NovelToon NovelToon
Kejarlah Cinta Sampai Ke Negeri China

Kejarlah Cinta Sampai Ke Negeri China

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:53
Nilai: 5
Nama Author: HaLiAs

Kejarlah ilmu sampai ke negeri cina, sepertinya berubah makna menjadi cinta. Reza dan keluarganya adalah penduduk lokal asli yang hidup dikawasan kota J, berteman dengan Chintya yang pendatang dari etnis cina bersama keluarganya yang mengelola toko kelontong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaLiAs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tali Simpul x Persiapan

‎   Setelah malam yang penuh air mata dan pengakuan yang menguras emosi, pagi di kediaman keluarga Reza di Kota J terasa jauh lebih ringan. Matahari bersinar cerah, seolah ikut merayakan terangkatnya beban seberat ton dari pundak pemuda kurus itu. Di atas meja ruang tamu, map merah dari Disnaker tergeletak dengan damai, kini telah dilengkapi dengan selembar kertas bermaterai yang memuat tanda tangan bapaknya. Itu adalah tiket emasnya.

‎

‎Reza duduk di teras, menyesap kopi hitam buatan ibunya, sambil melihat Poltak yang sedang melakukan peregangan tubuh layaknya atlet senam lantai di halaman depan.

‎

‎"Tak, lo jangan banyak gaya di situ. Nanti disangka ibu-ibu PKK lo lagi senam pagi kesurupan," goda Reza, senyumnya kini jauh lebih lepas dari hari-hari sebelumnya.

‎

‎Poltak menghentikan putaran pinggulnya, mendengus keras. "Bah! Ini namanya stretching Kawan! Badan gorilaku ini pegal-pegal semua habis duduk di bus ekonomi kemarin. Knalpot bus itu rasanya langsung bergetar di tulang ekorku."

‎

‎Tepat saat itu, dari arah gang, muncul seorang gadis remaja berseragam SMP dengan tas ransel selempang yang dipenuhi gantungan kunci. Ia adalah Tari, adik perempuan Reza yang cerewetnya minta ampun. Tari baru saja pulang dari kegiatan ekstrakurikuler pagi.

‎

‎Begitu melihat sosok raksasa berambut ikal sedang melakukan gerakan squat di halaman rumahnya, langkah Tari terhenti. Ia memicingkan mata, lalu menoleh ke arah kakaknya yang sedang duduk di teras.

‎

‎"Bang Reza! Lo pulang nggak bilang-bilang? Terus ini... lo bawa pulang preman debt collector dari mana? Bapak ada utang panci cicilan ya?" seru Tari tanpa dosa.

‎

‎Poltak langsung tersedak ludahnya sendiri. Ia menghentikan gerakannya dan menatap Tari dengan wajah syok. "Heh, adik kecil! Enak aja kau panggil aku debt collector! Muka tampan khas pesona Danau Toba begini kau samakan sama penagih utang panci?! Kenalkan, aku Poltak Hasibuan, bodyguard sekaligus sahabat abangmu yang kucel ini!"

‎

‎Tari tertawa renyah, melangkah masuk ke halaman dan mencium tangan Reza. "Canda, Bang Poltak. Habisnya badan Abang gede banget, kontras sama Bang Reza yang kayak lidi-lidian depan SD. Bang Reza, muka lo kenapa babak belur gitu? Jatuh dari angkot Margonda?"

‎

‎"Panjang ceritanya, Tar. Nanti aja Bang Reza ceritain," Reza mengacak-acak rambut adiknya. "Gimana sekolah lo? Udah ada cowok yang naksir belum?"

‎

‎"Halah, boro-boro cowok naksir. Gue kan fokus belajar biar pintar, nggak kayak Abang yang dulu kerjaannya ngejar-ngejar Ci Chintya sampai rela jadi kuli angkat kardus Indomie," ledek Tari sambil menjulurkan lidah, sukses membuat telinga Reza memerah seketika.

‎

‎Poltak tertawa menggelegar mendengar itu. "Mantap kali kau, Tari! Teruskan roasting abangmu ini! Biar sadar dia kalau bucinnya sudah melegenda sampai ke tingkat kelurahan!"

‎

‎Pagi itu diisi dengan tawa dan candaan. Keluarga sederhana itu menikmati waktu istirahat yang sangat langka. Ibunya memasak ayam goreng lengkuas yang aromanya sukses membuat Poltak menambah porsi nasi hingga tiga kali, membuktikan bahwa lambung pemuda Batak itu memiliki kapasitas tanpa batas. Reza merasa hidupnya kembali terisi daya. Kepulangannya tidak sia-sia, keluarganya adalah jangkar yang menahannya dari badai fitnah ibukota.

‎

‎

‎...

‎

‎

‎   Sementara Reza menikmati udara segar Kota J, di Depok, udara justru terasa semakin menipis dan mencekik bagi Kevin.

