Aynara terpaksa menikah dengan Aksa karena perjanjian kedua kakek mereka. Pernikahan itu diikat satu syarat: jika mereka bercerai sebelum satu tahun, Aynara harus membayar denda 10 miliar, sementara Aksa akan kehilangan haknya sebagai pewaris keluarga Wicaksono.
Namun, usai janji suci diucapkan, Wicaksono mengalami kecelakaan dan terbaring koma.
Merasa tak ada lagi yang bisa mengaturnya, Aksa berkata kepada Aynara, "Pernikahan ini terjadi karena Kakek. Aku sama sekali gak suka, apalagi mencintaimu. Dunia kita beda. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing sampai tiba waktunya bercerai."
Aynara terpaksa menelan kenyataan pahit itu. Namun, takdir mengubah segalanya ketika kecelakaan merenggut nyawa Aksa.
Regan, pembelot yang sedang diburu organisasi kriminal, memanfaatkan kematian Aksa untuk menyelamatkan dirinya.
Aynara tidak pernah tahu bahwa suami yang ia benci telah mati. Dan pria yang kini hidup sebagai Aksa adalah orang asing yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Ketika Takdir Mempersempit Jarak
Keesokan paginya, Aynara sudah siap mengenakan pakaian yang dipinjamkan Riva.
Riva berdiri di belakangnya sambil sibuk merapikan rambut dan pakaian Aynara. Gerakannya begitu serius, seolah-olah sedang mempersiapkan seorang model untuk berjalan di atas catwalk.
Ia mundur selangkah, lalu mengamati penampilannya dari atas sampai bawah.
"Nah, udah cucok!" Riva mengangguk puas. "Kalau begini, kantor aku bakal heboh."
Aynara terkekeh melihat tingkah sahabatnya. "Lebay banget."
"Enggak, serius." Riva menunjuk wajah Aynara. "Untung HRD di kantor aku terkenal bucin akut stadium akhir sama bininya. Dia juga terkenal sangat selektif kalau menerima karyawan."
Riva menyeringai. "Kalau enggak, kamu mungkin bisa masuk cuma dengan ngedipin mata, Ra."
Aynara menggeleng. "Kamu terlalu melebih-lebihkan."
"Enggak lah. Kamu memang cantik." Riva menatapnya penuh keyakinan. "Kalau kamu diterima, kamu pasti jadi primadona sekantor."
Aynara hanya tersenyum kecil. Ia tidak terlalu memikirkan perkataan Riva.
Namun tiba-tiba Riva seperti teringat sesuatu. "Eh, kamu masih pacaran sama Langlang?"
Senyum Aynara perlahan menghilang. "Enggak."
Riva langsung menoleh. "Serius?"
Aynara mengangguk. "Serius." Ia mengangkat dua jarinya. "Dua rius malah."
Riva terkekeh. "Syukurlah. Akhirnya kamu putus juga sama dia."
Aynara mengernyit. "Kenapa?"
Riva terdiam sesaat. Kali ini ekspresinya sedikit lebih serius. "Gak tahu, sih. Tampangnya memang oke." Ia mengangkat bahu. "Tapi menurutku dia agak matre."
Aynara langsung menatapnya. "Kenapa kamu bilang begitu?"
"Dulu waktu kuliah, dia kan pernah dekat sama beberapa cewek dari keluarganya berada." Riva mengingat-ingat. "Tapi karena dia dari keluarga biasa, cewek-cewek itu gak ada yang bener-bener tertarik sama dia."
Aynara mengerutkan dahi. "Kok kamu gak pernah cerita soal itu?"
"Soalnya ini baru feeling aku, Ra." Riva segera mengangkat kedua tangannya. "Belum ada bukti konkret. Jadi aku gak mau asal ngomong. Kalau ternyata aku salah menilai, nanti kamu malah nyalahin aku karena dianggap menghalangi hubungan kalian."
Aynara terdiam.
Riva melanjutkan dengan nada lebih santai. "Lagian selama pacaran sama dia, dia gak pernah ngasih apa-apa, 'kan? Kamu terus yang ngasih."
Ia buru-buru menambahkan, "Ya, aku tahu dia dari keluarga sederhana. Bahkan keluargamu juga jauh lebih baik daripada keluarganya. Tapi masa sudah pacaran lama gak pernah kasih apa-apa sama kamu?"
Riva mendengus. "Pelit banget."
Aynara terdiam. Apa yang dikatakan Riva memang ada benarnya. Selama bersama Langlang, memang lebih sering dirinya yang membayar atau memberikan sesuatu. Namun ia tidak pernah menganggap Langlang matre. Baginya, Langlang hanya belum mampu.
