NovelToon NovelToon
Dear My Destiny (Kepada Takdirku, Bersamamu)

Dear My Destiny (Kepada Takdirku, Bersamamu)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Romansa / Bad Boy
Popularitas:290
Nilai: 5
Nama Author: Bella Kristy Cecilia

Emily adalah seorang remaja cantik yang pintar dan dikenal sebagai juara di SMA Harapan Bangsa. Ia bertemu dengan Sean, seorang pria kaya raya yang hidupnya berantakan.

Mereka mulai saling mengenal dan akhirnya memutuskan menjadi sepasang kekasih. Namun, banyak sekali masalah yang harus mereka hadapi seperti restu keluarga, perbedaan visi dan misi, kepribadian dan pemikiran yang jauh berbeda, dan masih banyak lagi.

Apakah mereka berhasil bersama sampai akhir? Atau mereka memilih menyerah? Ikuti terus kisahnya!

IG = @bellakristyc_
Email = bellakristyc@gmail.com

Note : Author terinspirasi untuk menulis novel ini dari kisah nyata yang digabungkan dengan imajinasi. Apabila ada kesamaan nama tokoh, tempat, dan yang lainnya tidak ada yang disengaja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Konfrontasi Sang Ratu di Sunway

Aroma karpet baru dan pembersih lantai yang tajam memenuhi Auditorium Utama Kampus Sunway pagi itu. Benderang lampu sorot menyinari panggung megah tempat jajaran rektorat dan dewan donor berkumpul. Di antara jajaran kursi busa merah, ratusan mahasiswa baru duduk rapi.

Di barisan depan, Steven dan teman-teman geng kayanya duduk tegap, berusaha mencuri perhatian dengan kemeja bermerek. Sementara di barisan tengah yang agak redup, Emily duduk berdampingan dengan Mei Ling. Emily mengenakan kaus oblong putih berlapis kardigan rajut longgar, celana jins sederhana, dan kacamata berbingkai tipis. Wajahnya polos tanpa riasan, namun ketenangan di matanya memancarkan aura yang tak bisa diusik.

"Gila ya, Mil," bisik Mei Ling seraya menyikut pelan lengan Emily. "Lihat tuh yang di panggung. Itu Valerie Wijaya, kan? Anak tunggal konglomerat perhotelan Jakarta yang menyumbang dana gedung laboratorium baru kita. Cantik sih, tapi tatapannya jutek banget."

Emily menatap lurus ke arah panggung. Di sana, berdiri Valerie Wijaya dalam balutan setelan blazer krem buatan rumah mode Italia. Rambut bergelombangnya ditata sempurna, dan senyum cantiknya memancarkan dominasi mutlak.

Namun, mata tajam Valerie tidak sedang menatap rektor kampus. Pandangannya menyapu barisan mahasiswa baru, mencari satu figur spesifik yang telah menjadi duri dalam dagingnya selama empat tahun terakhir.

Saat mata Valerie berpapasan dengan pandangan Emily dari balik kacamata tipisnya, bibir berpoleskan lipstik merah milik Valerie mengukir senyum merendahkan.

"Terima kasih atas penyambutan yang hangat dari jajaran rektorat," suara Valerie mengalun nyaring melalui pengeras suara auditorium, jernih dan sarat akan kesan berkuasa. "Sebagai perwakilan dewan donor utama, saya sangat bangga bisa mendukung fasilitas akademis di kampus ini. Namun, sebuah institusi hebat tidak hanya dibentuk oleh gedung yang megah, melainkan oleh integritas para mahasiswanya."

Valerie jeda sejenak, sengaja membiarkan suasana auditorium mendadak hening.

"Sayangnya," lanjut Valerie dengan nada manis yang menyengat, "saya mendengar ada mahasiswa baru jalur beasiswa di Fakultas Ekonomi yang mulai bersikap arogan. Menggunakan teori-teori mentah untuk memfitnah stabilitas perusahaan penyokong dana kampus ini di ruang kelas."

Bisik-bisik langsung meletup di antara barisan mahasiswa. Steven di barisan depan menyeringai puas, melirik tajam ke arah Emily.

"Untuk memastikan standar etika tetap terjaga," ujar Valerie seraya melipat tangannya di dada, "saya ingin mengundang perwakilan mahasiswa baru berprestasi tersebut untuk naik ke atas panggung. Saudari Emily Valencia... bisakah Anda maju ke depan?"

Mei Ling menahan napas, memegang erat jemari Emily. "Mil... jangan maju. Dia sengaja mau mempermalukan kamu di depan rektor!"

Emily menepuk pelan tangan Mei Ling. Tidak ada kepanikan di wajahnya. Dengan gerakan yang sangat anggun dan tenang, Emily berdiri dari kursinya. Seluruh pasang mata di auditorium seketika tertuju pada gadis kacamata berseragam sederhana itu.

