NovelToon NovelToon
999 ISYARAT CINTA

999 ISYARAT CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Duda
Popularitas:561
Nilai: 5
Nama Author: Agung Khan

Bercerita tentang Kisah cinta Beda usua.
Bandung, pria berusia empat puluh tahun, telah lama menutup hatinya setelah masa lalu yang pahit membuatnya percaya bahwa cinta bukan lagi bagian dari hidupnya. Hingga ia bertemu Luna, guru muda berusia dua puluh empat tahun yang masih memiliki seorang tunangan. Pertemuan mereka perlahan menumbuhkan benih cinta yang tak pernah mereka akui. Saat akhirnya Bandung menyatakan perasaannya, Luna hanya mengangguk dan memberikan satu syarat: buktikan cintamu dengan seribu kata cinta dalam tiga bulan. Bandung pun memulai tantangan itu, meski ia tak pandai merangkai kata romantis. Namun setelah mengirim kata cinta ke-999, Luna tiba-tiba menghilang tanpa membaca atau membalas pesan tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GAME OVER KARENA PINJOL

Dola bangkit, kemudian berjalan menuju kulkas.

Ia mengeluarkan tiga botol air dingin, lalu kembali dan duduk di sebelah Luna. Dua botol diberikan kepada Luna dan Boril, sementara satu botol ia pegang sendiri.

Luna meneguk airnya perlahan.

Kali ini, tatapannya tertuju kepada Boril.

Boril rupanya menyadari bahwa Luna ingin mengetahui bagaimana kisah hidupnya hingga akhirnya bisa dekat dengan Bandung.

Ia tersenyum kecil.

“Kakak Ipar pengen tahu cerita gue, ya?”

Luna mengangguk.

“Kalau lu nggak keberatan, gue pengen tahu. Gimana kisah lu sampai akhirnya gabung sama Bandung?”

Boril menarik napas panjang.

“Jadi... sekitar setahun yang lalu.”

Seorang anak muda mengenakan jas, celana bahan, dan sepatu pantofel yang mengilap berjalan dengan sebuah tas di tangannya.

Penampilannya perlente.

Namun wajahnya sama sekali tidak mencerminkan kemewahan itu.

Sorot matanya sayu. Wajahnya kusut. Langkahnya berat dan tidak bersemangat.

Ia berhenti di depan sebuah rumah.

Beberapa saat ia hanya berdiri di sana sebelum akhirnya mengetuk pintu.

“Permisi... Irul. Gue Boril.”

Pintu terbuka sedikit.

Seorang wanita menyembulkan kepalanya.

“Irul nggak ada.”

Pintu kembali tertutup.

Boril tidak menjawab.

Ia hanya berjalan beberapa langkah, kemudian duduk di bawah pohon mangga yang tumbuh di depan rumah tersebut.

Punggungnya disandarkan ke batang pohon.

Ia mengeluarkan ponsel.

Jarinya menggulir daftar kontak satu per satu.

Nama demi nama.

Ia mencoba menghubungi orang-orang yang dulu pernah mengenalnya.

Orang-orang yang dulu pernah memanggilnya teman.

Kini ia menghubungi mereka bukan untuk nongkrong, bukan untuk mengajak minum, bahkan bukan untuk meminta bantuan pekerjaan.

Ia mencari pinjaman uang.

Karena saat itu Boril sudah terlilit pinjol.

Namun hampir semua orang menolaknya.

“Sorry, bro. Gue lagi nggak ada duit.”

Nomor berikutnya.

“Sorry, bro. Gue nggak bisa kasih pinjam. Paling juga mau lu pakai buat depo lagi, kan?”

Boril terdiam.

Ia menatap layar ponselnya beberapa saat, lalu menghubungi nomor berikutnya.

Kali ini suara di seberang terdengar lebih keras.

“Udah nggak ada lagi yang percaya sama lu, Boril. Predikat lu udah jelek di mata kita semua.”

Satu demi satu orang yang dihubunginya menolak.

Alasannya berbeda-beda.

Tapi intinya sama.

Tidak ada lagi yang percaya kepada Boril.

Selama ini ia dikenal sebagai preman pasar.

Tukang palak.

Tukang judi.

Tukang mabuk.

Dan yang paling parah, hampir semua uang yang diperolehnya dari aktivitas itu selalu kembali masuk ke judol.

Awalnya ia merasa bisa mengendalikan semuanya.

Setiap kali depo, kadang uang yang keluar kembali berlipat.

Ia merasa sedang menemukan jalan pintas menuju kehidupan yang lebih baik.

Namun semakin lama, kemenangan itu semakin jarang datang.

Uang habis.

Tabungan habis.

Barang-barang berharga habis.

Kemudian ia mulai mencari pinjaman.

Pinjol menjadi pilihan yang paling mudah.

Cukup menggunakan KTP, uang bisa masuk ke rekening.

Bahkan ketika namanya sudah buruk di perbankan, masih ada saja pinjol yang bersedia memberikan pinjaman.

