Seorang pria bernama AZKA (27 tahun) sudah beberapa minggu mengalami koma akibat kecelakaan kerja ketika ia yang merupakan pimpinan konstruksi sedang meninjau proyek pembangunan.
Azka telah menikah dengan VISHA (24 tahun) selama 3 tahun tapi belum memiliki momongan. Meskipun begitu, hubungan pernikahan mereka masih sangat harmonis. Visha senantiasa merawat Azka di rumah sakit.
Tapi siapa sangka kalau ternyata otak Azka yang sedang koma justru menciptakan ingatan baru yang berbeda.
Dia teringat dengan SESILIA (19 tahun) yang merupakan kepala tim QC baru di kantornya. Walaupun Azka baru bertemu beberapa kali, ternyata secara tidak sadar, Azka mempunyai rasa ketertarikan dengan Sesilia.
Hal ini membuat kenangan-kenangan indah tentang hubungan Azka dan Sesilia. Sedangkan ingatan tentang Visha justru terhapuskan.
Semenjak sadar, Azka mengalami dilema antara Visha dan Sesilia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12: Memanggil Nama Kayla
Suasana food court kantor siang itu tampak lengang. Hanya beberapa pegawai duduk tersebar di meja-meja, sibuk dengan makan siang atau sekadar menatap layar ponsel sambil menyeruput kopi.
Cahaya matahari tak bisa menyelinap masuk karena tertutup oleh dinding tebal di sisi ruangan.
Azka melangkah pelan di samping Noval, keduanya menyusuri lorong menuju deretan kios makanan. Tidak seperti biasanya, hari ini Azka tak membawa bekal dari rumah karena Visha masih belum pulih sepenuhnya, ia melarang Visha beraktivitas berat.
Ada nada lembut saat ia memberitahu Visha. Semacam perhatian yang tak dibuat-buat. Meski sederhana, kalimat itu cukup menjelaskan segalanya.
Azka dan Noval melanjutkan langkah. Wangi berbagai makanan mulai menguar dari berbagai sudut, namun sebagian pikiran Azka masih tertinggal di rumah, bersama Visha yang tengah berjuang memulihkan diri.
“Mau makan apa, Pak?” kata Noval.
“Yang enak di sini apa?” Azka balik bertanya.
Noval dengan sikap tenang penuh pertimbangan, mulai menyebutkan satu per satu menu yang menurut pengalamannya patut dicicipi. Ia menjelaskan bergaya khasnya, sedikit panjang, namun tidak membosankan. Azka mendengarkan sambil mengangguk sesekali, sebelum akhirnya menetapkan pilihan pada sepiring nasi dan ayam bakar, hidangan mainstream terasa tepat untuk siang itu.
Tak lama berselang, makanan pun terhidang. Suasana semakin ramai, riuh kecil terdengar dari beberapa meja lain, namun tak cukup untuk mengganggu percakapan mereka. Di sela-sela suapan, dengan suara agak tertahan namun tetap mantap, Azka mulai membuka percakapan lebih serius.
Ia menceritakan peristiwa yang terjadi pada hari Sabtu lalu, tanpa dramatisasi atau upaya menyembunyikan apapun. Kepada Noval, sahabat sekaligus saksi perjalanan hidupnya, Azka menyampaikan Visha kini telah mengetahui semua.
“Serius? Alhamdulillah,” ujar Noval.
Azka mengaku sekarang merasa lega karena kehidupannya telah kembali seperti sebelumnya. Tidak ada lagi kebohongan yang selama ini dirahasiakan.
“Saya ikut senang, pak,” respon Noval lagi.
Tapi ketenangan mereka enggan bertahan karena tiba-tiba saja muncul seorang wanita yang sudah berhasil untuk dihindari.
“Halo pak,” ucap Sesilia menyapa.
“Tumben makan di kantin? Saya sampai memastikan beberapa kali tadi dari sana,” lanjutnya sambil menunjuk ke arah jalan masuk.
Tak langsung menjawab, Azka dan Noval saling tatap. Tapi itu tidak berlangsung lama karena Azka refleks membalas respon dari Sesilia.
