NovelToon NovelToon
The Shadow'S Sanctuary

The Shadow'S Sanctuary

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Iblis / Akademi Sihir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Lucius Aurelius

Di tengah cemoohan keluarga dan stigma sebagai produk gagal bangsawan Pendragon, Wiliam Pendragon menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya adalah seorang jenius Level 12 pencipta Pernapasan Pedang Kegelapan sekaligus pemilik Domain Expansion yang ditakuti. Menjalani kehidupan ganda sebagai murid biasa demi menjaga kedamaian ibunya, Wiliam berubah menjadi "Hantu Topeng" saat malam tiba—sosok vigilante bertopeng bertanduk dan berjubah gelap yang membantai kejahatan tak tersentuh hukum secara dingin tanpa memedulikan pahlawan atau villain. Namun, aksinya yang menyisakan jejak sihir unik mulai mengguncang tatanan politik benua, memicu perburuan massal dan menarik perhatian empat entitas Level 20 terkuat di dunia yang mempertanyakan apakah Hantu Topeng adalah pelindung atau justru bom waktu yang siap membumihanguskan tatanan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucius Aurelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 29

Bab 29: Ritual Kolam Rubah, Warisan Darah Purba, dan Bisikan Takdir Kosmik

​Babak demi babak pertempuran melesat tanpa terasa di bawah gelombang sorak-sorai penonton Aethelgard. Ren melewati setiap laga eliminasi dengan kebrutalan yang terukur, menumbangkan satu per satu petarung paling sadis di Koloseum hingga namanya terpatri mantap di jajaran empat besar turnamen. Namun, atmosfer di ruang tunggu semifinal kini berubah menjadi sangat menekan. Ketiga kontestan lain yang berhasil lolos ke empat besar bukanlah lagi pertarung biasa di tingkatan mortal dasar. Mereka adalah para eksistensi yang telah melampaui Level 20, melangkah masuk ke Ranah ke-8—ranah para Archmage yang sanggup memanipulasi realitas sihir dan menghancurkan benteng kota hanya dengan satu usapan tangan.

​Ketika panitia arena mengumumkan bahwa pertempuran semifinal akan diselenggarakan minggu depan untuk memberikan waktu persiapan, Ren tidak melontarkan sepatah kata pun. Ia melangkah keluar dari arena, membungkus jubah hitamnya erat-erat, dan berjalan menembus kabut perbatasan menuju gubuk rahasia Hephaestus.

​Saat pintu gubuk kayu terdorong terbuka, bau aroma teh herbal bersahutan dengan keharuman bunga purba. Di ruang tamu, Nona Kitsune tampak sedang duduk berhadapan dengan Hephaestus, mengobrol pelan mengenai dinamika energi benua. Ren tidak memiringkan badannya atau menyapa. Dengan raut wajah yang membeku di balik Topeng Bertanduk, Ren melangkah lurus menuju kamar bawah tanahnya dan mengunci pintu rapat-rapat.

​Di dalam kegelapan kamar, Ren melepaskan jubah dan topengnya. Tubuhnya dipenuhi parut memar dan luka dalam yang berdenyut hebat. Tanpa membuang waktu, ia duduk bersimpuh di atas matras batu, mengalirkan mana kelabunya untuk memulihkan jaringan otot yang robek, lalu memejamkan mata untuk masuk ke dalam mode meditasi mendalam.

​Kecemasan yang teramat sangat besar menggerogoti pikiran Ren.

​Ia berada di Level 17—suatu tingkatan yang sangat luar biasa bagi seorang manusia biasa, namun teramat sangat jauh di bawah Ranah Archmage yang berada di atas Level 20. Perbedaan ranah ini bukan sekadar celah angka, melainkan jurang perbedaan pemahaman hukum alam! Di babak semifinal nanti, jika ia kalah, ia tidak hanya akan kehilangan kehormatannya; ia akan mati dipotong-potong di atas pasir arena. Dan jika secara ajaib ia berhasil selamat, fisiknya dipastikan akan hancur hingga cacat permanen.