Masalahnya, uang yang dipinjam bukan digunakan untuk membangun kehidupan.

Sebagian besar kembali masuk ke judol.

Ketika kalah, ia meminjam lagi.

Ketika menang, uangnya digunakan untuk mencicil pinjaman.

Begitu seterusnya.

Sampai akhirnya utangnya menumpuk di mana-mana.

Sudah hampir satu bulan Boril benar-benar tidak memiliki uang.

Tidak punya teman yang mau membantu.

Tidak punya jaminan untuk meminjam ke bank.

Bahkan orang tuanya sendiri sudah tidak mau menerimanya pulang.

Untuk mendapatkan pekerjaan pun hampir semua orang menolaknya.

Mereka tahu masa lalunya.

Seorang preman pasar yang suka memalak, mabuk, mencuri, dan mengintimidasi orang.

Bahkan beberapa hari sebelumnya, Boril sempat dipukuli oleh beberapa penagih utang.

Kini hidupnya seperti tidak memiliki pintu keluar.

Ia kembali menyandarkan tubuhnya di bawah pohon mangga.

Matanya menerawang.

Ia teringat masa lalu.

Dulu semua orang takut kepadanya.

Orang-orang menyingkir ketika melihatnya.

Apa pun yang ia minta sering kali diberikan.

Saat itu ia merasa dirinya berkuasa.

Namun ternyata rasa takut orang lain tidak pernah membuat hidupnya tenang.

Lama-lama ia sendiri merasa jenuh.

Bosan menjadi orang yang selalu membuat orang lain takut.

Bosan dengan keributan.

Bosan dengan mabuk.

Bosan dengan hidup yang setiap harinya hanya berputar pada uang dan kesenangan sesaat.

Sampai suatu hari seorang temannya mengenalkan judol kepadanya.

Awalnya Boril merasa menemukan sesuatu yang menyenangkan.

Setiap depo terkadang menghasilkan cuan besar.

Ia mulai percaya bahwa hidupnya bisa berubah.

Namun perlahan semuanya berbalik.

Uang semakin banyak hilang.

Dan ketika uangnya habis, pinjol menjadi jalan keluar.

Sampai akhirnya pinjaman itu justru menjadi jerat yang tidak bisa ia lepaskan.

Telepon berdering setiap hari.

Pesan masuk tidak berhenti.

Ancaman dan intimidasi datang silih berganti.

Boril tidak lagi tahu harus lari ke mana.

Tiba-tiba sekitar enam orang datang menghampirinya.

Mereka adalah para penagih utang dari beberapa kelompok pinjol.

Mereka tidak banyak bertanya.

Salah satu dari mereka hanya melihat layar aplikasi di ponselnya.

“Ini orangnya.”

Beberapa detik kemudian Boril sudah dikepung.

Pukulan datang bertubi-tubi.

Ia diseret, ditendang, dan dipukuli sampai tubuhnya tidak berdaya.

Boril berusaha melarikan diri.

“Tolong!”

Ia meminta bantuan kepada orang-orang yang lewat.

Namun orang-orang yang sempat hendak menolong justru mengurungkan niat setelah melihat siapa dirinya.

Sebagian mengenalnya sebagai mantan preman pasar.

Sebagian lagi hanya tahu bahwa masalahnya berkaitan dengan pinjol.

Boril terus berlari.

Sampai akhirnya ia tiba di jalan raya.

Napasnya tersengal.

Tubuhnya sudah penuh luka.

Ia menoleh ke belakang.

Para penagih masih mengejarnya.

Saat itu Boril sudah tidak mampu berpikir jernih.

Ia berjalan ke tengah jalan.

Kemudian berhenti.

Kedua tangannya direntangkan.

Ia tidak peduli lagi.

Tidak peduli dengan para penagih.

Tidak peduli dengan utang.

Tidak peduli dengan orang-orang yang sudah tidak percaya kepadanya.

Bahkan tidak peduli lagi dengan sisa hidupnya.

Ia hanya berdiri di sana.

Menunggu apa pun yang akan terjadi.

Dari kejauhan terdengar suara mesin mobil.

Sebuah Ferrari merah melaju cukup kencang ke arahnya.

Boril tidak bergerak.

Tiba-tiba—

Ciiittttt!

Suara rem panjang memecah jalan.

Ferrari itu menghindari tubuh Boril.

Mobil oleng dan menabrak trotoar.

Bemper depannya penyok.

Kap mesinnya mengeluarkan asap tipis.

Namun pengemudinya masih berhasil mengendalikan mobil hingga berhenti dengan selamat.

Boril terpaku.

Ia sempat mengira dirinya sudah mati.

Namun suara para penagih utang yang mengejarnya membuatnya tersadar.

Boril hendak kembali berlari.

Namun kemudian ia melihat Ferrari merah tadi.

Entah kenapa ia justru berhenti.

Di satu sisi, ia ingin menyelamatkan pengemudi yang hampir celaka karenanya.

Di sisi lain, para penagih utang masih mengejarnya.

