NovelToon NovelToon
Ceraikan Aku? Kau Pikir Aku Cuma Kodok?

Ceraikan Aku? Kau Pikir Aku Cuma Kodok?

Status: sedang berlangsung
Genre:Menyembunyikan Identitas
Popularitas:138
Nilai: 5
Nama Author: Dimas Prasetyo

Dua tahun lamanya Arya jadi suami yang diinjak dan diremehkan. Ketika istrinya, aktris papan atas **Bella**, berpaling ke cinta lamanya, Arya rela pergi tanpa sepeser pun—tapi begitu surat cerai diteken, "si kodok buangan" itu berbalik jadi pewaris rahasia **Grup Adiwangsa**, dan diam-diam adalah **Tuan Besar**, otak di balik sindikat yang paling ditakuti di Surabaya.

Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan **Anindya**—CEO cantik berhati es yang justru jadi orang pertama yang membelanya di depan umum: *"Berani sentuh suamiku sekali lagi, kurobek kau!"*—Arya mulai membalas satu per satu orang yang pernah menginjaknya. Dari tamparan balik di pesta ulang tahun, perang media sosial, duel bisnis melawan konglomerat, sampai sindikat bertopeng **Sindikat Trisula** dan klub rahasia para taipan **Istana Merah**—setiap kali Arya naik satu tingkat, satu misteri lama makin dekat: *siapa yang membunuh ibunya, sang ilmuwan jenius, sepuluh tahun lalu?*

Semakin dalam ia menggali, semakin banyak topeng yang jatuh. Sampai semua petunjuk—sebuah jempol kaki yang hilang, sebuah foto di balik bingkai—menuntun pada satu nama yang paling tak ingin ia percayai... orang yang selama ini memanggilnya "cucu".

Mereka pikir dia cuma kodok. **Mereka salah besar.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 33: Malam Terakhir Bella

Tiga puluh enam jam sebelum hitung mundur berakhir, Bella menghadiri pesta di atap sebuah gedung apartemen mewah.

Ia tidak ingin datang.

Namun kontrak barunya mewajibkan penampilan publik, dan Reno mengirim pesan bahwa seluruh kru proyek menunggu. Rina menyarankan mereka membatalkan. Bella menatap denda di lampiran kontrak, lalu meminta manajernya tetap berada dekat pintu.

"Satu jam," kata Bella. "Setelah itu kita pergi."

Sebelum turun dari mobil, Rina menyalakan perekam suara di telepon cadangan dan menyelipkannya ke kantong dalam tas. Ia juga mengirim lokasi langsung kepada adiknya. Bella melihat tindakannya, lalu tersenyum lemah.

"Sejak kapan kita harus seperti ini untuk datang ke pesta?"

"Sejak orang-orang yang mengaku menjagamu mulai mengikuti kita," jawab Rina.

Bella mengetik sebuah pesan, tetapi tidak mengirimkannya. Nama Arya tampak sesaat di bagian atas layar sebelum ia menghapus seluruh kalimat. Ia tidak mau meminta pertolongan setiap kali Reno muncul. Malam itu, katanya, ia hanya ingin mengucapkan keputusan dengan mulut sendiri lalu pergi.

"Kalau dia marah, jangan berdiri di antara kami," pesan Bella.

"Saya manajermu."

"Kamu temanku. Itu sebabnya aku tidak mau kamu terluka."

Rina tidak berjanji. Ia hanya membuka pintu mobil dan berjalan setengah langkah di belakang Bella menuju lift.

Pesta itu jauh lebih kecil daripada gala amal. Musik elektronik berdentum dari pengeras suara, lampu kota menyala di balik pagar kaca, dan sekitar tiga puluh tamu bergantian mengambil foto dengan botol mahal. Tidak ada kegiatan promosi resmi. Tidak ada kru film yang dijanjikan.

Hanya Reno, beberapa temannya, dan dua pria yang dikenali Rina sebagai orang Hendra.

"Kamu bohong," kata Bella begitu Reno mendekat.

"Kalau kubilang ini pesta, kamu pasti cari alasan."

Reno sudah minum. Matanya merah, kancing atas kemejanya terbuka. Ia merangkul pinggang Bella untuk kamera. Bella melepaskan tangannya.

"Jangan sentuh aku."

Lampu kamera berkedip. Reno tetap tersenyum sampai fotografer beralih. Kemudian rahangnya mengeras.

"Sejak ketemu Arya, kamu jadi berani."

"Aku berani karena sudah muak."

Rina bergerak mendekat, tetapi salah satu pria Hendra berdiri di jalurnya. Ia tidak menyentuh Rina. Ia hanya tersenyum dan bertanya apakah manajer perlu ikut campur dalam urusan pasangan.

Bella berbalik menuju lift.

Reno mengejar dan menangkap lengannya. "Kita belum selesai."

"Kita sudah selesai sejak kamu menjadikan hidupku kontrak."

"Semua yang kamu punya sekarang karena keluargaku."

"Kalau begitu ambil kembali proyeknya. Aku keluar."

Kata-kata itu terdengar jelas di antara jeda musik. Beberapa kepala menoleh. Reno tertawa, tetapi wajahnya berubah pucat oleh amarah.

"Kamu pikir Arya akan menerimamu? Dia datang dengan istri barunya dan mempermalukanmu di depan semua orang."

"Ini bukan tentang Arya."

"Selalu tentang dia!"

