NovelToon NovelToon
SUAMIMU BUKAN SUAMIMU

SUAMIMU BUKAN SUAMIMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Cinta Seiring Waktu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:68k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Aynara terpaksa menikah dengan Aksa karena perjanjian kedua kakek mereka. Pernikahan itu diikat satu syarat: jika mereka bercerai sebelum satu tahun, Aynara harus membayar denda 10 miliar, sementara Aksa akan kehilangan haknya sebagai pewaris keluarga Wicaksono.

Namun, usai janji suci diucapkan, Wicaksono mengalami kecelakaan dan terbaring koma.
Merasa tak ada lagi yang bisa mengaturnya, Aksa berkata kepada Aynara, "Pernikahan ini terjadi karena Kakek. Aku sama sekali gak suka, apalagi mencintaimu. Dunia kita beda. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing sampai tiba waktunya bercerai."

Aynara terpaksa menelan kenyataan pahit itu. Namun, takdir mengubah segalanya ketika kecelakaan merenggut nyawa Aksa.
Regan, pembelot yang sedang diburu organisasi kriminal, memanfaatkan kematian Aksa untuk menyelamatkan dirinya.

Aynara tidak pernah tahu bahwa suami yang ia benci telah mati. Dan pria yang kini hidup sebagai Aksa adalah orang asing yang akan mengubah seluruh hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Ketika Takdir Mempersempit Jarak

Keesokan paginya, Aynara sudah siap mengenakan pakaian yang dipinjamkan Riva.

Riva berdiri di belakangnya sambil sibuk merapikan rambut dan pakaian Aynara. Gerakannya begitu serius, seolah-olah sedang mempersiapkan seorang model untuk berjalan di atas catwalk.

Ia mundur selangkah, lalu mengamati penampilannya dari atas sampai bawah.

"Nah, udah cucok!" Riva mengangguk puas. "Kalau begini, kantor aku bakal heboh."

Aynara terkekeh melihat tingkah sahabatnya. "Lebay banget."

"Enggak, serius." Riva menunjuk wajah Aynara. "Untung HRD di kantor aku terkenal bucin akut stadium akhir sama bininya. Dia juga terkenal sangat selektif kalau menerima karyawan."

Riva menyeringai. "Kalau enggak, kamu mungkin bisa masuk cuma dengan ngedipin mata, Ra."

Aynara menggeleng. "Kamu terlalu melebih-lebihkan."

"Enggak lah. Kamu memang cantik." Riva menatapnya penuh keyakinan. "Kalau kamu diterima, kamu pasti jadi primadona sekantor."

Aynara hanya tersenyum kecil. Ia tidak terlalu memikirkan perkataan Riva.

Namun tiba-tiba Riva seperti teringat sesuatu. "Eh, kamu masih pacaran sama Langlang?"

Senyum Aynara perlahan menghilang. "Enggak."

Riva langsung menoleh. "Serius?"

Aynara mengangguk. "Serius." Ia mengangkat dua jarinya. "Dua rius malah."

Riva terkekeh. "Syukurlah. Akhirnya kamu putus juga sama dia."

Aynara mengernyit. "Kenapa?"

Riva terdiam sesaat. Kali ini ekspresinya sedikit lebih serius. "Gak tahu, sih. Tampangnya memang oke." Ia mengangkat bahu. "Tapi menurutku dia agak matre."

Aynara langsung menatapnya. "Kenapa kamu bilang begitu?"

"Dulu waktu kuliah, dia kan pernah dekat sama beberapa cewek dari keluarganya berada." Riva mengingat-ingat. "Tapi karena dia dari keluarga biasa, cewek-cewek itu gak ada yang bener-bener tertarik sama dia."

Aynara mengerutkan dahi. "Kok kamu gak pernah cerita soal itu?"

"Soalnya ini baru feeling aku, Ra." Riva segera mengangkat kedua tangannya. "Belum ada bukti konkret. Jadi aku gak mau asal ngomong. Kalau ternyata aku salah menilai, nanti kamu malah nyalahin aku karena dianggap menghalangi hubungan kalian."

Aynara terdiam.

Riva melanjutkan dengan nada lebih santai. "Lagian selama pacaran sama dia, dia gak pernah ngasih apa-apa, 'kan? Kamu terus yang ngasih."

Ia buru-buru menambahkan, "Ya, aku tahu dia dari keluarga sederhana. Bahkan keluargamu juga jauh lebih baik daripada keluarganya. Tapi masa sudah pacaran lama gak pernah kasih apa-apa sama kamu?"

Riva mendengus. "Pelit banget."

Aynara terdiam. Apa yang dikatakan Riva memang ada benarnya. Selama bersama Langlang, memang lebih sering dirinya yang membayar atau memberikan sesuatu. Namun ia tidak pernah menganggap Langlang matre. Baginya, Langlang hanya belum mampu.

"Aku juga gak tahu," gumam Aynara.

Riva melihat ekspresi sahabatnya dan segera menepuk bahunya. "Ah, sudahlah. Jangan dipikirin."

Ia mengambil tasnya. "Ayo, kita cus berangkat. Aku gak mau telat terus dapat surat cinta dari HRD."

