Clara Adelin Dewangga, seorang siswi SMA berusia 18 tahun yang ceria namun sering terlibat masalah, tidak pernah membayangkan bahwa kehidupan remajanya akan berubah drastis dalam semalam. Karena perjodohan keluarga yang terikat janji masa lalu, Clara terpaksa menikah muda di usianya yang masih duduk di bangku sekolah.
Pria yang dijodohkan dengannya adalah Arka Samudra, seorang dokter muda berparas tampan, cerdas, namun terkenal sangat dingin, kaku, dan penuh aturan. Di depan publik dan di rumah sakit, Arka adalah sosok dokter profesional yang disegani. Namun di rumah, ia menjadi sosok suami super protektif yang menyebalkan bagi Clara.
Kehidupan pernikahan rahasia mereka penuh dengan pertengkaran kecil yang menggelitik:
Clara sangat membenci Arka, karena dia menerima perjodohan tersebut, tanpa syarat.
Di balik sikap Arka yang dingin dan membuat kesal, perlahan terkuak perhatian-perhatian kecil yang membuat jantung Clara berdebar tak menentu. Hal itu yang membuat Clara tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Riak di Koridor SMA Nusa Bangsa
Langkah Clara menapaki ubin keramik lobi utama SMA Nusa Bangsa terasa jauh lebih ringan dari bayangannya. Meski knee brace di balik rok abu-abunya masih membatasi kelenturan geraknya, sensasi nyeri yang dulu menusuk kini telah teredam. Namun, ketenangan fisik itu langsung diuji begitu ia melewati koridor lantai satu.
Bisik-bisik seketika berhamburan seperti debu tertiup angin begitu wajah Clara muncul di balik pintu kaca.
“Eh, itu kan Clara?”
“Bukannya dia habis kecelakaan motor waktu kabur dari rumah?”
“Katanya dia dinikahkan paksa sama dokter muda demi meredam skandal keluarga...”
Tatapan penuh rasa ingin tahu, sinis, dan kasihan berhamburan dari berbagai arah. Di sudut koridor dekat papan pengumuman, sekelompok siswi populer tampak berkerumun, memandangnya dengan senyum meremehkan.
Dulu, Clara pasti akan membalas tatapan itu dengan mata melotot, melontarkan umpatan tajam, atau bahkan melabrak siapa saja yang berani berbisik di belakangnya. Tapi hari ini, di dalam saku seragamnya, genggaman tangannya merasakan permukaan dingin ponsel pintar baru pemberian Arka. Bayangan tatapan tenang dan suara berat suaminya pagi tadi berkelebat di kepalanya, meredam gejolak amarah yang sempat mendidih di dadanya.
“Kamu punya saya sekarang. Kamu punya rumah ini.”
Clara menarik napas dalam-dalam. Ia menegakkan punggungnya, mengangkat dagunya anggun, dan berjalan melewati gerombolan itu tanpa sudi melirik mereka sedetik pun. Sikap acuh tak acuh dan dingin itu justru membuat para pembisik tertegun bungkam; tidak ada lagi Clara yang rapuh atau meledak-ledak.
Di kelas XII IPA 1, suasana yang tadinya riuh mendadak hening begitu Clara membuka pintu.
Meja belajarnya tampak bersih sesuatu yang membuatnya sedikit mengernyit. Di atas bangkunya, sebuah catatan kecil berwarna merah muda tertempel dengan tulisan tangan yang menyindir: ‘Wah, pengantin baru sudah masuk. Jangan ngebut-ngebut lagi ya, nanti suaminya marah!’
Clara mendengkus pelan. Ia merobek kertas itu tanpa ekspresi, membuangnya ke tempat sampah, lalu menarik kursi dan duduk dengan tenang.
Beberapa saat kemudian, sahabat sekelasnya sekaligus satu-satunya orang yang tidak pernah menghakiminya, Fani Adisty, datang tergesa-gesa menghampiri meja Clara. Wajah Fani tampak cemas sekaligus takjub.