​"Aku tidak boleh kalah..." bisik Ren dengan nada frustrasi yang teramat sangat pekat. Bayangan wajah Anya yang tersenyum hangat di rumah kayu mereka, serta wajah mungil Lucien dan Aria yang sedang tertidur lelap, berputar-putar di dalam benaknya. "Jika aku mati di sini... Anya akan menangis. Dia akan hancur... Aku sudah berjanji padanya untuk kembali!"

​Dengan rasa nekat yang membakar dada, Ren memicu Demon Heart di dada kirinya secara paksa! Pria itu mencoba menerobos batasan Level 17 menuju ranah yang lebih tinggi dengan mengaliri organ iblisnya secara gila-gilaan.

​THUMP! THUMP! THUMP!

​Hati Iblis berdenyut teramat sangat kencang, memancarkan api ungu-hitam yang membakar pembuluh darahnya. Namun, bukannya memberikan terobosan kekuatan, energi iblis yang bergejolak liar tanpa fondasi hukum yang matang itu malah berbalik menyerang organ dalam Ren!

​"GHAHHK!"

​Ren terbatuk hebat, menyemburkan gumpalan darah segar berwarna merah pekat ke atas lantai batu. Dadanya mencengkeram nyeri yang teramat sangat menusuk, napasnya tersengal-sengal, dan kesadarannya hampir goyah. Namun, dengan kegigihan gila yang melampaui nalar, Ren mengusap darah di bibirnya dengan punggung tangan dan kembali menutup mata, bersiap menekan Demon Heart untuk kedua kalinya!

​CREAK...

​Pintu kayu kamar perlahan terdorong terbuka. Langkah kaki bertelanjang yang sangat halus terdengar mendekat.

​Nona Kitsune berdiri di ambang pintu, memperhatikan setiap gerak-gerik nekat Ren dengan sepasang mata emas kemerahan yang dipenuhi rasa prihatin dan iba yang teramat dalam. Tujuh ekor peraknya mengembang melingkupi tubuh anggunnya.

​"Jika kau terus memaksa Demon Heart-mu menerobos tanpa pemahaman hukum seperti itu... kau hanya akan membunuh dirimu sendiri lebih awal sebelum pertempuran semifinal dimulai, Ren," ucap Kitsune dengan suara merdu yang bergetar penuh perhatian.

​Ren menghentikan tarikan nafas meditasinya. Ia membuka mata kelabunya yang bersimbah peluh dingin, menatap sosok wanita keturunan Dewi Rubah yang berdiri di hadapannya.

​"Nona Kitsune..." gumam Ren dengan napas tersengal.

​Kitsune melangkah mendekat, berlutut pelan di samping matras batu Ren. Jemari lentiknya yang hangat mengusap sisa darah di sudut bibir Ren dengan sangat lembut.

​"Aku tahu kekhawatiran dan beban berat yang ada di dalam pikiranmu, Ren," ujar Kitsune pelan, menatap lurus ke dalam mata pemuda itu. "Kau takut mati di arena. Kau takut membuat orang yang kau cintai bersedih. Tapi memaksa tubuhmu berevolusi dengan cara merusak organ dalam seperti ini tidak ada gunanya. Kau hanya menumpuk kerusakan permanen di jiwamu."

​Ren mengepalkan tangannya di atas lutut, rasa frustrasi dan kelemahan jiwanya meluap keluar dalam bentuk teriakan parau:

​"Lantas apa yang harus kulakukan?!" seru Ren dengan dada naik-turun. "Lawan-lawanku di semifinal adalah para Archmage! Perbedaan ranah kami begitu jauh! Jika aku bertarung dengan kekuatanku yang sekarang, aku pasti mati! Dan aku tidak ingin Anya bersedih atas kematianku! Aku harus menjadi lebih kuat, apa pun risikonya!"

​Nona Kitsune memandangi wajah frustrasi Ren sejenak, lalu menyunggingkan senyuman yang teramat sangat lembut dan tulus—sebuah senyuman tanpa sedikit pun riak manipulasi politik.

