Malam pesta pertunangan yang seharusnya jadi malam paling membahagiakan, **Laras Wirasena**—pianis muda dari keluarga terpandang—malah memergoki tunangannya sendiri, **Radithya Adiwangsa**, pewaris Grup Adiwangsa, sedang bermain api dengan asistennya di balik pintu yang terbuka sedikit.
Belum sempat Laras mengamankan bukti, ponselnya direbut dan videonya dihapus—oleh **Bramantya**, adik kandung Radit yang terkenal nakal, urakan, dan tak kenal aturan. Bukannya membela, cowok itu malah menyeringai menantang:
> *"Menggodaku buat balas dendam ke abangku?"*
Laras cuma menginginkan satu hal: membatalkan tunangan dan lepas dari keluarga yang menjualnya demi sebuah proyek bisnis raksasa. Tapi malam itu mengubah segalanya. Sekali, dua kali... lalu malam-malam rahasia yang tak terhitung lagi jumlahnya.
Yang tak Laras sadari: di balik topeng *bad boy* itu, Bram menyimpan sebuah bekas luka di pinggang, sebuah tato Latin di jarinya, dan satu rahasia yang telah ia pendam bertahun-tahun. Pria yang katanya cuma cari senang ini ternyata pernah menahan sebuah peluru demi menyelamatkan nyawanya di sebuah gedung konser di luar negeri—dan telah mencintainya diam-diam, jauh sebelum takdir "mempertemukan" mereka.
Ketika perselingkuhan sang tunangan meledak di depan seluruh undangan, ketika kembang api pecah di atas panggung juaranya, ketika satu ciuman viral mengguncang seluruh negeri—Laras akhirnya harus memilih: terus berpura-pura, atau mengakui bahwa satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya justru adik dari pria yang mengkhianatinya.
Tapi Bram tak datang hanya untuk mencintainya. Ia datang untuk merebut kembali segalanya—dan menjatuhkan abangnya sendiri, sampai ke titik terdalam.
> *"Sekarang dia mantan tunanganmu, pacarku, dan calon adik iparmu. Kenapa, Mas?"*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 28
1001 Kekasih Gelap
Keesokan pagi, Bram memulai hari sebagai peretas yang tidak tahu malu.
"Keluarkan aku dari daftar blokir," katanya sambil menyodorkan ponsel Laras.
"Lakukan sendiri."
"PIN?"
"Tidak perlu tahu."
Bram menunggu di samping meja makan sampai Laras menyerah. "Nol empat dua empat."
Jarinya berhenti di atas layar. "Tanggal apa?"
"Angka acak."
"Ulang tahun cinta pertama?"
"Saya bahkan tidak ingat ulang tahunmu."
"Sakit hati juga, ya."
Tanggal 24 April tidak acak. Laras menggunakannya sejak tiga tahun lalu tanpa pernah menjelaskan kepada siapa pun. Ia tidak mau membuka pintu ingatan itu pagi ini.
Tanggal tersebut selalu datang bersama sensasi cahaya putih, lantai dingin, dan bunyi keras yang tidak memiliki bentuk utuh dalam kepalanya. Setelah kejadian itu, Laras mengganti seluruh kata sandi menjadi 0424 karena angka terasa lebih mudah dikendalikan daripada ingatan. Ia bahkan tidak menyebutnya kepada terapis yang pernah ditemui setelah pulang.
Bram tidak bertanya lagi. Namun tatapannya berhenti satu detik terlalu lama pada layar, seolah empat angka itu baru saja menyentuh sesuatu yang ia kenal.
Bram membuka daftar blokir, mengembalikan akun V, lalu melihat foto profil Radit di bawahnya. Tanpa bertanya, ia menghapus kontak itu dari daftar sepenuhnya.
"Kamu tidak berhak."
"Kamu yang bilang lakukan sendiri."
Ia menempatkan V paling atas dan mengganti namanya menjadi 1001 Kekasih Gelap.
"Norak."
"Akurat."
Bram belum selesai. Ia menambahkan dirinya ke WhatsApp, Instagram, Facebook, dan dompet digital Laras. Setiap aplikasi memakai nama yang sedikit berbeda tetapi selalu berada di posisi teratas.
Di WhatsApp ia menjadi 1001 Kekasih Gelap. Di Instagram, Bagas Paling Tampan. Di daftar pembayaran, Dana Darurat Pacar. Laras menghapus nama kedua dan ketiga. Bram mengubahnya kembali sambil berlindung di sisi lain meja.
"Kembalikan ponsel saya."
"Setelah audit selesai."
"Itu privasi."
"Aku nggak baca pesanmu. Aku cuma memastikan ada jalur komunikasi kalau kamu kabur."
Ia benar-benar tidak membuka percakapan lain. Kontrolnya menyebalkan, tetapi berhenti tepat sebelum berubah menjadi pengawasan isi. Laras memperhatikan batas itu dan diam-diam menyimpannya sebagai perbedaan lain antara Bram dan Radit.
"Untuk apa masuk dompet digital?"
"Siapa tahu besok kamu blokir aku lagi. Aku masih bisa kirim seribu rupiah dengan pesan."
Ia mengangkat ponsel ke wajah Laras untuk mengaktifkan pengenal wajah, lalu masuk ke pengaturan keamanan.
"Jangan ubah PIN saya."
"Sudah. Nol enam nol satu."
"Apa itu?"
"Ulang tahunku. Sekarang kamu nggak punya alasan lupa."
