Empat tahun lamanya Arunika mengalah dan hidup sebagai istri pajangan, demi menghormati amanah almarhum ayahnya. Namun, segalanya hancur saat ia mendengar rencana kejam Saka. Pria itu berniat menikah lagi dengan kekasihnya, namun menolak menceraikan Arunika hanya karena butuh statusnya demi warisan keluarga Daniswara. Saka mengira Arunika wanita lemah yang akan pasrah dipoligami.
Kekecewaan mendalam itu justru membangkitkan sisi cerdas yang selama ini Arunika sembunyikan. Tanpa labrakan histeris, Arunika menyusun skenario skakmat dalam senyap. Tepat di hari pernikahan megah Saka, ia melangkah pergi membawa dokumen cerai dan menayangkan video perselingkuhan suaminya di gedung pesta. Sebuah langkah sunyi yang tidak hanya menyelamatkan harga dirinya, tetapi juga menjadi awal runtuhnya seluruh takhta palsu yang Saka banggakan.
Ingin tahu kisah selengkapnya? Yuk ikuti cerita Langkah Sunyi Arunika hanya di NovelToon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Strategi Arunika
Suasana di ruang tengah rumah bergaya Jawa klasik di kawasan Sleman itu mendadak sunyi. Arunika mematung di kursinya, menatap dokumen resmi di atas meja kayu jati. Penjelasan Pak Kevin mengenai pengajuan namanya sebagai calon pengganti Saka untuk memimpin Daniswara Group terus terngiang di benaknya.
Ia tidak pernah membayangkan bahwa setelah pernikahannya berakhir, dirinya justru harus menghadapi tanggung jawab sebesar ini.
Di balik cadar hitam panjangnya, Ibu Sandra tampak menahan napas. Sementara itu, Anggoro mengepalkan tangan dengan rahang mengeras. Mereka memahami bahwa Daniswara Group bukan perusahaan kecil yang bisa dikelola tanpa persiapan matang. Ada kepentingan bisnis, persaingan, dan berbagai persoalan yang harus dihadapi oleh siapa pun yang menduduki kursi pimpinan.
Arunika sendiri sedang mengandung lima bulan. Dalam keadaan seperti itu, ia harus mempertimbangkan dengan cermat setiap keputusan yang akan memengaruhi masa depan dirinya dan bayinya.
“Assalamu'alaikum!”
Suara lantang dan ceria dari arah pintu depan tiba-tiba memecah keheningan.
Arunika tersentak dan menoleh. Sesaat kemudian, pintu kayu jati terbuka, memperlihatkan sosok Dinda yang melangkah masuk dengan senyum lebar. Sahabatnya itu membawa tas jinjing berukuran besar dan sebuah koper, dengan penampilan modis khas perempuan ibu kota.
Dinda sengaja datang ke Yogyakarta setelah mendengar kabar dari Anggita mengenai kejadian di rumah sakit ibu dan anak sehari sebelumnya. Ia khawatir Arunika kembali mengalami tekanan setelah berhadapan dengan Saka. Karena itu, ia memutuskan datang untuk menemani dan memberikan dukungan kepada sahabatnya.
Namun, ia sama sekali tidak menyangka akan tiba ketika semua orang sedang membicarakan persoalan serius mengenai Daniswara Group.
“Nika! Ya ampun, aku kangen banget sama kamu!” serunya riang.
Langkah Dinda mendadak terhenti ketika menyadari suasana ruang tengah yang begitu serius. Pandangannya beralih kepada Pak Kevin yang duduk dengan berkas bersampul hitam di hadapannya.
“Eh, maaf. Sepertinya aku datang di waktu yang salah, ya?” Dinda mengerjap, lalu memandang orang-orang di ruangan itu bergantian. “Berat banget suasananya. Sudah seperti mau rapat kabinet presiden.”
Melihat Dinda berdiri sambil menenteng tas dan koper yang tampak cukup berat, Anggoro yang sejak tadi duduk dengan tubuh kaku segera bangkit. Ia berjalan mendekati Dinda, kemudian mengambil gagang koper dan tas jinjing dari tangannya untuk membantu membawakan barang-barang itu.
Anggita dan Ibu Sandra sempat saling pandang. Keduanya menyadari sikap Anggoro yang terkesan lebih sigap dari biasanya, tetapi tidak berkomentar.
Dinda sendiri sempat terkejut ketika barang bawaannya berpindah tangan. Namun, seperti biasa, ia segera menemukan bahan untuk melontarkan candaan.
“Wah, Kang Mas Anggoro ternyata diam-diam peka juga, ya.” Senyum jahil menghiasi wajahnya. “Tahu saja kalau pundak Princess Jakarta ini hampir copot gara-gara membawa oleh-oleh sekoper buat memenuhi keinginan nyonya muda kita yang lagi ngidam.”
Ia mengedipkan mata dengan jenaka.
“Makasih, lho, Kang Mas. Gantengnya langsung bertambah sepuluh persen kalau lagi sigap begini.”
