Saat semua pendekar berkumpul untuk berebut kekuasaan, seorang anak gembala datang membawa akhir dari dunia mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Spectree Je, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 - TIGA BAYANGAN HITAM DI DESA DAN TIGA PISAU DI KEDAI ARAK
Jalan tanah dari Huashan menuju ke timur, menuju Jiangnan, berdebu dan panjang.
Sudah 3 hari sejak perpisahan di Puncak Teratai Emas.
Di jalan itu, dua sosok berjalan — satu tua satu muda — yang terlihat seperti pengemis dan anaknya yang baru saja mencuri ayam.
Yang tua, jubah tambal-tambalan sembilan kantung robek-robek, tongkat bambu hijau bengkok dipakai untuk mengusir anjing liar, labu arak penyok di pinggang, berjalan sambil terhuyung-huyung seperti orang mabuk. Hong Wei Jun, Pengemis Utara, Ketua Sekte Pengemis saat ini.
Yang muda, 17 tahun, jubah goni baru tapi sudah diberi 3 kantung kecil oleh gurunya — tanda murid resmi Sekte Pengemis tingkat paling rendah — memikul kitab emas Tai Chu Hun Yuan Jing yang kini dibungkus kain goni agar tidak terlihat mencolok. Mu Chen, murid ke-19 Sekte Pengemis, murid tertutup Pengemis Utara.
Tiga hari ini, Mu Chen merasa seperti hidup di neraka yang menyenangkan.
"Naga itu bukan naga beneran, bocah goni!" teriak Hong Wei Jun sambil memukul kepala Mu Chen dengan tongkat bambu. "Naga itu adalah Qi*-mu! *Qi yang kau kumpulkan di perut, kau putar 18 kali, lalu kau dorong keluar lewat telapak tangan! Seperti kau mendorong kentut! Tapi kentut yang bisa merobohkan gunung!"
Mu Chen jatuh tersungkur, tangannya memerah.
"Tapak pertama! Kang Long You Hui! Naga Sombong Menyesal! Coba lagi! Jika dalam 3 hari kau tidak bisa membuat daun bambu di depanmu bergerak, aku akan menjual kitab emasmu untuk membeli 10 ayam panggang!"
Mu Chen bangun lagi, keringat bercucuran. 8 meridian terbaliknya yang sudah diperbaiki oleh Kitab Tai Chu masih belum stabil. Setiap kali ia mencoba mengumpulkan Qi di Dantian, Qi itu berputar terbalik, membuatnya mual.
Ia menatap pohon bambu di depannya. Ia membayangkan dirinya adalah naga. Naga yang sombong, lalu menyesal.
"Ha!"
Ia mendorong telapak tangannya. Wusss... Angin kecil keluar, hanya cukup untuk membuat debu beterbangan.
Hong Wei Jun menghela napas panjang. "Kentutmu masih kalah keras dari kentutku setelah makan ubi. Lagi!"
Mereka berjalan sambil berlatih seperti itu, dari Huashan menuju ke timur. Tujuan Hong Wei Jun sebenarnya adalah Markas Besar Sekte Pengemis di Kota Junshan, dekat Danau Dongting, untuk memperkenalkan murid barunya dan untuk mengambil Tongkat Pemukul Anjing yang asli — yang ia bawa kemarin hanyalah tongkat bambu biasa untuk memukul anjing liar beneran.
Saat matahari sudah di atas kepala, mereka tiba di sebuah desa kecil yang sepi.
Desa Batu Kuning. Desa yang seharusnya ramai karena hari pasar, tapi hari ini anehnya sepi. Pintu-pintu rumah tertutup rapat. Tidak ada anak kecil bermain. Hanya ada angin yang membawa bau anyir.
Hong Wei Jun berhenti. Matanya yang mabuk tiba-tiba jernih. Ia mengendus udara.
"Bau darah. Dan bau... Qing Gong kelas tinggi. Bau kaki yang tidak pernah menginjak tanah."
Mu Chen belum mengerti, tapi kitab Tai Chu di punggungnya tiba-tiba menjadi hangat, seperti memberi peringatan.
Dari atas atap tiga rumah yang berbeda, melayang turun tiga sosok.
Ilmu meringankan tubuh mereka sangat tinggi. Kaki mereka tidak menimbulkan suara saat mendarat. Jubah mereka hitam, bukan hitam biasa, tapi hitam yang menyerap cahaya, seperti bayangan yang dipotong dari malam. Wajah mereka ditutup topeng hantu putih dengan gambar tengkorak tertawa.
Tiga pendekar Aliran Hitam yang sudah tidak asing di dunia persilatan. Bahkan anak kecil di Wulin tahu nama mereka, dan akan menangis jika mendengar nama itu.
Tiga Bayangan Tak Bersuara dari Paviliun Angin Hitam.
Paviliun Angin Hitam, salah satu dari 36 Aliran Hitam yang mendukung Istana Beijing. Pembunuh bayaran nomor satu yang hanya dibayar dengan emas dan racun.
