**AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU**
Aku pernah mencintai seorang pria sampai rela kehilangan diriku sendiri.
Aku percaya pada suamiku.
Aku percaya pada sahabatku.
Aku bahkan percaya pada keluargaku sendiri.
Ternyata, merekalah orang-orang yang menghancurkanku.
Malam itu, aku mengetahui sebuah rahasia yang seharusnya tidak pernah kutemukan.
Dan sebelum aku sempat mengungkap semuanya...
**suamiku sendiri membunuhku.**
Aku pikir kematian adalah akhir.
Ternyata, aku mendapatkan kesempatan kedua.
Ketika membuka mata, aku kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu—saat aku masih berusia sembilan belas tahun.
Semua orang yang dulu menghancurkanku masih ada.
Suamiku masih belum menjadi suamiku.
Sahabat yang mengkhianatiku masih tersenyum di hadapanku.
Dan adikku yang dulu mati... masih hidup.
Kali ini aku tidak akan menjadi perempuan bodoh yang sama.
Aku tidak akan menikah dengan Ryan Arkana.
Aku tidak akan mempercayai Selena Marvia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAPEI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28 - LABIRIN DI BAWAH TANAH KEBAYORAN
Suara baling-baling helikopter memecah malam Jakarta Selatan.
Dari balik kaca kabin, lampu-lampu kota terlihat seperti gugusan bintang yang jatuh ke bumi. Kami terbang rendah melewati deretan pepohonan tua Kebayoran Baru sebelum akhirnya berbelok menuju sebuah gedung parkir yang sudah lama ditinggalkan.
Aku tidak banyak bicara sejak meninggalkan markas.
Di layar tablet yang berada di pangkuanku, tiga nama telah berubah menjadi status merah.
Tiga orang sudah menyerah.
Hanya satu yang masih bertahan.
Jenderal Purnawirawan Soedirdjo.
"Dia tidak akan menyerah hanya karena sebuah ancaman."
Suara Adrian membuatku mengangkat kepala.
Pria itu duduk di seberangku, kedua tangannya bertumpu pada lutut. Wajahnya tenang, tetapi matanya terus mengikuti peta digital di layar.
"Soedirdjo berbeda dari tiga orang sebelumnya," lanjutnya. "Dia membangun pertahanannya bertahun-tahun."
"Karena dia pikir tidak ada yang bisa menyentuhnya."
Aku mematikan layar.
"Semua orang merasa begitu sebelum masa lalu mereka datang menagih."
Adrian menatapku sesaat.
"Kamu masih yakin ingin turun langsung?"
Aku tersenyum tipis.
"Setelah sembilan belas tahun?"
Aku menggeleng.
"Justru sekarang."
Helikopter mulai menurunkan ketinggian.
Bastian, yang berada di kursi depan, menoleh.
"Kita hampir sampai."
Beberapa detik kemudian, roda helikopter menyentuh permukaan beton gedung parkir.
Begitu pintu terbuka, udara malam langsung menyergap.
Panas.
Lembap.
Berbau debu dan aspal.
Beberapa orang dari tim pengamanan sudah menunggu. Kami bergerak melewati bangunan kosong itu dan menuruni tangga menuju lantai bawah.
Semakin dalam kami berjalan, semakin dingin udaranya.
Dinding beton di kiri dan kanan dipenuhi bekas lembap. Beberapa lampu tua berkedip sebelum akhirnya mati ketika kami mencapai lorong terakhir.
Di ujung lorong berdiri sebuah pintu baja.
Besar.
Sunyi.
Dan terlalu kokoh untuk sebuah ruangan biasa.
Seorang petugas mendekati kami.
"Jenderal ada di dalam."
"Berapa orang?" tanya Adrian.
"Empat pengawal yang teridentifikasi."
"Yang lain?"
"Belum diketahui."
Aku maju beberapa langkah.
Di permukaan pintu terdapat panel pemindai.
Petugas itu hendak menjelaskan sesuatu, tetapi aku sudah mengangkat tangan.