Anggoro seketika terdiam. Pria yang biasanya tenang itu berdeham canggung, lalu memalingkan wajah untuk menyembunyikan rona merah tipis di ujung telinganya.
Celetukan Dinda berhasil mencairkan ketegangan yang sejak tadi menyelimuti ruangan. Arunika, Anggita, dan Ibu Sandra pun tersenyum, bahkan tertawa kecil mendengar kelakar tersebut.
“Sama-sama, Nona Dinda. Silakan duduk,” jawab Anggoro singkat dengan suara baritonnya yang berusaha terdengar datar.
Ia membawa koper dan tas Dinda ke sudut ruangan. Meski gerakannya tetap tenang, sikapnya menunjukkan sedikit kecanggungan yang tidak biasa.
Sementara itu, Kevin kembali mencuri pandang ke arah Anggita. Sejak kedatangannya, perhatian pengacara muda itu beberapa kali tertuju pada gadis tersebut. Ia memperhatikan Anggita yang saling bertukar pandang dengan Ibu Sandra, lalu ikut tersenyum ketika mendengar candaan Dinda.
Senyum tipis menghiasi wajah Kevin. Setelah sekian lama mencurahkan perhatian pada pekerjaan dan putri kecilnya, ia tidak menyangka pertemuan singkat dengan Anggita akan meninggalkan kesan tersendiri.
Di sisi lain, Arunika mengamati interaksi Dinda dan Anggoro. Ada kecocokan yang terlihat dari cara Dinda melontarkan candaan dan cara Anggoro menanggapinya, meskipun pria itu masih berusaha menyembunyikan kecanggungannya.
Namun, perhatian Arunika segera kembali pada persoalan yang sedang mereka hadapi.
Kedatangan Dinda membuatnya teringat pada satu kemungkinan yang sejak tadi dipertimbangkannya. Ia mengangkat wajah, lalu menatap Pak Kevin dengan sorot mata yang lebih mantap.
“Dinda, kamu datang di waktu yang tepat,” ujar Arunika.
Kedatangan Dinda membuatnya teringat pada satu kemungkinan yang sejak tadi dipertimbangkannya. Ia mengangkat wajah, lalu menatap Pak Kevin dengan sorot mata yang lebih mantap.
“Dinda, kamu datang di waktu yang tepat,” ujar Arunika.
Dinda mengerutkan kening, lalu menarik kursi untuk duduk lebih dekat.
“Memangnya ada apa, Nika?”
Arunika belum menjawab. Ia lebih dahulu menoleh kepada Kevin.
“Pak Kevin, saya sudah mempertimbangkan persoalan ini. Saya tidak akan kembali ke Jakarta untuk langsung mengambil jabatan CEO sekarang.”
Kevin menyimak dengan saksama.
“Kandungan saya sudah memasuki usia lima bulan. Saya harus menjaga kesehatan diri dan bayi saya, terlebih setelah semua tekanan yang terjadi belakangan ini. Selain itu, saya masih harus menyelesaikan kuliah pascasarjana di UGM.”
Arunika berhenti sejenak, kemudian melanjutkan dengan suara tenang.
“Namun, saya juga tidak ingin Daniswara Group terus berada dalam ketidakpastian. Karena itu, saya sudah menentukan langkah yang menurut saya paling tepat.”
Pandangan Arunika beralih kepada Anggoro yang kini duduk di seberangnya.
“Mas Anggoro, dengan delapan puluh lima persen saham yang sekarang resmi atas nama saya, saya ingin memberikan mandat kepada Mas untuk menjadi CEO sementara Daniswara Group di Jakarta.”
Anggoro terperanjat. Tubuhnya menegang, sementara matanya menatap Arunika seolah ingin memastikan bahwa ia tidak salah mendengar.
“Nika? Tapi, itu perusahaan besar di Jakarta. Mas belum tentu bisa menghadapi semua persoalan di sana, apalagi kalau harus berhadapan dengan orang-orang yang selama ini bekerja bersama Saka.”
Arunika menatap kakaknya dengan tenang.
“Mas tidak harus menghadapi semuanya sendirian.”
Kemudian, ia menoleh kepada Dinda.
“Dinda, aku juga ingin meminta bantuanmu. Aku ingin kamu mendampingi Mas Anggoro di Jakarta sebagai asisten pribadi sekaligus tangan kanannya yang paling dipercaya.”
Dinda terdiam sejenak. Ia tidak menyangka kedatangannya untuk menemani sahabatnya justru membawanya pada tanggung jawab baru.
Arunika melanjutkan penjelasannya.
“Kamu mengenal lingkungan Jakarta dan memiliki jaringan pertemanan yang cukup luas. Aku berharap kamu bisa membantu Mas Anggoro memahami situasi di sana, mengumpulkan informasi yang diperlukan, dan mendampinginya selama menjalankan tugas di perusahaan.”
Dinda menatap Arunika. Perlahan, keterkejutannya berubah menjadi sorot mata penuh semangat.
