NovelToon NovelToon
GADIS KECIL SANG PEMBUNUH BAYARAN

GADIS KECIL SANG PEMBUNUH BAYARAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi Isekai / Romansa Fantasi
Popularitas:441
Nilai: 5
Nama Author: Rienza27

Dendam akibat pembantaian keluarganya menjadikan Leo Cristian Theodore (18) seorang pembunuh bayaran berdarah dingin sejak usia sepuluh tahun. Namun, hidupnya berubah drastis saat ia menjalankan misi membasmi sebuah keluarga dan menemukan seorang anak perempuan bernama Vellora Zavendra (5thn) bersembunyi di dalam lemari.

Alih-alih merasa takut saat ditodong pistol, Vellora justru memeluk erat Leo dan memohon untuk dibawa pergi karena sebatang kara. Pelukan polos tersebut meruntuhkan pertahanan sang pembunuh bayaran, membuatnya melihat bayangan dirinya sendiri di masa lalu.

Sejak pertemuan dengan gadis kecil itu kini mengubah hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. LUKA LAMA

Matahari siang mulai terik saat Leo dan Vellora tiba di rumah berarsitektur Jepang itu. Liam sudah menyambut mereka. Vellora melangkah masuk dengan senyum cerah, menenteng kantong kresek kecil berisi es krim yang baru saja mereka beli di minimarket. Gadis kecil itu langsung berjalan menuju ruang tamu, menyadari bahwa jam tayang kartun favoritnya sudah hampir mulai.

"Hai, Kakek! Kakek mau es krim? Tadi aku beli dengan Kak Leo di luar sehabis daftar sekolah baru!" sapa Vellora manis, menyodorkan satu bungkus es krim rasa vanila kepada Liam.

"Wah, terima kasih banyak, Vellora sayang," ujar Liam menerima es krim itu dengan senyuman hangat, sangat berbeda dengan wajah angkernya jika berhadapan dengan musuh.

"Wahhh! Kartunnya sudah mulai!" pekik Vellora kegirangan. Ia segera berlari menuju sofa ruang tamu, duduk bersila, dan mulai memakan es krimnya dengan fokus penuh ke layar televisi.

Liam berbalik menatap Leo yang baru saja melepas sepatunya. "Jadi, bagaimana pendaftarannya?" tanya Liam.

Leo mendengus. "Cukup baik. Dengan sedikit 'bantuan' kakek di belakang layar, tentu saja. Padahal aku tidak perlu dibantu, aku bisa mengurusnya sendiri," jawab Leo dengan nada angkuh.

"Sudahlah, tidak usah banyak bicara. Yang penting Vellora bisa bersekolah dan dia senang," pekik Liam, lalu berjalan pergi meninggalkan Leo menuju sofa untuk menemani Vellora menonton kartun.

"Hemmm," Leo hanya bisa menghela napas pelan.

Ia berjalan lalu berbalik menyusuri lorong rumah itu, mampir sebentar ke kamar Vellora untuk menaruh seragam sekolah baru itu di atas meja belajarnya, lalu melangkah santai menuju kamarnya sendiri. Sesampainya di kamar, Leo melepaskan kaus dan celananya, lalu berjalan masuk ke kamar mandi. Ia memutar keran shower sembari menyalakan keran bak mandi agar terisi penuh.

Air dingin dari shower mengguyur tubuhnya, membasahi rambut hitamnya, menuruni dada bidangnya yang bertato sayap, hingga ke perut sixpack-nya. Leo berdiri diam di bawah guyuran air. Matanya terpejam erat, namun di balik kelopak matanya yang tertutup, bayangan kelam itu kembali muncul.

Masa lalu. Malam di mana keluarganya dibantai habis tak tersisa. Jeritan ibunya, tubuh ayahnya yang bersimbah darah dan kakak laki lakinya yang meninggal begitu saja didepan matanya hanya demi melindungi adiknya dari persembunyiannya agar tidak di ketahui.

"Aku pasti bisa menemukan bajingan yang membunuh orang tuaku dan kakakku," gumam Leo pelan, membuka matanya yang kini memerah karena amarah dan air mata yang tersamarkan air shower. "Sudah lama aku mencarinya... tapi dia selalu bersembunyi tepat saat aku hampir menemukannya."

Dengan kasar, Leo meraup sampo dan memijat rambutnya kuat-kuat, mencoba mengusir bayangan pria bertopeng elang dari kepalanya. Di tengah keputusasaan itu, tiba-tiba wajah ceria Vellora yang sedang tersenyum memakan es krim terlintas di benaknya.

