Sepuluh tahun lalu, seorang bocah laki-laki menolong Keira dari tangan kakak angkatnya yang kejam. Wajahnya terekam di ingatan — dan di hatinya.
Sepuluh tahun kemudian, Keira bertemu lagi dengannya di zona perang. Kali ini, dia bukan bocah. Dia Brigadir Jenderal Darren Tanuwijaya, komandan pasukan elite TNI yang paling ditakuti di medan pertempuran.
Keira memberanikan diri menyatakan cinta. Ditolak.
Tapi malam itu, Darren datang ke tendanya dan berkata:
"Bukan pacaran. Tapi menikah."
Pernikahan kilat di KUA. Suami yang memasak sarapan tapi bisa membunuh dengan satu peluru. Keluarga mertua yang ternyata keturunan jenderal besar. Dan keluarga angkat yang tidak pernah berhenti mempermalukannya.
Kamu cuma anak angkat. Nikah sama tentara miskin. Kasihan.
Tapi mereka tidak tahu — tentara "miskin" itu adalah Brigjen termuda dalam sejarah TNI. Kakeknya mantan Panglima. Dan suami yang mereka hina... tidak pernah membiarkan siapa pun menyakiti istrinya.
Yang lebih tidak mereka sangka:
Keira bukan anak angkat biasa.
Dia adalah pewaris Lim Group International — konglomerat terbesar kedua di Indonesia — yang diculik musuh bisnis saat berusia enam tahun dan dianggap sudah meninggal.
Satu per satu, empat kakak kandungnya mendekati secara diam-diam. Aktor terkenal. Ilmuwan antariksa. Atlet bela diri. Pengusaha misterius. Mereka sudah mencarinya selama tujuh belas tahun.
Sementara itu, kakak angkatnya semakin nekat: alergi yang hampir membunuhnya, narkoba, dan pisau di tengah malam.
Antara tugas negara dan cinta yang tak pernah goyah, antara keluarga yang hilang dan keluarga yang dipilih — Keira harus menemukan siapa dirinya yang sebenarnya.
Dan ketika seluruh kebenaran terungkap...
Yang dulu menghina, sekarang berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5
Empat Puluh Juta
Cincin di jari Keira memantulkan cahaya saat pintu rumah Hartono terbuka.
Sri Purnama berdiri di baliknya. Tatapannya turun dari wajah Keira ke tangan yang digenggam Darren, lalu berhenti pada cincin polos itu.
"Kamu benar-benar pulang," katanya. "Masuk. Papa sudah menunggu."
Tidak ada pelukan. Tidak ada pertanyaan tentang perban di bahu Keira.
Keira melangkah ke ruang tamu yang dikenalnya selama lebih dari sepuluh tahun. Rumah di kawasan menengah atas Jakarta Barat itu selalu rapi karena Sri tidak suka tetangga menemukan satu pun alasan untuk bergosip. Vas bunga berada di posisi yang sama. Foto keluarga masih memenuhi dinding.
Di antara semua foto itu, wajah Keira hanya muncul dua kali dan selalu di ujung.
Budiman Hartono duduk di sofa utama. Vania berada di sampingnya dengan gaun kerja mahal, sementara Dimas bersandar dekat jendela sambil memainkan kunci mobil.
"Papa, Mama." Keira menahan napas. "Ini Darren Tanuwijaya. Kami sudah menikah kemarin."
Kunci mobil di tangan Dimas berhenti berbunyi.
Budiman memandang Darren dari kepala hingga kaki. Hari ini Darren mengenakan kemeja hitam sederhana dan celana panjang. Tidak ada seragam, ajudan, atau kendaraan dinas yang menunjukkan kedudukannya.
"Menikah?" Suara Budiman mengeras. "Tanpa izin kami?"
"Saya sudah dewasa, Pa. Pernikahan kami sah dan tercatat."
Vania tertawa pendek. "Jadi tentara yang bajunya kamu pakai di video itu dia? Cepat sekali. Baru kenal langsung menikah."
Keira merasakan ibu jari Darren mengusap punggung tangannya sekali.
"Kami datang untuk memberi tahu dengan baik," kata Darren. "Bukan untuk diadili."
Budiman mengangkat alis. "Kamu prajurit biasa?"
"Saya anggota TNI."
"Pangkat?"
"Cukup untuk menjalankan tugas saya."