“Mandat diterima dengan sangat terhormat, Nika!”
Ia kemudian melirik Anggoro yang duduk di sampingnya.
“Aku akan menjaga Mas Anggoro selama di Jakarta. Lagipula, kasihan juga kalau bos baruku ini dilepas sendirian. Bisa-bisa dikerjai orang-orang di lingkaran Saka gara-gara terlalu kaku.”
Dinda menyunggingkan senyum jahil.
Anggoro menatapnya sekilas, lalu menahan senyum tipis di sudut bibirnya. Ia tidak membalas candaan itu, tetapi juga tidak menunjukkan keberatan atas keputusan Arunika.
Kevin mengamati Arunika dengan penuh perhatian. Ia memahami bahwa keputusan tersebut memungkinkan perusahaan tetap memiliki pemimpin sementara tanpa mengharuskan Arunika meninggalkan Yogyakarta dan mengabaikan kesehatannya.
“Keputusan Anda sudah mempertimbangkan beberapa hal penting, Ibu Arunika,” ujar Kevin. “Saya akan menyiapkan dokumen hukum yang diperlukan untuk mengesahkan penunjukan Pak Anggoro sebagai CEO sementara. Saya juga akan menyiapkan dokumen penugasan Nona Dinda sebagai asisten pribadi beliau.”
Arunika mengangguk.
“Terima kasih, Pak. Saya ingin semuanya berjalan sesuai ketentuan hukum agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.”
“Tentu, Bu. Kita akan memastikan kewenangan dan tanggung jawab masing-masing tertulis dengan jelas.”
Malam semakin larut ketika pembahasan mengenai dokumen hukum dan rencana kerja selesai. Jam di ruang tengah menunjukkan pukul sembilan malam lewat.
Kevin merapikan berkas-berkasnya ke dalam tas, kemudian berdiri untuk berpamitan.
Melihat malam yang semakin gelap dan gerimis tipis yang mulai turun di kawasan Sleman, Ibu Sandra melangkah mendekat. Udara di luar rumah pun terasa semakin dingin.
“Pak Kevin, hari sudah terlalu malam dan jalanan di luar mulai berkabut,” ujarnya dengan nada santun. “Jika tidak keberatan, silakan menginap di kamar paviliun di samping rumah kami malam ini. Setidaknya, perjalanan Anda akan lebih aman.”
Kevin tersenyum sopan, lalu sedikit menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan.
“Terima kasih banyak atas kebaikan Ibu Sandra. Saya sangat menghargai tawaran Ibu, tetapi saya harus kembali ke rumah saudara sepupu saya malam ini.”
Ia merapikan tali tas di bahunya sebelum melanjutkan.
“Putri kecil saya menunggu di sana. Dia biasanya tidak bisa tidur nyenyak kalau saya belum pulang dan berada di dekatnya.”
Deg.
Di dekat meja saji, Anggita yang sedang memegang nampan kosong mendadak terdiam.
Ucapan Kevin tentang putri kecilnya yang menunggu di rumah membuat Anggita menarik kesimpulan sendiri. Ia mengira Kevin masih memiliki istri dan tengah menjalani kehidupan rumah tangga bersama anak serta pasangannya.
Anggita tidak mengetahui kenyataan yang sebenarnya: Kevin adalah seorang duda yang telah dua tahun ditinggal wafat oleh istrinya.
Kekaguman kecil yang sempat tumbuh ketika pandangan mereka bertemu sore tadi seketika berusaha ia padamkan. Anggita menundukkan kepala, meremas ujung nampan yang dipegangnya, lalu berusaha menyembunyikan kegelisahan yang mendadak memenuhi hatinya.
Ia tidak ingin menyukai pria yang diyakininya telah memiliki istri. Baginya, menjaga batas dan menghormati rumah tangga orang lain merupakan hal yang tidak bisa ditawar.
“Saya pamit dulu. Assalamu'alaikum,” ucap Kevin.
“Wa'alaikumussalam,” jawab mereka.
Sebelum melangkah keluar, Kevin sempat mengarahkan pandangan kepada Anggita. Gadis itu masih berdiri dengan kepala tertunduk, seolah sibuk memperhatikan nampan di tangannya.
Kevin tidak mengetahui apa yang sedang dipikirkan Anggita. Ia hanya menyimpan kesan tersendiri terhadap gadis itu sebelum akhirnya melangkah meninggalkan rumah dan membelah malam Sleman yang mulai diguyur gerimis.
gimana kabarnya, sehat?
masih ingat aku gak?
Aku "Riri Ernita" dulu baca novelmu sampai tammat 😍😍aku juga sering komen, bahkan sampai bab terakhir 🤭
aku gmes.....
laah...ni ga kebalik apa y....mstinya kang mas yg ngajakin dinda,tp ni sbliknya...🤣🤣🤣
gtu jg yg arunika rsakan dlu...jd trima nsib aja,hkum krma udh dtang.......