Rombongan itu melewati Ferrari.

Namun tiba-tiba mereka berhenti.

Salah seorang dari mereka tampak mengenali mobil tersebut.

Mereka berjalan mendekat.

Pintu pengemudi terbuka.

Seorang pria dengan pakaian lusuh, rambut berantakan, dan wajah kusut keluar dari mobil dengan sedikit terhuyung.

Hidungnya mengeluarkan darah, mungkin akibat terbentur saat mobil menghindari Boril.

Melihat pria itu masih selamat, para penagih utang segera menghampirinya.

Boril semakin bingung.

Namun ia juga melihat mereka tidak lagi mengejarnya.

Mereka justru berbicara dengan pengemudi Ferrari tersebut.

Entah apa yang dibicarakan.

Sesekali terdengar suara mereka meninggi.

Seperti sedang berdebat.

Kemudian suasana kembali tenang.

Pria pengemudi Ferrari mengeluarkan ponselnya.

Salah seorang penagih utang juga mengeluarkan ponsel.

Mereka tampak saling mengirim sesuatu melalui ponsel masing-masing.

Beberapa saat kemudian pria itu menepuk bahu salah seorang penagih.

Mereka bersalaman.

Satu per satu keenam penagih itu akhirnya pergi.

Boril masih berdiri di tempat.

Ia benar-benar tidak mengerti apa yang baru saja terjadi.

Ketika pria pengemudi Ferrari itu berjalan mendekatinya, Boril sudah pasrah.

Ia tidak berusaha melarikan diri lagi.

Ia tahu dirinya hampir saja menyebabkan pria itu celaka.

Boril bahkan merasa mungkin sebentar lagi ia akan menerima pukulan.

Ia menundukkan kepala.

Silakan kalau mau memukul.

Ia sudah siap.

Namun suara pria itu justru terdengar tenang.

“Gue Bandung.”

Boril perlahan mengangkat wajah.

Pria itu melanjutkan,

“Hutang lu udah gue bayar.”

Boril terdiam.

“Kalau lu nggak keberatan, ikut gue naik mobil. Gue ajaK ke rumah gue. Kita ngobrol di sana.”

Boril masih tidak percaya.

Ia menatap Ferrari yang bagian depannya penyok.

Kemudian menatap pria di hadapannya.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada seseorang yang tidak bertanya berapa banyak kesalahan yang telah ia lakukan.

Tidak bertanya kenapa ia bisa terlilit utang.

Tidak menghakiminya.

Orang itu justru baru saja membayar utangnya.

Boril akhirnya mengangguk.

Ia masuk ke dalam mobil dengan pikiran yang campur aduk.

Ia belum tahu siapa Bandung.

Ia juga belum tahu apa yang akan terjadi setelah itu.

Yang ia tahu hanya satu.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama...

ada seseorang yang masih memberinya kesempatan.

Luna menatap Boril dengan wajah serius.

“Terus lu tinggal sama dia?”

Boril mengangguk pelan.

“Waktu itu gue ngerasa udah nggak punya pilihan lain.”

“Gue ngerasa nggak ada lagi orang yang bisa gue percaya... atau orang yang mau percaya sama gue.”

Ia tersenyum kecil.

“Waktu gue sampai di galeri lukisan, ternyata lagi ada acara pameran lukisan milik Bang Bandung.”

“Wajah gue bonyok. Pakaian gue amburadul.”

“Bang Bandung ngenalin gue ke Cenang sama Jessica.”

“Mereka kasih gue makanan, nyuruh gue mandi.”

Boril terkekeh.

“Terus mereka ngajakin gue ketemu tamu-tamu yang datang melihat lukisan.”

“Gue waktu itu nggak tahu harus ngapain.”

“Jessica cuma bilang, ‘Lu cukup senyum aja.’”

Boril tertawa kecil.

“Tapi dalam hati gue mikir...”

“Gimana gue mau senyum?”

“Otak gue aja rasanya hampir mati.”

Luna tersenyum tipis.

“Setelah itu, setiap hari gue sama Cenang bantuin kegiatan di galeri.”

“Sampai akhirnya gue ketemu Tante Umi.”

“Dari situ gue mulai kerja sama Tante Umi.”

“Bang Bandung juga hampir tiap hari nyamperin gue.”

Boril menggaruk kepalanya.

“Cuma akhirnya Tante Umi sempat ribut sama Kak Rosa.”

“Setelah itu Bang Bandung mindahin gue.”

“Gue akhirnya ditempatkan di bank sampah.”

Boril melihat sekeliling basecamp.

“Dan sampai sekarang... gue masih kerja di sana.”

Luna menarik napas panjang.

Ia kemudian melirik jam dinding.

Jarumnya sudah menunjukkan pukul 02.30.

Dari kejauhan terdengar suara mesin Ferrari.

Luna menoleh ke arah pintu.

Tanpa sadar, senyum kecil kembali merekah di wajahnya.

Boril dan Dola saling berpandangan.

Kali ini mereka tidak mengatakan apa-apa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!