"Aku juga gak tahu," gumam Aynara.
Riva melihat ekspresi sahabatnya dan segera menepuk bahunya. "Ah, sudahlah. Jangan dipikirin."
Ia mengambil tasnya. "Ayo, kita cus berangkat. Aku gak mau telat terus dapat surat cinta dari HRD."
Aynara tertawa kecil. "Ya sudah. Ayo."
Ia menggandeng tangan Riva dan mengajaknya keluar.
Baru beberapa langkah, Riva tiba-tiba berhenti. "Eh, aku lupa belum pesan ojol."
Ia langsung mengeluarkan ponselnya. "Duh, alamat telat ini. Tamat sudah riwayatku."
Aynara menggeleng geli. "Gak usah. Aku udah pesan taksi."
Riva langsung menoleh. "Serius?"
"Iya." Aynara menahan senyum. "Kamu kebanyakan ngoceh kayak beo sampai lupa hal krusial."
Riva memasang wajah tersinggung. "Duh, Ra. Itu mah sudah setelan pabrik. Susah diubah."
Ia kemudian terkekeh. "Tapi, eh... dari kemarin naik taksi terus. Kamu banyak cuan, ya?"
Riva menyipitkan mata. "Emang emak tirimu sudah gak pelit lagi?"
"Masih." Aynara langsung menarik tangan Riva. "Sudah, ayo cepat. Taksinya sudah nunggu di depan gang."
Riva mengikuti langkahnya sambil tertawa. "Siap, Bos!"
Di dalam taksi yang melaju menuju Aksara Group, Aynara beberapa kali melirik penampilan Riva. Sahabatnya itu mengenakan blus putih yang dipadukan dengan blazer berwarna gelap, rok selutut, sepatu pantofel, serta tanda pengenal yang tergantung di lehernya.
Aynara menunjuk tanda pengenal tersebut. "Kamu staf bagian apa?"
"Resepsionis," sahut Riva.
Aynara mengangguk pelan. "Sudah berapa lama?"
Dahi Riva mengerut samar, mencoba mengingat. "Hampir dua tahun."
Aynara menoleh. "Dua tahun masih resepsionis?"
Riva langsung memasang wajah tersinggung. "Eits! Jangan menghina profesiku."
Ia berkacak pinggang, lalu mengangkat dagu dengan bangga. "Kamu pikir jadi resepsionis itu remeh? Aku kenal hampir semua pejabat tinggi di kantor. Direktur, manajer, kepala divisi, tamu penting... semuanya pernah lewat di depan mejaku."
Riva menunjuk dirinya sendiri.
"Aku juga punya banyak pengalaman. Aku tahu siapa yang suka datang pagi, siapa yang kalau menunggu pasti minta kopi, siapa yang paling galak kalau namanya gak ada di daftar tamu, sampai siapa yang kalau datang harus langsung dihubungi sekretarisnya."
Aynara menahan tawa. "Itu namanya hafal kebiasaan orang, bukan pengalaman kerja luar biasa."
"Hei, jangan dianggap sepele!" Riva kembali memasang wajah serius.
"Resepsionis itu gerbang utama perusahaan. Kalau aku gak ramah, tamu kabur. Kalau aku salah kasih informasi, satu kantor bisa kacau. Jadi jangan kira aku cuma duduk manis sambil angkat telepon."
Ia berhenti sejenak, kemudian tersenyum puas. "Pokoknya, aku ini resepsionis berpengalaman."
Aynara mengangguk-angguk. "Iya, Bu Resepsionis."
"Nah, begitu dong. Baru tahu cara menghargai profesi," ujar Riva puas.
Aynara spontan tertawa. "Aku gak menghina." Ia kemudian menggeleng. "Orang cari kerja memang susah, Riv. Jadi resepsionis juga gak buruk. Nanti lama-lama bisa naik jabatan."
Riva menyimak.
"Walaupun gak naik jabatan, kalau ngomong jeleknya, tetap lebih baik daripada nganggur. Gaji stabil, bisa punya pengalaman, dan ada pemasukan setiap bulan." Aynara memandang keluar jendela. "Di luar sana masih banyak orang yang sudah lulus S1 bahkan S2 tapi belum mendapatkan pekerjaan. Aku contohnya."
Riva tiba-tiba menjentikkan jarinya. "Nah! Itu baru berpikir positif." Ia menunjuk Aynara dengan wajah puas.