“Oh, iya. Lagi ingin saja,” jawabnya singkat.
Beruntung bagi Azka karena Sesilia kemudian pergi untuk memesan makanan.
“Hmm, gitu. Oke, saya kesana dulu ya,” ujar Sesilia.
Azka dan Noval kompak memberi gestur mempersilakan Sesilia untuk pergi. Sesaat setelah Sesilia menjauh, Noval menggoda pria di hadapannya, “Ingat pak, komitmen! Baru kita bahas lho.”
“Apa sih kamu, Val,” respon Azka tak mau menanggapi.
Tapi ternyata masalah belum selesai karena Sesilia kembali. Bahkan sekarang ia duduk tepat di sebelah Azka. Sekarang ia membawa sepiring gado-gado di tangan lalu meletakkannya di atas meja.
“Saya makan di sini boleh ya. Sudah lama sekali saya tidak bertemu pak Azka. Kangen jadinya,” ucap Sesilia sambil bercanda.
Suasana mendadak jadi canggung, terutama Azka yang kelihatan tidak nyaman. Tapi ia juga merasa tak enak jika melarang atau pergi begitu saja. Apalagi makanan di piring belum habis.
“Kamu apa kabar?” tanya Azka basa-basi.
Sambil mengaduk gado-gado di depannya, Sesilia menjawab kalau kondisinya baik.
“Paling hanya sedikit pusing dengan deadline yang bulan ini sedang menumpuk,” ungkapnya.
“Oh ya? Bukannya laporan sudah masuk semua ya?” tanya Azka lagi.
Baru saja ingin menyuap, Sesilia berhenti. “Hah? Kata siapa?” ujarnya balik bertanya.
Azka melirik ke arah Noval. Seketika itu juga Noval menjadi salah tingkah.
“Tolong, jelaskan apa maksudnya ini, Pak Noval?” tanya Azka pelan tapi seperti nada mengancam.
“Eh, iya Pak, memang ada beberapa laporan belum selesai. Tapi sebentar lagi beres kok,” ujar Noval sedikit terbata.
Mengetahui telah terjadi miskomunikasi yang disampaikan oleh Noval, ternyata ini membuat Sesilia kesal. Meskipun begitu, ia tetap menjaga sikap dengan memprotesnya halus.
“Wah, pak Noval. Tidak boleh seperti itu dong. Bapak harusnya transparan. Kalau nanti ada apa-apa, yang ikut bertanggung jawab, Pak Azka juga lho,” tegurnya.
Noval hanya bisa terdiam, tak bisa membantah. Keadaan benar-benar berubah menjadi tegang. Terutama untuk Noval yang merasa sudah membuat malu Azka di depan Sesilia.
***
Dengan kepala tertunduk, Noval sedang mendapat ceramah panjang dari Azka. Mereka kini berada di dalam ruang kerja Azka.
Wajar saja bila Azka merasa sangat marah karena Noval kembali mengulangi kesalahan. Ia benar-benar emosi bukan hanya soal performa kerja, tapi Noval juga dinilai telah mempermalukan Azka di depan Sesilia.
“Saya tadi seperti orang yang tidak bisa kerja lho, Noval. Mungkin sekarang dia menganggap, saya hanya atasan yang mengandalkan kamu, tanpa tahu apa-apa,” kesalnya.
“Apalagi belakangan kamu tahu sendiri, saya juga sering menghindar dan kamu yang sering berhubungan langsung dengan tim mereka,” lanjutnya.
Hanya bisa terima, Noval lebih banyak diam. Jika pun ada kata yang keluar darinya, ia hanya akan bilang, “Saya minta maaf, Pak.”
Setelah puas marah, Azka mulai bertanya tentang konteks masalah yang sedang dihadapi. “Sekarang coba kamu jelaskan, apa masalahnya?” tanya Azka.
Tapi jawaban Noval benar-benar membuat Azka geram.
“Saya kurang paham juga, Pak,” jawabnya takut.
Tidak habis pikir dengan Noval yang ternyata belum bisa diberikan tanggung jawab. Ia bahkan mengusir Noval dari ruangan.
