NovelToon NovelToon
SIAPA YANG MENYIMPAN NAMAKU?

SIAPA YANG MENYIMPAN NAMAKU?

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:45
Nilai: 5
Nama Author: Omni Tales

"Dunia ini riuh oleh nama-nama, sementara aku tersisa di sela-sela kata." Nio tidak memiliki identitas, gender yang jelas, maupun ingatan masa lalu. Dia hanya hidup bersama pendar layar monitor dan residu informasi yang dibuang orang lain.
Ketika sebuah kasus anomali mendatangi meja kerjanya, Nio menemukan bentuk kejahatan yang tidak biasa: seseorang sedang mencabut sejarah manusia hingga tak bersisa. Di balik berkas-berkas mati yang membusuk dalam sistem, sebuah teror berinisial Zero mulai mengawasi setiap geraknya. Berpacu dalam kesepian dan ketakutan, Nio harus memilih: membongkar rahasia yang terkunci, atau menjadi lembaran kosong berikutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Omni Tales, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jaringan yang Terkontaminasi

"Lama tidak berjumpa, anak angkatku... atau harus kupanggil kamu dengan nama Subjek 0...?" tegur Kael dingin.

Nio melangkah maju satu tapak, menyembunyikan Nora yang menggigil ketakutan di balik punggung tegapnya.

Pria tua pemilik kedai itu berdiri tenang di bawah pendar lampu koridor stasiun, mengapit deretan penjaga bersenjata.

"Paman Kael...?" desah Nora berbisik penuh penyangkalan dari belakang Nio.

"Cih! Jadi kedai tua lu di bawah kontrakan gue itu cuma kedok buat ngawasi presensi gue, Kael?!" gertak Nio tajam.

Kael terkekeh pelan, melangkah dua tapak mendekati barisan Loker B-12 dengan tangan terlipat di belakang punggung.

"Kedai itu nyata, Nio. Tapi tugas utamaku dari Zero adalah memastikan karya tabula rasa ini tidak liar," jawab Kael datar.

"Tutup mulut busuk lu!" bentak Nio keras, matanya menyempit mengunci setiap pergerakan empat penjaga di sekeliling Kael.

'Apes banget! Orang tua yang tiap hari gorengin telur buat gue ternyata perawat proyek gila ini!' batin Nio menggeram gusar.

Nio meraba tekstur selembar kertas kosong di sakunya, memeras serat kertas tipis itu untuk meredam gemuruh kepalanya.

Kael mengeluarkan sebuah pemancar sinyal mini dari sakunya, lalu menekan tombol aktivasi frekuensi darurat.

"Zero sudah memulai protokol eksekusi jaringan. Eksistensi wanita di belakangmu sedang dibersihkan," ujar Kael dingin.

Bip! Bip! Bip!

Gawai di dalam tas Nora mendadak berdering histeris, memuntahkan deretan notifikasi merah bernada peringatan sistemik.

Nora refleks merogoh tasnya, mengeluarkan gawainya dengan jemari gemetaran parah.

"N-Nio... gawai aku... semua akun digital aku terkunci otomatis...!" jerit Nora panik dengan vokal bergetar.

Nio menyambar gawai Nora dari genggamannya, memeriksa layar yang mendadak dipenuhi tulisan SISTEM DITOLAK.

"Akses perbankan, kartu identitas sipil, sampai nomor registrasi darurat lu sudah tereliminasi dari server kota," pangkas Nio cepat.

"Hah...?! T-tapi... bagaimana bisa?! A-aku bahkan belum sempat menarik uang tabunganku?!" tangis Nora histeris, menyentuh dadanya yang sesak.

"Itu cara kerja Zero. Dia tidak membunuh tubuh; dia mencabut sejarah dari dada manusia," cetus Kael datar.

"JANGAN SOK BIJAK DI DEPAN GUE, KAEL!!" teriak Nio dengan kapitalisasi penuh dominasi.

Nio membanting gawai Nora ke lantai hingga hancur, memutus sinyal pelacak lokasi digital yang dikirimkan oleh sistem Zero.

Dia memutar tubuhnya, merengkuh pinggang Nora dan menarik wanita itu merapat ketat dalam dekapan jantannya.

"Ngh... N-Nio... kepalaku pusing banget... aku rasa aku... aku mau hilang..." rintih Nora pasrah, menyandarkan kepalanya di dada Nio.

"Tatap wajah gue! Lu belum hilang selama gue masih berdiri di sini!" pangkas Nio tegas tepat di depan telinga Nora.

Dada tegap Nio yang bidang terasa hangat menekan tubuh Nora, menghalau dinginnya udara stasiun yang membekukan jiwa.

Nora mengangguk lemah, mencengkeram lipatan jaket Nio seolah pria itu adalah satu-satunya tiang penopang hidupnya.

"Gue bakal selesaikan orang-orang ini. Lu tetap rapat di samping gue dan jangan berani melepaskan peganganmu!" perintah Nio dominan.

"I-iya, Nio... aku janji... aku tunduk sama kamu..." rintih Nora bersuara amat pelan.

'Bagus. Jangan sampai cewek ini pingsan duluan sebelum gue sempat jebol loker sialan ini!' batin Nio menegaskan fokusnya.

Kael memberi isyarat tangan kepada dua penjaga bersenjata di sampingnya untuk melangkah maju menahan Nio.

"Serahkan pelat mikro itu dan biarkan gadis nirnama itu pasrah pada takdirnya, Subjek 0," titah Kael.

"Langkahi dulu mayat gue, Tua Bangka!" tantang Nio dengan sengatan nada mengancam.

Nio menarik pemantik suar darurat dari balik pinggangnya, menyentakkan pematunya hingga percikan api merah menyembur liar.

Wuuush!

