NovelToon NovelToon
Terjebak Pesona Sahabat Ayahku

Terjebak Pesona Sahabat Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Sugar daddy
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: A.J Lim

​"Bagi dunia, aku anak dari sahabatnya. Bagi hatiku, dia pria yang harus kumiliki."
​Aluna (20 tahun) menyembunyikan cinta rahasia pada Marko Janitra (45 tahun), sahabat karib ayahnya sekaligus CEO dingin Janitra Group. Demi mendekat, Aluna nekat magang di kantor Marko.
​Marko membentengi diri rapat-rapat demi etika dan persahabatan. Namun di antara perbedaan usia 25 tahun dan godaan manis sang anak sahabat, sanggupkah benteng dingin sang CEO bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.J Lim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: Janji di Bawah Cahaya Bintang

Di kantin kampus yang cukup lengang, Rania tak sanggup menyembunyikan rona bahagia di wajahnya. Dengan mata berbinar-binar, ia menceritakan seluruh kejadian mengejutkan kemarin malam kepada Luna—mulai dari kehadiran orang tua Kenan di rumahnya, rahasia perjodohan sejak SMA, hingga momen romantis saat Kenan memintanya menjadi pacar.

"Gue beneran gak nyangka, Lun..." bisik Rania seraya menangkup kedua pipinya yang memerah. "Ternyata jalan gue sama Kenan dipermudah banget sama orang tua kita."

Luna tersenyum lebar, memeluk lengan sahabatnya itu erat-erat. "Gue seneng banget dengernya, Ran! Akhirnya impian lu terkabul juga!"

Namun, begitu pelukan terlepas, senyum di bibir Luna perlahan memudar. Ada guratan tipis rasa sedih dan iri yang menyelinap halus di matanya. Ia membayangkan betapa bahagianya Rania dan Kenan yang bisa merayakan cinta mereka secara terbuka dan direstui penuh oleh kedua keluarga. Berbeda jauh dengan hubungannya bersama Marko yang harus disembunyikan rapat-rapat di balik bayang-bayang status backstreet.

Kenan yang baru saja datang membawa tiga kaleng minuman dingin langsung menangkap perubahan raut wajah Luna. Pemuda itu meletakkan kaleng di meja lalu merangkul pundak Rania santai.

"Kenapa mukanya dilipat gitu, Lun?" goda Kenan terkekeh pelan. "Iri ya liat kita udah resmi dan dapet restu penuh?"

"Ih, paan sih Ken!" celetuk Luna menepis pelan tangan Kenan.

"Santai aja, Lun," timpal Kenan dengan nada lebih lembut dan tulus. "Gue yakin Pak Marko pasti lagi nyari momen yang paling tepat buat bicara sama Om Ardi. Pria sekelas Pak Marko gak bakal main-main kok sama komitmennya. Lu cuma perlu sabar sedikit lagi."

Rania menggenggam jemari Luna, mengangguk mantap. "Bener kata Kenan, Lun. Semua bakal indah pada waktunya."

Perkataan dua sahabatnya itu sedikit banyak berhasil menghangatkan dada Luna yang sempat redup.

Sore harinya, sesuai janji yang diucapkan, SUV hitam milik Marko sudah terparkir rapi di bawah rindangnya pohon depan gerbang kampus. Begitu kuliah usai, Luna langsung berlari kecil dan menyelinap masuk ke pintu penumpang depan.

Pria matang dengan kemeja abu-abu yang digulung hingga siku itu menyambutnya dengan senyum hangat, mendaratkan kecupan lembut di dahi Luna sebelum melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota.

Di dalam mobil, Luna menceritakan banyak hal dengan penuh antusias—termasuk kabar perjodohan Rania dan Kenan yang sudah resmi berpacaran.

"Seneng deh liat mereka, Om," ujar Luna memutar tubuhnya menghadap Marko. "Gak perlu sembunyi-sembunyi, gak perlu takut ketahuan siapa-siapa."

Marko yang fokus menyetir seketika hening. Ia menangkap nada kerinduan yang teramat dalam dari suara kekasih kecilnya itu. Marko memindahkan tangan kirinya, menggenggam erat jemari Luna di atas tuas transmisi.

"Maafkan saya ya, Aluna..." tutur Marko lembut dengan nada penuh penyesalan tulus. "Saya tahu kamu capek harus sembunyi-sembunyi begini. Tapi percaya sama saya, saya sedang mencari waktu yang benar-benar pas untuk ngobrol empat mata sama Papa dan Mama kamu."

Luna menatap wajah samping Marko, lalu tersenyum manis seraya menggeleng. "Nggak apa-apa, Om. Aku ngerti kok. Aku bakal tunggu sampai Om siap."