​"Aku bisa membantumu, Ren," bisik Kitsune hangat.

​Ren menatap Kitsune dengan pandangan penuh selidik dan curiga. "Membantuku...? Apa yang harus kubayar untuk bantuan itu? Sumber daya? Janji kesetiaan? Atau pernikahan yang kau minta kemarin?"

​Kitsune menggelengkan kepalanya pelan, jemarinya mengusap rambut kelabu Ren yang basah oleh keringat.

​"Kau tidak perlu membayar apa pun, Ren," jawab Kitsune jujur. "Kau tidak perlu memberikan janji atau menjual harga dirimu. Aku membantumu murni karena aku tulus ingin kau selamat dan menjadi lebih kuat."

​Ren tertegun diam, merasakan ketulusan murni yang mengalir dari pancaran jiwa Kitsune. Rasa curiganya perlahan meleleh.

​"Jadi... bagaimana caramu membantuku?" tanya Ren pelan.

​Kitsune berdiri anggun, merapikan gaun ungu tuanya. "Kau harus mandi di Kolam Rubah Purba (Ancient Fox Pool) yang tersembunyi di dimensi suciku. Kolam itu memancarkan energi dominan kosmik yang teramat sangat pekat—suatu nutrisi purba yang sempurna untuk menenangkan gejolak dan memberi dorongan evolusi mutlak pada Demon Heart-mu."

​Kitsune menatap Ren dengan serius.

​"Namun, sebelum kau bisa menyerap air Kolam Rubah, kau harus mendapatkan pengakuan langsung dari leluhurku: Sang Dewi Rubah Ekor Sembilan Purba. Beliau adalah sesosok siluman agung dari zaman kuno yang juga memiliki Demon Heart di dalam tubuhnya. Beliau yang akan menentukan apakah jiwamu layak menerima warisan darahnya."

​Ren mendengarkan penjelasan tersebut dengan saksama. Setiap kata yang diucapkan Kitsune masuk ke dalam pertimbangan logisnya. Mengingat ia tidak memiliki jalan lain untuk menerobos jurang tingkatan Archmage dalam waktu satu minggu, tawaran ini adalah satu-satunya secercah harapan yang rasional.

​"Baiklah," tegas Ren seraya berdiri tegap. "Aku akan pergi ke Kolam Rubah."

​Nona Kitsune tersenyum riang. Ia mengibaskan jemari tangannya ke udara, merobek lipatan ruang dan menciptakan sebuah portal dimensi berwarna perak yang berdenut indah.

​Sebelum melangkah masuk, Kitsune menoleh ke arah luar kamar. "Hephaestus! Ikutlah bersama kami. Aku membutuhkan keahlianmu sebagai penempa untuk mengawasi kestabilan fisik Ren selama proses ritual!"

​Hephaestus yang sejak tadi mendengarkan dari balik pintu menyapu janggut tuanya, menyunggingkan senyuman lebar. "Oho! Menarik sekali! Sudah ribuan tahun aku tidak melihat Kolam Rubah Purba yang legendaris itu. Aku ikut!"

​SWOOSH!

​Ketiganya melangkah melewati portal dimensi dan seketika tiba di sebuah lembah rahasia yang terisolasi dari dunia luar. Langit di tempat itu berwarna merah keemasan dengan ribuan bintang yang berpijar terang. Di tengah lembah berdiri sebuah kolam batu pualam raksasa yang berisi air berwarna perak berkilau, menguapkan kabut sihir yang teramat sangat padat dan menenangkan jiwa.

​Aroma keharuman alam purba menyelimuti udara.

​Nona Kitsune melangkah menuju tepi Kolam Rubah. Tanpa ragu sedikit pun dan tanpa peringatan apa pun, tangan Kitsune menyentuh tali ikatan kimono ungu tuanya.

​SLIP...

​Pakaian sutra itu terlepas pelan dari bahunya, meluncur jatuh ke atas rumput hijau, memperlihatkan seluruh tubuh indahnya tanpa sehelai benang pun!

