NovelToon NovelToon
IBU MAFIA

IBU MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Single Mom
Popularitas:735
Nilai: 5
Nama Author: Princess Catalunya

Amara pernah memiliki keluarga yang ia cintai. Namun setelah bertahun-tahun mendukung suaminya dari nol, ia justru dikhianati.

Sebagai ibu tunggal dengan tiga anak, Amara berusaha bangkit dari luka dan kehancuran. Takdir kemudian mempertemukannya dengan seorang pria mafia yang memberinya sebuah kerajaan.

Kini, di mata dunia, Amara hanyalah seorang ibu sederhana yang bekerja sebagai careworker.

Tidak ada yang tahu bahwa di balik sosok pendiam itu, tersembunyi seorang penguasa dunia bawah tanah.

Amara membangun kerajaan demi ketiga anaknya. Ia ingin mereka memiliki masa depan, tetapi tidak pernah ingin mereka tumbuh menjadi manusia yang bergantung pada kekayaan.

Karena seorang ibu akan melakukan apa pun untuk melindungi anak-anaknya.

Bahkan jika ia harus menjadi seorang mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princess Catalunya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rival Lama di Ruang Konferensi

Nama Aether Global Group kembali memenuhi seluruh media internasional. Kali ini bukan karena skandal, bukan pula karena politik. Namun karena keputusan besar yang mengejutkan banyak pihak.

Perusahaan milik Amara berhasil mengakuisisi perusahaan manufaktur raksasa yang hampir bangkrut dan menyelamatkan lebih dari tiga puluh ribu pekerja dari PHK massal.

Berita itu langsung menjadi headline di mana-mana.

“Madam A Saves Thousands of Jobs.”

“The Silent Queen of Industry.”

“Wanita Misterius di Balik Akuisisi Terbesar Tahun Ini.”

Nilai saham melonjak drastis. Pemerintah bahkan secara terbuka memberikan apresiasi karena langkah itu berhasil menstabilkan ekonomi beberapa daerah.

Namun seperti biasa, Amara tetap tidak banyak bicara.

Di ruang redaksi salah satu stasiun televisi nasional, Clara membaca naskah berita sambil terburu-buru.

“Direktur minta liputan khusus,” ujar produser.

“Siapa yang wawancara?”

“Kamu.”

Clara mengangkat kepala.

“Aku?”

“Ya. Ini kesempatan besar. Jarang sekali Madam A mau muncul langsung.”

Jantung Clara langsung berdebar. Karena semua jurnalis tahu betapa sulitnya mewawancarai pemilik Aether Global Group. Wanita itu hampir tidak pernah tampil di publik. Foto resminya saja sangat sedikit. Bahkan banyak orang tidak tahu wajah aslinya.

Namun Clara tidak terlalu memikirkan itu. Baginya ini kesempatan emas untuk kariernya. Kapan lagi ia bisa dapatkan kesempatan untuk mewawancara langsung Madam A, pikirnya.

Sore harinya, Clara tiba di gedung pusat Aether Global. Ia mengenakan blazer rapi dengan makeup profesional khas reporter televisi. Meski hidupnya tidak mewah, Clara masih merawat penampilannya dengan baik.

Di lobi ia sempat kagum melihat kemegahan perusahaan itu.

“Bayangkan kalau hidup kita seperti mereka…” gumam salah satu kru kameranya.

Clara hanya tersenyum kecil. Namun jauh di dalam hati, ada rasa iri yang tidak pernah benar-benar hilang dalam hidupnya. Ia pernah berpikir setelah menikah dengan Reza, hidupnya akan bak Ratu. Namun faktanya ia masih harus bekerja keras untuk menutupi semua kebutuhan rumah tangganya.

Mereka dibawa menuju ruang konferensi utama di lantai atas. Ruangan itu luas, elegan, dan dijaga ketat. Puluhan wartawan terlihat sudah duduk rapi.

Tak lama kemudian, pintu terbuka. Semua orang langsung berdiri refleks. Clara ikut menoleh. Dan dalam satu detik, wajahnya berubah pucat. Seakan jantungnya berhenti berdetak, dan darah di tubuhnya seperti berhenti mengalir.

Wanita yang masuk ke ruangan itu, adalah Amara. Wanita yang menjadi saingannya dulu.

Tidak banyak yang berubah dari wajah itu, wajah itu masih tenang. Bahkan sangat tenang. Masih dingin, bahkan sangat dingin. Masih cantik dengan caranya yang sederhana. Namun sekarang ada sesuatu yang jauh lebih mengerikan dalam dirinya. Kekuasaan.

Amara berjalan perlahan menuju podium dengan gaun hitam elegan tanpa aksesori mencolok. Seluruh direksi dan pejabat penting menundukkan kepala hormat saat ia lewat.

Dan Clara, masih berdiri terpaku, seolah-olah tubuhnya tidak mampu bergerak. Pikirannya berputar kacau. Sejak Amara berpisah dengan Reza, wanita itu memang seperti hilang ditelan bumi. Tidak ada yang tahu keberadaannya, termasuk Clara.

Tidak mungkin, tidak mungkin wanita yang dulu ia rebut suaminya, kini menjadi salah satu perempuan paling berpengaruh di dunia.

“Selamat sore.”

Suara Amara tenang memenuhi ruangan. Clara meremas mapnya kuat-kuat. Tiba-tiba semua kenangan lama menghantam dirinya. Tentang bagaimana dulu ia merasa menang karena berhasil mendapatkan Reza. Tentang bagaimana ia memandang Amara sebagai perempuan biasa yang mudah disingkirkan.