Malam itu, Marko membawa Luna ke sebuah restoran atap gedung (rooftop) yang bernuansa sangat romantis. Cahaya lilin kecil dan kerlap-kerlip lampu kota Jakarta menjadi latar belakang makan malam mereka.

Saat hidangan penutup disajikan, Marko merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam kecil.

"Buat kamu," bisik Marko mendorong kotak itu ke hadapan Luna.

Mata Luna membelalak gembira. Saat dibuka, sebuah kalung emas putih dengan liontin permata berbentuk hati kecil yang teramat anggun berkilau di bawah temaram lampu.

"Om Marko... ini cantik banget!" seru Luna berbinar.

Marko tersenyum hangat, bangkit dari kursinya lalu berdiri di belakang Luna. Dengan jemarinya yang kokoh namun lembut, Marko memakaikan kalung indah itu di leher jenjang Luna yang mulus. Sapuan hangat jemari Marko di kulit lehernya membuat bulu kuduk Luna merinding manis.

"Makasih ya, Om," bisik Luna menyentuh liontin di dadanya begitu Marko kembali duduk.

Obrolan mereka malam itu mengalir begitu indah dan tanpa sekat. Berbagai cerita masa lalu saling bertukar hangat, hingga Marko menanyakan satu hal yang selama ini mengusik rasa penasarannya.

"Aluna... jujur saya penasaran," panggil Marko menatap dalam manik mata Luna. "Kenapa kamu bisa suka sama pria yang jauh lebih tua seperti saya? Sejak kapan sebenarnya?"

Luna tersenyum tipis, menatap Marko tanpa ada yang ditutupi sedikit pun. "Sejak umur sepuluh atau dua belas tahun, Om. Dulu pas Papa bangkrut dan terpuruk banget, cuma Om Marko yang berdiri paling depan membela Papa. Om yang rangkul Papa, Om yang bantu Papa bangkit lagi sampai punya Janitra Group. Di mata aku waktu kecil, Om Marko itu sosok yang luar biasa gagah, tulus, dan bertanggung jawab. Rasa kagum itu tumbuh jadi rasa cinta sampai aku dewasa."

Marko terpaku mendengarnya. Dadanya bergemuruh hebat oleh rasa haru dan bangga yang membuncah. Gadis di hadapannya ini telah menyimpan rasa kepadanya selama belasan tahun tanpa pernah berpaling sedikit pun.

"Terima kasih sudah menjaga perasaan itu untuk saya, Aluna," janji Marko dengan keteguhan penuh di matanya. "Saya janji, secepatnya saya sendiri yang akan bicara jujur ke Ardi dan Sinta."

Perjalanan pulang menuju rumah keluarga Raharja terasa sangat singkat bagi dua insan yang sedang diliputi gairah cinta. Di dalam mobil yang berhenti di area jalanan perumahan yang agak sepi dan remang, Luna mendadak memutar tubuhnya.

Tanpa peringatan, Luna mendadak mendaratkan ciuman manis di bibir Marko!

Marko tersentak kaget, namun kehangatan bibir Luna dan aroma manis tubuhnya seketika meruntuhkan pertahanan dirinya. Marko merangkul pinggang Luna, menariknya mendekat dan membalas ciuman itu dengan lumatan penuh hasrat yang teramat dalam dan panas.

Di tengah ciuman yang makin membara itu, gesekan tubuh mereka membuat gejolak gairah pria dewasa dalam diri Marko mendadak tersulut hebat. Reaksi alami tubuhnya tak lagi bisa disembunyikan.

Luna yang menyadari reaksi tubuh Marko mendadak menghentikan ciumannya. Bukannya takut, Luna justru menyunggingkan senyum nakal yang menggoda, menatap mata Marko yang memburu penuh napas terengah.

"Om..." bisik Luna dengan suara serak menantang, menyentuh dada bidang Marko. "Kalau Om mau... aku siap kok menyerahkan semuanya malam ini. Aku udah milik Om."

Marko membelalak kaget. Jantungnya berdegup liar seperti mau meledak. Pertarungan hebat antara nafsu lelaki dewasa dan akal sehat moral seketika berkecamuk di dalam otaknya.

Dengan perlahan namun pasti, Marko memegang kedua bahu Luna, mendorong tubuh gadis itu mundur dengan lembut untuk menetralisir jarak. Pria matang itu menarik napas panjang, mengusap wajahnya yang memerah panas.

"Jangan pernah bicara seperti itu lagi, Aluna," tutur Marko dengan suara berat penuh penekanan namun teramat penuh kasih sayang. "Kamu itu terlalu berharga untuk saya rusak. Saya sangat mencintai kamu... dan saya baru akan mengambil milik kamu sepenuhnya setelah kita resmi dan sah menjadi suami istri."

