Kiara cuma punya satu impian di sekolah barunya: lulus dengan tenang tanpa drama.
Sayangnya, takdir malah melemparnya tepat ke lingkaran kehidupan Khafi Mahendra—cowok paling jahil, menyebalkan, dan susah ditebak di SMA Cahaya Permata.
Dua kepala batu. Dua pendirian kuat. Satu hubungan tanpa komitmen yang dipenuhi provokasi. Ketika benci menjadi satu-satunya bahasa yang mereka pahami, seberapa jauh mereka bisa saling menghindar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon theonlywaaannn_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 : Nyaris Hilang, Untung Ada Khafi
Dua jam setelah api unggun besar dipadamkan dan sisa bara abunya disiram air hingga mengepulkan asap kelabu, suasana di kawasan Bumi Perkemahan mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Kehangatan yang tadinya tercipta dari tawa dan nyanyian bersama lebur ditelan pekatnya malam. Panitia Ambalan Pramuka memberlakukan agenda Jerit Malam—kegiatan wajib yang selalu jadi momok sekaligus ajang uji nyali paling ditunggu.
Penerangan utama di area perkemahan dimatikan total. Hanya ada sorot senter remang-remang dari para panitia di pos-pos bayangan yang tersebar di sepanjang jalur hutan pinus. Udara dingin pukul dua pagi benar-benar menusuk hingga ke tulang sumsum, merayap lewat pori-pori kain seragam dan menghembuskan embun beku yang membuat setiap tarikan napas mengeluarkan uap putih tipis.
Rombongan Tenda 4 cowok dan cewek kebagian jadwal berjalan beriringan dalam satu regu. Ferdi dan Pandu memimpin di barisan terdepan dengan senter dim yang sengaja diredupkan agar suasana horornya terasa, sementara Kevin dan Neona berjalan di tengah sambil sesekali saling lempar lelucon garing untuk meredam rasa takut, Begitupun dengan Maya dan Sisil yang berjalan berdempetan saling menempel rekat.
Di barisan paling belakang, Kiara berjalan dengan langkah agak gontai. Rasa kantuk yang hebat berpadu dengan dinginnya malam membuat kepalanya terasa berat.
"Kia, buruan! Langkah lo makin lama makin kayak siput," panggil Neona dari depan, kepalanya menoleh sedikit dengan raut panik. "Jangan jauh-jauh dari belakang gue, ah! Hutan jam segini nakutin banget!"
"Iya, Ona... Ini gue lagi jalan," jawab Kiara lesu, matanya setengah terpejam menahan kantuk dan napasnya menggebu-gebu.
"Jangan melamun terus, Ara. Langkah kaki lo makin lama makin ketinggalan tuh," bisik Khafi pelan dari balik kegelapan di belakangnya. Suara cowok itu terdengar berat, sengaja diredam agar tidak memecah keheningan hutan, tapi ada nada tegas yang menyiratkan kalau dia sedang mengawasi Kiara secara konstan.
"Siapa yang melamun sih? Orang matanya ketutup dikit gara-gara ngantuk," cetus Kiara pelan, membalikkan badan sekilas membela diri.
"Iya, nanti kalau kesandung akar pohon terus nyungsep, yang repot juga orang di belakang lo," balas Khafi datar. "Fokus. Matanya dibuka lebar-lebar."
"Bawel banget sih, Khafi!" omel Grizelle lirih.
Sialnya, ketika mereka memasuki jalur turunan curam yang dipenuhi akar-akar pohon besar dan tanah basah sisa embun sore, baterai senter kecil di genggaman Kiara tiba-tiba berkedip dua kali lalu mati total.
Plat! Gelap gulita.
Kiara yang terkejut refleks menghentikan langkahnya, mencoba mengetuk-ngetuk badan senter itu ke telapak tangannya. "Ih, mati lagi. Kenapa sih..." gumamnya panik.
Ia tetap mengetuk, memukul, bahkan membolak-balikan senter dim itu, berharap ada keajaiban. Namun nihil. Dalam hitungan detik, saat ia mendongak untuk mencari siluet teman-temannya di depan, jalur di hadapannya sudah kosong. Kabut tebal yang turun malam itu bertindak seperti dinding putih yang menutup pandangan, menelan habis suara tawa dan langkah kaki regu mereka. Rombongan di depan sudah berbelok di tikungan semak belukar, meninggalkan Kiara sendirian di tengah kegelapan hutan yang sunyi.