"Clara! Astaga, kamu beneran sudah masuk?" bisik Fani heboh sambil menarik kursi di sebelah Clara. "Aku kira kamu masih butuh istirahat sebulan lagi! Gimana lututmu? Masih sakit?"
Clara tersenyum tulus senyum yang benar-benar hangat khusus untuk sahabatnya. "Sudah jauh lebih baik, Fan. Kalau cuma duduk di kelas mendengarkan guru ngomel, aku kuat kok."
"Gila, kamu berani banget langsung masuk," gumam Fani, matanya melirik ke arah luar jendela kelas sebelum kembali menatap Clara. "Omong-omong... tadi pagi aku sempat lihat dari lantai dua. Mobil Range Rover hitam mewah yang turunin kamu di depan gang... itu beneran suami dokter mudamu? Yang namanya Arka Samudra itu?"
Pipi Clara tanpa sadar merona merah. Ia mengangguk pelan. "Iya."
"Wah, sumpah ya, gosip di kantin kemarin bilang kalau suami kamu itu galak, dingin, dan kaku kayak patung es," bisik Fani berapi-api. "Tapi kalau anterin kamu sekolah terus bawain tas begini... kayaknya aslinya nggak seseram itu, ya?"
Sebelum Clara sempat menjawab, bel tanda masuk berbunyi nyaring, menghentikan obrolan mereka. Pak Hendra, guru matematika yang terkenal killer, melangkah masuk ke dalam kelas membawa tumpukan buku tebal.
Pelajaran demi pelajaran berlalu. Clara mengikuti setiap materi dengan fokus penuh, memanfaatkan lift guru seperti pesan Arka untuk menghindari naik-turun tangga yang melelahkan.
Hingga pada jam istirahat kedua, saat Clara berjalan menuju perpustakaan untuk meminjam beberapa buku referensi, sebuah hadangan tak terduga menantinya di ujung koridor sepi dekat ruang laboratorium kimia.
Kenan mantan kekasih Clara yang hubungannya kandas dengan cara yang buruk beberapa bulan lalu sudah berdiri bersidekap dengan senyum sinis tersungging di bibirnya.
"Lama tidak kelihatan, Clara," sapa Kenan dengan nada merendah, melangkah mendekat. "Dengar-dengar kamu sekarang jadi anak rumahan yang patuh sama suami dokternya? Wah, hebat juga strategi keluargamu. Menikah muda demi nutupin kenakalan anak liar."
Clara menghentikan langkahnya. Jantungnya sempat berdegup kencang, bukan karena rindu atau takut, melainkan gelombang rasa jijik yang meluap. Ia menatap Kenan tajam.
"Minggir, Kenan. Aku tidak punya urusan sama kamu," ujar Clara dingin, suaranya datar tanpa getaran.
Kenan terkekeh meremehkan, semakin mendekat hingga jarak mereka hanya terpaut satu langkah. "Sombong banget sekarang. Padahal aslinya kamu cuma cewek lemah yang dibuang sama papamu sendiri ke tangan dokter sok suci itu. Kalau suamimu tahu kelakuan liar kamu balapan liar dulu—"
Plak!
Suara tamparan keras bergemerincing memecah keheningan koridor. Clara tidak memukulnya, melainkan seseorang yang muncul dari balik tikungan koridor dengan langkah cepat dan napas memburu.
Bukan Arka. Melainkan seorang pemuda berambut berantakan dengan tatapan mata menyala penuh amarah Mahesa, sepupu jauh Clara yang selama ini diam-diam selalu memerhatikan keselamatan gadis itu dari jauh.
"Jaga mulut sampahmu, Kenan!" suara Mahesa bergetar menahan berang, mencengkeram kerah seragam Kenan kuat-kuat. "Kalau kamu berani ganggu Clara lagi, bukan cuma pipi kamu yang saya bikin merah!"