Aynara tertawa kecil. "Ya sudah. Ayo."

Ia menggandeng tangan Riva dan mengajaknya keluar.

Baru beberapa langkah, Riva tiba-tiba berhenti. "Eh, aku lupa belum pesan ojol."

Ia langsung mengeluarkan ponselnya. "Duh, alamat telat ini. Tamat sudah riwayatku."

Aynara menggeleng geli. "Gak usah. Aku udah pesan taksi."

Riva langsung menoleh. "Serius?"

"Iya." Aynara menahan senyum. "Kamu kebanyakan ngoceh kayak beo sampai lupa hal krusial."

Riva memasang wajah tersinggung. "Duh, Ra. Itu mah sudah setelan pabrik. Susah diubah."

Ia kemudian terkekeh. "Tapi, eh... dari kemarin naik taksi terus. Kamu banyak cuan, ya?"

Riva menyipitkan mata. "Emang emak tirimu sudah gak pelit lagi?"

"Masih." Aynara langsung menarik tangan Riva. "Sudah, ayo cepat. Taksinya sudah nunggu di depan gang."

Riva mengikuti langkahnya sambil tertawa. "Siap, Bos!"

 

Di dalam taksi yang melaju menuju Aksara Group, Aynara beberapa kali melirik penampilan Riva. Sahabatnya itu mengenakan blus putih yang dipadukan dengan blazer berwarna gelap, rok selutut, sepatu pantofel, serta tanda pengenal yang tergantung di lehernya.

Aynara menunjuk tanda pengenal tersebut. "Kamu staf bagian apa?"

"Resepsionis," sahut Riva.

Aynara mengangguk pelan. "Sudah berapa lama?"

Dahi Riva mengerut samar, mencoba mengingat. "Hampir dua tahun."

Aynara menoleh. "Dua tahun masih resepsionis?"

Riva langsung memasang wajah tersinggung. "Eits! Jangan menghina profesiku."

Ia berkacak pinggang, lalu mengangkat dagu dengan bangga. "Kamu pikir jadi resepsionis itu remeh? Aku kenal hampir semua pejabat tinggi di kantor. Direktur, manajer, kepala divisi, tamu penting... semuanya pernah lewat di depan mejaku."

Riva menunjuk dirinya sendiri.

"Aku juga punya banyak pengalaman. Aku tahu siapa yang suka datang pagi, siapa yang kalau menunggu pasti minta kopi, siapa yang paling galak kalau namanya gak ada di daftar tamu, sampai siapa yang kalau datang harus langsung dihubungi sekretarisnya."

Aynara menahan tawa. "Itu namanya hafal kebiasaan orang, bukan pengalaman kerja luar biasa."

"Hei, jangan dianggap sepele!" Riva kembali memasang wajah serius.

"Resepsionis itu gerbang utama perusahaan. Kalau aku gak ramah, tamu kabur. Kalau aku salah kasih informasi, satu kantor bisa kacau. Jadi jangan kira aku cuma duduk manis sambil angkat telepon."

Ia berhenti sejenak, kemudian tersenyum puas. "Pokoknya, aku ini resepsionis berpengalaman."

Aynara mengangguk-angguk. "Iya, Bu Resepsionis."

"Nah, begitu dong. Baru tahu cara menghargai profesi," ujar Riva puas.

Aynara spontan tertawa. "Aku gak menghina." Ia kemudian menggeleng. "Orang cari kerja memang susah, Riv. Jadi resepsionis juga gak buruk. Nanti lama-lama bisa naik jabatan."

Riva menyimak.

"Walaupun gak naik jabatan, kalau ngomong jeleknya, tetap lebih baik daripada nganggur. Gaji stabil, bisa punya pengalaman, dan ada pemasukan setiap bulan." Aynara memandang keluar jendela. "Di luar sana masih banyak orang yang sudah lulus S1 bahkan S2 tapi belum mendapatkan pekerjaan. Aku contohnya."

Riva tiba-tiba menjentikkan jarinya. "Nah! Itu baru berpikir positif." Ia menunjuk Aynara dengan wajah puas.

"Tetap bersyukur," ujar Aynara. "Jangan lihat ke atas terus sampai lupa lihat ke bawah."

Riva mengangguk mantap. "Nanti kalau kebanyakan lihat ke atas, gak lihat jalan dan malah masuk got."

Aynara langsung tertawa. "Perumpamaanmu selalu ajaib."

Supir taksi yang sejak tadi fokus mengemudi tak kuasa menahan senyum mendengar celotehan Riva dari kursi belakang.

"Si Eneng ini memang lucu," komentarnya singkat.

Riva langsung menyahut, "Bapak baru tahu?"

Aynara menutup wajahnya sebentar sambil tertawa. "Sudah, Riv."

 

Taksi yang ditumpangi Aynara dan Riva akhirnya memasuki area gedung perkantoran Aksara Group.

Aynara menatap gedung tinggi yang menjulang di hadapannya. Ia menarik napas pelan, bersiap menghadapi hari pertamanya mencari pekerjaan.

