NovelToon NovelToon
Menjerat Hati Sang Ceo Dingin

Menjerat Hati Sang Ceo Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Romansa
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Scrpn

Alexander "Alex" Ar-Rasyid (30 Tahun)

Seorang CEO muda yang dingin, perfeksionis, dan workaholic. Ia memegang kendali penuh atas Ar-Rasyid Group, sebuah konglomerat raksasa di bidang properti dan investasi. Baginya, pernikahan adalah bentuk kerja sama bisnis yang tidak penting, hingga sebuah perjodohan keluarga memaksa hidupnya jungkir balik.

Keisha Azalea Pramesti (25 Tahun)

Seorang fashion designer berbakat, mandiri, dan memiliki idealisme tinggi. Ia pemilik butik haute couture Azalea Label. Di balik senyum lembutnya, Keisha adalah wanita tangguh yang menolak dipandang sebelah mata dan sangat mencintai dunianya—sketsa, kain, dan jarum jahit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10

Suara dengung pelan dari pendingin ruangan sentral di dalam penthouse lantai 50 itu menjadi satu-satunya latar suara yang menemani keheningan pagi yang menjelang. Pukul tiga pagi, dan ketegangan fisik serta emosional dari insiden di jamuan amal malam tadi masih menyisakan sisa-sisa energi yang pekat di udara.

Keisha masih terjebak dalam kungkungan tubuh Alexander. Jarak di antara mereka begitu tipis hingga ia bisa merasakan setiap hembusan napas hangat pria itu menerpa permukaan kulit pipinya. Aroma cedarwood yang bercampur dengan sisa wangi mewah malam itu menguar kuat, menciptakan efek memabukkan yang membuat saraf-saraf pertahanan Keisha melemah seketika.

"Menyingkir dariku, Alexander," bisik Keisha dengan suara tertahan, mencoba menyembunyikan getaran gugup yang tanpa sadar menyusup ke dalam intonasi suaranya. Ia menaruh kedua telapak tangannya di dada bidang sang CEO, mendorongnya dengan tenaga yang setengah hati.

Alex tidak bergeming sedikit pun. Pria itu menundukkan kepalanya, mengamati setiap inci ekspresi wajah Keisha di bawah temaram lampu sudut ruangan. Alih-alih merasa terganggu dengan penolakan itu, manik mata gelap Alex justru semakin menajam, memancarkan kilat posesif yang belum pernah diperlihatkannya sebelumnya.

"Kenapa aku harus menyingkir?" balas Alex dengan suara bariton yang rendah, serak, dan terdengar sangat berbahaya. "Kau adalah istri sahku di mata hukum dan kontrak, Keisha. Dan malam ini, kau baru saja membuktikan bahwa kau bukan sekadar boneka porselen pajangan, melainkan ratu yang tahu cara melindungi wilayahnya."

"Itu hanya akting untuk menyelamatkan harga dirimu di depan para investor tua bangka dan mantan kekasihmu yang tidak punya etika itu!" sangkal Keisha cepat, mengangkat dagunya meskipun jantungnya kini berdetak bagaikan genderang perang. "Jangan percaya diri, Tuan CEO. Kontrak kita tidak mencakup adegan romantis di dini hari seperti ini."

Alex tersenyum miring—sebuah seringai tipis yang tampak begitu mematikan sekaligus memikat. Ia mendekatkan wajahnya lagi, hingga bibir mereka hanya berjarak beberapa sentimeter saja. "Kontrak itu kubuat, Keisha. Dan sebagai pembuatnya, aku memiliki hak penuh untuk mengubah, menambah, atau bahkan melanggar aturan-aturan di dalamnya kapan pun aku mau."

Sebelum Keisha sempat melontarkan bantahan atau makian pedas lainnya untuk membungkam arogansi pria itu, Alex merendahkan kepalanya. Untuk sepersekian detik, Keisha menahan napasnya. Waktu seolah berhenti berputar. Namun, alih-alih mencium bibirnya, Alex justru mendaratkan bisikan halus tepat di samping telinga wanita itu, membuat bulu kuduk Keisha meremang hebat.

"Istirahatlah, Nyonya Ar-Rasyid. Badai yang sesungguhnya belum benar-benar dimulai," bisik Alex pelan.

Begitu kalimat itu selesai diucapkan, Alex melepaskan kungkungannya, menegakkan tubuhnya yang menjulang, lalu berbalik begitu saja meninggalkan Keisha yang masih terpaku berdiri di tempatnya dengan napas memburu dan dada yang naik turun tidak beraturan. Pria itu melangkah tenang menuju koridor menuju sayap timur ruang kerjanya, meninggalkan Keisha dalam kebingungan emosional yang luar biasa hebat.

Keesokan paginya, matahari pagi bersinar cerah menerangi cakrawala ibu kota, namun suasana di ruang makan utama penthouse terasa dingin dan kaku. Keisha duduk di kursi beludru meja makan dengan mengenakan setelan blazer kasual berwarna krem yang rapi. Di hadapannya, secangkir teh chamomile hangat mengepulkan uap tipis—ia menolak keras menyentuh kopi "kencing kuda" buatan mesin espresso milik Alex sejak kejadian kemarin.

