NovelToon NovelToon
Untuk Wanita Yang Pernah Menyelamatkanku

Untuk Wanita Yang Pernah Menyelamatkanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Lidya Ribka pandiangan

Alex Christopher Nozer, CEO muda sekaligus pemimpin mafia paling ditakuti di London, tak pernah percaya pada cinta. Hidupnya hanya dipenuhi darah, kekuasaan, dan pengkhianatan. Namun segalanya berubah sejak seorang wanita asing berulang kali menolongnya tanpa mengetahui siapa dirinya. Lauren Valencia Varles, gadis sederhana yang berhati lembut, tanpa sadar menjadi satu-satunya cahaya di dunia kelam Alex. Ketika takdir kembali mempertemukan mereka di perusahaan milik Alex, obsesi mulai tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Di balik status tunangan hasil perjodohan dan musuh yang mengincar kekuasaannya, Alex bertekad memiliki Lauren dengan caranya sendiri. Di dunia mafia, cinta bukan tentang kebebasan, melainkan kepemilikan. Mampukah Lauren bertahan di sisi pria yang rela menghancurkan siapa pun demi melindunginya, atau justru ia akan terjebak menjadi Wanita Simpanan Sang Mafia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Ribka pandiangan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27. kekhwatiran

Ivy menutup pintu di belakangnya, buru-buru mengunci dan memasang rantai pengaman, baru kemudian menjatuhkan diri ke sofa, napasnya masih memburu.

Lauren bangkit perlahan dari sofa, meraih kruknya, melangkah dengan hati-hati menuju dapur untuk mengambilkan segelas air putih.

 Tangannya sendiri sedikit gemetar saat menuangkan air ke gelas, mendengar napas Ivy yang masih belum sepenuhnya teratur dari ruang tamu. Ia kembali dengan langkah pelan, menyerahkan gelas itu, lalu duduk di sofa yang sama. "Siapa yang kau maksud mengikuti?"

Ivy meneguk airnya, napasnya perlahan mulai teratur. "Ada mobil hitam yang terus mengikutiku dari halte bus sampai ke gang depan apartemen ini. Jalannya pelan sekali, seperti sengaja menyamai kecepatan langkahku. Tapi begitu aku berhenti dan menoleh ke belakang, mobil itu langsung berbelok dan menghilang."

"Kau lihat platnya? Atau warnanya?" tanya Lauren, mencoba tetap tenang meski dadanya sendiri ikut berdebar.

"Hitam, gelap sekali. Aku tidak sempat lihat platnya, terlalu gelap dan aku keburu panik," jawab Ivy, menggeleng pelan. "Mungkin aku memang cuma kelewat parno. Akhir-akhir ini banyak berita soal begal di daerah sini."

Lauren mengangguk, meski pikirannya sendiri langsung melompat ke telepon ancaman kemarin sore, ke rangkaian bunga lili yang masih tersimpan di dapur. Tapi ia menahan diri, tidak ingin membebani Ivy dengan kekhawatirannya sendiri malam ini.

"Mungkin memang cuma kebetulan," kata Lauren, mencoba terdengar meyakinkan, lebih untuk dirinya sendiri daripada untuk Ivy. "Kita kunci pintu baik-baik, periksa jendela juga. Lebih baik begitu daripada terus dipikirkan sampai tidak bisa tidur."

Ivy mengangguk, sedikit lebih tenang, menghela napas panjang. "Kau benar. Aku cuma kecapekan mungkin, jadi gampang parno."

Mereka berdua memeriksa setiap pintu dan jendela di apartemen kecil itu bersama-sama, memastikan semuanya terkunci rapat sebelum akhirnya kembali ke kamar masing-masing. Lauren berbaring di tempat tidurnya, menatap langit-langit kamar yang temaram, mencoba menenangkan pikirannya sendiri.

"Besok saja dipikirkan lagi," batinnya, menutup mata perlahan. "Sekarang aku cuma butuh tidur."