Yang di tengah, tubuhnya tinggi kurus seperti bambu, membawa dua pedang pendek melengkung seperti bulan sabit. Bayangan Bulan, kecepatan pedangnya katanya bisa memotong tetesan hujan sebelum jatuh ke tanah.
Yang di kiri, tubuhnya pendek gempal, membawa rantai besi dengan bola besi berduri di ujungnya. Bayangan Bintang, bola besinya jika dilempar bisa berbelok di udara.
Yang di kanan, tubuhnya sedang, tidak membawa senjata apa pun, tapi kukunya panjang dan hitam. Bayangan Malam, kukunya mengandung Racun Mayat Hitam yang membuat orang membusuk dalam 3 hari.
Mereka bertiga berdiri membentuk segitiga, mengurung Hong Wei Jun dan Mu Chen.
Bayangan Bulan tertawa, suaranya seperti angin yang masuk ke dalam lubang tengkorak.
"Pengemis Utara Hong Wei Jun... dan bocah goni pemilik Kitab Tai Chu, Mu Chen... harga kalian... 10.000 tael emas untuk pengemis, 50.000 tael emas untuk bocah goni. Hidup atau mati. Kaisar sangat murah hati."
Hong Wei Jun tidak terlihat takut. Ia justru membuka labu araknya, minum seteguk, lalu menyodorkan labu itu pada Mu Chen.
"Bocah, lihat baik-baik. Ini adalah pelajaran kedua. 18 Tapak Penakluk Naga bukan untuk gaya-gayaan. Tapi untuk memukul anjing liar yang menghalangi jalan."
Mu Chen gemetar, bukan karena takut, tapi karena kitab Tai Chu di punggungnya semakin panas, dan 8 meridian terbaliknya berputar semakin kencang karena hawa membunuh dari tiga bayangan itu.
Hong Wei Jun meletakkan labu araknya di tanah, lalu mengangkat kedua telapak tangannya. Kali ini, tidak ada auman naga yang keras. Hanya suara dengungan pelan, seperti lebah raksasa.
"Tapak pertama yang kau tidak bisa... biar Guru tunjukkan sekali lagi. Kang Long You Hui!"
Ia mendorong pelan ke arah Bayangan Bulan.
Bayangan Bulan yang sombong dengan Qing Gong-nya mencoba menghindar dengan melayang ke atas. Tapi ia salah. Telapak itu terlihat pelan, tapi Qi naga-nya sudah mengunci bayangan. Angin telapak itu menariknya kembali.
DUAR!
Bayangan Bulan terpental 10 langkah, dua pedang bulan sabitnya patah, topeng hantunya retak, darah keluar dari mulutnya.
"Kau... kau... 18 Tapak..."
Hong Wei Jun sudah berada di depan Bayangan Bintang.
"Tapak kedua! Fei Long Zai Tian! Naga Terbang di Langit!"
Di tempat lain, jauh di timur, di Kota Suzhou yang ramai.
Di Kedai Arak Tiga Musim, kedai arak paling mahal di Jiangnan, di lantai dua yang sepi karena sudah dipesan seseorang.
Seorang pria berjubah biru langit bordir bunga persik duduk di dekat jendela, memainkan suling giok putih dengan malas, di depannya ada guci arak yang sudah kosong setengah. Huang Yuchen, Pemilik Pulau Bunga Persik.
Di depannya, seorang gadis manis 16 tahun dengan kuncir dua pita persik, Tao Yaoyao, sedang sibuk mengeluarkan bakpao dari keranjang bambu besarnya, satu per satu, menatanya di meja seperti menata pasukan.
"Guru, ini bakpao rasa bunga persik, ini bakpao rasa pasta kacang merah, ini bakpao rasa... rasa cinta Tao Yaoyao pada Guru!"
Huang Yuchen menutup telinganya. "Yaoyao, sudah kubilang, jangan berteriak 'Guru' di kedai arak. Orang-orang mengira aku menculik anak kecil."
Tao Yaoyao cemberut, pipinya menggembung seperti bakpaonya. "Tapi Guru memang menculikku! 2 tahun lalu Guru menculikku dari pantai!"
"Aku menyelamatkanmu, bodoh!"
Saat mereka berdebat, pintu kedai di lantai dua terbuka pelan.
Masuk tiga orang.
Bukan pendekar Wulin Putih. Pakaian mereka biasa, seperti pedagang, petani, dan tukang kayu. Tapi mata mereka... mata mereka mati. Tidak ada cahaya.
Tiga Pembunuh Bayaran dari Lembah Pisau Darah, Aliran Hitam nomor dua yang mendukung Istana.
Yang pertama, pedagang, tangannya selalu di dalam lengan baju, di mana tersembunyi Pisau Darah Pendek yang bisa memotong leher dalam sekejap.
Yang kedua, petani, memikul cangkul, tapi cangkul itu adalah Cangkul Pemotong Jiwa.