​Tubuhnya teramat sangat mulus, seputih salju paling murni, dengan kurva pinggul dan dada yang begitu sempurna bagaikan mahakarya seni tertinggi para dewa. Tujuh ekor peraknya mengembang lembut di sekeliling tubuh telanjang bulatnya, memancarkan pendar cahaya perak yang memukau.

​COUGH! COUGH!

​Melihat pemandangan absolut tersebut secara mendadak, Ren dan Hephaestus seketika terbelalak kaget! Ren memalingkan wajahnya dengan cepat ke arah samping, wajahnya memerah hebat hingga ke ujung telinga, sementara Hephaestus terbatuk-batuk seraya menutup matanya dengan telapak tangan kekarnya!

​"N-Nona Kitsune!" seru Ren dengan suara panik dan gugup. "Apa maksudnya ini?! Kenapa kau melepaskan seluruh pakaianmu secara mendadak?!"

​Kitsune menoleh seraya menyunggingkan senyuman manis tanpa rasa malu sedikit pun.

​"Jangan berpikiran yang tidak-tidak, Ren," jelas Kitsune dengan suara tenang dan anggun. "Di dalam ritual pengakuan Dewi Rubah ini, aku bertindak sebagai klan perantara dan jalan penghubung jiwamu dengan leluhur. Tubuhku harus sepenuhnya telanjang murni tanpa terhalang busana apa pun agar aliran energi perak dan penyatuan hukum sihir dapat mengalir sempurna tanpa ada bias materi luar."

​Ren menarik napas panjang, mencoba menenangkan degup jantungnya. "Bisakah... bisakah kau setidaknya memakai semacam kain penutup...?"

​"Tidak bisa," sahut Kitsune lembut namun tegas. "Ini adalah aturan ritual suci Ras Rubah Purba sejak ribuan tahun lalu. Jika ada sehelai kain pun yang menghalangi, ritual akan gagal dan air kolam akan menolak jiwamu. Sekarang, lepaskan pakaian atasmu dan turunlah ke dalam kolam."

​Mendengar penjelasaan rasional mengenai aturan ritual suci tersebut, Ren menghembuskan napas tegar. Ia melepaskan jubah hitam dan baju penutup dadanya, membiarkan tubuh tegapnya yang dipenuhi pendar urat energi terlihat murni, lalu melangkah turun ke dalam air Kolam Rubah yang hangat.

​Air perak itu seketika melingkupi pinggang Ren, memberikan rasa hangat yang luar biasa nyaman di seluruh pembuluh darahnya.

​"Membelakangi aku, Ren," perintah Kitsune pelan.

​Ren membalikkan badannya, membelakangi Kitsune.

​SPLASH...

​Kitsune melangkah maju di dalam air perak, mendekati punggung Ren. Dan secara mendadak—

​HUG.

​Kitsune memeluk tubuh Ren yang telanjang dada dari arah belakang!

​Dada mulusnya yang hangat menempel rapat pada punggung tegap Ren, dan kedua tangannya yang selembut sutra melingkar erat di pinggang Ren!

​BOOM!

​Seluruh tubuh Ren seketika memegang kaku! Sensasi kulit mulus yang menempel rapat di punggungnya membuat Ren panik hebat!

​"K-Kitsune! Kau... kau jangan macam-macam!" seru Ren dengan napas memburu seraya mencoba menggeser tubuhnya. "Aku sudah memberitahumu bahwa aku memiliki istri!"

​Kitsune menyandarkan dagu cantiknya di bahu kanan Ren, berbisik tepat di samping telinga Ren dengan alunan suara yang teramat sangat lembut dan tulus:

​"Aku tidak akan macam-macam, Ren..." bisik Kitsune. "Aku tidak sedang menggodamu. Percayalah padaku... fokuskan pikiranmu pada inti jiwamu."

​SWOOSH!

​Ketujuh ekor perak Kitsune mendadak meliuk maju, melingkari dan memeluk seluruh tubuh Ren dan Kitsune secara bersamaan! Bulu-bulu perak yang teramat sangat halus melingkupi mereka bagaikan kepompong raksasa.