Alexander sudah duduk di ujung meja, mengenakan setelan jas kerja charcoal yang sempurna tanpa cela. Pria itu sedang membaca dokumen digital di tabletnya sambil sesekali menyerap kopi hitam barunya—yang kali ini sudah diganti oleh pelayan sesuai standar rasanya sendiri. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir mereka selama sepuluh menit pertama. Keheningan itu mendadak dipecahkan oleh suara getaran ponsel pintar milik Alex yang diletakkan di atas meja.

Alex melirik layar ponselnya. Alis tebal pria itu langsung berkedut tipis, membentuk garis kerutan samar di dahinya. Sebuah panggilan video dari departemen hukum internal perusahaannya.

Tanpa ragu, Alex menggeser tombol hijau dan menyalakan mode speaker agar ia tetap bisa membaca dokumen. "Ada apa? Laporan keuangan triwulan sudah dikirimkan?" tuju langsung pada intinya dengan nada suara dingin berwibawa.

“Maaf mengganggu pagi Anda, Tuan Alexander,” suara seorang pria paruh baya dari seberang sambungan terdengar sedikit bergetar dan panik. “Kami mendapati masalah besar pagi ini. Ada kebocoran data desain eksklusif dari lini haute couture terbaru yang dijadwalkan rilis bulan depan. Dan yang lebih parah... data tersebut disinyalir bocor melalui sistem jaringan server yang terhubung langsung dengan butik ‘Azalea Label’.”

Deg!

Jantung Keisha seolah berhenti bergetar seketika. Ia langsung mendongakkan kepalanya dari cangkir teh, menatap tajam ke arah Alex dengan mata membelalak lebar. Plagiarisme? Kebocoran data desain? Itu adalah tuduhan paling mematikan bagi seorang perancang busana!

Alex perlahan mengalihkan pandangannya dari layar tablet, mengangkat kepalanya, dan menatap lurus ke arah Keisha yang duduk di seberang meja. Sorot mata kelam sang CEO tidak lagi dingin, melainkan berubah menjadi tajam, menyelidiki, dan penuh pertimbangan kalkulatif.

"Jelaskan maksudmu, bagian mana dari sistem yang menduga hal itu berasal dari sana?" tanya Alex dengan suara dingin yang menggelegar, tanpa memutus tatapannya dari mata Keisha.

“Alamat IP login terakhir yang mencoba mengunggah cetak biru desain utama itu tercatat menggunakan server lokal yang terdaftar atas nama izin usaha butik Nyonya Keisha Azalea, Tuan. Dan saat ini, dewan direksi serta media mulai mencium bau skandal ini.”

Sambungan telepon itu diputus sepihak oleh Alex dengan sentuhan jari yang kasar di layar. Suasana di ruang makan mendadak berubah menjadi sangat mencekam, bagaikan badai besar yang siap menghantam fondasi yang baru saja mereka bangun.

Keisha bangkit dari kursinya dengan gerakan kasar, kedua tangannya mencengkeram tepi meja makan hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya memburu, matanya menyala oleh amarah dan rasa tidak terima yang luar biasa besar.

"Kau tidak percaya padaku, kan?" suara Keisha bergetar hebat, menatap tajam ke dalam manik mata hitam Alex. "Dari tatapan matamu sekarang, kau curiga bahwa aku yang membocorkan desainku sendiri untuk menghancurkan perusahaanku atau memanfaatkan posisiku?"

Alex tetap duduk tenang di kursinya. Pria itu merapikan tablet di depannya, lalu berdiri perlahan, memajukan tubuhnya dengan postur mengintimidasi. Ia tidak langsung menjawab, melainkan melangkah mendekati Keisha perlahan-lahan.

"Dunia bisnis tidak berjalan berdasarkan asumsi kepercayaan atau perasaan, Keisha," ucap Alex dengan suara bariton yang dingin dan terukur. "Fakta di atas meja menunjukkan bahwa alamat IP itu berasal dari sistem yang terhubung ke butikmu. Dewan direksi tidak akan peduli apakah kau dijebak atau tidak; mereka hanya melihat kerugian finansial dan reputasi."

"Aku dijebak!" teriak Keisha, air mata kemarahan hampir tumpah di pelupuk matanya karena merasa dikhianati oleh situasi dan kecurigaan suaminya sendiri. "Untuk apa aku menghancurkan kerja kerasku sendiri setelah bertahun-tahun merintisnya dari nol?! Kau pikir aku wanita bodoh yang mempertaruhkan harga diriku?!"

Alex berhenti tepat di hadapan Keisha. Ia menatap wanita itu lekat-lekat, mencari kebohongan di dalam manik mata cokelat yang menyala penuh amarah tersebut. Namun, yang ia temukan di sana hanyalah kejujuran yang terluka dan ketidakberdayaan yang dibungkus oleh amarah yang membara.

Bayangan kejadian semalam di ballroom berkelebat di kepala Alex—Jessica Pranata, wanita bergaun merah yang menaruh dendam kesumat dan memiliki akses luas ke lingkaran dalam korporasi serta jaringan elit ibu kota.

Sudut bibir Alex terangkat membentuk garis tipis yang berbahaya. "Duduk kembali, Nyonya Ar-Rasyid," perintah Alex dengan nada suara yang kini terdengar jauh lebih tenang namun mengandung otoritas mutlak. "Jika ada seseorang yang mencoba bermain-main dengan api di belakang kita untuk menjatuhkan istriku... maka aku akan pastikan orang itu terbakar habis hingga menjadi abu."

1
Exo L
kakk tulisannya, fashion gak sih?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!