Bulu kuduk Kiara langsung merinding seketika. Jantungnya berdegup kencang, Ia mencoba membasahi bibir bawahnya yang terasa pucat dengan kedua lengan yang saling mengusap. Rasa takut yang luar biasa mendadak merayap naik ke tenggorokan. Kakinya terasa kaku, tidak bisa digerakkan barang sejengkal pun.
"Ona? Maya? Sisil?" panggil Kiara, suaranya mulai bergetar. "Jangan bercanda dong! Gue nggak keliatan apa-apa nih!"
Hening. Hanya ada gesekan daun pinus yang ditiup angin malam.
"Ona! Khafi! Jangan ninggalin gue!" teriak Kiara lebih keras, air mata ketakutan sudah menggenang di pelupuk matanya. "Tolongin..."
Belum sempat rasa paniknya meluap menjadi tangisan kencang, sebuah tangan yang kokoh dan hangat tiba-tiba merengkuh pergelangan tangannya dari arah samping, menarik tubuhnya merapat ke balik rumpun semak tinggi.
Kiara nyaris memekik keras, tapi sebuah telapak tangan yang lebar dengan cepat membekap mulutnya.
"Sstt! Mau bikin satu angkatan ngumpul ke sini, hah?" bisik suara yang sangat familiar tepat di dekat telinganya.
Begitu bekapan itu dilepas, Kiara langsung mendongak. Di bawah pendar samar cahaya bulan yang menembus celah dedaunan, ia melihat siluet wajah Khafi. Cowok itu berdiri sangat dekat, napasnya sedikit memburu, menyiratkan kepanikan yang mati-matian ia sembunyikan di balik raut datarnya.
"Lo... lo ngapain di sini?" cicit Kiara, suaranya masih bergetar hebat karena sisa-sisa rasa takut. "Kok ninggalin gue... eh, maksudnya kok lo nggak jalan di depan sama yang lain?"
"Ngelamun mulu sih kerjanya!" omel Khafi langsung dengan nada tajam yang dipaksakan. "Orang dari tadi gue merhatiin langkah lo makin lambat, pas gue nengok ke belakang, lo malah berhenti kayak patung di tengah jalan! Tau nggak kalau tadi gue udah hampir nyampe di pos dua terus harus muter balik gara-gara lo nggak ada?"
"Senter gue mati, Khafi!" bela Kiara lirih, suaranya terdengar hampir menangis karena gugup dan kedinginan. "Gelap banget, gue nggak kelihatan apa-apa... Gue kira gue ditinggalin sendirian di tengah hutan..."
Melihat mata Kiara yang berkaca-kaca di dalam gelap dan bibirnya yang gemetar ketakutan, nada bicara Khafi perlahan melunak meski gengsinya masih setinggi langit. Ia mendengus pelan, melepas sebelah tangan dari saku jaketnya, lalu merogoh kantong tas punggungnya untuk menyalakan senter headlamp cadangan miliknya.
"Nih," kata Khafi, memasangkan senter tali itu ke kepala Kiara.
"Aww, pelan-pelan dong pasang talinya!" protes Kiara saat tali elastis senter itu agak menjepit rambutnya.
"Udah diem, jangan banyak protes," balas Khafi, meski tangannya sangat telaten merapikan tali pengikat senter di kepala Kiara agar pas dan tidak kesempitan. "Lain kali kalau alat mati tuh lapor, omong pake mulut! Jangan malah mandangin tanah kayak orang linglung."
"Gue kan belum sempat lapor, tau-tau kalian udah ngacir aja ke depan!" gertak Kiara tak mau kalah, walau kentara sekali dadanya masih berdegup kencang.
"Gue nggak ngacir. Padahal gue di belakang lo terus dari tadi, tetep aja bisa ketinggalan gini," balas Khafi singkat.
Setelah itu, Khafi tidak melepaskan genggamannya. Cowok itu justru meraih pergelangan tangan Kiara lebih erat, menyatukan langkah mereka menyusuri sisa jalur jurit malam.
