NovelToon NovelToon
Jin Nyasar Di Desa Kertajaya

Jin Nyasar Di Desa Kertajaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Komedi
Popularitas:650
Nilai: 5
Nama Author: My Chubby

Tiga pemuda bokek di Desa Kertajaya nekat mencari cara mendapatkan uang. Alih-alih menemukan keberuntungan, mereka justru selalu terjebak dalam masalah kocak yang bikin hidup mereka semakin kacau. Tanpa mereka sadari, petualangan aneh yang lebih besar sudah menunggu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Lema

BAB 11

Suara ketukan pintu yang disusul oleh derit engsel tua itu membuat jantung Raka, Bayu, dan Dimas berdegup kencang seolah mau copot dari tempatnya. Belum sempat salah satu dari mereka menyahut, daun pintu kamar nomor empat yang memang tidak dikunci rapat dari dalam langsung terdorong terbuka lebar.

Sosok Bu Ratna berdiri di ambang pintu dengan balutan daster batik hijau lumut kebesarannya yang legendaris. Rambutnya digelung ke atas menggunakan jepitan plastik besar berwarna merah jambu yang agak longgar, sementara tangan kanannya memegang sebuah buku tulis bersampul cokelat tebal yang sudah terlihat usang di bagian pinggirnya. Tatapan matanya yang tajam langsung menyapu isi kamar dengan kecepatan kilat, berhenti sejenak pada Bayu yang masih terduduk lemas di lantai, lalu beralih ke arah Dimas yang berdiri mematung di dekat meja.

"Wah, hebat ya kalian bertiga," suara melengking Bu Ratna langsung menggelegar memenuhi ruangan sempit berukuran tiga kali tiga meter itu, membuat telinga terasa berdenging. "Jam tujuh lewat sepuluh menit, batang hidung kalian sama sekali tidak kelihatan di halaman depan. Sengaja mau sembunyi, ya? Biar nggak ketemu pas jadwal penagihan?"

Raka segera melangkah maju, memasang senyum paling ramah yang bisa iya kumpulkan di tengah situasi hidup dan mati tersebut. Iya berusaha menutupi meja kecil yang berisi setumpuk lamaran kerja agar tidak terlalu mencolok perhatian sang pemilik kos.

"Eh, Bu Ratna... Selamat pagi, Bu," sapa Raka dengan suara sedikit bergetar namun dipaksakan tenang.

"Bukannya sengaja sembunyi, Bu. Kami bertiga baru saja mau keluar kamar buat bersih-bersih halaman depan sekalian cari udara segar."

Bu Ratna mendengus sinis, melipat kedua tangannya di bawah dada sambil menepuk-nepukan buku sampul cokelat ke telapak tangan kirinya. Plak, plak, plak. Suara itu terdengar seperti vonis hukuman mati bagi anak kos yang sedang bokek.

"Udara segar pala kalian puyeng!" sergah Bu Ratna galak. "Alasan klasik anak kos kalau nggak punya uang bayar sewa! Dengar ya, Raka, Bayu, Dimas! Janji kalian kemarin sore apa? Katanya hari ini tanggal sepuluh, uang sewa kamar nomor empat sudah beres dan lunas tanpa kurang sepeser pun. Ini mana buktinya? Dari tadi saya tungguin di pos depan, batang hidung kalian malah mulus banget nggak kelihatan!"

Bayu perlahan bangkit berdiri dari lantai sambil merapikan bajunya dengan canggung, mencoba memasang wajah melas paling menyedihkan yang iya punya. "Duh, Bu... Ampunilah dosa-dosa hamba yang khilaf ini. Sebenarnya rezeki kami lagi agak seret minggu ini. Job sebagai buruh gabah bayarannya masih diundur sama bosnya gara-gara mesin traktor kemarin sempat rewel di sawah."

"Alasan! Mesin traktor rusak kok urusannya nyambung ke uang kos saya?" Bu Ratna semakin melotot tajam, membuat jepitan rambut merah jambunya hampir melorot ke bawah. "Pokoknya saya nggak mau tahu! Hari ini batas toleransi terakhir saya berikan. Kalau sampai sore nanti jam lima sore kalian belum setor uang sewa, maaf banget ya... kasur busa tipis sama lemari plastik kalian itu terpaksa saya angkut ke halaman depan buat dilelang ke tukang rongsokan!"

