NovelToon NovelToon
Minta Rujuk? Maaf, Anak dari Ratu Konglomerat Sudah Lahir

Minta Rujuk? Maaf, Anak dari Ratu Konglomerat Sudah Lahir

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / CEO / Menantu Pria/matrilokal
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Dimas Prasetyo

Di malam ulang tahun sang mertua, Raka menyiapkan satu meja penuh masakan—dan menunggu sendirian sampai dingin, karena istri, anak, dan mertuanya malah pergi ke ruang VIP mewah yang dipesan Sebastian, sang cinta lama. Malam itu juga Raka berhenti jadi "kacung": ia mengajukan cerai, pergi tanpa menuntut sepeser pun harta keluarga Prawira, dan melangkah keluar dengan kepala tegak.

Semua orang menyangka si menantu numpang itu akan merengek balik dalam 24 jam. Yang tidak mereka tahu: Raka bukan sekadar pelukis mural berbakat yang bisa membangun kerajaannya sendiri dari nol lewat siaran langsung dan ukiran—ia adalah **putra sejati yang hilang dari Dinasti Giok Adiwangsa**, keluarga konglomerat nomor satu yang mencarinya belasan tahun. Dan perempuan sederhana yang diam-diam mengejarnya? Dialah **Anindya, Sang Ratu Konglomerat Wibisana**, yang menyembunyikan kekayaan triliunan demi cinta yang ia pendam 15 tahun.

Saat Raka naik dari "menantu buangan" jadi tuan muda dinasti giok, saat setiap penghinaan dibalas dengan bukti, bakat, dan kuasa—mantan istri, mertua matrealistis, dan sang cinta lama satu per satu menyesal setengah mati. Larasati akhirnya berlutut memohon rujuk.

Tapi maaf, Bu—**anak dari Ratu Konglomerat sudah dalam kandungan, dan aku tak akan menoleh lagi.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4 — Sahabat, Bongkahan Giok, dan Ide di TikTok

Dua hari setelah menulis kata Mulai lagi, Raka menerima uang pertama dari tangannya sendiri.

Bu Nani berdiri di depan papan menu baru yang tergantung di warung. Huruf-hurufnya bersih, harga mudah dibaca, dan gambar uap berbentuk daun di sudut membuat beberapa pelanggan berhenti untuk melihat.

"Saya belum pernah punya papan sebagus ini," kata perempuan itu sambil menyerahkan tiga lembar lima puluh ribuan. "Murah sekali, Mas."

"Itu harga tetangga pertama. Kalau nanti ada perubahan menu, saya tambahkan tanpa biaya."

"Jangan begitu. Kerja bagus harus dibayar bagus."

Raka tersenyum kecil. Ia baru hendak menerima uang tersebut ketika suara rem mobil terdengar di mulut gang.

Seorang pria bertubuh tegap turun, menutup pintu terlalu keras, lalu berjalan cepat ke arah mereka. Kemeja lapangannya masih berdebu. Gelang batu di pergelangan tangannya beradu saat ia mengepalkan tangan.

"Raka Wijaya!"

Bu Nani menoleh kaget.

Raka justru memasukkan uang pembayaran ke saku. "Pagi, Bagas."

Bagas berhenti tepat di depannya. "Pagi apaan? Lo cerai, keluar rumah cuma bawa koper, tinggal di gang begini, dan gue tahu dari sopir keluarga Prawira?"

"Sekarang lo sudah tahu langsung dari gue."

"Setelah dua hari!"

"Kalau gue bilang sebelum pindah, lo pasti datang bawa truk dan memindahkan separuh rumah mereka."

Bagas membuka mulut, lalu menutupnya lagi. "Benar juga."

Bu Nani terkekeh. Ketegangan pecah sedikit.

Raka memperkenalkan mereka, lalu membawa Bagas ke kontrakan. Begitu melihat kasur tipis dan meja berkaki batu bata, wajah Bagas kembali gelap.

"Lo tinggal di gudang sapu?"

"Gudang sapu tidak punya kamar mandi. Tempat ini punya."

"Gue serius."

"Gue juga."

