu untuk kamu.”

Alya terdiam.

Ada kelembutan dalam kalimat itu yang membuat dadanya sesak. Namun ia tidak ingin terlalu cepat terharu.

“Mas nggak perlu membuktikan apa-apa sekarang,” katanya pelan.

“Aku tahu.”

“Mas cukup jangan pergi.”

Arga menggenggam tangannya.

“Tidak akan.”

***

Menjelang siang, Mbok Sari datang membawa wadah bubur hangat.

Ia melihat Alya di ranjang ICU dengan mata berkaca-kaca. Perempuan tua itu segera mendekat dan menggenggam tangan Alya.

“Non Alya…” bisiknya. “Kenapa Non sampai begini?”

Alya tersenyum lemah. “Aku baik-baik saja, Mbok.”

“Jangan bohong.” Suara Mbok Sari bergetar. “Non selalu bilang baik-baik saja. Padahal Non sudah sakit lama.”

Alya menunduk.

Mbok Sari membuka wadah bubur. Aromanya hangat dan lembut. Ia menyendok bubur itu perlahan.

“Coba makan sedikit,” katanya.

Alya menggeleng. “Nanti mual.”

“Sedikit saja. Biar tenaga Non kembali.”

Arga duduk di sisi ranjang. Ia tidak mengambil alih sendok dari Mbok Sari. Ia hanya duduk diam, memperhatikan Alya yang akhirnya membuka mulut untuk beberapa suapan kecil.

“Enak?” tanya Mbok Sari.

Alya mengangguk. “Enak.”

“Alhamdulillah.”

Setelah Alya makan beberapa sendok, Mbok Sari menutup wadah itu.

“Non istirahat,” katanya. “Mbok pulang dulu. Nanti Mbok datang lagi.”

Alya menggenggam tangan perempuan tua itu. “Terima kasih, Mbok.”

Mbok Sari menatap Alya dengan sayu. “Non jangan bilang terima kasih. Non istirahat yang banyak.”

Setelah Mbok Sari pergi, kamar kembali sunyi.

Alya menatap Arga.

“Mas tadi bilang Mbok Sari kirim bubur,” katanya.

“Iya.”

“Tapi Mbok Sari datang sendiri.”

Arga mengangguk. “Ia bilang ingin melihat kamu.”

Alya tersenyum tipis.

“Mbok Sari sayang aku.”

“Iya.”

“Mas juga?”

Pertanyaan itu membuat Arga terdiam.

Alya segera menyesal. “Lupakan. Aku nggak seharusnya tanya.”

“Tidak.” Arga menatapnya. “Jangan lupakan.”

Alya menatap suaminya.

“Mas sayang aku?”

Arga menarik napas panjang.

Ia ingin menjawab ya.

Ia ingin berkata bahwa ia menyayangi Alya.

Namun ia tahu, kata sayang terlalu mudah diucapkan ketika seseorang sedang sakit. Ia tidak ingin Alya mendengar kata itu lalu kemudian merasa dikhianati lagi ketika kenyataan tidak sesuai.

“Aku tidak tahu bagaimana menyebut perasaanku,” jawab Arga jujur. “Tapi aku tahu aku tidak ingin kehilangan kamu.”

Alya menatapnya.

“Kalau aku sembuh, Mas masih akan tinggal?”

“Ya.”

“Kalau aku tidak sembuh?”

Arga mengatupkan rahang.

“Jangan bicara begitu.”

“Jawab, Mas.”

Arga menatap Alya lama.

“Kalau kamu tidak sembuh,” katanya pelan, “aku tetap di sini.”

Alya menutup mata.

Air mata jatuh dari sudut matanya.

Arga menghapusnya dengan ibu jarinya. Sentuhan itu lembut, hati-hati, seolah ia takut membuat Alya semakin sakit.

“Aku minta maaf,” bisiknya.

Alya tidak menjawab.

Namun ia tidak menarik tangannya dari genggaman Arga.

***

Sore hari, Keisya datang ke rumah sakit.