"Biarkan."
Aku menempelkan telapak tanganku pada sensor.
Beberapa detik berlalu.
Kemudian terdengar bunyi pendek.
Klik.
Kunci pertama terbuka.
Klik.
Kunci kedua menyusul.
Aku menarik napas pelan.
Sudah lama sekali aku menunggu berada di balik pintu ini.
Pintu baja bergeser.
Ruangan besar terbentang di hadapan kami.
Di tengahnya berdiri seorang pria tua dengan seragam militer yang sudah tidak lengkap.
Soedirdjo.
Usianya tidak lagi muda, tetapi sorot matanya masih tajam.
Empat orang berdiri di belakangnya.
Begitu melihat kami, mereka langsung bergerak.
"Berhenti!"
Suara Soedirdjo menggema di ruangan.
Aku tidak berhenti.
"Ini wilayah pertahanan yang tidak boleh dimasuki sembarang orang!"
"Aku tahu."
Langkahku tetap tenang.
"Karena itu aku datang sendiri."
Wajahnya berubah ketika melihatku lebih jelas.
Seolah-olah sebuah ingatan lama baru saja muncul kembali.
"Kamu..."
Aku berhenti.
"Ya."
Aku menatapnya.
"Sudah lama, Jenderal."
Tangannya bergerak menuju pinggang.
Orang-orang di belakangnya ikut bersiap.
Adrian hanya mengangkat satu tangan.
Semuanya terjadi dalam hitungan detik.
Keempat pengawal itu kehilangan kesempatan untuk bergerak lebih jauh dan jatuh sebelum sempat mendekat.
Ruangan kembali sunyi.
Soedirdjo mundur satu langkah.
Tangannya kini menggenggam pistol.
"Kalian pikir ini akan membuatku takut?"
Aku menatap senjata di tangannya.
"Seharusnya saya yang takut?"
"Jangan mendekat!"
Suara Soedirdjo bergetar.
Untuk pertama kalinya malam itu, aku melihat sesuatu yang berbeda di matanya.
Bukan kemarahan.
Ketakutan.
Aku berhenti beberapa langkah darinya.
"Kalau Anda menarik pelatuk itu," kataku pelan, "semua dokumen yang Anda sembunyikan selama sembilan belas tahun akan keluar."
Wajahnya menegang.
"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan."
"Bapak tahu."
Aku sengaja menggunakan sapaan itu.
Dan aku melihat perubahan kecil di wajahnya.
Sebuah kedipan.
Satu tarikan napas yang terlalu panjang.
Cukup.
Bastian berjalan mendekat dan meletakkan sebuah map hitam di atas meja.
"Halaman terakhir."
Soedirdjo tidak bergerak.
"Jangan."
Suaranya hampir seperti bisikan.
Aku menatapnya.
"Jadi Anda memang tahu isinya."
Tangannya perlahan turun.
Pistol itu masih berada dalam genggamannya, tetapi kini terlihat seperti benda yang terlalu berat untuk diangkat.
Akhirnya ia membuka map tersebut.
Satu lembar.
Dua lembar.
Ketika sampai pada halaman terakhir, wajahnya berubah.
Aku bisa melihat matanya bergerak membaca setiap baris.
Kemudian berhenti.
Lama.
"Apa yang kalian lakukan...?"
Tidak ada yang menjawab.
Di halaman itu terdapat sebuah kesaksian lama mengenai transaksi tanah dan aliran dana yang terjadi sembilan belas tahun lalu.
Nama Soedirdjo tercantum di sana.
Tanda tangannya juga.
Jarinya mulai gemetar.
"Ini palsu."
"Anda bisa mengatakan itu di pengadilan."
"Palsu!"
Suaranya meninggi.
Tetapi kali ini tidak ada kekuatan di dalamnya.
Pistol yang sejak tadi dipegangnya terlepas.
Dentang.
Senjata itu jatuh ke lantai.