Bagas menarik dompet, mengeluarkan satu kartu debit, lalu meletakkannya di atas meja. "Ambil. PIN tanggal lahir lo. Cari apartemen yang layak, bayar pengacara, beli makan."

Raka mendorong kartu itu kembali dengan dua jari. "Tidak."

"Jangan sok kuat di depan gue. Waktu kuliah, siapa yang jahit luka gue setelah kita dihajar preman?"

"Gue."

"Waktu usaha batu gue hampir bangkrut, siapa yang desain ulang katalog dan bantu gue jual stok mati?"

"Gue."

"Jadi sekarang giliran gue. Ambil."

Raka menatap sahabatnya. Di balik kemarahan Bagas, ada ketakutan tulus bahwa Raka akan jatuh sendirian. Ia tidak meremehkan niat itu. Justru karena menghargainya, Raka tidak mau mengubah persahabatan mereka menjadi hubungan pemberi dan penerima.

"Gue butuh bantuan," katanya.

Bagas mendengus. "Akhirnya otak lo hidup."

"Bukan sedekah. Pinjaman kecil dan akses ke barang yang bisa gue kerjakan. Semuanya dicatat."

Bagas menatapnya beberapa detik, lalu mengambil kembali kartu. "Ikut gue ke gudang."

Gudang Bagas berada di kawasan industri kecil Cakung. Di balik pintu besi tinggi, rak-rak kayu dipenuhi bongkahan giok Aceh dan batu mulia dari berbagai daerah. Beberapa batu sudah dipotong untuk memperlihatkan warna dan serat; lainnya masih tertutup kulit kusam yang menyimpan kemungkinan sekaligus risiko.

"Jangan tertipu penampilan," kata Bagas sambil mengetuk satu bongkahan dengan buku jarinya. "Batu jelek bisa punya isi bagus. Batu yang kinclong bisa kosong. Bisnis ini spekulasi. Salah potong, puluhan juta lenyap."

"Gue tidak minta batu mahal."

"Gue tahu tangan lo. Pilih mana saja. Kalau jadi karya, bagi hasil."

"Itu tetap modal gratis."

Bagas mengumpat pelan. "Keras kepala lo lebih keras daripada nefrit."

Raka berjalan di antara rak dan berhenti di depan kotak sisa potongan. Ia mengangkat sepotong giok hijau kelabu sebesar dua ruas jari. Bagian tepinya retak, tetapi serat di tengah cukup rapat untuk ukiran kecil.

"Yang ini. Catat berdasarkan berat dan harga sisa bahan."

"Itu dibuang pun gue tidak rugi."

"Kalau begitu, harga murah. Bukan nol."

Bagas menatap langit-langit seolah meminta kesabaran, lalu membawa Raka ke ruang kantor. Dari laci, ia mengeluarkan sebuah ponsel lama, tripod pendek, dan lampu cincin kecil.

"Perangkat bekas tim katalog," katanya. "Kamera masih bagus. Lo pinjam. Kalau sudah punya uang, kembalikan atau beli dengan harga buku."

Raka memeriksa lensa, baterai, dan kapasitas memori. "Ini cukup."

"Cukup untuk apa?"

"Belum tahu."

"Bagus. Pengusaha hebat sekali."

Mereka duduk berhadapan. Bagas membuka aplikasi bank dan mentransfer Rp2.000.000. Raka mengambil selembar kertas berkop gudang, lalu menulis daftar: pinjaman tunai, ponsel, tripod, lampu, satu potong giok sisa berdasarkan berat. Ia mencantumkan tanggal, kondisi barang, dan skema pembayaran setelah memperoleh pendapatan.

Bagas membaca surat itu sambil menggeleng. "Kalau gue tanda tangan, lo berhenti merasa berutang budi?"

"Gue tetap berutang budi. Tapi utang barang dan uang harus punya angka."

"Dasar menyebalkan."

Bagas membubuhkan tanda tangan besar. Raka menandatangani di sebelahnya, memotret surat tersebut, lalu masing-masing menyimpan satu salinan.

Menjelang sore, mereka duduk di lantai gudang dengan dua botol teh dingin. Potongan giok berada di telapak Raka. Ibu jarinya mengikuti serat batu, membaca arah yang aman untuk mata pisau.