Mendengar penuturan jujur dan penghormatan setinggi itu dari pria yang dicintainya, air mata haru seketika menetes di pipi Luna. Ia merengkuh leher Marko erat-erat, merasa teramat beruntung dicintai oleh pria sejati seperti Marko.

Pukul sepuluh malam, mobil Marko berhenti tepat di depan gerbang rumah keluarga Raharja. Marko turun dan membukakan pintu untuk Luna, berniat mengantarnya sampai ke depan pintu utama.

Namun, baru saja mereka melangkah di pelataran teras, pintu depan mendadak terbuka lebar. Ardi dan Sinta berdiri di sana dengan raut wajah kaget melihat putri mereka pulang larut malam diantar oleh sang sahabat.

"Lho? Marko?" seru Ardi mengernyit heran, menatap Marko dan Luna bergantian. "Kok lu yang ngantar Luna pulang malam-malam begini?"

Luna seketika menahan napas, jantungnya melompat kaget.

Marko dengan tenang berdeham pelan, menyunggingkan senyum profesionalnya yang paling alami. "Iya, Di. Tadi pas gue jalan balik dari meeting sama klien di daerah Selatan, gue liat Luna lagi nunggu taksi di depan kampus. Ya udah sekalian aja gue jemput dan ajak makan malam dulu daripada dia keluyuran sendirian."

Ardi menghembuskan napas lega, lalu tertawa renyah. "Oalah... gitu toh. Lu ini emang selalu bisa diandalkan ya, Ko. Makasih banyak lho udah jagain anak gue lagi."

"Sama-sama, Di," jawab Marko tersenyum tipis.

Di belakang tubuh ayahnya, Luna menyunggingkan senyum jahil seraya mengedipkan sebelah matanya ke arah Marko—memuji kelihaian sang kekasih dalam bersilat lidah. Marko hanya bisa menggeleng pasrah menahan tawa.

Namun, tepat di saat Marko berbalik melangkah menuju mobilnya usai berpamitan, layar ponsel di dalam saku jasnya bergetar panjang. Sebuah notifikasi pesan baru masuk.

Bukan dari Yoga, bukan pula dari tim IT kantor... melainkan sebuah pesan singkat dari nomor tak dikenal yang melampirkan sebuah berkas timer penghitungan mundur yang kini menyisakan angka: 02:00:00 (Dua Jam Lagi).

Pesan di bawahnya tertulis singkat dan teramat dingin:

"Waktu Anda hampir habis, Pak CEO. Bayar tebusannya sekarang, atau tepat dua jam lagi video panas Anda bersama Aluna di dalam mobil barusan akan terkirim otomatis ke ponsel Ardi Raharja."

Darah Marko seketika membeku kaku di pelataran malam. Bahaya pemerasan itu kini telah berada di titik kritis paling mematikan!

1
sundusiyah86
minta kompensasi thor 1bln aja wkwkkw biar langsung nikah..tambah bab thor
papoy: tahan yaa kak hehe..
total 1 replies
sundusiyah86
ko jadi gini siih thor... kenapa papa n mmh nya Aluna ngak setuju aja siih .. iiihh pengen cepet" romantis ..
sundusiyah86
lanjut thor nambah bab
sundusiyah86
lanjut thor tinggal romantis ny aja 🤭
papoy: terimakasih kaka, di spill dikit tinggal satu ujian lagi dpt restu apa ngga dari ayah nya luna 🤭
total 1 replies
Adiba Adisa
visual om marko, ganteng banget 😍
Adiba Adisa
om marko tipe om om greenflag yaa 😍
Emily
Marko jgn mengingkari perasaan mu
Emily
, wkwkwk Marco mau menjerit gak mungkin bisa jatoh harga dirimu
Emily
gimana Skrang perasaanmu marko
papoy: marko menyesal dengan apa yg udh dia lakukan hehe..
total 1 replies
Emily
bang Marko datang lun😁
Emily
hampir saja wkwkwk
Emily
lha ngomong OPO Kowe Marco😁
Adiba Adisa
marko galau berat
Adiba Adisa
pak Ardi, gak ngeh marko lagi ngode tuh
Adiba Adisa
blak blakan banget ngomong nya pak 🤣
Adiba Adisa
ada ada aja nih pak tua 😄
Adiba Adisa
kayanya akal akalan marko aja, biar acara nembak kenan gagal 😄
Adiba Adisa
pasti nyesek banget tuh aluna
papoy
ditunggu kelanjutannya yaa kak
Reni Anjarwani
doubel up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!