​Seketika itu juga, pendar cahaya perak yang teramat sangat terang menyala hebat dari dalam kolam!

​HUMMMMMMM—!

​Kesadaran Ren seketika ditarik keluar dari alam fisik, melintasi lorong waktu dan ruang menuju ke dalam sebuah Dimensi Jiwa Purba!

​Saat Ren membuka matanya kembali, ia berada di atas sebuah padang rumput tak bertepi di bawah naungan pohon teratai raksasa.

​Di hadapannya, melayang sesosok wujud agung yang teramat sangat raksasa dan memancarkan wibawa keilahian yang tak tertandingi!

​Sesosok Rubah Putih Raksasa dengan Sembilan Ekor Perak yang membentang menutupi separuh langit! Di dahi rubah raksasa itu terdapat tanda kristal darah yang memancarkan pendar Demon Heart purba!

​Dia adalah Sang Dewi Rubah Ekor Sembilan!

​Tatapan mata Dewi Rubah yang berwarna emas kosmik menembus langsung ke dalam inti jiwa Ren. Suaranya bergema bagaikan guruh purba yang memenuhi seluruh dimensi jiwa:

​"Selamat datang... Manusia dari benua terisolasi yang membawa Hati Iblis dan Takdir Kosmik..."

​Ren berdiri tegap di hadapan eksistensi raksasa tersebut, memberi penghormatan dengan menundukkan kepalanya pelan. "Hamba menyembah Anda, Sang Dewi Rubah."

​Dewi Rubah menatap Ren dengan tatapan yang penuh kearifan ribuan tahun.

​"Manusia muda..." panggil Dewi Rubah agung. "Aku akan mengajukan beberapa pertanyaan padamu sebelum memutuskan apakah kau layak menerima warisanku. Jawablah dengan kejujuran jiwamu."

​"Silakan, Dewi," sahut Ren tegas.

​"Pertama..." ujar Dewi Rubah, "Kau telah mengetahui bahwa keturunanku, Kitsune, menaruh rasa cinta dan takdir padamu. Kau juga tahu bahwa dia menawarkan seluruh kekuasaan dan dirinya untukmu. Mengapa kau tetap menolaknya dan memilih setia pada istrimu dari ras Elf?"

​Ren menatap mata raksasa Dewi Rubah tanpa rasa takut sedikit pun.

​"Karena cinta dan kesetiaan bukanlah barang dagangan yang bisa ditukar dengan kekuatan," jawab Ren dengan suara mantap. "Istriku, Anya, telah memberikan seluruh jiwa, kepercayaan, dan cintanya padaku saat aku tidak memiliki apa pun. Jika aku mengkhianatinya demi kemudahan jalan kekuatan, maka aku tidak lebih dari seekor binatang yang dipandu oleh keserakahan. Aku bertarung untuk melindungi mereka, bukan untuk merusak janji suci kami."

​Dewi Rubah terdiam sejenak. Sorot matanya memancarkan rasa kepuasan dan kehangatan yang teramat besar atas jawaban Ren.

​"Jawaban yang sangat murni..." gumam Dewi Rubah. "Karakter jiwamu benar-benar sesuai dengan apa yang diprediksikan oleh Benang Takdir Kosmik."

​Wajah Dewi Rubah raksasa itu kemudian berubah menjadi sedikit redup dan dipenuhi oleh duka masa lalu yang teramat sangat dalam.

​"Manusia muda..." pinta Sang Dewi Rubah dengan suara yang kini mengandung nada permohonan seorang leluhur, "Aku memiliki satu permohonan besar padamu... Aku memohon agar kau menjaga keturunan terakhirku, Kitsune. Lindungilah dia... dampingilah jalannya..."

​Ren sedikit terkejut mendengarkan nada permohonan dari eksistensi se-agung Dewi Rubah. "Mengapa Anda memohon hal ini padaku, Dewi?"

​Dewi Rubah mendesah panjang, mengibaskan sembilan ekor peraknya yang menciptakan riak memori masa lalu di udara dimensi.