Jawaban itu membuat bibir Vania melengkung. "Kalau pangkatnya bagus, pasti sudah disebut dari tadi."
Sri duduk di kursi seberang. "Gajimu berapa? Punya rumah sendiri atau masih tinggal di barak?"
"Saya tinggal di rumah dinas."
"Berarti bukan milik sendiri." Sri mendecak. "Keira terbiasa tinggal di rumah seperti ini. Kamu mau memberinya hidup seperti apa?"
Keira hampir tertawa karena ironi kalimat itu. Kamar yang diberikan keluarga Hartono padanya adalah bekas ruang penyimpanan di lantai dua. Saat hujan deras, air merembes dari sudut jendela.
Namun ia tidak sempat menjawab.
"Kehidupan yang aman," kata Darren. "Dan rumah yang tidak membuatnya membayar tempat tinggal dengan ketaatan."
Ruangan langsung sunyi.
Budiman menyandarkan tubuh. "Kamu baru satu hari menjadi suaminya. Jangan bicara seolah mengenal keluarga kami."
"Saya mengenal cara kalian menyuruhnya menikahi Jason Tan demi kerja sama perusahaan. Itu cukup."
Wajah Sri berubah, sementara Vania menyilangkan tangan.
"Keira mengadu rupanya."
"Aku tidak mengadu, Mbak Vania. Kamu mengatakannya sendiri lewat panggilan video."
"Semua itu untuk masa depanmu. Jason punya perusahaan, jaringan, dan uang. Apa yang dimiliki suamimu selain seragam?"
Darren tidak terpancing. "Keira sudah memilih. Pembicaraan tentang Jason selesai."
"Kamu pikir pernikahan membuatmu menang?" Vania menatap Keira. "Nikah dengan tentara, siap-siap jadi janda muda. Setiap kali dia pergi, kamu bahkan tidak tahu dia pulang atau tinggal nama."
Jari Keira membeku di dalam genggaman Darren.
Ia teringat cara Mami Yuliana memeluknya kemarin, juga air mata yang muncul ketika membicarakan tugas Darren. Ucapan Vania menusuk ketakutan yang bahkan belum berani ia beri nama.
Darren menoleh kepada Vania. Suaranya tetap rendah.
"Jangan menggunakan kematian prajurit untuk menghina istri saya."
Vania membuka mulut, tetapi tatapan Darren membuat kata-katanya hilang.
Dimas akhirnya bergerak dari jendela. Matanya jatuh pada perban Keira. "Bahu kamu kenapa?"
"Terluka saat tugas."
"Tugas apa sampai begini?"
"Bukan urusanmu, Mas Dimas," potong Vania. "Dia selalu cari masalah sendiri."
Dimas melirik kakaknya, tampak ingin membalas, tetapi memilih diam.
Budiman mengetukkan jari ke sandaran sofa. "Baik. Kalau pernikahan sudah terjadi, kami tidak bisa membatalkan. Tapi kamu datang mengambil anak perempuan dari keluarga Hartono tanpa membawa apa pun."
"Apa yang Bapak minta?" tanya Darren.
Keira menoleh cepat. "Darren, tidak perlu."
Sri menjawab lebih dulu. "Empat puluh juta rupiah. Anggap sebagai seserahan dan tanda hormat kepada orang tua yang membesarkan Keira."
Angka itu meluncur begitu mudah, seolah mereka sedang menentukan harga sebuah barang.
"Mama," bisik Keira. "Kami sudah menikah. Ini bukan transaksi."
"Justru karena sudah menikah tanpa izin, kamu jangan banyak bicara," balas Sri. "Kami mengeluarkan biaya sejak kamu kecil. Empat puluh juta tidak sebanding."
Keira menatap lantai. Cincin di jarinya terasa dingin.
Darren melepaskan tangannya hanya untuk mengambil ponsel.
"Nomor rekening."
Budiman menyebutkannya tanpa malu. Darren mengetik beberapa kali, lalu memutar layar. Notifikasi transfer empat puluh juta rupiah terlihat jelas.
Vania berhenti tersenyum.
"Cepat sekali," gumam Sri.
"Saya memenuhi permintaan kalian sebagai tanda hormat terakhir," kata Darren. "Tapi saya punya satu syarat."
Budiman mengerutkan kening. "Syarat?"