Arga mendapat pesan dari perawat di meja informasi bahwa ada perempuan bernama Keisya Anindita yang menanyakan keberadaannya.

Arga langsung keluar dari ruangan ICU.

Di lobi lantai perawatan intensif, Keisya berdiri dekat jendela dengan tas kerja di tangannya. Ia mengenakan blouse hitam dan rok panjang. Wajahnya tampak lelah, tetapi tatapannya tetap tajam ketika melihat Arga mendekat.

“Kamu benar-benar tidak mau ketemu aku?” tanya Keisya.

“Aku sedang menemani Alya.”

“Dan aku menunggu kamu sejak pagi.”

“Maaf.”

Keisya tertawa kecil tanpa humor. “Kamu mulai sering minta maaf.”

“Karena aku memang banyak salah.”

“Kepada siapa?” Keisya menatapnya tajam. “Kepada Alya atau kepadaku?”

Arga tidak segera menjawab.

“Kepada kalian berdua,” jawabnya akhirnya.

Keisya menatapnya lama.

“Kalau begitu, selesaikan,” katanya. “Jangan buat aku menunggu seperti Alya menunggu kamu.”

Kalimat itu menghantam Arga.

Ia menatap Keisya. “Aku akan bicara denganmu. Tapi tidak hari ini.”

“Kapan?”

“Setelah Alya stabil.”

Keisya mengangguk pelan. “Baik. Tapi jangan terlalu lama.”

Ia melangkah mendekat, lalu berhenti beberapa langkah dari Arga.

“Arga,” katanya pelan. “Aku tidak ingin menjadi alasan kamu meninggalkan istrimu saat dia sakit. Tapi aku juga tidak ingin menjadi alasan kamu terus berpura-pura bahwa kamu tidak punya pilihan.”

Arga menatapnya.

“Kamu harus memilih,” lanjut Keisya. “Bukan karena Alya sakit. Bukan karena aku menangis. Tapi karena kamu benar-benar tahu siapa yang ingin kamu pertahankan.”

Setelah itu, Keisya pergi.

Arga tetap berdiri di lobi.

Kalimat Keisya terus berputar di kepalanya.

*Kamu harus memilih.*

Ia menatap arah lift yang membawa Keisya pergi.

Lalu ia menoleh ke arah ruang ICU tempat Alya berbaring.

Dua perempuan.

Dua hati yang telah ia sakiti.

Dua harapan yang selama ini ia biarkan menggantung tanpa kepastian.

Arga menarik napas panjang.

Lalu ia kembali masuk ke ruang ICU.

Alya terbangun ketika mendengar pintu terbuka.

“Siapa yang datang?” tanyanya lemah.

Arga duduk di sisi ranjang.

“Keisya.”

Alya menatapnya.

“Mas ketemu dia?”

“Iya.”

“Dia minta apa?”

Arga menatap Alya. “Dia minta aku memilih.”

Alya terdiam.

Lalu ia tersenyum tipis. “Mas sudah jawab?”

“Belum.”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak ingin menjawab hanya karena kamu sakit.”

Alya menutup mata.

“Bagus,” bisiknya. “Setidaknya Mas jujur.”

Arga menggenggam tangannya.

“Tapi aku akan menjawab,” lanjutnya. “Dan aku akan menjawab dengan benar.”

Alya tidak membuka mata.

Namun jemarinya bergerak lemah di dalam genggaman Arga.

Malam itu, di ruang ICU yang sunyi, Arga duduk di samping Alya sampai larut.

Ia tidak tahu apa yang akan terjadi besok.

Ia tidak tahu apakah Alya akan sembuh.

Ia tidak tahu apakah Keisya akan memaafkannya.

Ia hanya tahu satu hal.

Ia tidak boleh lagi membuat pilihan hanya karena takut.

Karena kali ini, hidup Alya sedang bergantung pada tubuhnya yang perlahan melemah.

Dan hati Alya sudah terlalu lama menunggu untuk dipilih.

1
Inarrr Ulfah
semgat alaya
Nuna_Pena: hehe.. makasi cayank sudah mampir..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!