"Tetap bersyukur," ujar Aynara. "Jangan lihat ke atas terus sampai lupa lihat ke bawah."
Riva mengangguk mantap. "Nanti kalau kebanyakan lihat ke atas, gak lihat jalan dan malah masuk got."
Aynara langsung tertawa. "Perumpamaanmu selalu ajaib."
Supir taksi yang sejak tadi fokus mengemudi tak kuasa menahan senyum mendengar celotehan Riva dari kursi belakang.
"Si Eneng ini memang lucu," komentarnya singkat.
Riva langsung menyahut, "Bapak baru tahu?"
Aynara menutup wajahnya sebentar sambil tertawa. "Sudah, Riv."
Taksi yang ditumpangi Aynara dan Riva akhirnya memasuki area gedung perkantoran Aksara Group.
Aynara menatap gedung tinggi yang menjulang di hadapannya. Ia menarik napas pelan, bersiap menghadapi hari pertamanya mencari pekerjaan.
Namun tanpa disadarinya, beberapa ratus meter dari sana, sebuah mobil hitam juga melaju menuju gedung yang sama.
Di balik kaca mobil, seorang pria duduk dengan ekspresi tenang.
Aksa Wicaksono.
Dua orang yang masih terikat dalam pernikahan dan kemarin memilih menjalani hidup masing-masing... menuju ke tempat yang sama.
Dan mereka sama sekali tidak tahu.
...🔸🔸🔸...
...“Jangan malu memulai dari bawah, sebab setiap langkah kecil tetap membawa kita menuju tempat yang lebih baik. Selama kita mau berusaha dan bersyukur, pekerjaan sederhana pun bisa menjadi jalan menuju kehidupan yang tidak pernah kita bayangkan.”...
...“Kita sering melihat pekerjaan orang lain dari jabatan dan penghasilannya, lalu lupa bahwa di balik pekerjaan sederhana pun ada seseorang yang sedang berjuang mempertahankan hidupnya. Selama dilakukan dengan jujur, pekerjaan apa pun tetap layak dihargai.”...
...“Tidak semua hubungan yang pernah kita jalani harus kita sesali. Ada hubungan yang hadir untuk mengajarkan kita tentang cinta, ada yang mengajarkan tentang kehilangan, dan ada yang membuat kita belajar mengenali nilai diri sendiri.”...
..."Nana 17 Oktober "...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Asti tidak menjawab pertanyaan Regan tentang Aksara Group.
Gunadi yang melihat Tuan Mudanya ada di taman dan terlihat sedih, merasa khawatir.
Gunadi berdiri di samping kursi tempat duduk Regan.
Tuan Mudanya bertanya pada Gunadi kenapa mamanya menangis ketika bertanya kenapa nama perusahaan Aksara Group.
Tuan Muda Arsa di mana ? Atau dia Regan ?
Regan tahu ada salah satu berkas yang harus dicek ulang oleh bagian keuangan.
Gunadi merasa heran, tuan mudanya bisa menemukan masalah tersebut.
Gunadi semakin heran dengan Aksa yang sekarang. Aksa lebih teliti.
Gunadi masih antara yakin dan tidak yakin, yang ada di rumah sakit itu Tuan Muda atau orang lain.
Regan minta sama Gunadi mengirimkan berkas-berkas yang perlu dia kerjakan di rumah sakit.
Nanti kalau ada yang perlu ditandatangani bagaimana. Lupa juga tanda tangannya.
Juga tentang ayahnya Aksa, Aditya Wicaksono tak luput dari pemberitaan. Mempunyai anak diluar pernikahan.
Berita unggahan tentang kecelakaan yang menimpa Aksa, juga tentang Aditya yang mempunyai anak diluar penikahan sudah sampai kepada Aksa, Gunadi dan Asti
Diiih orang yang sudah meninggal diusik juga. Ayahnya sendiri juga.
Kelakuan jahat Doni akibat sakit hati tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.
Doni nanti musuhnya Regan. G
Gunadi menanyakan kondisi Aksa setelah kecelakaan.
Dokter dengan sabar menjawab semua pertanyaan Gunadi, dan memberikan penjelasannya.
Semua perbedaan Aksa yang dirasakan Gunadi ditanyakan kepada dokter.
Perubahan Aksa secara medis masih dianggap normal.
Penjelasan dari dokter, Aksa berubah setelah kecelakaan, semua masuk akal.
Gunadi masih merasa ada yang ganjil.
Keturunan Wicaksono yang ada kini tinggal dua anak dari dua gundik Ayahnya Aksa.
