Misya dan Reyden menikah selama dua tahun. pernikahan yang mereka jalani karena perjodohan, tak ada masalah dalam rumah tangga mereka yang monoton itu.
namun menjelang pernikahan ke dua mereka, ternyata Misya baru tahu kalau Reyden belum menerima dan bisa mencintai dia bukan karena belum siap. tapi karena hatinya masih ada pada wanita masa lalunya yang akhirnya kembali.
apakah Reyden akan kembali kepada wanita di masa lalunya atau mungkin dia mulai menyadari cintanya kepada Misya?
ikuti terus kelanjutan kisah cinta mereka ya kak...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misya 16
Reyden melangkah cepat menghampiri pintu kamar tamu di lantai bawah. Hatinya bergemuruh hebat, dipenuhi rasa panik yang merayap di sela-sela rasa bersalahnya. Pria yang biasanya pandai mengendalikan diri di depan siapa pun itu kini berdiri gelisah di depan pintu kayu tebal yang tertutup rapat.
Tok... tok... tok.
Reyden mengetuk pintu perlahan. Jemarinya yang menempel di pintu terasa dingin.
"Misya..." panggil Reyden. Suara baritonnya yang biasa terdengar tegas kini menyiratkan getaran canggung dan ragu.
"Misya, buka pintunya."
Di dalam kamar tamu yang remang-remang, Misya baru saja membaringkan tubuhnya di tepi ranjang. Ia meremas selimut tipis di dadanya, menatap kosong ke arah pintu. Air mata yang sempat membendung di pelupuk matanya menetes pelan membasahi bantal. Panggilan suaminya terdengar begitu dekat, namun celah emosional di antara mereka terasa begitu lebar.
Tok... tok.
"Misya... tolong kembali ke kamar utama," ucap Reyden lagi, suaranya sedikit lebih rendah.
Setiap kata yang keluar dari mulut Reyden terasa begitu berat. Selama dua tahun ini, dialah pihak yang selalu pasif. Dialah yang terbiasa disapa duluan saat pulang kantor, dialah yang selalu diajak ngobrol saat makan malam, dan dialah yang selalu mendengarkan Misya bercerita tanpa perlu bersusah payah mencari topik. Kini, ketika Misya menarik diri dan memilih diam, Reyden benar-benar kehilangan pegangan. Ia kaku, kikuk, dan sama sekali tidak tahu bagaimana cara mengulurkan tangan terlebih dahulu.
Pintu perlahan terkunci dari dalam, suara clik dari gagang pintu memecah keheningan koridor.
Reyden menghentikan tangannya yang hendak mengetuk lagi. Dada pria itu terasa makin sesak. Ia memutar gagang pintu, namun tertahan.
"Saya tahu saya salah bicara tadi, saya minta maaf," kata Reyden dengan napas tertahan, bersandar pelan pada daun pintu.
"Jangan tidur di kamar tamu, Misya. Ini... tidak benar."
Dari balik pintu, Misya akhirnya bersuara. Suaranya serak, terdengar sangat datar dan tak berjarak.
"Aku cuma mau tidur tenang, Mas. Di kamar utama atau kamar tamu... sama saja. Mas juga pasti butuh istirahat tanpa diganggu aku."
Kalimat itu bagaikan tamparan tak kasat mata di wajah Reyden. Ia menelan ludah yang terasa pahit di tenggorokannya.
"Misya, buka dulu pintunya. Kita bicara di atas," pinta Reyden, mencoba menekan keraguan di dalam dadanya.
"Saya tidak suka kamu tidur di sini."
"Mas..." potong Misya pelan dari dalam.
"Kamu capek kan?. Tolong... biarkan aku tidur malam ini. Agar aku tidak mengganggu kamu,"
Keheningan kembali menyergap koridor lantai bawah. Reyden berdiri mematung. Jemarinya mengepal kaku di samping tubuhnya. Ia ingin sekali memaksa buka kunci pintu itu dengan kunci cadangan, namun ia tahu jika ia melakukannya, ia hanya akan semakin membuat wanita yang saat ini sedang terluka karena kecerobohan lidahnya sendiri.
"Baik..." bisik Reyden akhirnya, suaranya terdengar pasrah dan sarat akan kekecewaan pada dirinya sendiri.
"Istirahatlah. Tapi besok... kita bicara."
Tidak ada balasan lagi dari balik pintu.
Reyden memutar tubuhnya perlahan, melangkah menaiki anak tangga menuju kamar utama dengan langkah yang begitu berat. Sesampainya di kamar, ruangan bernuansa hangat yang biasanya dihiasi aroma lembut lavender itu kini terasa begitu asing, dingin, dan terlalu luas baginya.
Ia melepas kemeja kerjanya, lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang king size. Tempat di sampingnya, tempat yang biasanya diisi oleh hangat tubuh Misya yang selalu memeluknya kencang setiap malam kini kosong melompong.
Keesokan harinya, fajar menyingsing diiringi ketenangan yang terasa semakin menekan di kediaman mereka.
Di dalam kamar utama, Reyden terbangun lebih awal. Matanya terasa berat karena semalaman ia nyaris tidak bisa memejamkan mata. Begitu membuka mata, pandangannya langsung tertuju pada sisi kasur di sampingnya yang kosong dan dingin. Tidak ada sosok hangat yang biasa terlelap di dekapannya.