‎

‎Di ruang rapat Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polresta Depok, sebuah papan tulis putih kini dipenuhi dengan foto, sketsa, dan benang merah yang saling terhubung. Detektif Budi, pria berambut cepak dengan insting tajam, menempelkan dua buah foto buram hasil cetakan rekaman CCTV dari stasiun Universitas Indonesia.

‎

‎"Cocokkan dengan database residivis Polres Metro," perintah Detektif Budi pada anak buahnya.

‎

‎Beberapa jam kemudian, mesin pencetak mengeluarkan dua lembar profil. Detektif Budi menempelkannya di papan. Wajah garang dengan tato kalajengking di leher itu kini memiliki nama: Bagas alias 'Botak', dan rekannya, Jali 'Gepeng'. Keduanya adalah preman spesialis pemerasan di kawasan pasar induk yang memiliki rekam jejak kriminal tebal.

‎

‎"Statuskan mereka sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO) sekarang juga. Sebarkan foto ini ke seluruh jajaran polsek," tegas Detektif Budi. Kepingan puzzle itu mulai tersusun. Laporan tukang parkir yang melihat Honda Jazz perak yang mencurigakan di jam kejadian kini sedang diselidiki. Polisi sedang meminta daftar seluruh mahasiswa FIB yang mengendarai mobil berjenis dan berwarna sama. Tali simpul perlahan mulai mengencang.

‎

‎Di sebuah kafe tersembunyi di daerah Kemang, Kevin duduk berhadapan dengan Aldo. Wajah Kevin tidak lagi menunjukkan senyum arogan. Kuku ibu jarinya sudah habis ia gigit. Matanya bergerak liar, memancarkan kepanikan tingkat tinggi.

‎

‎"Lu denger info dari anak-anak BEM nggak? Polisi udah ngeluarin status DPO buat dua preman yang nyulik Dini," suara Aldo bergetar, tangannya gemetar saat memegang gelas es kopinya. "Kev, kalau si Botak itu ketangkep, dia pasti nyanyi! Dia pasti bilang kalau elu yang bayar mereka buat nyerang Dini!"

‎

‎Kevin menggebrak meja pelan, menatap tajam Aldo. "Diem lu, Al! Jangan panik dulu! Orang-orang kayak Botak itu pintar ngumpet. Polisi nggak bakal gampang nemuin mereka."

‎

‎"Terus kalau ketemu gimana?! Gue nggak mau dipenjara, Kev! Gue masih mau lulus, gue mau kerja! Ini semua ide gila lu!" bantah Aldo, ketakutannya kini mengalahkan rasa tunduknya pada Kevin.

‎

‎Melihat Aldo yang mulai kehilangan kendali, insting bertahan hidup Kevin yang licik dan biadab mengambil alih. Ia menatap Aldo dengan tatapan sedingin es.

‎

‎"Dengerin gue baik-baik, Al," desis Kevin pelan, suaranya mengandung racun. "Gue yang transfer uang ke Botak pakai rekening anonim. Nggak ada bukti tertulis kalau gue yang nyuruh. Tapi... lu inget kan siapa yang nyariin kontak si Botak? Lu, Al. Lu yang ngenalin mereka ke gue lewat sepupu lu yang sering nongkrong di pasar itu."

‎

‎Aldo membelalakkan matanya, darahnya serasa surut seketika. "Kev... maksud lu apa?"

‎

‎"Maksud gue, kalau sampai kasus ini meledak, gue butuh alibi. Dan kalau si Botak ketangkep, gue bisa dengan gampang bilang ke polisi kalau lu yang merencanakan semuanya karena lu benci sama si Reza. Gue bisa bilang lu yang bayar mereka, dan gue cuma temen yang kebetulan lu kasih tahu rencananya." Kevin tersenyum sinis, sebuah senyuman iblis yang membuat Aldo merinding hingga ke ubun-ubun. "Keluarga gue punya pengacara terbaik di Jakarta. Lu pikir polisi bakal lebih percaya anak konglomerat kayak gue, atau cecunguk kayak lu?"

‎

‎Aldo terdiam membatu. Ia baru sadar, ia tidak sedang berteman dengan manusia. Ia sedang bermain-main dengan seekor ular berbisa yang siap mematuknya kapan saja demi menyelamatkan kulitnya sendiri.

‎

‎"Jadi, tutup mulut lu rapat-rapat. Bersikap normal. Kalau lu macam-macam, gue pastiin lu yang bakal duduk di kursi terdakwa sendirian," ancam Kevin, lalu berdiri meninggalkan Aldo yang mematung dengan napas sesak di meja kafe itu. Kevin mungkin terlihat mengancam, tapi jauh di dalam hatinya, denyut nadinya berdetak tak karuan. Ia sedang berlari di atas es yang perlahan retak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!