Kalau Aynara nanti menikah ulang dengan Aksa palsu, kalau sampai hamil tentunya bukan keturunan Wicaksono.
Gunadi setelah selesai berinteraksi secara langsung dengan Aksa, pamit akan kembali ke kantor.
Gunadi pikirannya terus terganggu dengan perubahan Aksa.
Gunadi menuju ruang dokter sebelum kembali ke kantor. Sebelum menyimpulkan apapun, Gunadi harus mendapatkan jawaban yang masuk akal.
Gunadi seperti nggak yakin , apa cedera kepala dan amnesia bisa mengubah seseorang sampai sejauh itu.
Gunadi belum bertemu Aksa sejak mulai sadar. Gunadi nanti kalau bertemu dan berinteraksi dengan Aksa kemungkinan juga merasakan ada yang janggal.
Perasaan itu hilang sejak melihat Aksa setelah kecelakaan. Tidak ada raaa kesal, tidak berusaha menhaga jarak karena muak. Tapi ada rasa aneh yang sulit dijelaakan.
Aynara belum sadar saja kalau yang sedang dihadapi memang bukan Aksa.
Aynara selalu menepisnya - jangan-jangan karena amnesia.
Aynara sepakat untuk mulai dari awal. Dengan syarat tetap tinggal terpisah. Hubungan mereka dilihat perkembangannya. Di jalani seperti teman dulu.
Setelah satu tahun baru diambil keputusan, mau mempertahankan pernikahan atau bercerai.
Apa yang dikatakan Aynara, Regan setuju.
Hubungan di kantor mereka profesional. Interaksi mereka sebagai atasan dan bawahan.
Regan setuju dengan semua syarat yang dikatakan Aynara.
Wajah Regan bisa ya mirip sekali dengan wajah Aksa. Pengenalan wajah di layar ponsel Aksa utidak menolak wajah Regan.
Regan sebagai Aksa mengetik permintaan maaf atas semua sikapnya dulu yang sudah menyakiti Aynara.
Aynara tidak menyangka Aksa minta maaf.
Aynara memaafkan Aksa.
Regan mulai komunikasi sama Aynara dengan mengetik kalimat di ponselnya. Ia menunjukkan kepada Aynara.
Aynara mau menceritakan semuanya pelan-pelan.
Setelah Aynara menceritakan semuanya, apa yang akan dilakukan Regan nanti.
Aynara mulai menceritakan kenyataan yang ada.
Mendengar perlakuan dan hinaan Aksa terhadap Aynara, Regan punya penilaian lagi tentang Aksa. Jauh lebih buruk.
Aynara menyelesaikan ceritanya.
Regan baru tahu bahwa orang yang wajahnya hampir sama dengannya, saat sebelum kecelakaan terjadi, baru saja bertengkar hebat dengan istrinya.
Joseph sudah mendapatkan informasi tentang Aksa Wicaksono. Tentang nama-nama mereka. Kakeknya, Ayahnya, Ibunya, juga dua gundik Ayahnya Aksa yang masing-masing juga punya anak tapi tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.
Komplit sekali informasi yang di dapat Joseph.
Sampai tentang Aksa yang dijodohkan dengan Aynara.
Juga tentang pekerjaan Aksa.
Pembicaraan belum selesai, suara air dari kamar mandi berhenti. Aksa memutuskan sambungan.
Apa mobil Wicaksono yang mengalami kecelakaan juga Doni pelakunya ?
Kondisi Aksa dalam pemeriksaan secara medis baik semua. Dokter minta pasien tetap diobservasi.
Regan tahu kalau dokter merasa ada yang janggal.
Regan benar-benar mendalami perannya. Beberapa pertanyaan dokter dijawab dengan menggeleng.
Mendengar nasehat dari dokter, Regan menjawabnya mengangguk pelan.
Asti dan Aynara jadi memperkenalkan diri biar Aksa yang amnesia tahu siapa kedua wanita itu.
Dokter memeriksa Aksa. Ketika ditanya oleh dokter, jawabnya hanya mengangguk dan diam.
Bikin Asti khawatir saja nih.
Pura-pura panik, tidak tahu harus bicara apa.
Aynara terkejut melihat Aksa yang cuma membuka mulut, ngga ada suara yang keluar.
Aynara dan Asti memang orang asing bagi Aksa palsu. Aman saat ini Aksa menjadi tidak ingat sama mama dan istrinya.
Aksa hilang ingatannya serta suaranya. Itu yang Aynara tahu saat ini.
Suara jadi berbeda juga kalau Aksa bicara.
Regan membuat hidupnya rumit sendiri.