"Pegang jaket gue," perintah Khafi tanpa menengok ke belakang.
"Apa?"
"Pegang ujung jaket gue kalau tangan lo mau dilepas. Jangan sampai kepisah lagi. Kalau lo hilang lagi di balik kabut, gue ogah nyariin buat kedua kalinya."
Kiara cuma memanyunkan bibirnya, tapi menurut pasrah. Ia mencengkeram erat ujung jaket parka khaki milik Khafi di belakangnya. Sepanjang perjalanan menuju pos akhir, Kiara hanya bisa terdiam dalam debar jantung yang tak beraturan, merasa aman di tengah hutan yang tadinya begitu menakutkan.
Setibanya kembali di area tapak kemah menjelang pukul tiga pagi, hawa dingin di dalam tenda terasa semakin menggigit. Kiara yang sekujur tubuhnya sempat terkena embun malam mulai menunjukkan gejala flu. Di dalam Tenda 4 cewek, suara bersinnya menggema pelan berulang kali.
Hatschi!
Hatschi!
"Kia... lo demam ya?" tanya Neona khawatir, duduk dan meraba dahi Kiara dari balik sleeping bag-nya. "Duh, badan lo lumayan anget lagi. Mana minyak kayu putih gue abis gara-gara dipakai Kevin tadi sore! Gimana nih?"
"Gak apa-apa, Ona... Cuma dingin aja dikit," sahut Kiara dengan suara sengau . "Paling besok pagi juga sembuh..."
Tiba-tiba, dari balik dinding terpal tenda yang bersebelahan langsung dengan Tenda 4 cowok, terdengar suara ketukan pelan pada tiang penyangga.
Tuk. Tuk.
"Siapa tuh?" bisik Neona kaget. Ia bergeser mendekati celah pintu terpal dan membukanya sedikit.
Di luar, dalam remang-remang lampu tenda, tangan Khafi terulur menyodorkan sebuah botol minyak kayu putih ukuran sedang dan sebungkus obat masuk angin cair.
"Nih," bisik suara berat Khafi dari balik terpal, terdengar jelas walau ditahan agar tidak membangunkan anak-anak tenda lain.
"Eh? Apaan nih?" tanya Neona heran.
"Kasihin tuh ke si Ara," sahut Khafi terdengar sinis dari luar. "Berisik banget dia bersin-bersin dari tadi. Satu Tenda Empat cowok nggak ada yang bisa tidur gara-gara suara hidungnya mirip knalpot bajaj rusak."
Neona langsung menahan senyum gelinya, membalas bisikan itu penuh sindiran. "Oh... gitu? Cuma gara-gara berisik nih? Beneran bukan karena khawatir si Ara sakit?"
"Dih, siapa juga yang khawatiran? Ngarang banget lo," sanggah Khafi cepat dari luar, suaranya sedikit meninggi namun buru-buru ditahannya kembali. "Udah, ambil aja. Minumin ke dia terus suruh tidur. Biar besok nggak ngerepotin pas acara sarapan."
"Iya deh, iya! Gue langsung kasih nih ke Ara nya lo ini," ledek Neona terkikik pelan sebelum menutup celah terpal.
Di dalam selimutnya, Kiara mendengar setiap kata dalam percakapan itu. Pipinya yang tadinya pucat mendadak terasa panas merona.
"Nih, Kia. Diminum obatnya, terus diusap minyak kayu putihnya ke leher sama dada," ujar Fiola menyodorkan barang dari Khafi sambil tersenyum-senyum menggoda. "Cielah... perhatian banget si Khafi. Pakai alibi knalpot bajaj segala."
"Apaan sih, Ona... Udah ah, gue mau tidur," potong Kiara cepat, langsung menarik selimut sampai menutupi seluruh wajahnya untuk menyembunyikan pipinya yang makin memerah. Meski mulut cowok itu selalu menyebalkan, kehangatan botol minyak kayu putih di genggamannya malam itu sukses membuat hatinya ikut meleleh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi harinya, matahari pegunungan naik dengan cepat, membawa kehangatan yang langsung disambut kesibukan seluruh peserta kemping. Di depan Tenda 4, aktivitas memasak sarapan pagi berupa sup ayam instan dan nasi panci sudah dimulai.