Perlahan, rasa lelah yang menumpuk sepanjang hari akhirnya menang, membawa Lauren jatuh ke dalam tidur yang lebih tenang dari yang ia duga.

*****

Keesokan paginya, di lantai tiga puluh delapan, Alex duduk di balik meja kerjanya, laptop menyala di hadapannya, tapi pikirannya sama sekali tidak fokus pada deretan email yang seharusnya ia balas sejak pagi.

Pintu diketuk, Sebastian masuk membawa jadwal hari itu. "Pak, rapat dengan tim legal jam sepuluh, lalu makan siang dengan investor Jerman jam satu."

"Tunda rapat legalnya ke besok," kata Alex singkat, tidak mendongak dari layarnya.

Sebastian mengerutkan kening, tidak biasa mendengar Alex menunda urusan sepenting itu tanpa alasan jelas. "Baik, Pak. Ada yang perlu saya siapkan sebagai gantinya?"

"Tidak. Aku hanya perlu waktu untuk beberapa hal lain pagi ini," jawab Alex, matanya masih menatap layar tanpa benar-benar membacanya.

Sebastian mengangguk, meski jelas penasaran, memilih untuk tidak bertanya lebih jauh, lalu keluar meninggalkan Alex sendirian di ruangannya yang sunyi.

Alex meraih ponselnya, membuka pesan singkat dari Damian yang masuk pagi tadi, laporan pendek soal pengamanan tambahan yang sudah dipasang di sekitar apartemen Lauren semalam. Ia membaca laporan itu berulang kali, mencoba menenangkan kegelisahan yang terus mengganjal sejak kemarin malam.

Tapi entah kenapa, firasat itu tidak juga hilang, sesuatu yang membisikkan bahwa ancaman yang mereka hadapi ini baru saja dimulai, dan langkah-langkah yang sudah mereka ambil sejauh ini mungkin belum cukup untuk benar-benar melindungi Lauren dari apa pun yang mengintai di luar sana.

Ia menutup laptopnya perlahan, memutuskan untuk menelepon Damian secara langsung, tidak ingin menunggu laporan tertulis lagi untuk memastikan semuanya benar-benar aman.

*****

Baru saja Alex hendak menekan tombol panggil di ponselnya, pintu ruang kerjanya diketuk pelan.

"Masuk," katanya, meletakkan ponsel itu kembali ke meja.

Pintu terbuka, dan Zara melangkah masuk, mengenakan setelan kerja rapi, membawa sebuah kotak kertas kecil di tangannya. "Pagi, Alex."

Alex berdiri dari kursinya, melangkah mengelilingi meja untuk menyambutnya. Zara mendekat, memeluknya sebentar seperti kebiasaan mereka setiap kali bertemu, pelukan singkat yang sudah menjadi rutinitas formal di antara mereka berdua. Alex membalasnya sewajarnya, tangannya menepuk pelan punggung Zara sebelum melepaskan diri.

"Aku bawa ini," kata Zara, menyerahkan kotak kertas itu. "Scone dan clotted cream dari toko dekat rumahku. Aku ingat kau suka yang ini."

"Terima kasih," jawab Alex, menerima kotak itu, meletakkannya di meja tanpa langsung membukanya. "Tumben mampir sepagi ini."

"Aku mau ke galeri pameran seni jam sembilan nanti, bareng Camilla, Beatrice, dan Sophie," jawab Zara, duduk sejenak di kursi tamu, merapikan roknya. "Kantormu searah, jadi aku pikir sekalian mampir sebentar."

"Bagaimana keadaanmu?" tanya Alex, kembali duduk di kursinya sendiri, suaranya tetap datar meski ada sedikit kelembutan yang jarang ia tunjukkan kepada orang lain selain Zara.

"Baik-baik saja. Cuma sedikit lelah dengan urusan keluarga belakangan ini," jawab Zara, tersenyum tipis, tidak menjelaskan lebih jauh soal tekanan dari ayahnya. "Kau sendiri? Kelihatan agak tegang pagi ini."

