Dua tahun lalu, Tsania memilih mengakhiri hubungannya dengan Arsen, pria yang sangat ia cintai. Bukan karena cinta itu hilang, melainkan karena sebuah rahasia pahit yang memaksanya pergi tanpa penjelasan. Sejak saat itu, mereka menjalani hidup masing-masing, menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Takdir mempertemukan mereka kembali dengan cara yang paling menyiksa.
Hari pertama bekerja di perusahaan impiannya berubah menjadi mimpi buruk ketika Tsania mengetahui bahwa CEO muda yang dingin, arogan, dan disegani semua orang adalah Arsen, mantan kekasih yang pernah ia tinggalkan. Kini, Arsen adalah bosnya.
Bagi Arsen, pertemuan itu bukan kebetulan, melainkan kesempatan untuk membalas rasa sakit yang selama ini ia pendam. Ia bersikap dingin, memberi tugas-tugas sulit, dan terus menguji kesabaran Tsania. Namun, di balik tatapan tajam dan sikap tak berperasaannya, masih tersimpan cinta yang tak pernah benar-benar padam.
apakah yang akan terjadi kepada mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tsania 28
Tsania meringkuk di atas kasur VVIP yang teramat empuk itu, memeluk lengannya sendiri yang masih menyisakan sisa kehangatan dari sentuhan bibir dan jemari Arsen. Tangisnya pecah tanpa suara, membasahi bantal bernuansa putih bersih di bawah kepalanya.
Tiga tahun ia menyimpan rahasia kelam itu sendirian. Tiga tahun ia menanggung duka atas kematian ayahnya yang tragis, diteror oleh orang-orang berkuasa, dan dipaksa menelan kenyataan bahwa ia harus menghilang dari kehidupan pria yang sangat dicintainya demi keselamatan ibunya.
Selama ini, Tsania mengira Arsen telah melupakannya, atau bahkan bersenang-senang di atas penderitaannya. Namun mendengar bisikan parau, pengakuan yang hancur, dan melihat tetesan air mata Arsen yang membasahi tangannya sendiri tadi malam... seluruh tembok kebencian dan trauma yang dibangun Tsania mendadak runtuh berkeping-keping.
"Kamu tidak tahu apa-apa, Mas..." bisik Tsania pada kegelapan malam, suaranya parau tercekik isakan.
"Tiga tahun aku membenci takdir ini... tapi ternyata kamu juga berada di neraka yang sama... Bahkan kamu akan membuat keputusan yang jauh lebih besar lagi kepada ayahmu. Jika kamu malakukan hal itu, maka hidup kamu akan benar-benar hancur, Mas Arsen..."
"Ya tuhan, apa yang harus aku lakukan? Aku tak mungkin membuat hidup Mas Arsen hancur, dia juga tak salah dalam hal ini... Kami sama-sama salah paham karena ayahnya,"
Pagi hari menyingsing perlahan. Sinar matahari tipis menerobos celah gorden, membiaskan cahaya ke dalam ruangan.
Pintu kamar terbuka pelan. Maya melangkah masuk membawa nampan berisi sarapan hangat dan buah-buahan. Saat melirik ke arah ranjang, Maya terperanjat pelan melihat Tsania sudah duduk bersandar pada tumpukan bantal dengan mata yang membengkak merah dan wajah yang sembap.
"Nia?" Maya meletakkan nampan di atas meja makan kecil, lalu bergegas mendekati ranjang dengan raut cemas.
"Kamu kenapa, Nia? Kenapa matamu sembap sekali? Ada yang sakit? Dada atau hidungmu kumat lagi?!"
Tsania menggelengkan kepala pelan, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kepedihan mendalam. "Aku tidak apa-apa, Mbak May..."
Maya menatap sahabatnya dengan penuh curiga sekaligus kasihan. Ia duduk di tepi ranjang, meraih kedua tangan Tsania yang dingin.
"Jangan bohong padaku, Tsania. Kamu menangis semalaman, kan?" cecar Maya lembut.
"Apa karena cincin kemarin? Apa kamu masih terbayang-bayang soal Pak Arsen?"
Tsania menunduk, menatap jemarinya sendiri. Setelah keheningan panjang yang menggetarkan dada, ia akhirnya membuka suara.
"Dia datang semalam, Mbak May," tutur Tsania lirih.
