Aku bukan siapa-siapa. Nggak punya prestasi, nggak punya bakat khusus.
Yang aku punya cuma kenangan.
Kenangan jadi remaja perempuan yang dulu mikir dunia selebar halaman sekolah.
Tentang tawa di jam kosong, surat cinta yang nggak pernah dikasih, persahabatan yang pecah karena sepele, dan guru yang tanpa sadar ngubah hidupku.
"Cuma Modal Cerita" adalah kumpulan kisahku.
Loncat dari sekarang ke dulu. Dari dewasa ke anak kecil yang masih percaya permen bisa nyelesaiin semua masalah.
(Gak Semuanya Real Dari Hidup Ku ,Ada Beberapa Karangan)
Ini bukan novel tentang orang hebat.
Ini novel tentang kita. Tentang kamu, aku, dan semua orang yang pernah duduk di kursi paling belakang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jiejie_IYAYA'S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Terakhir di Ruang Virtual
Suara denting notifikasi dari ponselku malam itu terdengar seperti ritme yang mengetuk kesadaran.
Di layar berukuran enam inci itu, sebuah aplikasi gim bernama Roblox masih terbuka. Lingkaran hijau penanda status daring milik seorang teman online-ku masih menyala.
Namun, jarak yang tercipta di antara kami rasanya jauh lebih renggang daripada mil yang memisahkan dunia nyata kami.
Semuanya bermula dari sebuah komunitas atau fams bernama MB.
Aku bergabung di sana beberapa bulan lalu, mencari ruang pelarian sederhana di tengah penatnya rutinitas harian.
Komunitas itu ramai, diisi oleh hampir seratus orang dari berbagai latar belakang. Seperti tradisi grup pada umumnya, setiap ada anggota baru yang masuk, ruang obrolan akan mendadak riuh.
Stiker lucu, ucapan selamat datang, hingga foto-foto tidak jelas dikirimkan bertubi-tubi demi membuat si pendatang baru merasa diterima.
Di antara ratusan nama asing yang berkelebat di layar, ada satu nama pengguna yang cukup mencolok: EslilinEnak. Namanya unik dan dia tergolong aktif.
Dia tidak pernah absen menyapa grup setiap pagi dan selalu bersemangat tiap kali ada acara komunitas.
Suatu hari, sebuah pesan pribadi masuk ke akunku.
"Halo, salam kenal ya! Aku Lilis," tulisnya.
Dia bercerita dengan sangat riang tentang betapa sukanya dia pada es lilin—alasan di balik pemilihan nama penggunanya yang terkesan asal-asalan itu.
Obrolan singkat itu menjadi pintu masuk persahabatan kami. Kami bertukar nomor WhatsApp, saling mengikuti akun TikTok, lalu mulai membuat konten tren bersama. Kami bahkan berkomitmen menjaga fitur streak di TikTok dengan saling mengirim emotikon telur setiap hari tanpa putus.
Setiap malam, kami menghabiskan waktu bertualang di dunia virtual. Mulai dari gim simulasi mendaki gunung yang melelahkan hingga gim horor yang memacu adrenalin. Biasanya, sebelum kami bermain map horor, aku selalu berinisiatif mencari panduan cara bermain di TikTok atau YouTube terlebih dahulu.
Aku melakukan itu agar kami tidak tersesat atau kebingungan saat sudah berada di dalam gim.
Namun, malam itu sedikit berbeda. Lilis tiba-tiba mengajakku masuk ke sebuah map horor baru tanpa persiapan.
Aku belum sempat mencari panduan bermainnya. Petunjuk di dalam gim tersebut sepenuhnya menggunakan bahasa Melayu yang asing bagiku. Istilah-istilah teknis dan petunjuk yang membingungkan membuat langkah karakterku tertahan di area awal. Sementara itu, Lilis sudah berlari jauh ke depan dan panik karena dikejar oleh sosok monster gim.