Reno menarik Bella menjauh dari pintu lift menuju sisi atap yang lebih sepi. Rina mengikuti, berusaha menelepon keamanan gedung. Sinyal di layar ponselnya mendadak hilang. Salah satu pria Hendra mengambil gelas dari meja dan sengaja menabraknya hingga minuman tumpah ke gaun Rina.

"Maaf, Mbak," katanya sambil menghalangi jalan.

Di sisi lain kolam, Bella dan Reno berdebat di dekat pagar rendah yang menghadap taman dalam. Pagar itu memenuhi standar lama gedung, tetapi hanya setinggi pinggang orang dewasa.

"Lepaskan tanganku," kata Bella.

"Kamu akan pulang bersamaku."

"Tidak."

Bella mendorong dada Reno untuk menciptakan jarak. Reno membalas dengan satu dorongan kasar.

Tidak ada teriakan panjang.

Tumit Bella tersangkut pada bibir lantai yang lebih tinggi. Tubuhnya kehilangan keseimbangan. Tangannya sempat meraih kerah Reno, lalu hanya menemukan udara.

Rina melihat wajah Bella menghilang di balik pagar.

Suara benturan datang beberapa detik kemudian dari taman bawah, tertelan musik yang kembali meninggi.

Rina menjerit.

Reno berdiri membeku dengan kedua tangan terbuka. "Aku tidak, dia sendiri..."

Hendra muncul dari pintu tangga kurang dari satu menit setelah dihubungi anak buahnya. Ia tidak berlari ke tepi untuk melihat keadaan Bella. Ia lebih dahulu merebut telepon Reno.

"Siapa yang merekam?" tanyanya.

"Pak, Bella jatuh," kata Rina. "Panggil ambulans!"

"Sudah ada yang menelepon," jawab Hendra.

Ia menunjuk salah satu anak buah. Pria itu mematikan musik dan menyuruh para tamu tetap tenang. Pria lain mengumpulkan orang yang berada dekat kolam, meminta mereka menyebutkan apa yang dilihat.

"Dia mabuk," kata Hendra dengan suara rendah. "Dia berjalan sendiri ke pagar. Kalian sedang di sisi lain. Tidak ada yang melihat pertengkaran."

"Saya melihat," ujar Rina.

Hendra menatapnya. "Kamu melihat artis yang sedang tertekan kehilangan keseimbangan. Pikirkan baik-baik sebelum menghancurkan karier dan keluarganya setelah dia meninggal."

Kata terakhir itu membuat lutut Rina lemas.

Sirene terdengar dari jalan. Petugas keamanan gedung akhirnya tiba di atap. Hendra segera berubah menjadi ayah yang terguncang. Ia memeluk Reno dan mengatakan putranya baru saja mencoba menolong Bella yang mabuk.

"Dia mendorongnya!" teriak Rina.

Seorang anak buah Hendra menarik Rina ke belakang dengan dalih menenangkannya. Teleponnya terlepas dan jatuh ke bawah sofa luar ruangan.

Reno menatap ayahnya. "Pa, aku cuma..."

"Diam," bisik Hendra.

Ketika polisi pertama naik, gelas-gelas sudah dipindahkan. Musik dimatikan. Para tamu dikumpulkan dalam satu kelompok. Hendra memberikan nama pengacara keluarga dan meminta semua keterangan dilakukan secara resmi.

Salah satu petugas meminta rekaman CCTV. Manajer gedung menjawab kamera di koridor berfungsi, tetapi kamera atap sedang menjalani pemeliharaan. Hendra mendengar jawaban itu tanpa menoleh. Anak buahnya yang berdiri dekat panel listrik mengendurkan bahu.

Rina berusaha merangkak mengambil teleponnya di bawah sofa. Sepatu seorang pria menginjak tali tasnya.

"Nanti kami kembalikan barang Mbak," katanya.

"Itu milik saya."

"Polisi mungkin perlu memeriksanya."

Petugas yang berdiri beberapa meter jauhnya tidak pernah meminta penyitaan. Rina melepaskan tas agar talinya tidak putus, lalu menyimpan fakta itu dalam ingatan: kamera atap, panel listrik, telepon di bawah sofa, saputangan Hendra. Jika semua benda dirampas, setidaknya urutan kejadian masih ada di kepalanya.

Namun sebelum meninggalkan sisi pagar, ia mengeluarkan saputangan dari saku.

Dengan tubuhnya menutup pandangan petugas keamanan, Hendra mengusap bagian atas pagar tempat tangan Reno dan Bella sempat bertumpu. Satu kali. Lalu dua kali.

Ia melipat saputangan itu dan memasukkannya ke kantong seorang anak buah.

Rina melihat semuanya dari balik bahu pria yang menahannya.

Di bawah gedung, petugas medis menutup tubuh Bella. Tidak ada pengumuman resmi, tetapi cara mereka berhenti bergerak sudah menjelaskan hasilnya.

Rina menggigit bagian dalam bibir agar tidak menjerit lagi. Ia mengingat pesan Arya: buat salinan di dua tempat, jangan menghadapi Reno, tetap hidup sampai berani memilih.

Ia belum sempat memindahkan semua bukti. Hard drive kecil milik Bella masih tersembunyi di tempat yang hanya mereka berdua ketahui.

Hendra berjalan mendekat.

"Mulai malam ini," katanya pelan, "cerita kita sama. Bella minum terlalu banyak, berjalan sendirian, lalu jatuh."

Rina mengangkat wajah yang basah. "Itu bukan cerita. Itu kebohongan."

Hendra tersenyum tipis. "Besok pagi, kebohongan adalah satu-satunya hal yang akan didengar semua orang."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!