"Ah... anak itu benar-benar tidak bisa membuatku tenang memikirkan dendam saat melihat senyumnya," gumam Leo pelan, napasnya sedikit mereda. Ia lalu melangkah masuk dan berendam di dalam bak mandi yang sudah penuh. Rasa lelah yang mendera fisik dan mentalnya membuat Leo tertidur pulas di dalam bak berair hangat itu.

Satu jam berlalu. Tidur Leo berubah menjadi gelisah. Mimpi buruk itu datang lagi. Di dalam mimpinya, pria bertopeng elang itu berdiri di sudut gelap, menatapnya, mengawasinya setiap detik, tertawa di atas mayat-mayat keluarganya. Tawa itu semakin keras, menggema, mencekik leher Leo.

Leo tersentak bangun dari tidurnya, napasnya memburu. Ia hampir saja tenggelam menghirup air bak mandi. "Sialan!" umpat Leo frustrasi, dadanya naik turun dengan cepat. Dengan sisa amarah yang belum tersalurkan, ia meninju cermin kamar mandi hingga retak menjadi seribu keping. Darah segar menetes dari buku jarinya, bercampur dengan air.

Leo keluar dari kamar mandi dengan hanya melilitkan handuk di pinggang. Matanya langsung tertuju pada tempat tidurnya. Di sana, Vellora kecil sedang tertidur pulas, menempati separuh kasurnya. Wajah gadis kecil yang tersenyum dalam tidurnya itu bak obat penenang instan bagi Leo. Hatinya yang tadi bergejolak seperti badai, perlahan mereda.

Leo buru-buru memakai kaus hitam polos dan celana panjangnya. Ia menghampiri kasur, merapikan selimut Vellora sejenak, lalu berjalan keluar dari kamarnya dengan langkah berat.

Di halaman, Liam sedang sibuk menyapu daun kering. "Mau ke mana kamu?" tanya kakeknya melihat Leo keluar.

"Tidak ada. Aku mau keluar sebentar saja," jawab Leo malas, terus berjalan tanpa repot-repot menoleh, apalagi menjawab pertanyaan lanjutan Liam.

"Dasar anak itu," gumam Liam menghela napas, melihat cucunya pergi hanya dengan memakai kemeja saja, terlihat sangat kacau.

Suara musik jazz mengalun pelan di dalam sebuah bar yang minim cahaya. Bau tembakau dan alkohol menguar pekat.

"Woi, beri aku satu gelas wiski lagi," ujar Leo dengan suara serak pada sang bartender.

Ternyata, ke sanalah Leo melarikan diri. Mencoba menenggelamkan rasa frustrasinya ke dalam cairan kuning keemasan yang membakar tenggorokan itu.

Sementara itu, di kediaman Theodore...

Bara baru saja pulang sekolah. Ia melempar tasnya ke lantai dan berjalan mengendap-endap menuju dapur, perutnya meronta minta diisi.

"Bara! Kamu cepat cari Leo! Ke mana perginya anak itu? Wajahnya kelihatan sangat kesal dan kacau saat keluar tadi. Cepat susul dia!" perintah Liam yang baru masuk dari halaman.

"Sebentarlah, Kakek. Aku ingin makan dulu, perutku sudah sangat lapar," rajuk Bara, tangannya dengan cepat mencomot sepotong telur gulung dari atas piring yang baru dimasak Liam dan menelannya dalam satu gigitan besar.

"Baraaa! Cepat cari Leo!" pekik Liam sambil memukul belakang kepala Bara dengan spatula kayu andalannya.

"Aduh! Iya, iya Kakek! Galak amat sih!" gerutu Bara, mengelus kepalanya.

Namun, baru saja Bara membalikkan badan ke arah lorong utama hendak keluar, langkahnya terhenti. Di ujung lorong, Leo berdiri terhuyung-huyung. Kemejanya kancingnya terbuka sebagian, rambutnya berantakan, dan jalannya linglung menyusuri dinding kayu.

"Ada apa? Kenapa kamu malah mematung di situ? Bukannya kusuruh kamu mencari Leo?!" pekik Liam kesal melihat Bara yang diam saja.

"Bang Leo... sudah pulang, Kek," tunjuk Bara dengan dagunya.

Liam menoleh cepat. Tepat saat itu, wajah Leo muncul mengintip dari sela pintu pembatas ruangan.

"Halo, Pak Tua! Apa kau sedang mencarikuuu? Ahahahahaha!" tawa Leo meledak, suaranya parau dan melantur.

Liam berjengit kaget melihat wajah cucunya muncul tiba-tiba dengan ekspresi sekonyol itu. "Kenapa kamu bersikap seperti ini?!" bentak Liam.

"Sepertinya dia mabuk berat, Kek," bisik Bara, hidungnya mengendus tajam bau alkohol pekat yang menguar dari tubuh Leo hingga radius tiga meter.