Langkah kaki Emily terdengar mantap saat ia menyusuri lorong karpet merah menuju panggung utama.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Di atas panggung, udara terasa begitu dingin. Valerie menatap Emily dari atas ke bawah dengan tatapan mengintimidasi—persis seperti yang ia lakukan di koridor SMA Harapan Bangsa empat tahun lalu. Valerie bermaksud menggunakan statusnya sebagai donatur utama untuk menghancurkan mental Emily di hadapan ratusan akademisi Sunway.

"Terima kasih sudah naik ke panggung, Emily," bisik Valerie melalui mikrofonnya, nada suaranya berpura-pura ramah. "Sebagai mahasiswi beasiswa, kamu tentu paham bahwa kelangsungan studimu bergantung pada reputasi kampus ini. Saya mendengar kemarin kamu menyatakan di kelas bahwa Wijaya Group mengalami krisis likuiditas. Apakah kamu menyadari bahwa pernyataan tidak berdasar seperti itu bisa mencoreng nama baik donor kampusmu?"

Rektor dan para dekan di meja VVIP mulai tampak cemas dan canggung. Steven di barisan depan tertawa kecil tanpa suara.

Emily menerima mikrofon nirkabel yang disodorkan seorang petugas. Ia membetulkan posisi kacamatanya, menatap Valerie tanpa ada keruangan sedikit pun.

"Terima kasih atas kesempatannya, Nona Wijaya," suara Emily mengalun tenang, jernih, dan begitu berwibawa melintasi pengeras suara auditorium. "Saya tidak pernah memfitnah. Analisis yang saya sampaikan di kelas murni berdasarkan data publik laporan keuangan kuartal ketiga Wijaya Resources Sdn Bhd yang terdaftar di Bursa Efek Kuala Lumpur."

Valerie menyipitkan matanya, mengukir senyum cemooh. "Data publik? Kamu hanyalah mahasiswi tingkat satu yang baru belajar membaca neraca keuangan! Apa kamu merasa lebih tahu dibanding tim auditor independen kami?"

"Auditor independen yang Anda maksud," potong Emily cepat dengan nada suara yang tetap dingin dan sopan, "adalah Ernst & Young cabang Singapura yang dua minggu lalu menerbitkan disclaimer of opinion atas transaksi terelasi keluarga Anda di Shell Company Kepulauan Cayman?"

Boom!

Suasana auditorium seketika membeku. Para profesor ekonomi di meja VVIP saling berpandangan dengan mata membelalak kaget. Data yang disebutkan Emily bukanlah materi kuliah dasar, melainkan temuan audit khusus tingkat tinggi yang hanya diketahui oleh praktisi analisis risiko senior.

Wajah Valerie yang semula penuh percaya diri seketika berubah pucat pasi. "Kamu... dari mana kamu tahu soal-"

"Sebagai mahasiswi beasiswa yang bertanggung jawab," lanjut Emily tanpa memberi ruang bagi Valerie untuk memotong, "saya justru berusaha melindungi reputasi kampus Sunway. Agar dana hibah yang diterima kampus tidak berasal dari entitas yang sedang dalam pengawasan Otoritas Jasa Keuangan akibat penundaan kewajiban pembayaran utang."

Tepuk tangan pelan mendadak terdengar dari sudut belakang auditorium. Para dosen dan mahasiswa yang terperangah mulai berbisik-bisik mengagumi keberanian dan kejeniusan analisis Emily.

Valerie mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Amarah yang luar biasa membakar dadanya. "Cukup! Rektor, saya minta beasiswa mahasiswi tidak tahu diri ini dicabut hari ini juga! Jika tidak, Wijaya Group akan menarik seluruh dana hibah gedung baru!"

Ancaman terbuka Valerie membuat suasana auditorium tegang luar biasa.

Namun, sebelum Rektor sempat merespons, seorang asisten rektorat berlari tergesa-gesa ke atas panggung, menyodorkan sebuah komputer tablet kepada sang Rektor. Rektor membaca pesan di layar tablet itu dengan mata melebar, lalu mendongak menatap Valerie dengan raut wajah yang berubah drastis.

"Mohon maaf, Nona Wijaya," ujar Rektor seraya berdiri dan mengambil mikrofon. "Baru saja kami menerima surat pemberitahuan resmi dari Konsorsium Keuangan Singapura. Seluruh dana hibah atas nama Wijaya Group untuk kampus ini telah dialihkan dan dijamin penuh oleh Apex Sentinel Trust atas nama saudara Sean Anderson. Jadi, posisi beasiswa Saudari Emily Valencia sepenuhnya aman di bawah jaminan independen."

Gedebuk.

Valerie hampir saja kehilangan keseimbangannya. Kakinya lemas. Sean! Sean lagi-lagi menggunakan pengaruh dan kekayaannya di luar negeri untuk melumpuhkan ancaman Valerie sebelum wanita itu sempat mengeksekusinya.