​"Sebab Kitsune adalah satu-satunya keturunan darah murni terakhir yang tersisa dari Ras Rubah Ekor Sembilan di seluruh alam semesta ini..." jelas Sang Dewi dengan duka yang mendalam. "Jika garis keturunannya terputus atau jika dia hancur di dunia yang kejam ini... maka klan kami akan punah selamanya dari sejarah penciptaan."

​Dewi Rubah kemudian memutar bayangan memori perang purba di langit dimensi jiwa Ren.

​Di dalam bayangan proyeksi tersebut, Ren melihat pertempuran apocalyptic yang teramat sangat dahsyat dan mengerikan!

​Ia melihat Perang Besar Para Dewa (Great War of Gods) dari berbagai mitologi dan panteon besar bertabrakan secara brutal! Dewa-dewa dari Panteon Yunani, Nordik, India, Cina, Jepang, Inggris, Babilonia, hingga Mesir bertarung memperebutkan dominasi alam semesta! Petir Zeus membakar langit, martil Thor membelah benua, pedang Odin merobek ruang, dan sihir Anubis membakar jiwa-jiwa mortal!

​Di tengah perang dewa-dewa tersebut, Ras Rubah Ekor Sembilan memiliki energi kosmik murni yang teramat sangat luar biasa dahsyat dan melimpah. Namun... karena besarnya potensi energi yang dimiliki oleh Ras Rubah Ekor Sembilan, para dewa dari berbagai panteon mulai memandang Ras Rubah sebagai ancaman eksistensial utama yang harus dimusnahkan!

​Pembantaian raksasa pun terjadi. Panteon-panteon dewa bersatu memburu dan membantai seluruh anggota Klan Rubah Ekor Sembilan tanpa ampun, membakar tempat tinggal mereka dan menghapus jejak kebudayaan mereka.

​"Dalam pembantaian berdarah puluhan ribu tahun lalu itu..." kenang Dewi Rubah dengan air mata pendar sihir yang menetes, "Hanya satu bayi kecil yang berhasil diselamatkan dan disembunyikan dari kejaran para dewa... Bayi kecil itu adalah Kitsune."

​Dewi Rubah menunjukkan bayangan sesosok pahlawan kera sakti dengan tongkat emas yang berkilat-kilat—Sun Wukong sang Raja Kera (The Monkey King)!

​"Saat pembantaian terjadi, kawan lamaku... Sun Wukong, datang menerobos medan perang dewa dan menyelamatkan Kitsune kecil dari cengkeraman para dewa. Sun Wukong membawa Kitsune ke tempat tersembunyi, merawatnya, menyembunyikan pendar energi darahnya, dan melatihnya hingga Kitsune tumbuh dewasa..."

​Dewi Rubah mengusap bayangan memori tersebut.

​"Namun... setelah Kitsune tumbuh dewasa dan mencapai tingkatan Mythic, dia memohon izin pada Sun Wukong untuk pergi berkelana sendirian menerobos benua-benua... Sebab Kitsune menerima ramalan takdir purba bahwa di dunia luar, ia ditakdirkan untuk bertemu dengan seorang pria Manusia yang membawa Hati Iblis yang akan menjadi suaminya dan menjaga kelangsungan garis keturunan kami..."

​Ren mendengarkan seluruh sejarah berdarah dan tragis tersebut dengan rasa simpati dan keprihatinan yang teramat sangat dalam. Ia kini memahami beban berat, kesepian, dan tanggung jawab masa lalu yang dipikul oleh Nona Kitsune di balik wajah ceria dan bahagianya.

​Ren menatap Sang Dewi Rubah.

​"Aku mengerti penderitaan klanmu, Dewi..." ujar Ren pelan. "Namun... kenapa Anda mempercayaiku dan mengakuiku begitu saja? Mengapa Anda rela menyerahkan warisan darah purba ini kepada seorang Manusia biasa seperti aku?"

​Dewi Rubah menyunggingkan senyuman agung yang penuh misteri.

​"Karena kau adalah orang yang telah ditakdirkan oleh Hukum Kosmik Utama (The Cosmic Destiny), Ren..." jawab Dewi Rubah.