"Ahahaha... Liam, Pak Tua... tolong buatkan aku makanan yang enak..." racau Leo. Ia berjalan gontai, melewati Liam dan Bara, lalu menjatuhkan tubuh besarnya dengan kasar ke atas sofa ruang tamu.

"Apa-apaan kamu ini, Leo?! Jika Vellora melihatmu dalam keadaan mabuk begini, dia pasti akan sangat marah dan ketakutan nanti!" tegur Liam, berjalan menyusul dan berdiri di depan Leo.

"Vellora? Ah, kurcaci kecil itu... dia sedang tidur nyenyak di kamarku. Tidak mungkin dia marah..." gumam Leo melantur, matanya sayu menatap langit-langit.

"Kenapa kamu minum sampai mabuk begini, hah?" tanya Liam, nada suaranya sedikit melunak, ia duduk di sebelah cucunya.

Hening sejenak. Lalu, perlahan, bahu Leo bergetar. Tawa bodohnya lenyap, digantikan oleh isakan tertahan. Tiba-tiba saja, pemuda keras kepala itu menangis tersedu-sedu.

"Kenapa aku mabuk? Aku tidak tahu, Kek... hiks... aku tidak tahu..." isak Leo, menutupi wajahnya dengan kedua tangan besarnya.

Liam dan Bara tertegun. Liam belum pernah melihat cucu sulungnya serapuh dan sehancur ini sejak hari pemakaman orang tuanya.

Dari arah lorong kamar, terdengar suara langkah kaki kecil mendekat. Vellora yang baru terbangun berjalan mengucek mata, hendak masuk ke ruang tamu. Bara yang melihatnya langsung bergerak secepat kilat, menghadang gadis kecil itu sebelum ia masuk.

"Eh, Vellora sudah bangun? Ayo ikut Kak Bara main di halaman belakang dulu, Kakak punya permainan bagus!" bujuk Bara cepat.

"Benarkah?!" tanya Vellora antusias, kantuknya seketika hilang. Bara langsung menggandengnya menjauh, memastikan gadis kecil itu tidak melihat kondisi Leo.

Di ruang tamu, isakan Leo semakin keras. "Kakek... kenapa hidupku harus seperti ini?" racau Leo di sela tangisnya. Seakan-akan, alkohol telah meruntuhkan seluruh dinding pertahanan yang ia bangun susah payah selama bertahun-tahun. Segala rasa sakit, amarah, dan rindu yang ia pendam, tumpah malam itu.

Melihat cucunya hancur, hati Liam ikut teriris. Pria tua yang tangannya itu merengkuh tubuh besar cucunya, memeluknya erat. Selama ini Liam selalu memperhatikan Leo dalam diam, meski cucunya itu sering kali bersikap angkuh dan dingin kepadanya.

"Sudahlah, Nak. Sekarang ada kakek di sini," bisik Liam menepuk punggung Leo lembut. "Lupakan semua dendam yang membuatmu frustrasi. Hiduplah dengan tenang... hiduplah dengan damai untuk dirimu sendiri, dan untuk Vellora kecil."

Leo menggelengkan kepalanya kuat-kuat dalam pelukan sang kakek. "Tidak, Pak Tua! Aku... aku harus menemukan pembunuh itu! Aku harus membalas mereka!" racau Leo keras kepala.

"Jika kamu terus-menerus mencari dan membunuhnya, darah akan terus dibayar darah, Leo. Rantai kebencian ini tidak akan pernah putus, dan kau tidak akan pernah menemukan kedamaian," ujar Liam parau.

"TAPI...!" Leo berteriak marah, mencoba memberontak dari pelukan Liam.

Namun, sisa tenaganya telah habis terkuras emosi dan alkohol. Tepat setelah teriakan kemarahan itu, tubuh Leo melemah, matanya terpejam, dan ia pun jatuh tertidur pulas dalam pelukan kakeknya.

Melihat cucunya telah tak sadarkan diri, Liam menghela napas panjang dan lega. Ia membaringkan Leo dengan benar di atas sofa yang panjang, merapikan bantal di bawah kepalanya, lalu mengambil selimut dari dalam lemari dan menutupi tubuh Leo.

Liam berdiri menatap wajah cucunya yang kini terlihat begitu lelah namun tenang. Ia membelai rambut hitam Leo sejenak.

"Aku harap... suatu saat nanti kau benar-benar bisa menemukan kebahagiaanmu sendiri, Leo," bisik Liam di tengah kesunyian ruang tamu. Pria tua itu lalu berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Leo terlelap bersama mimpi-mimpinya, ditemani cahaya lampu temaram.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!