"Gue kira setelah menikah lo akan punya studio sendiri," kata Bagas. "Dulu dosen-dosen berebut mau merekomendasikan lo."

"Gue memilih rumah tangga."

"Dan mereka memperlakukan lo seperti pembantu."

Raka mengangkat mata. "Itu sudah selesai. Jangan hina pilihan lama gue. Gue sendiri yang akan membayar harganya."

Bagas diam, lalu mengangguk. "Baik. Terus rencana lo apa? Jual ukiran kecil tidak langsung bikin orang percaya."

"Orang tidak perlu langsung percaya. Mereka hanya perlu melihat prosesnya."

Raka mengambil ponsel lama dan mengarahkan kamera ke tangannya. Di layar, batu kusam itu tampak biasa. Namun ketika ia memutarnya ke bawah cahaya, serat hijau di dalamnya membentuk garis seperti aliran sungai.

"Video pendek," katanya. "Mulai dari batu sisa, tunjukkan sketsa, potong, ukir, sampai hasil akhir. Kalau orang tertarik, gue buka pesanan."

Bagas mengangkat alis. "TikTok?"

"TikTok Live dan YouTube Shorts. Gift dan koin bukan target utama. Kepercayaan dan pesanan yang gue cari."

"Akun baru tidak akan langsung ramai."

"Gue tidak butuh sejuta penonton. Satu klien pertama cukup."

Bagas mengambil teh dan bersandar pada rak. "Kenapa bukan lukisan? Lo jauh lebih dikenal sebagai pelukis."

Raka menatap bongkahan besar, pola serat, lalu telapak tangannya sendiri. "Keduanya. Mural membuat orang berhenti melihat tembok. Ukiran membuat orang melihat nilai di dalam batu. Prosesnya visual. Kamera suka hal begitu."

Untuk beberapa detik, Bagas tidak bercanda.

"Orang tua angkat gue dari keluarga Adiwangsa membesarkan gue di antara batu-batu seperti ini," katanya. "Mereka selalu bilang pengukir sejati tidak memaksa batu menjadi sesuatu. Dia menemukan bentuk yang sudah menunggu di dalamnya."

Raka membalik potongan giok. "Keluarga Adiwangsa?"

"Konglomerat perhiasan itu. Gue cuma anak angkat, bukan pewaris darah. Gudang ini usaha gue sendiri, meski nama mereka tentu membuka beberapa pintu." Bagas tersenyum miring. "Kalau karya lo bagus, suatu hari gue kenalkan. Bukan untuk minta belas kasihan. Untuk jual kualitas."

Nama itu terasa asing sekaligus mengusik sesuatu yang tidak dapat Raka jelaskan. Ia menyentuh liontin di balik kaus, tetapi tak mengeluarkannya.

"Nanti," katanya. "Saat gue sudah punya karya yang pantas dibawa."

Malam hari, Raka kembali ke kontrakan dengan perangkat pinjaman dan potongan giok dibungkus kain. Ia membeli pisau ukir tambahan, masker, amplas halus, dan kuota internet dari modal yang tercatat. Setiap pengeluaran ia masukkan ke lembar kerja di ponsel.

Kemudian ia menggeser kasur, membersihkan dinding paling terang, dan memasang meja lipat di bawah lampu. Batu bata penyangga meja bergoyang; Raka menyelipkan sisa karton sampai permukaannya stabil.

Tripod berdiri di atas rak plastik. Lampu cincin menyala. Lensa kamera menghadap kedua tangannya, buku sketsa, dan potongan giok kusam.

Raka membuat akun baru.

Nama pengguna tidak boleh membawa Wijaya ataupun Prawira. Ia ingin sesuatu yang cukup luas untuk mural, desain, dan ukiran; sesuatu yang lahir dari tempat ini tetapi tidak akan selamanya terkurung di dalamnya.

Ia mengetik: Studio Nusa Karya.

Pengikut: nol.

Suka: nol.

Pesanan: nol.

Raka menekan menu siaran langsung, menaruh pisau ukir di samping batu, lalu menatap pantulan dirinya pada layar.

Jempolnya berhenti satu sentimeter di atas tombol MULAI LIVE.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!