​"Apa maksud dari 'orang yang ditakdirkan' itu?" tanyakan Ren mendesak. "Siapa aku sebenarnya dalam benang takdir ini?!"

​Dewi Rubah menggelengkan kepalanya pelan.

​"Aku tidak bisa memberitahumu lebih jauh mengenai hal itu, Manusia muda..." bisik Dewi Rubah misterius. "Waktumu belum tiba untuk membuka Segel Takdir Kosmikmu. Yang perlu kau ketahui saat ini adalah... jiwamu layak."

​SWOOSH!

​Dewi Rubah raksasa itu memajukan moncongnya, meneteskan satu tetes Darah Murni Dewi Rubah Ekor Sembilan (Pure Blood of Nine-Tailed Fox) berwarna emas-perak murni yang melayang masuk tepat ke dalam dada kiri Ren—langsung menembus ke dalam Demon Heart-nya!

​BOOM—!

​Setetes darah purba itu menyatu secara sempurna dengan organ iblis Ren!

​Seketika itu juga, transformasi luar biasa terjadi pada fisik Ren di alam realitas!

​Di dalam Kolam Rubah Purba, cahaya perak meledak hebat melingkupi tubuh Ren dan Kitsune!

​Hephaestus yang berdiri di tepi kolam mendadak membelalakkan matanya!

​CRACK! CRACK!

​Tulang-tulang di tubuh Ren berevolusi secara masif! Pendar warna emas, perak, dan ungu-hitam menyatu di dalam pembuluh darahnya!

​Dan yang paling menakjubkan... di atas kepala Ren yang berambut kelabu, muncul sepasang telinga rubah berwarna perak yang halus, serta dari pinggang belakang Ren, tumbuh satu ekor rubah perak yang mekar anggun dan memancarkan aura keilahian purba!

​Pendar energi di dalam tubuh Ren melonjak tajam melampaui batasan Level 17!

​LEVEL 17... LEVEL 18... LEVEL 19... LEVEL 20!

​BOOM—!

​Hambatan tingkatan mortal dasar hancur berkeping-keping! Energi mana kelabu Ren bertransformasi secara utuh menjadi Energi Sihir Tingkat Tinggi!

​Ren secara langsung menerobos masuk ke Ranah ke-7: High Mage Tingkat Awal (Early High Mage)!

​Garis kekuatan baru mengalir deras di seluruh organ fisiknya. Rasa sakit, gejolak liar Demon Heart, dan luka-luka dalam yang menggerogotinya musnah sepenuhnya, digantikan oleh pemahaman sihir dan ketahanan fisik yang teramat sangat dahsyat!

​Cahaya perak memudar pelan.

​Kepompong ekor Kitsune terbuka. Kitsune melangkah mundur sedikit di dalam air perak, memandangi sosok Ren yang kini memiliki telinga rubah perak dan satu ekor indah yang mengembang di belakang tubuhnya.

​Kitsune tersenyum manis dengan mata berkaca-kaca penuh kebahagiaan.

​"Kau berhasil, Ren..." bisik Kitsune lembut. "Leluhurku telah mengakuimu sepenuhnya..."

​Ren membuka matanya. Sepasang mata kelabunya kini memancarkan pendar emas perak yang teramat sangat tajam dan anggun. Ren merasakan kekuatan baru yang mengalir di jemari tangannya—sebuah kekuatan gabungan antara Demon Heart, Tulang Demigod, dan Darah Purba Dewi Rubah!

​Ren menatap telapak tangannya sendiri, lalu menatap Kitsune dan Hephaestus yang tersenyum lega di tepi kolam.

​Dinding pemisah menuju Ranah Archmage kini tidak lagi terasa sebagai hal yang mustahil. Dengan kekuatan barunya sebagai seorang High Mage, Ren siap melangkah kembali ke Koloseum Aethelgard untuk menghadapi pertempuran semifinal yang menantinya di esok hari!

1
Ed Troivan
lnjt👍
Ed Troivan
👍👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!