Kenan, yang terkejut mendapat serangan mendadak, menepis tangan Mahesa dengan wajah pucat pasi karena malu dan marah, lalu memilih mundur dan kabur terbirit-birit meninggalkan lorong tersebut.
Clara menatap Mahesa dengan mata terbelalak. "Mahesa? Kamu ngapain di sini?"
Mahesa menghela napas kasar, merapikan bajunya sendiri sebelum menatap Clara dengan pandangan penuh kekhawatiran bercampur lega. "Aku disuruh Mama pantau keadaan kamu. Dan untung aku datang tepat waktu sebelum cowok sialan itu ngomong yang nggak-nggak."
Clara tersenyum tipis, meski hatinya sedikit waswas jika Arka sampai tahu insiden ini. Ia menepuk pelan lengan Mahesa. "Makasih, Mahesa. Tapi aku baik-baik saja. Aku bisa hadapi dia sendiri sekarang."
Mahesa meneliti penampilan Clara dari ujung kepala hingga kaki, lalu mendengkus pelan. "Iya, keliatannya kamu memang beda. Nggak ada lagi nyalang-nyalangnya kayak singa terluka." Pemuda itu melirik jam tangannya. "Udah, sana balik kelas. Bentar lagi jam tiga sore. Suami doktermu pasti udah stanby nungguin di gerbang."
Mendengar nama Arka disebut, ingatan Clara langsung melayang pada pesan tegas suaminya pagi tadi: ‘Tunggu di dalam pos satpam, jangan berdiri terlalu lama.’
Clara mengangguk cepat. Setelah berpamitan singkat pada Mahesa, ia langsung bergegas menuju gerbang utama sekolah, mengikuti rute koridor yang landai dan menggunakan lift guru demi menjaga lututnya yang masih dalam masa pemulihan.
Pukul tiga sore tepat, lonceng akhir sekolah berdering nyaring, melepas ratusan siswa yang berhamburan keluar gerbang. Sesuai instruksi Arka, Clara tidak berdiri di tepi jalan raya. Ia memilih duduk manis di dalam ruang pos satpam yang sejuk, ditemani Pak Joko satpam sekolah yang sudah mengenalnya sejak kelas sepuluh.
"Wah, Non Clara sekarang sudah dijemput suami, ya? Hebat bener, mobilnya mewah banget itu di depan," puji Pak Joko sambil tersenyum ramah dari balik meja kerjanya.
Clara hanya tersenyum simpul, menyembunyikan rona merah di pipinya. Melalui kaca jendela pos satpam, ia bisa melihat Range Rover hitam mengkilap milik Arka terparkir rapi tepat di seberang gerbang. Pintu kemudi terbuka, dan sosok Arka melangkah keluar.
Pria itu mengenakan kemeja biru dongker dengan lengan yang digulung sebatas siku, memancarkan aura dewasa, tenang, dan begitu berwibawa. Kehadirannya yang mencolok tak ayal menarik perhatian beberapa siswi yang berlalu-lalang, membuat mereka berbisik-bisik kagum. Namun, tatapan tajam Arka langsung menyapu area sekitar, hingga jatuh lurus ke arah pos satpam. Begitu melihat Clara di balik kaca, ketegangan di wajah pria itu melunak seketika.
Clara segera berdiri, berpamitan kepada Pak Joko, lalu melangkah keluar gerbang menghampiri suaminya.
Arka menyambutnya dengan membukakan pintu mobil bagian depan. "Bagaimana hari pertamamu sekolah? Lututmu sakit?" tanya Arka langsung begitu Clara duduk di kursi penumpang, tangannya secara natural membantu memasangkan sabuk pengaman dengan hati-hati.
"Nggak sakit, kok. Lancar," jawab Clara jujur, merasa hangat dengan perhatian kecil itu. "Dan aku nurut, kan? Langsung nunggu di pos satpam sesuai janji."
Arka tersenyum tipis, mengelus puncak kepala Clara sekilas sebelum menutup pintu. Setelah itu ia berputar dan duduk di kursi pengemudi, mobil pun melaju membelah kemacetan sore kota.