Dengan helaan napas berat, Reyden bangkit dan melangkah menuju kamar mandi. Setelah selesai, ia tertegun sejenak. Di sana, setelan jas hitam, kemeja putih yang sudah disetrika rapi, serta dasi pilihan yang serasi sudah tergantung dengan sempurna, disiapkan dengan telaten seperti biasa. Misya tetap menjalankan tugasnya tanpa celah, namun ketidakhadiran wanita itu saat menyiapkannya terasa bagai hampa yang sangat tajam.
Aroma harum nasi goreng margarin dan telur mata sapi menguar dari arah dapur. Di sana, Misya berdiri membelakangi lorong, sibuk menata sarapan ke atas piring porselen. Gaun rumahannya yang sederhana dan rambutnya yang dicepol asal membuatnya terlihat biasa, namun di mata Reyden, sosok itu adalah segalanya yang ia rindukan pagi ini.
Reyden menarik kursi makan dan duduk perlahan.
"Selamat pagi, Misya..." panggilnya dengan suara bariton yang pelan dan serak.
Misya menghentikan jemarinya sejenak, lalu meletakkan piring nasi goreng di hadapan suaminya.
"Selamat pagi, Mas," jawab Misya singkat, suaranya sangat datar dan kaku, tanpa binar di matanya maupun senyuman hangat yang biasa menghiasi wajahnya.
Wanita itu kemudian berbalik untuk mengambilkan segelas air putih hangat dan meletakkannya di samping piring Reyden. Setelah itu, Misya tidak duduk di seberangnya seperti biasa. Ia justru melangkah mundur, meraih kain lap dapur, dan memilih merapikan area wastafel.
Reyden memegang sendoknya, menatap piring di hadapannya dengan tenggorokan yang terasa menyempit. Biasanya, Misya akan duduk di depannya, menopang dagu sambil menceritakan rencana harinya atau menanyakan agenda suaminya di kantor. Kini, suara denting sendok yang beradu kaku dengan piring porselen menjadi satu-satunya suara di ruang makan itu.
"Misya... kamu tidak sarapan?" tanya Reyden, mencoba membuka percakapan.
"Nanti saja, Mas. Aku belum lapar," sahut Misya pelan dari arah wastafel, tanpa sedikit pun membalikkan badan.
Reyden menelan makanan yang terasa sangat tawar di lidahnya. Kebisuan Misya terasa bagai hukuman yang paling menyiksa bagi pria yang terbiasa bersikap dingin itu. Dialah yang kini merasa tercekik oleh dinding es yang biasa ia bangun untuk orang lain.
Klakson mobil terdengar dua kali dari arah garasi depan.
Itu suara mobil Anggara yang sudah tiba untuk menjemputnya.
Reyden menyapu bibirnya dengan serbet, lalu berdiri dari kursi. Ia merapikan jasnya, memegang tas kerjanya, dan melangkah menghampiri Misya yang baru saja mengelap tangannya hingga kering.
Misya berbalik menghadapnya, mengambil sikap sopan. Ia mengulurkan tangannya secara otomatis untuk menyalami suaminya, sebuah tradisi kecil yang tak pernah ia lewatkan.
Ketika Reyden hendak menunduk untuk mengecup kening Misya seperti biasanya, Misya secara halus menundukkan kepalanya sedikit lebih dalam untuk menghindari kontak mata, membuat kecupan Reyden hanya mendarat singkat di puncak kepalanya.
Reyden menahan napasnya sejenak. Dadanya sesak. Sebelum melangkah keluar pintu menuju mobil operasional yang sudah menunggunya, ia menghentikan langkahnya di ambang pintu dan berbalik menatap Misya.
"Misya..." panggil Reyden, suaranya sarat akan keraguan yang jarang ia tunjukkan.
Misya menatap suaminya dengan pandangan polos namun berjarak.
"Ya, Mas?"
Reyden berdehem pelan, mencoba menetralkan rasa canggung yang membebani lidahnya.
"Bekal... bekal makan siang saya... apa hari ini tidak ada?"
Pertanyaan sederhana itu meluncur dengan sedikit kebingungan dari mulut seorang CEO besar. Selama dua tahun ini, ia tidak pernah menanyakan bekal, Misya lah yang selalu dengan antusias menyerahkan kotak bekal berbungkus kain lucu ke tangannya sebelum berangkat.
Misya tertegun sejenak. Sorot matanya bergetar tipis, namun dengan cepat ia menguasai diri kembali.
"Mas Rey kan bilang beberapa hari ini sering ada makan siang dan makan malam bersama klien di luar," jawab Misya pelan namun menohok.
"Aku pikir Mas tidak butuh bekal rumahan dari aku lagi."
Skakmat. Kalimat itu diucapkan dengan sangat lembut, namun rasanya seperti menghantam dada Reyden tanpa ampun. Paadahal semalam sejujurnya dia juga belum makan. Hanya saja pikirannya sedang lelah dan memilih untuk menolak makan malam buatan Misya. Reyden terpaku di tempatnya, matanya menatap Misya dengan rasa bersalah yang teramat besar.
Di luar, Anggara keluar dari mobil dan membukakan pintu penumpang.
"Selamat pagi, Pak Reyden. Jadwal rapat pagi ini sudah siap," sapa Anggara sopan.
Reyden tidak merespons Anggara seketika. Ia masih menatap Misya, berharap wanita itu akan mencair atau setidaknya memberikan senyuman kecil. Namun Misya hanya mengangguk sopan ke arahnya.
"Hati-hati di jalan, Mas," ucap Misya datar, lalu membalikkan badan berjalan masuk kembali ke dalam rumah.