NovelToon NovelToon
Ternyata Bukan Aku

Ternyata Bukan Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:13k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Misya dan Reyden menikah selama dua tahun. pernikahan yang mereka jalani karena perjodohan, tak ada masalah dalam rumah tangga mereka yang monoton itu.

namun menjelang pernikahan ke dua mereka, ternyata Misya baru tahu kalau Reyden belum menerima dan bisa mencintai dia bukan karena belum siap. tapi karena hatinya masih ada pada wanita masa lalunya yang akhirnya kembali.

apakah Reyden akan kembali kepada wanita di masa lalunya atau mungkin dia mulai menyadari cintanya kepada Misya?

ikuti terus kelanjutan kisah cinta mereka ya kak...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misya 16

Reyden melangkah cepat menghampiri pintu kamar tamu di lantai bawah. Hatinya bergemuruh hebat, dipenuhi rasa panik yang merayap di sela-sela rasa bersalahnya. Pria yang biasanya pandai mengendalikan diri di depan siapa pun itu kini berdiri gelisah di depan pintu kayu tebal yang tertutup rapat.

Tok... tok... tok.

Reyden mengetuk pintu perlahan. Jemarinya yang menempel di pintu terasa dingin.

"Misya..." panggil Reyden. Suara baritonnya yang biasa terdengar tegas kini menyiratkan getaran canggung dan ragu.

"Misya, buka pintunya."

Di dalam kamar tamu yang remang-remang, Misya baru saja membaringkan tubuhnya di tepi ranjang. Ia meremas selimut tipis di dadanya, menatap kosong ke arah pintu. Air mata yang sempat membendung di pelupuk matanya menetes pelan membasahi bantal. Panggilan suaminya terdengar begitu dekat, namun celah emosional di antara mereka terasa begitu lebar.

Tok... tok.

"Misya... tolong kembali ke kamar utama," ucap Reyden lagi, suaranya sedikit lebih rendah.

Setiap kata yang keluar dari mulut Reyden terasa begitu berat. Selama dua tahun ini, dialah pihak yang selalu pasif. Dialah yang terbiasa disapa duluan saat pulang kantor, dialah yang selalu diajak ngobrol saat makan malam, dan dialah yang selalu mendengarkan Misya bercerita tanpa perlu bersusah payah mencari topik. Kini, ketika Misya menarik diri dan memilih diam, Reyden benar-benar kehilangan pegangan. Ia kaku, kikuk, dan sama sekali tidak tahu bagaimana cara mengulurkan tangan terlebih dahulu.

Pintu perlahan terkunci dari dalam, suara clik dari gagang pintu memecah keheningan koridor.

Reyden menghentikan tangannya yang hendak mengetuk lagi. Dada pria itu terasa makin sesak. Ia memutar gagang pintu, namun tertahan.

"Saya tahu saya salah bicara tadi, saya minta maaf," kata Reyden dengan napas tertahan, bersandar pelan pada daun pintu.

"Jangan tidur di kamar tamu, Misya. Ini... tidak benar."

Dari balik pintu, Misya akhirnya bersuara. Suaranya serak, terdengar sangat datar dan tak berjarak.

"Aku cuma mau tidur tenang, Mas. Di kamar utama atau kamar tamu... sama saja. Mas juga pasti butuh istirahat tanpa diganggu aku."

Kalimat itu bagaikan tamparan tak kasat mata di wajah Reyden. Ia menelan ludah yang terasa pahit di tenggorokannya.

"Misya, buka dulu pintunya. Kita bicara di atas," pinta Reyden, mencoba menekan keraguan di dalam dadanya.

"Saya tidak suka kamu tidur di sini."

"Mas..." potong Misya pelan dari dalam.

"Kamu capek kan?. Tolong... biarkan aku tidur malam ini. Agar aku tidak mengganggu kamu,"

Keheningan kembali menyergap koridor lantai bawah. Reyden berdiri mematung. Jemarinya mengepal kaku di samping tubuhnya. Ia ingin sekali memaksa buka kunci pintu itu dengan kunci cadangan, namun ia tahu jika ia melakukannya, ia hanya akan semakin membuat wanita yang saat ini sedang terluka karena kecerobohan lidahnya sendiri.

"Baik..." bisik Reyden akhirnya, suaranya terdengar pasrah dan sarat akan kekecewaan pada dirinya sendiri.

"Istirahatlah. Tapi besok... kita bicara."

Tidak ada balasan lagi dari balik pintu.

