NovelToon NovelToon
IBU TIRI PENYELAMATKU

IBU TIRI PENYELAMATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Balas Dendam / Action
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Icita

Setelah enam bulan wafatnya sang Ibu, Dea memutuskan meninggalkan rumah karena tidak tahan terhadap tekanan dan siksaan dari Paman, Bibi dan sepupunya yang sengaja ingin merebut warisan dari sang ayah yang merupakan seorang CEO sebuah perusahaan Ekspor-Impor bernilai ratusan triluin.

Takdir Pelarian Dea mempertemukannya dengan Tania, seorang gadis desa yang merantau ke kota untuk mencari keluarga dan asal usul jati dirinya.
Dea akhirnya mau kembali ke rumah setelah sang ayah menikahi Tania dan menjadi ibu tiri untuk Dea. Kembalinya Dea ke rumah menimbulkan ketidak sukaan dari paman dan bibi Dea, apalagi sekarang adanya Tania yang menjadi perisai hidup bagi Dea.

Banyak drama dan kejadian yang menguras emosi, banyak plot twist dalam setiap bab kejadiannya, baik dalam kehidupan Dea maupun kehidupan Tania dalam mencari keluarganya di ibukota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Magic Com Kiamat dan Token Listrik Olympus

Cahaya biru dari Sun Core begitu benderang hingga sejenak membutakan mata. Ruang reaktor itu berbentuk kubah raksasa yang seluruh dindingnya dilapisi panel cermin penyerap radiasi. Di tengah-tengah ruangan, mengambang sebuah bola plasma raksasa berdiameter tak kurang dari lima puluh meter, dikurung oleh cincin-cincin magnetik berputar yang mengeluarkan suara dengungan berfrekuensi rendah.

Keluarga Hapsburg melangkah masuk perlahan. Angin hangat yang kering berhembus menerpa wajah mereka, membawa sensasi logam di ujung lidah—efek dari ionisasi udara di sekitar reaktor fusi.

Tania mendongak, menatap bola plasma raksasa yang menyilaukan itu dengan mulut setengah terbuka. Ia menyipitkan mata, lalu menyikut lengan Xander yang sedang memeriksa perimeter dengan senapan taktisnya.

"Yah, jujur saja," gumam Tania takjub, "ini adalah Magic Com paling besar yang pernah kulihat seumur hidupku. Kalau dipakai buat masak nasi kuning hajatan warga se-Kecamatan Bogor Selatan, kayaknya cuma butuh waktu lima menit langsung matang."

Xander terbatuk pelan, berusaha keras mempertahankan raut wajah seriusnya. "Tania, itu bukan penanak nasi. Itu adalah reaktor fusi dingin berskala kota. Plasma di dalamnya bersuhu mendekati satu juta derajat Celsius, dikendalikan oleh medan elektromagnetik. Energi dari bola itu ditembakkan ke atas melalui gelombang mikro untuk menahan Stasiun Olympus agar tetap melayang di angkasa."

"Sama saja konsepnya," bantah Tania tak mau kalah. "Panas, tertutup, dan menguras banyak listrik. Bedanya ini nggak ada centong nasinya."

Dea mengabaikan perdebatan absurd kedua orang tuanya dan langsung berlari menuju konsol kendali utama yang terletak di bawah platform melayang. Jari-jarinya kembali menari di atas layar sentuh holografik.

"Dea, pasang peledak EMP di tiang penyangga magnetiknya. Kita ledakkan tempat ini dan bergegas pulang sebelum badai salju di atas sana semakin parah," perintah Xander, menunjuk ke arah struktur penopang reaktor.

"Jangan, Ayah!" Dea berseru panik, matanya menatap rentetan data di layar dengan ngeri. "Kalau kita ledakkan cincin magnetiknya, plasma di dalam sana akan kehilangan penahan. Ledakannya tidak hanya akan meruntuhkan gunung ini, tapi seluruh radius seratus kilometer di atas kita akan berubah jadi kawah meteor. Kita akan menguap sebelum sempat masuk ke kereta bor!"

Dirga, yang baru saja masuk tertatih-tatih sambil memegang perutnya, langsung memucat. "Terus kita harus bagaimana, Nona? Tolong jangan bilang kita harus meniup apinya sampai mati. Saya sudah tidak kuat menahan tolak angin yang sedang disko di dalam usus saya."