Mendengar ancaman penyitaan kasur kesayangan, Bayu langsung memasang gestur hendak bersujud di kaki Bu Ratna kalau saja Dimas tidak segera menarik lengan belakang kausnya dengan sigap.

"Jangan dong, Bu Ratna yang baik hati, cantik, dan paling pengertian se-Kecamatan Kertajaya," rayu Bayu dengan suara setengah merengek. "Kasih kami waktu tambahan sedikit lagi, Bu. Dua hari saja! Biar kami kerja rodi angkut batu kali di sungai seberang desa."

"Dua hari? Kepala bapakmu dua hari!" tukas Bu Ratna sengit, tidak mempan dengan rayuan maut Bayu. "Rumah ini juga butuh buat bayar token listrik, iuran warga, sama cicilan kulkas! Pokoknya jam lima sore, saya tagih ke sini lagi. Kalau kosong, saya kunci kamarnya dari luar!"

Setelah melontarkan ultimatum maut tersebut, Bu Ratna memutar tubuhnya dengan penuh wibawa, mengibaskan daster hijau lumutnya dengan kesal, lalu melangkah pergi meninggalkan kamar nomor empat sambil membanting pintu kayu agak keras.

Brak!

Bunyi pintu itu menutup mengakhiri teror pagi hari yang luar biasa menyesakkan dada. Raka, Bayu, dan Dimas langsung merosot lemas secara bersamaan. Suasana di dalam kamar mendadak hening seketika, menyisakan deru napas mereka yang terengah-engah menahan kepanikan.

Di sudut ruangan, Zahmira berdiri menyaksikan seluruh drama manusia fana tersebut dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan. Sebelah alisnya terangkat tinggi, menunjukkan rasa heran bercampur jijik yang mendalam terhadap adegan barusan.

"Jadi..." suara dingin Zahmira memecah keheningan kamar sempit itu. Iya melangkah mendekati ketiga pemuda yang tampak seperti ayam sayur yang baru saja kalah bertarung. "Perempuan bergaun hijau terang tadi adalah penguasa mutlak yang kalian takuti setengah mati?"

"Bukan cuma ditakuti, Mbak, tapi dia itu perwujudan nyata dari kiamat kecil bagi anak kos," keluh Bayu pasrah sambil menelungkupkan wajahnya di atas meja. "Jam lima sore kasur kita mau diangkut. Mau tidur di mana coba nanti malam? Tidur di atas lumpur sawah?"

Raka bangkit dari posisinya, menatap jam tangan plastik murahan yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul tujuh lewat dua puluh menit. Waktu berjalan begitu cepat ketika ancaman penggusuran sudah di depan mata.

"Kita nggak boleh cuma duduk meratapi nasib," ucap Raka tegas, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kewarasannya di tengah situasi yang semakin menghimpit. "Ayo, kita keluar sekarang. Kita cari pekerjaan harian apa saja di desa, entah itu jadi buruh panggul di pasar induk atau bantu-bantu di warung Pak Jaya seharian penuh."

Zahmira mendengus pelan, menatap tiga pemuda itu dengan tatapan meremehkan namun menyiratkan setitik rasa penasaran yang tidak bisa ia sembunyikan.

"Kalian benar-benar makhluk paling keras kepala yang pernah kulihat. Mengapa kalian tidak menggunakan kekuatan kalian sendiri untuk melawan perempuan itu?"

"Lawan gimana caranya, Mbak?" cetus Dimas dengan nada datarnya. "Mau adu jotos sama Bu Ratna? Yang ada kita bertiga digelandang ke balai desa karena dituduh melakukan kekerasan terhadap lanjut usia."

Zahmira membuang muka, mendengus pelan sambil melipat kedua tangannya di dada. Iya melangkah anggun menuju jendela kamar, menatap ke arah jalanan desa di luar sana. "Manusia fana memang selalu merepotkan diri sendiri hanya karena uang dan aturan-aturan konyol."

1
falea sezi
lanjut🤣 q kirim bunga
Putri Pinrang: Baik terimah kasih sudah koment😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!