Reyden memutar tubuhnya perlahan, melangkah menaiki anak tangga menuju kamar utama dengan langkah yang begitu berat. Sesampainya di kamar, ruangan bernuansa hangat yang biasanya dihiasi aroma lembut lavender itu kini terasa begitu asing, dingin, dan terlalu luas baginya.

Ia melepas kemeja kerjanya, lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang king size. Tempat di sampingnya, tempat yang biasanya diisi oleh hangat tubuh Misya yang selalu memeluknya kencang setiap malam kini kosong melompong.

Keesokan harinya, fajar menyingsing diiringi ketenangan yang terasa semakin menekan di kediaman mereka.

Di dalam kamar utama, Reyden terbangun lebih awal. Matanya terasa berat karena semalaman ia nyaris tidak bisa memejamkan mata. Begitu membuka mata, pandangannya langsung tertuju pada sisi kasur di sampingnya yang kosong dan dingin. Tidak ada sosok hangat yang biasa terlelap di dekapannya.

Dengan helaan napas berat, Reyden bangkit dan melangkah menuju kamar mandi. Setelah selesai, ia tertegun sejenak. Di sana, setelan jas hitam, kemeja putih yang sudah disetrika rapi, serta dasi pilihan yang serasi sudah tergantung dengan sempurna, disiapkan dengan telaten seperti biasa. Misya tetap menjalankan tugasnya tanpa celah, namun ketidakhadiran wanita itu saat menyiapkannya terasa bagai hampa yang sangat tajam.

Aroma harum nasi goreng margarin dan telur mata sapi menguar dari arah dapur. Di sana, Misya berdiri membelakangi lorong, sibuk menata sarapan ke atas piring porselen. Gaun rumahannya yang sederhana dan rambutnya yang dicepol asal membuatnya terlihat biasa, namun di mata Reyden, sosok itu adalah segalanya yang ia rindukan pagi ini.

Reyden menarik kursi makan dan duduk perlahan.

"Selamat pagi, Misya..." panggilnya dengan suara bariton yang pelan dan serak.

Misya menghentikan jemarinya sejenak, lalu meletakkan piring nasi goreng di hadapan suaminya.

"Selamat pagi, Mas," jawab Misya singkat, suaranya sangat datar dan kaku, tanpa binar di matanya maupun senyuman hangat yang biasa menghiasi wajahnya.

Wanita itu kemudian berbalik untuk mengambilkan segelas air putih hangat dan meletakkannya di samping piring Reyden. Setelah itu, Misya tidak duduk di seberangnya seperti biasa. Ia justru melangkah mundur, meraih kain lap dapur, dan memilih merapikan area wastafel.

Reyden memegang sendoknya, menatap piring di hadapannya dengan tenggorokan yang terasa menyempit. Biasanya, Misya akan duduk di depannya, menopang dagu sambil menceritakan rencana harinya atau menanyakan agenda suaminya di kantor. Kini, suara denting sendok yang beradu kaku dengan piring porselen menjadi satu-satunya suara di ruang makan itu.

"Misya... kamu tidak sarapan?" tanya Reyden, mencoba membuka percakapan.

"Nanti saja, Mas. Aku belum lapar," sahut Misya pelan dari arah wastafel, tanpa sedikit pun membalikkan badan.

Reyden menelan makanan yang terasa sangat tawar di lidahnya. Kebisuan Misya terasa bagai hukuman yang paling menyiksa bagi pria yang terbiasa bersikap dingin itu. Dialah yang kini merasa tercekik oleh dinding es yang biasa ia bangun untuk orang lain.

Klakson mobil terdengar dua kali dari arah garasi depan.

Itu suara mobil Anggara yang sudah tiba untuk menjemputnya.

Reyden menyapu bibirnya dengan serbet, lalu berdiri dari kursi. Ia merapikan jasnya, memegang tas kerjanya, dan melangkah menghampiri Misya yang baru saja mengelap tangannya hingga kering.

Misya berbalik menghadapnya, mengambil sikap sopan. Ia mengulurkan tangannya secara otomatis untuk menyalami suaminya, sebuah tradisi kecil yang tak pernah ia lewatkan.

Ketika Reyden hendak menunduk untuk mengecup kening Misya seperti biasanya, Misya secara halus menundukkan kepalanya sedikit lebih dalam untuk menghindari kontak mata, membuat kecupan Reyden hanya mendarat singkat di puncak kepalanya.

Reyden menahan napasnya sejenak. Dadanya sesak. Sebelum melangkah keluar pintu menuju mobil operasional yang sudah menunggunya, ia menghentikan langkahnya di ambang pintu dan berbalik menatap Misya.

