Dianggap tak berguna dan diperlakukan seperti pembantu, Laras akhirnya melancarkan pembalasan manis pada suami dan keluarga mertuanya.
Selama tiga tahun, mereka tidak pernah tahu bahwa fasilitas mewah yang mereka nikmati sebenarnya berasal dari bisnis rahasia Laras.
Malam saat mereka pulang merayakan kenaikan jabatan Bagas, Laras sudah menarik seluruh asetnya, menyisakan rumah kosong, gunung utang, dan surat cerai yang siap menghancurkan kesombongan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asrial, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melabrak Tempat Kerja Laras
Malam semakin larut, namun suasana di depan kontrakan sempit di Gang Melati justru semakin panas. Suara dentuman pintu mobil yang ditutup keras oleh Laras bergema di tengah keheningan malam, memancing perhatian para tetangga yang mulai berhamburan keluar rumah. Mereka berbisik-bisik, menunjuk ke arah Bagas dan keluarganya yang tampak kuyu dan berantakan.
Bagas menatap Laras dengan napas yang memburu, dadanya naik turun menahan amarah yang tertahan di tenggorokan. Ia merasa dipermalukan di depan orang-orang yang selama ini ia anggap lebih rendah darinya. Sementara itu, Ibu Melati hanya bisa meremas ujung daster usangnya, wajahnya tampak lebih tua sepuluh tahun akibat syok yang bertubi-tubi.
"Laras, kamu benar-benar sudah kehilangan akal sehatmu," seru Ibu Melati dengan suara bergetar karena emosi. "Kamu mempermalukan kami di depan orang-orang kampung ini hanya demi kepuasan pribadimu yang rendah itu."
Laras tidak segera menjawab, ia hanya membenarkan letak jas hitamnya yang tampak begitu kontras dengan debu di jalanan. Ia menoleh perlahan ke arah petugas yang sedang membawa keluar sebuah lemari kayu jati berukir dari dalam kontrakan. Perabotan itu adalah barang terakhir yang tersisa dari rumah lama mereka.
"Ibu menyebut ini rendah?" tanya Laras dengan nada dingin namun tenang. "Justru jauh lebih rendah ketika kalian membiarkan aku makan sisa dan tidur di gudang sementara kalian berpesta pora dengan uang yang aku hasilkan sendiri."
Bagas melangkah maju, tangannya mencengkeram bahu Laras dengan kasar, namun dengan sigap Pak Hendra segera menarik tangan Bagas dan menghempaskannya ke belakang. Pak Hendra berdiri di antara mereka seperti tembok pertahanan yang tak tertembus.
"Tolong jaga jarak Anda, Pak Bagas," tegas Pak Hendra dengan sorot mata tajam. "Jangan melakukan kontak fisik atau Anda akan berurusan dengan pasal penganiayaan, selain dari kasus perdata yang sedang kita selesaikan ini."
Bagas terhuyung mundur, wajahnya merah padam karena merasa harga dirinya sebagai pria benar-benar diinjak-injak di depan umum. Ia melirik ke arah Siska yang masih terduduk di tanah sambil terisak, tampak menyedihkan dengan riasan wajah yang sudah luntur karena air mata.
"Apakah kamu tidak punya sedikit saja rasa kasihan, Laras?" tanya Bagas dengan nada memohon yang terdengar sumbang. "Lihat adikku, lihat ibuku. Kami tidak punya apa-apa lagi sekarang. Kamu benar-benar ingin membunuh kami perlahan-lahan?"
Laras menatap Bagas tepat di matanya, tidak ada sedikit pun keraguan atau rasa iba di sana. Baginya, setiap tetes air mata yang ia keluarkan selama tiga tahun pernikahan kini sudah dibayar lunas dengan pemandangan di depannya.
"Kasihan itu untuk orang yang pantas mendapatkannya, Bagas," jawab Laras pelan namun tegas. "Kalian punya waktu tiga tahun untuk memperlakukanku sebagai manusia, tetapi kalian memilih untuk memperlakukanku sebagai budak. Sekarang, ini adalah konsekuensinya."
Pak Hendra kembali memberi kode kepada tim logistik, dan dengan cekatan mereka mulai mengangkut barang-barang terakhir ke atas truk. Suara kayu beradu dengan besi terdengar nyaring, seolah-olah suara itu adalah lonceng kematian bagi kehidupan mewah yang selama ini keluarga Bagas agungkan.
Siska tiba-tiba bangkit berdiri, ia berlari ke arah truk dan berusaha menahan salah satu petugas yang sedang mengangkat sebuah kotak berisi perhiasan imitasi miliknya. Wajahnya penuh dengan histeria dan rasa tidak terima.
"Jangan ambil itu! Itu barang pribadiku! Kamu tidak punya hak mengambil barang-barang kecil milikku!" teriak Siska sambil mencoba mencengkeram tangan petugas tersebut.
Petugas itu dengan sabar namun tegas melepaskan tangan Siska dari lengannya. Ia kemudian menatap Siska dengan tatapan datar sebelum meletakkan kotak itu ke dalam truk dengan aman.