Namun, kedamaian pagi itu tidak bertahan lama begitu Kiara memergoki cara Khafi memotong bahan makanan.
"Khafi! Astaga! Lo mau bikin sup apa mau ngasih makan gajah?!" seru Kiara kaget setengah mati, berdiri berkacak pinggang sambil menunjuk talenan di depan Khafi.
Khafi yang sedang memegang pisau dapur menoleh santai. "Apaan sih pagi-pagi udah jerit-jerit?"
"Ini kentangnya! Kenapa potongannya segede gaban begini?! Mana bentuknya nggak jelas lagi!" tunjuk Kiara gemas.
Khafi menatap potongan kentangnya datar, lalu menatap Kiara. "Biar gampang dicerna dan cepet mateng, Ara. Udah, nggak usah banyak protes. Lo tuh baru sembuh bersin-bersin kemarin malam, duduk manis aja sana biar nggak pusing."
"Ya protes lah! Kalau ukurannya segede gitu, yang ada kuahnya udah mendidih tapi dalamnya masih keras kayak batu bata! Mau bikin gigi kita pada patah apa gimana?!" semprot Kiara tidak mau kalah, langsung melangkah maju dan merebut pisau dapur dari genggaman Khafi. "Siniin pisaunya! Biar gue yang potong ulang! Kalau dibiarin, kebiasaan kerja asal-asalan!"
"Dih, main rebut aja," dengus Khafi. "Lagian ngapain dipotong kecil-kecil banget? Kelamaan. Gue udah laper, anak-anak lain juga udah pada nungguin."
"Biar matengnya rata, Khafi! Tante Siska kalau tau cara anaknya masak kaya gini udah di usir dari dapur pasti lo ini." balas Kiara sambil mulai mengiris kentang menjadi potongan-potongan dadu kecil dengan cekatan.
Khafi menyandarkan badannya ke tiang tenda, memperhatikan cara tangan Kiara yang sibuk mengiris bahan makanan. Bibirnya menyunggingkan senyum miring yang paling menyebalkan sedunia.
"Galak bener, padahal kemarin malam pas di hutan hampir nangis sambil meluk ujung jaket gue," sindir Khafi telak dengan suara santai.
Gerakan pisau Kiara mendadak terhenti. Wajahnya merona merah padam dalam hitungan detik. Ia mendelik tajam ke arah Khafi. "Gue nggak nangis ya! Dan gue nggak meluk jaket lo, gue cuma pegangan biar nggak jatuh!"
"Oh... pegangan? Tapi megangnya kenceng banget kayak takut gue kabur," ledek Khafi lagi sambil melangkah mendekat untuk mengaduk air di panci kompor lapangan.
"Khafi! Diem nggak lo!" ancam Kiara mengacungkan pisau dapur ke udara—tentu saja hanya gertakan. "Gue lempar juga nih pisau ke muka lo!"
"Lempar aja kalau berani. Nanti yang ngebawain tas lo pas jalan pulang siapa?" balas Khafi santai tanpa beban, menyembunyikan tawa kecil yang hampir lolos dari bibirnya.
Ferdi dan Pandu yang duduk di atas terpal plastik tak jauh dari sana sambil menyeruput teh hangat hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat pemandangan itu.
"Sumpah ya, semalam pas di hutan udah kayak adegan FTV jalur penyelamatan romantis," celetuk Ferdi ke arah Kevin sambil tertawa geli. "Pagi ini balik lagi jadi Tom and Jerry versi Bumi Perkemahan."
"Biasa, Di. Kalau nggak ribut sehari, paru-paru mereka kurang pasokan oksigen kayaknya," timpal Pandu tertawa.
Setelah saling melirik sebal dan berdebat sekilas, Kiara kembali fokus memotong sayuran dengan muka cemberut, sementara Khafi melanjutkan tugasnya menunggui kuah sup di atas kompor.
Meski pagi itu mereka kembali berdebat sengit untuk hal-hal sepele, tidak ada satupun dari mereka yang menyadari kalau dinamika ribut-ribut kecil itulah yang justru membuat hari-hari di bumi perkemahan terasa jauh lebih hidup.