"Keira tidak boleh lagi dijadikan umpan untuk tugas berbahaya tanpa pengamanan, persetujuan, dan perlindungan yang layak. Hartono Media tidak boleh memaksa istri saya masuk ke operasi penyamaran hanya karena lebih murah daripada membayar tim profesional."
Keira menatap Darren. Ia belum pernah menceritakan detail kontrak kerjanya. Darren rupanya membaca situasi lebih banyak daripada yang ia ucapkan.
Vania mendengus. "Itu pekerjaannya. Jangan ikut campur urusan kantor."
"Keselamatannya bukan urusan kantor saja."
"Keira sendiri yang suka cari berita berbahaya."
"Dan dia berhak memilih risiko yang mau diambil, bukan didorong oleh keluarga yang mendapat keuntungan darinya."
Untuk pertama kalinya, seseorang membedakan keberanian Keira dari cara keluarga Hartono memanfaatkannya.
Budiman memasukkan ponsel ke saku setelah memastikan uang masuk. "Kamu terlalu banyak bicara untuk seorang tentara."
"Karena tidak ada seorang pun di rumah ini yang bicara untuk Keira."
Udara seperti membeku.
Sri berdiri dengan wajah merah. "Kami membesarkannya! Kalau bukan karena kami, dia masih tinggal di panti asuhan."
"Mama, cukup," kata Keira.
"Kenapa harus cukup? Suamimu perlu tahu siapa yang dinikahinya." Sri menunjuk Keira. "Dia bukan anak kandung kami. Dia anak angkat yang kami ambil karena kasihan."
Keira pernah mendengar kalimat itu ratusan kali. Namun hari ini rasanya berbeda. Sri mengucapkannya di depan Darren seperti membuka aib yang sengaja disimpan untuk menurunkan nilainya.
Keira menarik tangannya dari sisi tubuh agar mereka tidak melihat jemarinya gemetar.
"Bukan anak kandung?" Darren bertanya.
Budiman mengangkat dagu. "Ya. Jadi jangan mengira kamu menikahi pewaris Hartono Media. Vania dan Dimas anak kandung kami. Keira tidak punya hak atas perusahaan atau harta keluarga."
Dimas menunduk. Vania justru tersenyum lagi.
Darren berdiri.
Gerakannya tenang, tetapi seluruh ruangan terasa menyempit. Ia mengambil tas kecil Keira yang diletakkan di dekat sofa, lalu mengulurkan tangan kepadanya.
"Ayo."
Keira menatap orang-orang yang selama ini ia panggil keluarga. Tidak satu pun meminta mereka tinggal untuk makan. Tidak satu pun bertanya apakah lukanya sakit.
Ia meletakkan tangannya di telapak Darren.
Budiman ikut berdiri. "Mau ke mana?"
"Pulang," jawab Darren.
Sri mencibir. "Ke barakmu?"
Darren membuka pintu, lalu menoleh kepada Keira, bukan kepada mereka.
"Ke rumah kita."
Dua kata itu meruntuhkan sesuatu di dalam dada Keira.
Ia mengikuti Darren keluar tanpa menoleh lagi.
Di dalam mobil, Keira duduk diam sampai rumah Hartono hilang dari kaca spion. Bahunya berdenyut, tetapi rasa sakit di dada jauh lebih tajam.
"Maaf," katanya akhirnya.
Darren menurunkan kecepatan. "Untuk apa?"
"Mereka merendahkanmu. Menanyakan uang, rumah, pangkat. Lalu uang empat puluh juta itu..."
"Aku yang memilih membayarnya."
"Aku akan mengembalikan."
"Tidak perlu."
Keira menunduk. "Kamu juga baru tahu aku anak angkat. Kalau itu mengubah sesuatu..."
Darren menghentikan mobil di lampu merah dan menoleh penuh.
"Kamu tidak perlu meminta maaf untuk keluarga mereka."
Keluarga mereka.
Bukan keluargamu.
Darren mengangkat tangan, lalu menghapus air mata yang baru disadari Keira jatuh ke pipi.
"Mulai sekarang," katanya, "kalau kamu tidak punya tempat untuk pulang, pulanglah kepadaku."
Lampu berubah hijau. Mobil kembali bergerak menuju Jakarta Selatan, menuju rumah mereka.
kalian bakalan stroke kalo tau keluarga asli Keira 🤣🤣🤣🤣
review bintang 🌟 5 untuk pemula 😲😲😲😲👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