Seketika wajah Maya memucat pasi. "Apa?! Pak Arsen masuk ke sini?! Kok bisa?! Pak Raihan kan sudah minta penjagaan diperketat! Apa dia menyakitimu lagi, Nia?! Katakan padaku, apa yang pria gila itu lakukan padamu?!"
Maya sudah bersiap berdiri untuk memanggil penjaga dan melaporkan kejadian ini pada Raihan, namun genggaman tangan Tsania menahannya.
"Tidak, Mbak May... Jangan," panggil Tsania dengan nada memohon yang kuat. "Dia tidak menyakitiku."
Maya tertegun, kembali duduk di tepi kasur. "Maksudmu? Terus kenapa matamu sampai sembap begitu kalau dia tidak menyakitimu?"
Tsania menarik napas panjang, menahan gelombang emosi yang kembali menumpuk di dadanya. Air mata bening kembali menetas perlahan di pipinya yang tirus.
"Aku pura-pura tidur waktu dia membelai pipiku dan menggenggam tanganku," bisik Tsania, suaranya gemetar parau.
"Dia menangis, Mbak... Dia menangis berlutut di samping tempat tidurku sampai bajunya basah oleh air mata."
Maya membelalakkan mata, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. CEO yang terkenal berdarah dingin, angkuh, dan penuh intimidasi itu, menangis berlutut di kamar rawat?
"Kenapa dia menangis?" tanya Maya pelan, suaranya mulai melunak.
"Dia... dia sudah tahu semuanya, Mbak," jawab Tsania seraya menatap mata sahabatnya erat-erat.
"Arsen sudah tahu kalau Ayah meninggal karena dipukuli oleh utusan Papanya tiga tahun lalu... Dia tahu kalau Papanya yang mengancam dan mengusirku saat dia sedang koma di Singapura."
Maya menutup mulutnya dengan kedua tangan, terperanjat luar biasa. "Ya Tuhan... Jadi Pak Arsen baru tahu sekarang? Dan ternyata saat itu juga dia mengalami koma di Singapura?"
Tsania mengangguk pelan, air matanya kian deras mengalir. "Selama tiga tahun ini dia membenciku karena mengira aku kabur dan mencampakkannya demi uang saat dia terpuruk. Dia membalas dendam padaku di kantor kemarin karena kesalahpahaman itu. Tapi semalam, dia minta maaf sampai bersujud di samping tempat tidurku, May. Dia memanggil dirinya sendiri monster..."
"Nia..." gumam Maya prihatin, meraih tubuh Tsania dan memeluknya erat. Tsania menyandarkan kepalanya di bahu Maya, membiarkan tangisnya tumpah kembali.
"Dia bilang... dia mau membongkar semua kejahatan Papanya di acara pertunangan Sabtu malam nanti," adu Tsania di balik isakannya.
"Dia mau membatalkan pertunangannya dengan Aurelia di depan ratusan media dan melepaskan seluruh jabatan serta nama besarnya. Dia mau menghancurkan dirinya sendiri demi membela namaku dan almarhum Ayah..."
Maya tertegun mendengar skala nekat yang direncanakan oleh Arsen. Ia melepaskan pelukannya perlahan, menatap wajah Tsania yang dipenuhi keraguan dan ketakutan mendalam.
"Lalu... bagaimana perasaanmu sekarang, Nia?" tanya Maya serius.
"Setelah tahu kalau dia juga korban dari kekejaman Papanya sendiri... apa kamu masih takut padanya? Apa kamu masih membencinya?"
Tsania menggeleng pelan dengan jujur, jemarinya meremas kain sprei putih rumah sakit.
"Aku tidak pernah bisa membencinya, May..." rintih Tsania jujur, memeras seluruh isi hatinya yang paling dalam.
"Rasa takutku kemarin muncul karena aku mengira dia berubah menjadi monster yang membenciku tanpa alasan. Tapi sekarang, mendengarnya siap menghancurkan hidupnya sendiri demi membayarkan dosanya padaku, hatiku jauh lebih sakit, May."
"Kamu khawatir padanya?" tebak Maya tepat sasaran.
"Aku takut dia kenapa-napa, May!" seru Tsania dengan mata merah menyala oleh kecemasan.
"Pak Bisma itu orang berpengaruh dan berbahaya! Dia tega membunuh Ayahku demi memisahkan kami tiga tahun lalu... Bagaimana kalau Pak Bisma nekad melakukan hal yang lebih buruk pada Arsen kalau Arsen berani membongkar rahasia itu di depan media?!"