Miskin seumur hidup, ia bahkan harus mengakhiri hidupnya karena penyakit yang tak mampu ia obati.
Namun, ketika membuka mata, ia justru mendapati dirinya telah masuk ke dalam novel sebagai seorang wanita yang baru saja melompat dari sebuah gedung demi melarikan diri dari pernikahan perjodohan.
Seharusnya ia ikut kabur.
Tapi setelah mengetahui bahwa pria yang akan menjadi suaminya adalah seorang pewaris kaya raya, pikirannya berubah.
“Melarikan diri? Untuk apa? Bukankah lebih baik aku menikah dan hidup nyaman?”
Kini, ia bertekad mempertahankan pernikahan yang bahkan tidak diinginkan oleh pemilik tubuh asli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Malam itu, Elena duduk di tepi ranjang, membiarkan cahaya lampu kamar jatuh ke atas liontin hati yang baru saja diberikan Sebastian. Benda itu berkilau lembut di telapak tangannya.
Biasanya, hadiah semewah ini sudah cukup membuatnya bersorak bahagia namun kali ini, hatinya justru terasa berat, seolah ada batu kecil yang tertimbun di sana. Satu kalimat terus berputar tak henti di kepalanya: Satu tahun. Pernikahan ini punya batas waktu, ditetapkan oleh perjanjian lama antara dua keluarga kita.
Ia menjatuhkan tubuh ke kasur, menatap langit-langit dengan pandangan kosong. "Kenapa rasanya seperti aku masuk ke dalam kontrak bisnis, bukan pernikahan?" gumamnya pelan. Lalu ia menggeleng, berusaha menenangkan diri. "Tidak. Sebastian bilang dia tidak akan menceraikanku. Dia bilang dia menikahiku karena menginginkanku sebagai istrinya."
Wajahnya perlahan memerah mengingat kata-kata itu. Ia menutupi wajah dengan bantal. "Kenapa aku terus memikirkannya? Ini berbahaya."
Semakin lama ia bersama Sebastian, semakin sulit baginya melihat pria itu sekadar sebagai suami kaya yang menjamin hidup nyaman. Ada sesuatu yang jauh lebih dalam, sesuatu yang mulai ia takuti.
***
Keesokan paginya, Elena bangun dengan tekad bulat. Ia harus mencari tahu kebenarannya sendiri. Bukan karena tak percaya pada Sebastian, melainkan karena ia ingin bisa mempercayainya sepenuhnya. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dua belas tahun lalu, malam saat perjanjian itu ditandatangani.
Ia segera menghubungi Clara, mantan pelayan keluarga Arvienne, wanita yang paling dekat dengan mendiang ayahnya. Setelah beberapa kali percobaan, telepon akhirnya tersambung.
"Halo?" suara Clara terdengar ragu.
"Clara, ini Elena."
Hening sejenak. "Nona Elena?"
"Iya. Aku ingin bertanya tentang malam ayahku menandatangani perjanjian dengan keluarga Hale."
Napas Clara terdengar berat dan tidak tenang. "Dari mana Nona tahu soal itu?"
Jantung Elena berdebar. Jadi memang ada sesuatu. "Aku menemukan beberapa dokumen. Ceritakanlah, Clara."
"Saya tidak bisa, Nona. Seharusnya hal itu sudah selesai dan dilupakan."
"Tolong, setidaknya beri aku petunjuk."
Suara Clara merendah hingga hampir berbisik. "Cari pria yang berdiri di belakang Tuan Arvienne pada malam itu. Dia bukan bagian dari keluarga Hale."
Telepon terputus. Elena menatap layar ponsel yang gelap, bulu kuduknya meremang. Bukan keluarga Hale? Lalu siapa dia? Dan apa hubungannya dengan semua ini?
Di ruang rapat lantai tertinggi gedung Hale Group, Sebastian berdiri diam setelah pertemuan selesai. Asistennya menghampiri dengan wajah serius.
"Pak, kami menemukan nama yang berkaitan dengan perjanjian dua belas tahun lalu."
"Siapa?"
"Victor Armand."
Sebastian mengerutkan kening. "Armand?"
"Ya. Pengusaha yang dulu sempat bekerja sama dengan keluarga Hale, lalu bangkrut dan menghilang. Dan satu hal lagi, beliau pernah menjadi penasihat pribadi ayah Nyonya Elena. Dan hadir pada malam penandatanganan perjanjian itu."
Sebastian membeku. Potongan teka-teki mulai tersusun, namun gambaran yang terbentuk justru membuatnya semakin gelisah. "Cari dia. Segera."
Sementara itu, Elena sedang sibuk menelusuri tumpukan album foto lama di perpustakaan rumah. Satu per satu ia buka, mulai dari foto ulang tahun, liburan, acara keluarga namun tak ada yang ia cari. Hingga tangannya menyentuh sebuah album berwarna cokelat tua yang tersembunyi di sudut paling bawah.
Jantungnya berdegup kencang saat sebuah foto menarik perhatiannya. Di sana terlihat ayahnya berdiri bersama keluarga Hale. Dan di belakang mereka, berdiri seorang pria yang tak pernah ia kenal. Ia memperbesar foto itu menggunakan ponselnya. Wajahnya samar, tapi cukup jelas untuk dikenali. Di sudut bawah foto, terdapat inisial kecil: V.A.
"Victor Armand..." gumamnya pelan.
Tepat saat itu, suara pintu depan terbuka. Sebastian pulang.
...tp trus lanjuuut💪💪😘😘