Suasana di dalam kabin terasa nyaman ditemani alunan musik klasik bergenre lo-fi yang lembut. Namun, di tengah perjalanan menuju rumah sakit tempat Arka bertugas di mana mereka berencana mampir sebentar untuk mengambil beberapa berkas Clara teringat insiden di koridor tadi.
"Arka..." panggil Clara pelan, melirik ragu ke arah suaminya.
"Hm?" Arka tetap fokus menyetir, meliriknya sekilas. "Ada apa? Ada yang mengganggumu di sekolah?"
Clara meremas ujung rok seragamnya. Ia tahu menyembunyikan sesuatu dari Arka bukanlah keputusan yang baik, terutama setelah pria itu menunjukkan ketulusan dan perlindungan penuh kepadanya.
"Tadi... waktu jam istirahat kedua, aku sempat dicegat sama Kenan di dekat lab kimia," aku Clara hati-hati. Ia langsung menambahkan dengan cepat, "Tapi aku nggak kenapa-kenapa! Sumpah! Tadi Mahesa kebetulan datang dan langsung ngusir dia."
Mobil yang mereka kendarai melambat dengan mulus di sebuah lampu merah. Arka menoleh sepenuhnya menatap Clara. Sorot mata yang tadinya tenang kini berubah tajam, membuat suhu di dalam kabin mendadak terasa lebih dingin.
"Kenan?" suara Arka rendah, namun mengandung penekanan yang membuat Clara menelan ludah. "Mantan kekasihmu yang brengsek itu?"
"Iya..." cicit Clara, merasa ciut di hadapan suaminya.
Arka terdiam sejenak. Rahangnya mengeras, jemarinya mengetuk-ngetuk kemudi mobil beberapa kali sebelum ia menghela napas panjang untuk meredam emosinya. Pria itu tahu betul batasan; ia tidak ingin menjadi suami yang posesif berlebihan atau mengekang dunianya Clara. Tapi mendengar nama mantan kekasih yang melecehkan istrinya tentu saja memicu insting pelindungnya.
Arka mengulurkan tangan, menggenggam jemari Clara yang terasa dingin di konsol tengah. Usapannya lembut, kontras dengan ekspresi wajahnya yang masih serius.
"Kamu tidak membalas tindakannya dengan cara yang bodoh, kan?" tanya Arka lembut namun tegas. "Kamu memilih menjaga diri?"
Clara menggeleng cepat. "Nggak! Sumpah, aku cuma nyuruh dia minggir. Mahesa yang keburu datang dan nampar pipinya sebelum aku sempat berbuat apa-apa."
Mendengar itu, ketegangan di wajah Arka sedikit mencair. Ia mengangguk pelan. "Bagus. Kamu sudah belajar mengontrol emosimu dengan sangat baik hari ini, Clara. Saya bangga padamu."
Pujian tulus itu meluncur begitu saja dari bibir Arka, membuat pipi Clara kembali merona panas. Jantungnya berdegup kencang karena alasan yang sama sekali berbeda dari rasa takut.
"Tapi," lanjut Arka dengan nada dingin yang menyiratkan peringatan mutlak, "kalau pemuda bernama Kenan itu berani mendekatimu atau mengganggumu lagi, katakan pada saya. Atau biarkan Mahesa yang membereskannya. Jangan pernah coba-coba menghadapinya sendirian, mengerti?"
Clara tersenyum kecil, merasakan kehangatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya dari sosok keluarga mana pun. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia merasa memiliki tempat berlindung yang kokoh.
"Iya, Dokter Arka," jawab Clara patuh.
Arka mendengus pelan, setengah geli mendengar panggilan formal itu, lalu kembali menjalankan mobilnya saat lampu hijau menyala. Perjalanan sore itu dilanjutkan dalam keheningan yang menenangkan, membawa mereka menuju awal babak baru kehidupan yang jauh lebih pasti.