Namun tanpa disadarinya, beberapa ratus meter dari sana, sebuah mobil hitam juga melaju menuju gedung yang sama.

Di balik kaca mobil, seorang pria duduk dengan ekspresi tenang.

Aksa Wicaksono.

Dua orang yang masih terikat dalam pernikahan dan kemarin memilih menjalani hidup masing-masing... menuju ke tempat yang sama.

Dan mereka sama sekali tidak tahu.

 

...🔸🔸🔸...

...“Jangan malu memulai dari bawah, sebab setiap langkah kecil tetap membawa kita menuju tempat yang lebih baik. Selama kita mau berusaha dan bersyukur, pekerjaan sederhana pun bisa menjadi jalan menuju kehidupan yang tidak pernah kita bayangkan.”...

...“Kita sering melihat pekerjaan orang lain dari jabatan dan penghasilannya, lalu lupa bahwa di balik pekerjaan sederhana pun ada seseorang yang sedang berjuang mempertahankan hidupnya. Selama dilakukan dengan jujur, pekerjaan apa pun tetap layak dihargai.”...

...“Tidak semua hubungan yang pernah kita jalani harus kita sesali. Ada hubungan yang hadir untuk mengajarkan kita tentang cinta, ada yang mengajarkan tentang kehilangan, dan ada yang membuat kita belajar mengenali nilai diri sendiri.”...

..."Nana 17 Oktober "...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Felycia Fernandez
Kamu melupakan satu hal, dalam ikatan suami istri pasti ada hubungan ranjang.itu yang dinamakan hak dan kewajiban suami istri
Anonim
Aynara ingat kata-kata Asti. Uang saku dari Asti ngga seberapa dibandingkan pemberian kakek.

Rasa penasaran membuat Aynara melangkah menuju area ATM yang tidak jauh daru lobby rumah sakit.

Betapa terkejutnya Aynara ketika melihat angka yang muncul di layar.

Kenapa kakek begitu baik terhadap Aynara. Apakah kakek akan sadar dari komanya dan menceritakan rahasia yang ada ?

Siapa lagi ini yang memanggil Nara sampai Aynara terkejut ketika menoleh.
Anonim
Gunadi seakan tak percaya ketika mendengar Aynara membantu membersihkan tubuh Kakek dari mulut perawat.

Ternyata Gunadi yang membuat Aynara ikut terhenti langkahnya.

Aynara mengenali Gunadi yang waktu itu ikut menunggu di depan UGD saat Wicaksono menjalani operasi.

Gunadi lalu memperkenalkan dirinya.

Gunadi memberikan amplop yang berisi kartu ATM kepada Aynara sesuai amanah dari Wicaksono.

Naaah kaaan...Aynara jadi malu sendiri telah menuduh Aksa.

Wicaksono punya rahasia apa tentang Aynara
Felycia Fernandez
wajar sih,karena status mereka suami istri.nggak ada yang salah dalam pemikiran aynara.tapi Regan bukan Aksa asli.
Anitha
Pertahanan Regan runtuh seketika tidak bisa mengendalikan hasratnya, sekarang Aynara milik Regan seutuhnya,
siti irnani
Yo seneng karo bojo mu lahhh.🤭
Cicih Sophiana
nikah ulang ya Aksa Aynara... dulu kan nikah nya jg diam diam hanya kluarga yg hadir...
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Ceritanya makin Seru Kak Nana... 😁😁😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Sugiharti Rusli
dan niatan awal kamu juga sudah baik, melindungi keluarga Aksa dan juga perusahaannya, semoga kamu memang Arsa yah,,,
Sugiharti Rusli
semoga nanti Aynara tidak marah dan menyesalinya yah, karena toh mereka sudah menikah, meski dengan Aksa yang dulu,,,
Sugiharti Rusli
dan secara relasi hubungan meraka memang suami-istri sih, tibang si Aynara dinodai oleh si Doni,,,
Sugiharti Rusli
dan perasaan itu ga bisa bohong, mungkin Aynara juga sudah jatuh cinta pada 'Aksa' yang sekarang yah,,,
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Maaf ya, Kak Nana... Aku baru sempaf baca, soalnya kemarin lagi ada urusan... Maaf ya, Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Sugiharti Rusli
karena pada kenyataannya kami memamg sudah jatuh cinta pada Aynara sih sejak kamu melihatnya pertama kali di rumah sakit Regan,,,
Oma Gavin
akhirnya regan yg menyentuh aynara ngga apa itu lebih baik daripada doni lucknut yg akan memanfaatkan kelemahan tsb, semoga kecebong premium regan jadi bayi 🤣
Felycia Fernandez: dalam pikiran Aynara sih wajar mereka suami istri,tapi pikiran Regan pasti mumet
total 1 replies
Kadek Sri
syukurlah Aynara selamat
Hanima
😍😍😍😍👍
Puji Hastuti
trus gimana nanti,kalau Nara sadar
Eka Burjo
syukurlah selamat. jangan kasih ampun tuh si Doni
tse
waduh sayang sekali.....
mereka jadinya melakukan zina ya....
Regan ga kuat iman nya..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!