Soedirdjo perlahan duduk di kursi terdekat.
Ia tidak lagi terlihat seperti seorang jenderal.
Hanya seorang lelaki tua yang baru menyadari bahwa masa lalu yang selama ini dikuburnya ternyata masih hidup.
Aku seharusnya merasa puas.
Namun entah mengapa, yang kurasakan justru hampa.
Sembilan belas tahun.
Begitu lama.
Dan semua ini ternyata baru permulaan.
Bastian mengambil kembali dokumen tersebut.
Saat itulah mataku menangkap sesuatu di meja.
Sebuah arsip lama.
Sudutnya terbuka.
Di bagian bawah kertas terdapat sebuah lambang.
Aku membeku.
Cincin.
Di tengahnya terdapat bentuk sayap rajawali yang mengelilingi sebuah belati perak.
Napas tertahan di dadaku.
Aku mengenal simbol itu.
Bukan dari arsip militer.
Bukan dari Sembilan Teratai.
Aku pernah melihatnya sekali.
Dalam sebuah berkas yang disimpan bertahun-tahun lalu oleh Edward Arlena.
Berkas yang selama ini bahkan tidak berani kubuka kembali.
Dewan Bayangan.
Nama itu melintas di kepalaku.
Kalau lambang itu berada di sini, berarti ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada Soedirdjo.
Sesuatu yang selama ini kami kejar ternyata mungkin hanya berada di ujung rantai.
Dan kami belum menyentuh orang yang memegang ujungnya.
"Nona Besar..."
Suara Bastian membuatku menoleh.
"Jangan sentuh arsip itu."
Terlambat.
Alarm tiba-tiba berbunyi.
Suara panjang memekakkan telinga memenuhi bunker.
Lampu padam.
Sesaat kemudian, cahaya merah menyala di sepanjang dinding.
Aku melihat layar utama di belakang Soedirdjo berkedip.
Data menghilang satu demi satu.
"Bukan kita," kata Bastian.
Adrian sudah berdiri.
"Apa yang terjadi?"
"Perimeter luar ditembus."
Suara Bastian berubah tegang.
"Dan ada lebih dari satu kelompok."
Aku menatap Adrian.
Ia tidak menjawab.
Ledakan pertama mengguncang bunker.
DUUM!
Lantai bergetar di bawah kaki kami.
Debu jatuh dari langit-langit.
Aku kehilangan keseimbangan, tetapi tangan Adrian segera menarikku ke belakang pilar beton.
"Jangan keluar."
Ledakan kedua terdengar lebih dekat.
Kali ini diikuti suara logam beradu.
Kemudian langkah kaki.
Banyak.
Dari arah lift darurat.
Bastian mengintip dari balik perlindungan.
"Wajah mereka tidak terlihat."
"Jumlah?"
"Belum bisa dipastikan."
Aku menatap kembali meja Soedirdjo.
Arsip itu masih ada.
Lambang rajawali dan belati masih terlihat di bawah cahaya merah.
Seseorang datang untuk menghapus semua bukti.
Atau...
untuk memastikan tidak ada seorang pun di ruangan ini yang keluar hidup-hidup.
Adrian menatapku.
"Kita harus pergi."
Aku menggeleng.
"Belum."
"Kita tidak tahu siapa yang datang."
"Justru itu."
Aku mengambil arsip tersebut.
"Kalau mereka datang karena benda ini, aku ingin tahu siapa yang mengirim mereka."
Dari ujung lorong terdengar suara pintu logam terbuka.
Satu langkah.
Kemudian langkah berikutnya.
Bayangan beberapa orang mulai terlihat di balik kabut debu.
Aku menggenggam arsip itu lebih erat.
Untuk pertama kalinya malam itu, aku menyadari sesuatu yang jauh lebih menakutkan daripada keberadaan Soedirdjo.
Kami baru saja menemukan pintu menuju musuh sebenarnya.
Dan seseorang di luar sana...
sedang berusaha memastikan pintu itu tetap tertutup.