Di sudut paling belakang auditorium, di dekat pintu keluar yang remang, seorang cowok bertubuh tinggi yang mengenakan jaket hoodie hitam dan topi kasti menurunkan ponselnya.

Sean berdiri di sana, mengamati Emily dari kejauhan dengan senyum bangga yang amat tulus. Ia telah mengatur pengalihan dana jaminan itu lima menit sebelum acara dimulai.

Emily menoleh ke arah belakang auditorium, menangkap sosok Sean yang berdiri di kegelapan. Mata mereka bertemu singkat. Sebuah anggukan pelan dari Sean memberikan sinyal bahwa bahaya di panggung telah usai.

Emily memutar tubuhnya, menunduk sopan ke arah Rektor dan para dosen, lalu melangkah turun dari panggung dengan kepala tegak, meninggalkan Valerie yang berdiri mematung di atas panggung dalam kehancuran harga diri yang luar biasa.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Sore harinya, riuh drama di auditorium kampus seolah menguap ditelan hiruk-pikuk kawasan SS15, Subang Jaya.

Di sebuah kedai mamak pinggir jalan yang riuh oleh suara denting cangkir dan aroma tajam kuah kari, Emily duduk di meja plastik berwarna merah. Di hadapannya, terhidang dua bungkus nasi lemak bungkus daun pisang seharga RM 3 dan dua gelas teh tarik dingin.

Di seberang meja, Sean duduk santai mengenakan kaus hitam polos. Cowok yang beberapa jam lalu mengendalikan arus dana jaminan miliaran rupiah itu kini sedang tekun membuka bungkus daun pisang nasi lemak-nya dengan jemari panjangnya.

"Gimana rasanya membantai Valerie di depan rektor?" goda Sean seraya menyerahkan sendok plastik pada Emily, senyum jahil mengukir bibirnya.

Emily terkekeh pelan, menyesap teh tarik-nya. "Aku cuma menyampaikan data audit, Sean. Lagian... kamu kok nekat banget sih pakai nama Apex Sentinel Trust buat ambil alih dana hibah kampus?"

Sean menyandarkan punggungnya ke kursi plastik yang agak bergoyang, menatap Emily dengan binar mata yang amat hangat.

"Aku nggak akan biarkan cewek itu menyentuh pendidikan kamu lagi, Mil," ujar Sean tulus. "Kamu sudah berjuang keras setengah mati di Zurich dan Sunway buat mempertahankan prestasi kamu. Tugas aku cuma memastikan nggak ada orang jahat yang merusak jalan kamu."

Emily menatap wajah Sean. Di bawah pendaran lampu gantung kedai mamak yang remang, garis-garis lelah di wajah Sean terlihat begitu jelas. Cowok ini mengurus bisnis raksasa di Jakarta, bertaruh di pasar modal Singapura, dan berlari ke Kuala Lumpur hanya untuk memastikannya bisa makan malam dengan tenang.

Tanpa sadar, Emily mengulurkan tangannya di atas meja, mengusap pelan punggung tangan Sean.

"Makasih ya, Sean," bisik Emily lembut. "Tapi kamu juga harus janji... jangan abaikan kesehatan kamu sendiri. Kamu keliatan capek banget."

Sean menggenggam balik jemari Emily, merasakan kehangatan yang amat tulus menyusup ke dadanya. "Duduk di kedai murah ini sama kamu, makan nasi lemak tiga ringgit... ini udah lebih dari cukup buat mengobati seluruh rasa capek aku, Mil."

Kehidupan mereka di Kuala Lumpur memang penuh dengan marabahaya dan ancaman intrik tingkat tinggi. Namun di antara debu jalanan Subang Jaya dan kesederhanaan status mahasiswi baru, Emily dan Sean menemukan kembali potongan-potongan kebahagiaan manusiawi yang sempat direnggut dari masa muda mereka.

Tiba-tiba, ponsel milik Sean yang tergeletak di meja bergetar keras. Sebuah pesan terenkripsi masuk dari tim intelijen pribadinya di Jakarta.

Sean membaca pesan di layarnya, dan seketika itu juga, raut wajah tenangnya membeku.

Emily menyadari perubahan itu. "Ada apa, Sean?"

Sean menatap Emily dengan pandangan yang amat dalam dan sarat akan kecemasan baru.

"Gabriel Setiawan baru saja mendarat di Bandara KLIA," bisik Sean rendah. "Dan dia tidak datang sendirian. Dia membawa dokumen penyitaan aset resmi untuk mengeksekusi Helios Capital cabang Malaysia besok pagi."

Perang finansial yang sesungguhnya telah tiba di pintu gerbang Kuala Lumpur.

Bersambung......

1
Alia Chans
Hadir atuuu/Smile//Smile/
Bella: haloo kakk, makasihh yaa 🥰 enjoy ceritanyaa 💖
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!