"Kak, bantuin dong! Jangan jadi beban!" serunya melalui kolom obrolan gim.
Kalimat itu mendarat tepat di dadaku, menyenggol rasa bersalah yang sebenarnya tidak sepenuhnya salahku.
"Aku beneran nggak paham caranya, Lis. Bahasanya beda, aku bingung harus tekan tombol apa," balasku cepat, berusaha membela diri.
Situasi di dalam obrolan berubah canggung dan dingin. Lilis jelas merasa kesal karena permainannya terhambat, sementara rasa jengkel mulai merayapi benakku.
Aku ingin marah, ingin menegaskan bahwa dia yang mengajakku tanpa memberi petunjuk apa pun. Namun, menahan diri selalu menjadi pilihanku.
Aku tahu usianya baru enam belas tahun, masih terlalu muda untuk diajak berdebat secara dewasa.
Di tengah ketegangan itu, koneksi internetku mendadak tidak stabil. Layar gim membeku sejenak sebelum akhirnya menampilkan pesan kesalahan dan melemparkanku kembali ke halaman utama. Aku terputus dari gim.
Aku segera membuka aplikasi pesan singkat dan mengetikkan permintaan maaf padanya, menjelaskan bahwa jaringanku sedang buruk. Namun, balasan yang kuterima sangat dingin. Sikapnya mendadak acuh tak acuh, seolah-olah kehadiran dan penjelasanku tidak lagi memiliki arti.
Hari-hari berikutnya terasa makin berat. Pola yang sama selalu berulang. Setiap kali ada kesalahpahaman, atau setiap kali dia mendadak hilang kabar dan menjauh tanpa alasan yang jelas, akulah yang selalu menurunkan gengsi untuk meminta maaf terlebih dahulu.
Aku selalu meyakinkan diriku bahwa mengalah adalah cara terbaik untuk mempertahankan persahabatan ini. Walaupun acap kali bukan aku yang memulai kesalahan, kata "maaf" menjadi mantra otomatis yang keluar dari mulutku.
Namun, makin sering aku meminta maaf, makin aku menyadari sesuatu yang menyakitkan: perlakuan ramah yang kuberikan justru membuatnya makin meremehkanku.
Maafku tidak lagi memiliki makna rasa hormat, melainkan dianggap sebagai bentuk kelemahan. Aku dijadikan tempat penampungan rasa kesal dan diabaikan saat tidak lagi dibutuhkan.
Malam itu, aku duduk sendirian di sudut kamar, menatap pantulan diriku di layar ponsel yang redup. Suasana di dalam grup MB pun lambat laun terasa makin tidak sehat. Obrolan yang dulu hangat kini berganti menjadi saling lempar kata-kata kasar dan saling menjatuhkan yang dibungkus dengan dalih bercanda.
Aku menarik napas panjang. Ada rasa sesak yang perlahan menguap saat sebuah kesadaran menyelinap masuk ke dalam pikiranku.
Menghargai orang lain memang sebuah kebaikan, tetapi mengorbankan harga diri sendiri demi mempertahankan seseorang yang tidak menginginkan kehadiran kita adalah sebuah kebodohan.
Aku telah menghabiskan terlalu banyak energi untuk mengetuk pintu rumah seseorang yang bahkan tidak pernah berniat membukakannya untukku.
Dengan jempol yang sedikit gemetaran tetapi mantap, aku mulai melangkah. Pertama, aku keluar dari grup MB tanpa meninggalkan sepatah kata pun.
Selanjutnya, aku menghapus kontak Lilis dan membersihkan ruang obrolan kami. Tidak ada lagi pesan permintaan maaf, tidak ada lagi deretan streak yang harus dijaga setiap hari, dan tidak ada lagi rasa cemas menunggu balasan yang acuh tak acuh.
Aku akhirnya paham, belajar melepaskan bukan berarti kita kalah—melainkan bentuk tertinggi dari cara kita menghargai diri sendir