"Kita tidak mematikannya secara paksa," kata Dea, tersenyum penuh kemenangan saat ia menemukan celah di dalam arsitektur sistem kuno Tiga Pilar. "Sistem Olympus ini menyedot energi dari bawah ke atas. Aku bisa membalikkan polaritasnya. Kita tidak mematikan reaktornya... tapi kita mengubah reaktor ini menjadi magnet raksasa yang menyedot kembali semua energi dari Stasiun Olympus di langit!"

Xander membelalak kagum. Kegeniusan putrinya benar-benar turunan dari peretas-peretas terbaik Mawar Hitam di masa lalu. "Berapa lama waktu yang kau butuhkan?"

"Proses pembalikannya butuh waktu tiga menit. Setelah itu, reaktor ini akan kelebihan beban dengan aman karena sistem grounding otomatisnya akan mengalirkan energinya kembali ke inti bumi," jelas Dea, mulai mengetikkan perintah Override. "Tapi selama tiga menit itu, Stasiun Olympus akan menyadari daya mereka terkuras habis."

BZZZZT!

Baru saja Dea menekan tombol konfirmasi, suara dengungan reaktor tiba-tiba berubah menjadi lengkingan tinggi. Lampu biru benderang dari plasma itu mulai berkedip liar, berubah warna perlahan menjadi oranye kemerahan.

Bersamaan dengan itu, panel cermin raksasa di dinding ruangan menyala. Alih-alih memantulkan bayangan ruangan, dinding itu kini menampilkan proyeksi wajah Valerius yang berukuran sepuluh kali lipat lebih besar.

Pria bersetelan putih yang sebelumnya tampak begitu tenang dan penuh etiket bangsawan itu kini terlihat kacau. Rambut kelimisnya berantakan, dan wajahnya dipenuhi urat-urat kemarahan.

"APA YANG KALIAN LAKUKAN, MANUSIA HINA?!" Suara Valerius menggelegar dari sistem pengeras suara reaktor, membuat gendang telinga mereka berdenging. "Kalian sedang menguras suplai energi cincin penyeimbang Olympus! Jika gaya gravitasi kami mati, stasiun ini akan jatuh!"

Xander melangkah maju, berdiri tepat di depan konsol tempat Dea bekerja, melindungi putrinya. Ia menatap wajah raksasa Valerius tanpa gentar sedikit pun.

"Itulah inti dari sebuah gravitasi, Valerius," ucap Xander dingin. "Apa yang terbang terlalu tinggi dengan cara menginjak orang lain, pada akhirnya harus jatuh mencium tanah."

"Kalian tidak mengerti!" raung Valerius, matanya yang keemasan kini menyala penuh keputusasaan. "The Elysium Court menjaga keseimbangan dunia! Jika Olympus jatuh, tidak akan ada yang mengontrol pasar ekonomi! Negara-negara akan runtuh! Perang dunia akan pecah tanpa kendali kami! Kalian bukan pahlawan, Xander. Kalian adalah pembawa kiamat!"

"Halah, bacot!" potong Tania tiba-tiba.

Wanita pesilat itu berkacak pinggang, menunjuk tepat ke 'hidung' proyeksi Valerius. "Jangan sok jadi pahlawan penjaga dunia deh, Mas! Kalau kalian memang peduli sama keseimbangan ekonomi, ngapain uang Mawar Hitam triliunan rupiah cuma disimpen di brankas buat kalian doang, sementara anak yatim piatu di bawah kelaparan? Bilang aja kalian panik karena token listrik kalian habis dan nggak bisa top-up lagi!"

Valerius terdiam sejenak, tampak sangat syok karena ada manusia—seorang wanita biasa berjaket parasut bau tolak angin—yang berani memotong pidato dewa-nya dengan bahasa emak-emak yang sedang memarahi petugas PLN.

"Kau... kau berani menyamakan tatanan suci Elysium dengan... token listrik?!" bibir Valerius bergetar menahan amarah yang meledak-ledak. "Aku akan mengirimkan seluruh armada Valkyrie untuk meratakan kalian beserta seluruh—"

TING!

Sebuah bunyi nyaring nan manis terdengar dari konsol. Layar di depan Dea berubah menjadi hijau sempurna.

"Unduhan energi Olympus dimulai!" seru Dea puas.

Bola plasma raksasa di tengah ruangan bergejolak hebat. Bukannya memancarkan energi ke atas, bola itu kini menyedot masuk pusaran energi berwarna perak dari atap kavern, menarik seluruh daya dari stasiun di atas awan.