"Misya..." panggil Reyden, suaranya sarat akan keraguan yang jarang ia tunjukkan.

Misya menatap suaminya dengan pandangan polos namun berjarak.

"Ya, Mas?"

Reyden berdehem pelan, mencoba menetralkan rasa canggung yang membebani lidahnya.

"Bekal... bekal makan siang saya... apa hari ini tidak ada?"

Pertanyaan sederhana itu meluncur dengan sedikit kebingungan dari mulut seorang CEO besar. Selama dua tahun ini, ia tidak pernah menanyakan bekal, Misya lah yang selalu dengan antusias menyerahkan kotak bekal berbungkus kain lucu ke tangannya sebelum berangkat.

Misya tertegun sejenak. Sorot matanya bergetar tipis, namun dengan cepat ia menguasai diri kembali.

"Mas Rey kan bilang beberapa hari ini sering ada makan siang dan makan malam bersama klien di luar," jawab Misya pelan namun menohok.

"Aku pikir Mas tidak butuh bekal rumahan dari aku lagi."

Skakmat. Kalimat itu diucapkan dengan sangat lembut, namun rasanya seperti menghantam dada Reyden tanpa ampun. Paadahal semalam sejujurnya dia juga belum makan. Hanya saja pikirannya sedang lelah dan memilih untuk menolak makan malam buatan Misya. Reyden terpaku di tempatnya, matanya menatap Misya dengan rasa bersalah yang teramat besar.

Di luar, Anggara keluar dari mobil dan membukakan pintu penumpang.

"Selamat pagi, Pak Reyden. Jadwal rapat pagi ini sudah siap," sapa Anggara sopan.

Reyden tidak merespons Anggara seketika. Ia masih menatap Misya, berharap wanita itu akan mencair atau setidaknya memberikan senyuman kecil. Namun Misya hanya mengangguk sopan ke arahnya.

"Hati-hati di jalan, Mas," ucap Misya datar, lalu membalikkan badan berjalan masuk kembali ke dalam rumah.

1
ryuka
haduhhh ada ulet keket gabtau diri muncul
ryuka
untung bapak ibu mertua nya baik ya misya
Oma Gavin
ulet bulu gatel mulai menggatal
Heni Setiyaningsih
/Heart/
Heni Setiyaningsih
bersyukur Misya punya mertua yg selalu menyayangi dan melindungi
nining cahyaningrum
bagus
Lembang Azam
bagus Rey sebelum trlambat, untung kamu cpt menyadarinya dan bergerak cp, klw enggak kamu yg tak ulek JD bergedel🤣
Oma Gavin
akhirnya reydhan tegas juga itu semua orang kenapa berkomplot musuhi misya dan bela aurelia
ryuka
diiihh dasar cewe cewe gila.. 🔥🔥🔥🔥🔥
nely_48
ku pegang kata² mu ya rey,,,
nely_48
hmmmm tunggu hukuman mu merlyn,, sok anggun sok merasa tinggi setinggi langit kau aurelia, gataunya cewe arogan n egois, pantas az bunda nya Rey lbh memilih menjodohkan dgn misya
Sri Angga
jgn cm dg kata tp buktikan
Ambu Rinddiany Thea
sok buktikan ters rey sm s misya kalo cinta kamu hanya buat ambu seorang eh salah , buat misya seorang maksdnya 🤭
Susan Paulina: Di tunggu Up selanjutnya Thor, tambah seruu 👍
total 1 replies
Ambu Rinddiany Thea
lanjuuut maak
Ambu Rinddiany Thea
kenapa sih ga apada terbuka aja 2 2 nya , s rey masih mendem soal s aurelia s misya masih mendem soal sepupu dajalna nu ngirim2 foto te bermerk , maenya ambu kudu turu gunung ie teh
falea sezi
lemah amay sya🤣🤣 kayak elu gk ada harga diri aja suami gt buang mending dpet cowok biasa tp di cintai wong suami mu aja dr awal. liat aurelia. ketara bgt dia g move on🤣
Susan Paulina: Lanjut lagi Thor hari ini, ceritanya seru banget
total 1 replies
nely_48
syukurlah reyden msh membela misya , berarti otak reyden msh waras
nely_48
idih km knp misya,, sampe segitu hancurnya km nangisin suami n mantan nya ketemuan
nely_48
semoga misya aman² az d dlm kamar tamu, jgn menyiksa diri sendiri misya
nely_48
reyden km belajar tegas pd hati n diri mu sendiri ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!