“Ya sudah, kamu keluar saja dulu. Pusing saya lihat kamu,” kesalnya.
Meski terpaksa, Noval berdiri pelan, jalan dengan langkah yang berat menuju pintu keluar.
Ketika Noval keluar dari ruangan, Azka langsung mengambil handphone. Ia kemudian membuka aplikasi whatsapp, mencari nama seseorang bernama Kayla.
Tanpa pikir panjang, ia menekan tombol panggilan untuk menghubunginya.
“Kamu bisa ke ruangan saya sebentar?” ucap Azka pelan.
Setelah mendapatkan jawaban, ia pun menutup telepon. Kini ia terlihat mulai gelisah. Terasa seperti berada di dekat bom waktu yang akan segera meledak.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara ketukan pintu.
“Masuk,” ujar Azka.
Pintu terbuka, wajah Sesilia muncul dengan senyuman khas dari wajahnya.
“Iya, silakan masuk, Kayla,” kata Azka.
Sesilia sedikit terkejut karena Azka memanggilnya dengan nama itu. Begitu juga Azka yang menyadari salah ucap.
“Akhirnya di kantor ini ada juga yang panggil saya, Kayla, hehe,” ungkapnya sambil berjalan masuk ruangan, mendekati ke arah meja kerja Azka.
“Silakan duduk,” ucap Azka.
Sesilia mengikuti perintah, menyilangkan kakinya yang tengah mengenakan rok pendek.
Tidak mau terlalu lama membuang waktu, Azka mulai masuk pada inti pembicaraan.
“Baik, Sesilia. Jadi begini, saya sudah tahu beberapa laporan yang belum selesai. Agar mempersingkat waktu, saya ingin informasi langsung dari kamu, sebenarnya ada masalah apa saja sampai membuat laporan itu tertunda,” ungkap Azka.
Meski sedikit kecewa karena Azka tak memanggil dengan nama Kayla lagi, ia tidak membahasnya. Untuk menjawab pertanyaan, Sesilia mengirimkan sejumlah file tentang investigasi yang dilakukan.
“Saya izin kirim file via whatsapp ya, Pak,” ujarnya sambil mengeluarkan handphone dari saku.
Sesilia mengajak Azka untuk melihat data tersebut bersama-sama.
Azka mengangguk singkat, lalu keduanya mulai menelusuri lembar demi lembar, membahas detail secara saksama. Sesilia sesekali menggarisbawahi bagian penting, sementara Azka memberi pendapatnya dengan tenang dan profesional.
Waktu pun berjalan tanpa terasa, seperti butiran halus mengalir diam dari sela-sela jam pasir. Pembicaraan mereka meresap panjang, diselingi beberapa tawa kecil dan kesepakatan dicapai tanpa banyak debat.
Hingga ketika akhirnya Azka melirik jam di handphone, ia sedikit terkejut. Jarum panjang sudah melangkah jauh melewati angka dua belas, menandai masa kerja telah usai.
Sesilia menutup berkas terakhir, menghela nafas ringan, “Beginilah kalau sudah tenggelam dalam pekerjaan.”
Mereka saling melempar senyum kecil, meski penat tapi ada sesuatu yang menyenangkan dari kerja sama bila saling menghargai.
“Kita lanjut besok lagi saja ya, sudah jam lima lewat,” ujar Azka.
Tapi ternyata Sesilia justru memberikan penawaran lain.
“Kalau pak Azka mau lanjut diskusi sambil ngopi juga boleh, Pak,” ajak Sesilia.
“Kebetulan saya tahu tempat kopi yang enak dekat sini,” sambungnya.
Merasa kikuk mendapati sikap agresif membuat Azka sempat dilema. Ia sebenarnya ingin menerima ajakan tersebut, tapi juga memikirkan Visha.
Selain itu, ia memikirkan batasan yang harus tetap dibangun agar tidak terjebak kembali seperti sebelumnya.
“Maaf ya Kayla, saya sudah ada janji sore ini. Jadi kita lanjut besok saja di sini,” dalih Azka dengan refleks kembali menyebut nama panggilan itu.
Sesilia tersenyum kecil, ia tidak memaksa.