Di layar proyeksi, dinding di belakang Valerius tampak bergetar hebat. Lampu di ruangan pria itu padam, digantikan oleh lampu darurat merah. Suara kepanikan terdengar samar-samar dari latar belakang transmisi.

"TIDAK! SISTEM ANTI-GRAVITASI GAGAL! KITA KEHILANGAN KETINGGIAN!" Suara seorang teknisi terdengar panik di ujung sana. Valerius menatap Xander dengan pandangan penuh dendam kesumat.

"Ini belum berakhir, Xander von Hapsburg. The Elysium Court tidak akan pernah—"

BLIP.

Layar komunikasi terputus. Tidak ada lagi tenaga yang tersisa untuk mempertahankan transmisi satelit mereka.

Xander tersenyum miring. Ia memutar senapannya, menyampirkannya ke punggung. "Aku selalu benci orang yang terlalu banyak bicara. Ayo pergi. Gravitasi di ruangan ini akan segera tidak stabil."

"Dan perut saya sudah di batas kritis absolut, Tuan!" Dirga merintih, keringat dingin membanjiri wajahnya. "Apakah di kereta bor Soviet itu ada ember atau toilet darurat?!"

"Bertahanlah, Dirga! Jadilah prajurit sejati!" seru Freya sambil menarik kerah seragam Dirga, menyeret pria malang itu berlari kembali menuju lorong.

Keluarga itu berlari sekencang mungkin meninggalkan ruang reaktor yang kini berwarna merah gelap. Mereka melewati Kaelen yang masih terkapar kedinginan layaknya ikan tongkol di dalam freezer, lalu melompat satu per satu ke dalam palka Ghost-Train.

Xander segera duduk di kursi kemudi, menarik tuas navigasi ke arah mundur, lalu menghidupkannya dengan tenaga penuh.

GRUNGGG!

Lagu rakyat Rusia Kalinka kembali menyala dengan volume maksimal, namun kali ini tidak ada yang protes. Musik riang itu seolah menjadi soundtrack kemenangan mereka. Mata bor belakang berputar, menarik mundur kereta baja raksasa itu kembali masuk ke dalam perut bumi.

Di kedalaman dua ribu meter, mereka sukses melarikan diri tepat ketika reaktor memicu penguncian darurat.

Sementara itu, ribuan meter di atas permukaan laut, di atas awan kelabu Pegunungan Alpen...

Penduduk di sebuah desa kecil di lereng gunung secara tak sengaja mendongak ke langit malam. Badai salju tiba-tiba tersibak oleh sesuatu yang berukuran sangat raksasa. Sebuah cincin logam hitam sebesar kota, yang selama puluhan tahun tak pernah terlihat oleh mata telanjang, kini menampakkan dirinya.

Perisai silumannya mati total. Mesin-mesin anti-gravitasinya berasap tebal. Dengan suara derak logam yang mengerikan bagaikan raksasa yang tulangnya dipatahkan, Stasiun Orbital Olympus—simbol kekuasaan abadi para dewa ekonomi dunia—perlahan-lahan kehilangan ketinggian, melorot jatuh ke arah lembah salju tak berpenghuni.

Era kekuasaan absolut Tiga Pilar Kuno baru saja diruntuhkan. Dan yang membuat para 'dewa' itu hancur bukanlah rudal nuklir antarbenua, melainkan seorang gadis jenius, ayah angkatnya yang mantan raja mafia, ibu angkatnya yang bersenjata kerambit dan sandal gunung, serta secangkir tolak angin rasa vodka.

1
sunaryati jarum
Mantaaap technologynya
sunaryati jarum
Bermimpilah setinggi langit Baskoro,bilang jatuh nanti langsung remek
sunaryati jarum
Makin penasaran
sunaryati jarum
Perang antara klan
sunaryati jarum
Wonder woman kamu Tania
sunaryati jarum
baru mampir
Icita: Tks KK, semoga betah y.. sehat selalu
total 1 replies
ceuceu
ga kebaca alur ceritanya,ternyata beda dari prediksi pembaca,keren sih
ceuceu
Baru mulai baca.
sejauh ini sy suka ceritanya,sy kasi like thor
Icita: mkasih kk, sehat selalu..💪💪
total 1 replies
Nica
sangat suka dan luar biasa...lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!