"Banyak urusan kerja," jawab Alex singkat, tidak berniat menjelaskan lebih jauh soal Gregor, soal Lauren, soal semua kekhawatiran yang mengganjal pikirannya sejak semalam.

Zara tidak tahu apa pun soal itu, dan Alex tidak berniat mengubah keadaan itu untuk saat ini.

"Kau selalu bilang begitu," kata Zara, tertawa kecil, tidak mendesak lebih jauh. Ia melirik jam tangannya, lalu berdiri. "Aku harus segera pergi, sudah janji sama yang lain. Jangan lupa makan scone-nya sebelum dingin."

"Akan kucoba," jawab Alex, ikut berdiri, mengantarnya sampai ke pintu.

Zara berhenti sejenak di ambang pintu, menoleh ke arah Alex. "Jaga dirimu. Jangan terlalu banyak bekerja."

"Kau juga," jawab Alex, nadanya tetap tenang meski tidak sepenuhnya hangat.

Zara tersenyum sekali lagi sebelum melangkah pergi, meninggalkan Alex sendirian di ruangannya, kotak scone masih tergeletak belum tersentuh di meja, pikirannya kembali sepenuhnya pada satu nama yang sejak semalam terus mengganggu ketenangannya.

*****

Di apartemen kecil Camden, Lauren duduk di sofa ruang tamu, kakinya yang masih dibalut perban ia periksa sekali lagi, mencoba menggerakkan pergelangan kakinya perlahan. Rasa sakitnya sudah jauh berkurang dibanding dua hari lalu, tapi masih terasa nyeri setiap kali ia menumpukan berat badan terlalu banyak di sisi itu.

Ivy muncul dari dapur, membawa dua cangkir teh hangat. "Bagaimana kakinya hari ini?"

"Sudah lebih baik," jawab Lauren, menerima cangkir itu dengan senyum tipis. "Masih agak bengkak, tapi tidak sesakit kemarin."

"Kau yakin tidak perlu periksa ke rumah sakit?" tanya Ivy, duduk di sofa seberang, menatapnya dengan raut khawatir yang belum sepenuhnya hilang sejak kejadian semalam.

"Belum perlu," jawab Lauren, menggeleng pelan. "Kalau besok masih bengkak seperti ini, baru aku akan periksa. Untuk sekarang, aku rasa istirahat saja sudah cukup membantu."

Ivy menghela napas, tidak sepenuhnya setuju tapi memilih tidak memaksa. "Baiklah, tapi jangan dipaksakan kalau memang masih sakit. Aku bisa antar kau kapan saja kalau berubah pikiran."

"Terima kasih," kata Lauren, menyesap tehnya perlahan, mencoba menikmati ketenangan pagi ini setelah malam yang penuh kekhawatiran.

Pikirannya sesekali melayang ke mobil hitam yang diceritakan Ivy semalam, tapi ia menepisnya, memilih percaya bahwa itu memang hanya kebetulan biasa, tidak ada hubungannya dengan apa pun yang sedang terjadi dalam hidupnya belakangan ini.

*****

Di sebuah ruangan sempit di lantai atas sebuah bangunan tua, salah satu anak buah Gregor duduk di depan laptop, menggeser beberapa foto hasil pengintaian semalam. Salah satu foto menampilkan Lauren, berjalan pelan keluar dari gedung Nozer Holdings dengan bantuan kruk, wajahnya sedikit meringis menahan sakit.

Gregor melangkah mendekat, menatap layar itu lekat, sudut bibirnya tertarik membentuk seringai tipis yang dingin.

"Jadi ini dia," gumamnya pelan, matanya tidak lepas dari foto Lauren di layar.

1
Chenyu Wang
crita nya bagus saya baru baca separuh tapi udah langsung sreg.. lanjutin sampe tamat ya..🙏🙏
Chenyu Wang: sama2..🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!