Yang ketiga, tukang kayu, membawa gergaji kayu, tapi gergaji itu adalah Gergaji Tulang yang pernah menggergaji 100 kepala Shaolin.
Mereka tidak menatap Huang Yuchen. Mereka menatap Tao Yaoyao.
Karena perintah Kaisar bukan hanya mencari pemilik Tai Chu, 9 Yang, 9 Yin, dan Zhuo Fan. Tapi juga... semua orang yang dekat dengan mereka. Termasuk calon Putri Pulau Bunga Persik.
Pedagang itu tersenyum pada Tao Yaoyao.
"Adik kecil, bakpaomu terlihat enak. Boleh kami minta satu?"
Tao Yaoyao yang polos mengangguk dengan gembira. "Boleh! Boleh! Bakpao Tao Yaoyao paling enak se-Jiangnan!"
Ia mengambil satu bakpao rasa bunga persik, memberikannya pada pedagang itu.
Saat pedagang itu mengulurkan tangan untuk mengambil bakpao, dari dalam lengan bajunya, Pisau Darah Pendek melesat, bukan ke arah Tao Yaoyao, tapi ke arah leher Huang Yuchen yang sedang minum arak!
Kecepatan pisau itu... bahkan Li Qingzhou dari 7 Bintang Jiangnan belum tentu bisa menghindar!
Tapi Huang Yuchen tidak menghindar.
Ia hanya menghela napas, dan memainkan satu nada pada sulingnya.
TING!
Nada itu... membuat pisau yang melesat di udara berhenti. Benar-benar berhenti, bergetar, lalu jatuh ke lantai dengan suara clang.
Tiga pembunuh bayaran itu terkejut. Mereka baru sadar, pria tampan yang sedang minum arak di depan gadis bakpao itu... bukan orang biasa.
Huang Yuchen menatap mereka, matanya yang indah kini dingin seperti es Danau Tai di musim dingin.
"Di Suzhou, di kedai arakku, kalian ingin membunuh muridku dengan pisau berdarah? Kalian tahu... sudah 15 tahun aku tidak membunuh orang Istana?"
Ia mengangkat suling giok putihnya, menempelkannya di bibirnya.
"Yaoyao, tutup telinga."
Tao Yaoyao yang masih memegang bakpao, langsung menutup telinganya dengan patuh, meski tidak mengerti.
Huang Yuchen memainkan satu lagu. Lagu yang indah, sangat indah, judulnya Bi Hai Chao Sheng Qu — Lagu Ombak Laut Biru.
Lagu yang 15 tahun lalu, ia dan Zhuo Fan ciptakan bersama di Danau Tai.
Dan saat lagu itu dimainkan, tiga pembunuh bayaran dari Lembah Pisau Darah itu... tiba-tiba memegang kepala mereka, berteriak kesakitan, darah keluar dari telinga, mata, hidung, dan mulut mereka. Mereka jatuh berlutut, lalu tergeletak, mati. Di wajah mereka masih ada ekspresi ketakutan mendengar musik terindah yang pernah mereka dengar.
Lagu itu selesai.
Huang Yuchen meletakkan sulingnya. Arak di dalam guci bergelombang karena getaran musik.
Tao Yaoyao membuka telinganya, melihat tiga orang tergeletak mati, tidak takut sama sekali, malah bertepuk tangan.
"Wah! Guru hebat! Mereka tidur karena lagu Guru! Seperti babi-babi di kandang!"
Huang Yuchen menatap ke arah barat, ke arah Huashan, ke arah Beijing yang jauh di utara.
"Yaoyao, sepertinya... Janji 7 Tahun kita tidak akan tenang. Kaisar sudah mulai berburu."
Ia mengambil satu bakpao, memakannya.
"Ayo, kita pergi ke Pulau Bunga Persik. Guru akan mengajarkanmu lagu yang baru saja Guru mainkan. Karena 7 tahun lagi, kau akan membutuhkannya untuk melindungi adik seperguruanmu yang bernama Mu Chen."
Tao Yaoyao mengangguk semangat, memikul keranjang bakpaonya yang masih penuh.
"Ya! Tao Yaoyao akan melindungi adik Mu Chen dengan bakpao dan lagu!"
Di dua tempat berbeda — di Desa Batu Kuning yang sepi dan di Kedai Arak Tiga Musim yang ramai — perburuan Kaisar telah dimulai.
Dan di Desa Batu Kuning, Hong Wei Jun baru saja menyelesaikan Tapak Kedua, dan Bayangan Bintang sudah tergeletak dengan bola besinya pecah.
Tersisa satu bayangan terakhir, Bayangan Malam, yang kukunya yang beracun kini gemetar.
Karena ia baru sadar, ia tidak sedang menghadapi pengemis. Ia sedang menghadapi naga.
Dan Mu Chen, yang melihat semua itu, akhirnya mengerti, apa itu 18 Tapak Penakluk Naga yang sebenarnya.
Bukan jurus untuk membunuh. Tapi jurus untuk melindungi.
Melindungi bocah goni seperti dirinya.