"Semua yang ada di dalam kontrakan ini terdaftar sebagai inventaris yang dibeli menggunakan dana perusahaan," ujar petugas tersebut dengan tenang. "Jika Anda merasa itu milik Anda, silakan tunjukkan bukti pembeliannya kepada pengacara kami di kantor hukum."
Siska terdiam, mulutnya terbuka lebar namun tidak ada kata yang keluar dari bibirnya. Ia tahu betul bahwa semua barang itu dibeli menggunakan kartu kredit atas nama perusahaan Laras, yang ia ambil secara diam-diam selama ini.
Ibu Melati mendekati Laras dengan wajah memelas yang dibuat-buat, tangannya hendak menyentuh lengan Laras, namun Laras mundur satu langkah untuk menjaga jarak. Sikap Laras yang menjaga martabatnya membuat Ibu Melati merasa semakin kecil dan tidak berdaya.
"Laras, nak, maafkan kami semua," rintih Ibu Melati dengan suara yang sengaja dikeras-keras agar tetangga bisa mendengar. "Kita keluarga, tidak baik kalau kita saling menjatuhkan seperti ini. Mari kita bicarakan baik-baik di dalam, jangan buat tontonan seperti ini."
Laras tertawa kecil, suara tawa yang terdengar hambar dan penuh sinisme. Ia menatap Ibu Melati dari atas ke bawah, seolah melihat seseorang yang sedang berusaha memerankan sandiwara murahan.
"Keluarga?" tanya Laras dengan nada retoris. "Apakah saat kalian membuang pakaianku ke tempat sampah, kalian menganggapku keluarga? Saat kalian menertawakan orang tuaku yang sudah tiada di depan wajahku, apakah kalian menganggapku keluarga?"
Ibu Melati terbungkam, lidahnya seolah kelu karena jawaban Laras yang menghantam tepat di jantungnya. Ia tidak menyangka wanita yang dulunya begitu penurut dan pendiam kini berubah menjadi sosok yang begitu tak terjangkau dan keras seperti baja.
"Pak Hendra, apakah semuanya sudah selesai?" tanya Laras tanpa menoleh lagi ke arah Ibu Melati.
Pak Hendra mengangguk sambil menutup map biru di tangannya dengan suara pelan namun pasti. "Sudah, Nyonya. Semua aset yang terdaftar dalam daftar inventaris sudah diamankan sepenuhnya. Tidak ada satu barang pun yang tertinggal."
"Bagus," jawab Laras dingin. "Kalau begitu, mari kita pergi dari sini. Saya tidak ingin menghabiskan satu menit lagi di lingkungan yang menyesakkan ini."
Laras berbalik badan, langkah sepatunya di atas tanah becek terdengar sangat ritmis, meninggalkan keluarga Bagas yang terpaku di depan kontrakan yang kini benar-benar kosong melompong. Bagas berusaha mengejarnya selangkah, namun ia berhenti saat melihat tatapan tajam dari pengawal pribadi Laras yang berdiri di samping mobil.
Bagas hanya bisa mematung di tempat, menatap mobil mewah Laras yang perlahan mulai bergerak menjauh dari gang tersebut. Lampu belakang mobil itu menyala terang, menjauh hingga akhirnya lenyap di balik tikungan jalan, meninggalkan mereka dalam kegelapan malam yang nyata.
Siska jatuh terduduk kembali ke lantai, ia menatap ke dalam kontrakan yang kini hanya menyisakan empat dinding kosong dan lantai tanah tanpa perabotan. Tidak ada lagi meja rias, tidak ada lagi tempat tidur empuk, dan tidak ada lagi kemewahan yang selalu ia pamerkan di media sosial.
"Bagas, apa yang harus kita lakukan sekarang?" isak Siska dengan suara parau. "Kita benar-benar tidak punya apa-apa lagi. Besok kita harus tidur di mana?"
Bagas tidak menjawab, ia hanya berdiri mematung di ambang pintu, menatap bayangan mobil Laras yang telah hilang sepenuhnya. Ia menyadari bahwa malam ini bukan hanya tentang kehilangan harta benda, tetapi tentang hilangnya satu-satunya kesempatan untuk memperbaiki kehancuran yang ia buat sendiri.
Ibu Melati masuk ke dalam kontrakan dengan langkah gontai, ia menyentuh dinding yang terasa dingin dan lembap. Tidak ada lagi kehangatan, tidak ada lagi kebanggaan. Yang tersisa hanyalah aroma debu dan kesunyian yang mencekik, sebuah akhir yang pantas bagi kesombongan mereka selama ini.
Di kejauhan, lampu jalan berkedip-kedip seolah menjadi saksi bisu atas kejatuhan sebuah keluarga yang dulunya merasa memiliki segalanya. Bagas menutup pintu kontrakan dengan kasar, namun suara derit pintu tua itu justru terdengar seperti ejekan bagi hidupnya yang kini harus dimulai kembali dari titik nol.
Malam itu, di dalam kontrakan sempit dan gelap, keluarga Bagas tidak lagi memiliki alasan untuk berdebat atau saling menyalahkan. Mereka hanya bisa terduduk di lantai, meratapi kenyataan pahit bahwa hidup di atas penderitaan orang lain akhirnya membawa mereka pada kehancuran yang mutlak dan tanpa ampun.