Laras merebut ponsel, tetapi perubahan sudah tersimpan.
Hari-hari berikutnya, Bram memakai akses itu dengan semena-mena. Ia mengirim kopi melalui aplikasi saat Laras masih tidur, memasukkan jadwal makan ke kalender, dan mengganti foto kontaknya sendiri dengan potret tersenyum yang sengaja menyebalkan.
Laras membalas dengan menjadwalkan alarm pukul lima pagi di ponsel Bram. Lelaki itu bangun, mematikan alarm, lalu menarik Laras kembali ke tempat tidur sambil menyebutnya kejam. Siangnya ia mengirim tagihan satu rupiah dengan keterangan ganti rugi kurang tidur.
Mereka bekerja dari sisi berbeda meja. Laras meninjau materi Harmoni Nusantara, sementara Bram mengikuti rapat dengan earphone dan sesekali mengetik perintah pendek kepada Yoga. Di depan orang, Bram mungkin tampak menghilang untuk liburan. Di layar laptop, ia masih memeriksa vendor Cakrawala dan laporan Batam setiap malam.
Kehidupan kecil itu terasa terlalu mudah. Itulah alasan Laras terus mengingatkan diri pada kata gelap. Mudah tidak berarti aman.
Sore itu, ketika Bram sedang membalas pesan Yoga, Laras duduk di ujung sofa dan memperhatikan jari telunjuk serta jari tengahnya.
PER ASPERA. AD ASTRA.
Ia mencari artinya.
Melalui kesulitan menuju bintang-bintang.
Bram pernah mengatakan tulisan itu kurang lebih nama cinta pertama. Laras mencoba menghubungkan kalimat Latin dengan nama seorang perempuan, tetapi hasilnya tidak masuk akal.
Ia mencari daftar nama yang berarti bintang. Tidak ada satu pun yang membuatnya yakin. Lalu pikirannya beralih pada D-274 di Pondok Indah, cara Bram berubah dingin ketika ia mengenali suaranya, dan kontak V yang sejak awal dipasang sendiri oleh lelaki itu.
Semua petunjuk seolah mengarah ke pusat yang sama, tetapi pusat itu tertutup kabut.
"Mengagumi tangan pacar gelapmu?" tanya Bram tanpa mengangkat kepala.
Laras mematikan layar. "Mencari tahu apakah tatomu salah eja."
"Dan?"
"Sayangnya benar."
"Kecewa?"
"Saya kecewa setiap melihat pemiliknya."
Ponsel Bram berbunyi. Yoga melaporkan Radit meminta orang kantor memeriksa jadwal Bram dan menanyakan apakah ia sedang di luar negeri.
"Bilang aku ikut kapal pesiar ke Antartika," jawab Bram melalui pesan suara.
"Dia tidak akan percaya," kata Laras.
"Masalahnya bukan percaya. Masalahnya berapa lama dia buang waktu memeriksa."
Laras menatapnya. Sekilas, lelaki malas yang biasa bermain ponsel di rapat hilang. Yang duduk di depannya adalah seseorang yang sengaja memberi lawan informasi buruk untuk mengukur pergerakan.
"Kenapa Radit mencarimu?"
"Kangen adik."
"Bohong."
"Keluarga kami memang penuh kasih."
Bel pintu berbunyi sebelum Laras bisa mendesak. Seorang staf resor berdiri membawa buket mawar merah begitu besar hingga hampir menutupi wajahnya.
"Untuk Ibu," katanya. "Dikirim melalui pesanan internasional."
Sebuah kartu terselip di antara bunga.
Ras, aku cinta kamu. Kita mulai lagi, ya.
Radit.
Laras memotret kartu dan bukti pengiriman sebelum menyentuh apa pun. Pesanan memakai nama perusahaan pihak ketiga, bukan rekening Radit. Pengirim jelas ingin terlihat romantis tetapi tetap menyisakan ruang untuk menyangkal jika foto bocor.
"Dia tahu saya di sini," kata Laras.
"Orangnya menemukan data penerbanganmu atau hotel transit."
"Berarti aturan pertama kita sudah terancam."
"Dia tahu kamu di pulau ini. Belum tahu aku di kamar ini."
Bram memeriksa label logistik, mengirim foto kepada Yoga, lalu menghapus jejak gambarnya dari galeri bersama agar staf hotel tidak melihat nama asli mereka. Gerakannya cepat dan terbiasa.
Ekspresi Bram membeku.
"Buang," katanya.
"Saya bisa mengurusnya sendiri."
"Bunganya bikin kamar bau."
Staf itu ragu, menunggu instruksi Laras. Laras memandang buket, lalu mengangguk. "Tolong bawa keluar."
Ketika staf sudah berjalan dua langkah, Bram memperhatikan kartu sekali lagi. Rasa marah di wajahnya perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih berbahaya.
"Tunggu," panggilnya.
Staf menoleh.
Bram mengambil kartu dari buket, meraba tinta tulisan tangan, lalu tersenyum tipis.
"Kenapa?" tanya Laras.
"Tulisan Mas Radit jelek. Yang ini terlalu rapi."
"Mungkin sekretarisnya menulis."
"Kalau orang lain boleh menulis cinta atas namanya, berarti kartu ini bisa dipakai siapa saja."
Ada kilat nakal di matanya. Laras belum sempat memahami arah pikiran itu ketika Bram sudah mengambil buket dari tangan staf.
"Bawa kembali ke sini."
Kali ini, senyumnya membuat Laras lebih curiga daripada bunga tersebut.