Asap tebal berwarna merah menyala langsung memenuhi koridor sempit Loker B-12, mengacaukan pandangan mata para penjaga.

"Argh! Mataku!! Serang dia!!" teriak salah satu penjaga panik seraya menembakkan senjatanya secara asal.

Duar! Duar!

Suara letusan senjata api menggetarkan dinding beton stasiun, memantulkan gema yang memekakkan telinga.

Nio memanfaatkan kepulan asap tebal itu untuk menerobos barisan kiri penjaga dengan gerakan fisik yang terukur dan taktis.

Dia menghantamkan siku tangannya tepat ke jakun penjaga terdekat, melumpuhkan pria itu sebelum sempat menarik picu kembali.

Brak!

Penjaga itu ambruk terjerembap, sementara Nio menyambar senapan otomatis miliknya dengan gerakan satset.

"Nora, jalan ke Loker B-12 sekarang!" seru Nio sambil melepaskan tembakan balasan ke arah pilar stasiun.

"I-iya, Nio!!" jerit Nora menahan napasnya, berlari merapat tepat di belakang punggung Nio yang mengawalnya.

Asap merah tebal menyulitkan pandangan Kael, membuatnya terbatuk-batuk seraya melangkah mundur mencari perlindungan.

"Cih! Anak gila itu masih menyimpan naluri tempur masa lalunya!" cetus Kael menggeram gusar dari balik pilar.

Nio berhasil mencapai depan panel Loker B-12, menendang pintu loker baja itu dengan kekuatan penuh sepatu booted-nya.

Brak!

Grendel baja loker tersebut patah seketika, menyingkap isi di dalam ruang kecil yang memancarkan pendar biru redup.

Di dalam loker itu, tersimpan sebuah drive fisik berukuran sedang beserta map kertas tebal bertuliskan nama MILO.

"MILO!! DATA ADIKKU ADA DI DALAMNYA, NIO!!" jerit Nora gembira bercampur haru, matanya merebakkan air mata.

"Ambil drive itu sekarang dan masukkan ke dalam tasmu!" pangkas Nio tegas seraya terus menembak ke arah asap.

Nora menjangkau drive fisik dan map tebal itu dengan kedua tangannya yang gemetar, mendekap berkas adiknya ke dada.

"Sudah, Nio! Aku sudah pegang data Milo!" seru Nora melaporkan dengan cepat.

"Bagus! Sekarang kita mundur ke rute pembuangan air!" perintahkan Nio tanpa membuang waktu.

Nio menarik pinggang Nora kembali, menuntun langkah cepat wanita itu menembus pekatnya asap merah yang tersisa.

Kael yang menyadari pergerakan mereka langsung berteriak histeris dari balik pilar stasiun.

"TUTUP PINTU DARRURAT STASIUN!! JANGAN BIARKAN SUBJEK 0 KELUAR DENGAN RESIDU DATA ITU!!" teriak Kael ALL CAPS.

Pintu gerbang baja di ujung koridor mulai bergeser turun secara otomatis, memancarkan bunyi sirine bahaya yang melengking.

Tet! Tet! Tet!

Celah pintu baja di depan mereka menyempit dengan cepat, menyisakan jarak kurang dari satu meter dari permukaan lantai.

"Nio... pintunya mau tertutup...! Kita gak bakal sempat...!" panik Nora menahan napasnya.

"Gak ada kata gak sempat! Meluncur sekarang!!" teriak Nio menggelegar.

Nio mencengkeram erat bahu Nora, membanting tubuh mereka berdua untuk meluncur di atas lantai licin stasiun.

Swoosh!

Tubuh mereka berdua meluncur melewati celah sempit pintu baja tepat satu detik sebelum gerbang itu tertutup rapat.

Brak!

Dentuman keras gerbang baja yang mengunci koridor bergema dibelakang mereka, memutus akses pasukan Kael seketika.

Nio dan Nora terengah-engah di lantai luar koridor, terbebas sementara dari kepungan Kael dan pasukannya.

Nora terduduk lemas di samping Nio, napasnya naik turun tidak teratur dengan dada membusung pasrah.

"Hah... hah... N-Nio... kita... kita selamat...?" rintih Nora berbisik pelan, menatap wajah Nio yang dipenuhi jelaga hitam.

Nio bangkit berdiri, menyapu jelaga di dahinya lalu menatap drive fisik di dalam dekapan erat Nora.

"Belum. Rekonstruksi data di dalam drive ini butuh alat peretas tingkat lanjut," pangkas Nio datar.

Nio meraba tekstur selembar kertas kosong di sakunya, merasakan firasat buruk yang mendadak menusuk batinnya.

'Gue berhasil amankan data Milo, tapi identitas digital Nora sudah terhapus total dari jaringan kota. Sekarang cewek ini beneran jadi manusia nirnama!' batin Nio prihatin.

Tiba-tiba, lampu penerangan koridor luar stasiun mendadak padam total, menyisakan kegelapan senyap yang pekat.

Sebuah monitor iklan raksasa di dinding stasiun mendadak menyala sendiri, memancarkan pendar merah amorf.

Wajah berkulit pucat Zero muncul di layar raksasa itu, menatap lurus ke arah Nio dengan senyuman dingin yang mengerikan.

"Selamat, Subjek 0. Kau berhasil mengambil drive kosong itu," kekeh Zero dari balik layar monitor.

Nio mendongak, matanya menyempit tajam menatap layar raksasa itu.

"Apa maksud lu drive kosong, hah?!" gertak Nio curiga.

"Drive di tangan wanitamu itu bukan data Milo... melainkan bom penghancur memori yang akan menghapus ingatanmu tentang identitasmu sendiri dalam waktu sepuluh menit!" jawab Zero tertawa terbahak-bahak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!