Dan sekarang, ia berdiri di hadapan wanita itu sebagai reporter biasa. Sementara Amara berada di puncak dunia.

Konferensi pers berlangsung lancar.

Amara menjawab semua pertanyaan dengan singkat namun tajam.

“Kami tidak hanya membeli perusahaan,” katanya tenang. “Kami membeli kesempatan hidup bagi ribuan keluarga.”

Kalimat itu langsung memenuhi berita nasional malam itu.

Ketika sesi wawancara khusus dimulai, produser memberi isyarat pada Clara.

“Kamu maju.”

Kaki Clara terasa berat. Namun ia tetap berjalan mendekat sambil membawa mic. Amara mengangkat mata perlahan. Dan untuk pertama kalinya, tatapan mereka bertemu setelah bertahun-tahun.

Sunyi mencekam. Suasana di ruangan tersebut mendasak tegang. Tidak ada senyum di sana, tidak ada kemarahan. Hanya dua perempuan yang pernah saling menghancurkan dalam diam.

Clara mencoba bersikap profesional.

“Selamat sore, Madam A.”

“Selamat sore.”

Suara Amara tetap datar.

Clara menelan ludah.

“Banyak orang menganggap keputusan Anda menyelamatkan perusahaan ini terlalu berisiko. Kenapa Anda tetap melakukannya?”

Amara menjawab tanpa ragu.

“Karena ribuan anak tidak seharusnya kehilangan masa depan hanya karena orang dewasa gagal mengelola keserakahan mereka.”

Jawaban itu terasa seperti tamparan bagi Clara. Entah kenapa.

Wawancara selesai dan semua kru mulai membereskan alat. Namun saat Clara hendak pergi, sekretaris Amara mendekatinya.

“Madam ingin bicara sebentar.”

Jantung Clara langsung berdegup keras. Ia mengikuti sekretaris menuju ruang pribadi Amara.

Dan di sanalah, untuk pertama kalinya mereka benar-benar berhadapan tanpa kamera.

Amara berdiri di dekat jendela besar sambil memegang secangkir teh. Masih sama seperti dulu. Sangat tenang.

Clara berdiri canggung.

“Aku tidak tahu… perusahaan ini milikmu,” ucap Clara pelan.

Amara tersenyum tipis.

“Aku tahu.”

Clara menunduk. Perasaan malu mulai menghimpit dadanya.

“Aku—”

“Kau tidak perlu minta maaf.”

Clara terdiam.

Amara melanjutkan pelan,

“Yang terjadi sudah terlalu lama.”

“Apakah… kau membenciku?”

Pertanyaan itu akhirnya keluar juga.

Amara diam cukup lama.

Lalu menjawab dengan suara lembut yang justru terasa lebih menyakitkan.

“Dulu iya.”

Clara memejamkan mata.

“Tapi hidup mengajariku sesuatu.”

“Apa?”

Amara menatap kota dari balik kaca.

“Orang yang bahagia tidak akan merebut milik orang lain.”

Sunyi.

Kalimat itu menusuk tepat ke dada Clara. Karena untuk pertama kalinya ia sadar bahwa selama ini dirinya tidak pernah benar-benar menang. Ia sangat jauh di belakang Amara, walaupun ia berusaha sekuat tenaga.

Sebelum Clara pergi, Amara berkata pelan,

“Anakmu ingin kuliah, kan?”

Clara membeku.

“K-kau tahu?”

“Aku tahu banyak hal.”

Amara meletakkan sebuah map di meja.

“Beasiswa penuh dari yayasan pendidikan perusahaan.”

Clara langsung menatapnya tak percaya.

“Kenapa…?”

Amara tersenyum kecil.

“Karena anak-anak tidak seharusnya menanggung kesalahan orang tuanya.”

Clara masih berdiri di tempatnya. Tangannya perlahan mengambil map itu, tetapi ia tidak langsung membukanya. Ada rasa malu yang sulit dijelaskan.

Dulu, ia pernah menganggap Amara sebagai perempuan yang kalah. Ia merasa telah memenangkan Reza, memenangkan rumah tangga, dan memenangkan kehidupan yang seharusnya dimiliki Amara.

Namun sekarang, Amara tidak membalas dengan merendahkannya. Tidak ada hinaan dan tidak ada kata-kata yang sengaja dibuat untuk menyakitinya. Justru Amara memberikan kesempatan bagi anak-anaknya untuk memiliki masa depan.

“Aku tidak tahu harus berkata apa,” ucap Clara lirih.

Amara tetap menatap dokumen di tangannya.

“Tidak perlu mengatakan apa pun."

“Tapi setelah semua yang terjadi…”

“Aku membantu mereka bukan karena aku sudah melupakan masa lalu,” potong Amara tenang.

“Aku membantu karena aku tahu bagaimana rasanya melihat anak-anak memiliki mimpi, tetapi tidak punya kesempatan untuk meraihnya.”

Clara menunduk. Air matanya akhirnya jatuh tanpa suara. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa kalah karena Amara lebih kaya, lebih berkuasa, atau lebih dihormati. Ia merasa kalah karena perempuan yang pernah ia sakiti ternyata masih memiliki hati yang jauh lebih besar daripada dirinya.

Pandangan Clara mulai kabur oleh air mata. Namun Amara sudah kembali menatap dokumen di tangannya.

Percakapan selesai. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, Clara benar-benar merasa kecil di hadapan wanita yang dulu pernah ia remehkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!