NovelToon NovelToon
Sistem Ayah Level Dewa

Sistem Ayah Level Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Kaya Raya / Bapak rumah tangga
Popularitas:16k
Nilai: 5
Nama Author: Surya Mandala

"Arya Pratama adalah mahasiswa miskin yang hidup pas-pasan. Satu-satunya kebanggaannya adalah Kirana, pacar tercantik di kampus.

Namun segalanya hancur saat Kirana datang dengan kabar: ""Aku hamil."" Keluarga Kirana yang kaya raya menghina dan mengusirnya.

Dunia Arya runtuh—hingga sebuah sistem misterius aktif di kepalanya: [Sistem Ayah Level Dewa]. Setiap langkah tanggung jawabnya sebagai ayah diganjar hadiah luar biasa: uang miliaran, saham, teknologi canggih.

Kini Arya berjuang melawan preman, fitnah, dan musuh politik, sambil membangun kerajaan bisnis. Bisakah ia membuktikan bahwa menjadi ayah muda bukanlah akhir—melainkan awal dari segalanya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 023 - Hadiah Wisuda

Pukul enam pagi, ponsel Arya bergetar tanpa henti.

Ia membuka mata.

Kirana masih tidur di sampingnya, satu tangan di perut. Arya mengambil ponsel dengan hati-hati dan berjalan ke ruang kerja.

Panel sistem muncul sebelum ia duduk.

Warnanya emas penuh.

【Hadiah wisuda sedang dikirim.】

【Kategori: tonggak identitas dewasa.】

【Hadiah utama: PT Surya Teknologi.】

Arya duduk tegak.

Baris berikutnya muncul.

【Status perusahaan: terdaftar dan beroperasi.】

【Bidang: solusi teknologi informasi, perangkat lunak, sistem logistik, dan integrasi data.】

【Modal tercatat: Rp 50.000.000.000.】

【Karyawan aktif: 127 orang.】

【Kantor pusat: Gedung Surya Teknologi, Surabaya CBD.】

【Jabatan host: Direktur Utama.】

Arya membaca ulang tiga kali.

Lima puluh miliar.

Seratus dua puluh tujuh karyawan.

Sebuah perusahaan.

Kemarin ia masih menerima ijazah. Hari ini ia menjadi CEO.

Kirana muncul di pintu kamar dengan rambut berantakan.

"Kenapa wajahmu seperti lihat hantu?"

Arya menoleh pelan.

"Sistem memberi hadiah."

"Uang lagi?"

"Perusahaan."

Kirana mengedip.

"Perusahaan?"

"PT Surya Teknologi."

Sari yang menginap di kamar tamu keluar sambil membawa gelas.

"Aku baru bangun. Tolong ulangi bagian gila itu."

Arya menunjukkan panel yang hanya bisa ia lihat, lalu sadar percuma. Ia membuka email masuk. Ada dokumen legal, surat keputusan pemegang saham, akses rekening perusahaan, laporan operasional, dan jadwal pertemuan dengan general manager.

Sari membaca subjek email dari layar.

"Pak Direktur Utama Arya Pratama..."

Ia menatap Arya.

"Oke. Ini nyata. Sangat gila, tapi nyata."

Arya langsung mengangkat alis.

Sari mengangkat tangan. "Maaf. Aku tarik kata itu. Aku panik."

Kirana duduk pelan.

"Kamu harus pergi?"

"Pagi ini. Ada Pak Budi Santoso, general manager. Dia sudah menunggu."

Kirana mengusap perut.

"Pergi. Tapi pulang sebelum makan malam."

"Aku janji."

"Dan kabari kalau ada masalah."

"Aku kabari."

Arya memakai kemeja putih, jas gelap, dan jam tangan sederhana. Ia memilih Mercedes. Untuk hari pertama sebagai direktur, ia perlu tampak tenang.

Surabaya CBD ramai. Gedung Surya Teknologi berdiri di antara kantor bank dan hotel bisnis. Delapan belas lantai kaca, logo emas di bagian atas, dan tulisan PT SURYA TEKNOLOGI di pintu masuk.

Arya berhenti di trotoar.

Selama beberapa detik, ia hanya menatap gedung itu.

Ini berbeda dari apartemen hadiah.

Ini mesin hidup.

Di dalamnya ada gaji orang, kontrak klien, pajak, risiko, dan kemungkinan masalah.

Ia masuk.

Satpam langsung berdiri.

"Selamat pagi, Pak Direktur."

Resepsionis ikut berdiri. "Selamat pagi, Pak Arya."

Kalimat itu menghantamnya lebih keras dari notifikasi sistem.

Pak Direktur.

Arya mengangguk.

"Selamat pagi."

Beberapa karyawan di lobby berbisik pelan.

"Itu direktur baru?"

"Muda sekali."

"Katanya baru wisuda."

Arya mendengar semuanya.

Ia tidak memperlambat langkah.

Di dunia kampus, orang berbisik tentang perut Kirana. Di gedung ini, orang berbisik tentang usianya. Bentuknya beda, rasanya sama: orang menilai sebelum melihat kerja.

Baik.

Ia akan memberi mereka kerja.

Seorang pria berusia empat puluhan berjalan cepat dari area lift. Rambutnya rapi, kemejanya putih, matanya tajam namun lelah.

"Pak Arya Pratama?"

"Iya."

"Saya Budi Santoso. General manager operasional. Selamat datang di PT Surya Teknologi."

Mereka berjabat tangan.

Genggaman Pak Budi kuat.

"Semua dokumen dasar sudah saya siapkan. Dewan administrasi juga sudah menerima perubahan kepemilikan. Mohon ikut saya."

Lift naik ke lantai delapan belas.

Pak Budi menjelaskan cepat.

"Perusahaan punya empat divisi utama: software development, integrasi sistem, support klien, dan sales enterprise. Klien aktif ada tiga puluh dua. Kontrak terbesar dengan dua jaringan gudang dan satu perusahaan distribusi pangan."

Arya mendengarkan sambil mencatat.

Panel sistem memberikan ringkasan kecil di sisi pandangannya.

【Pendapatan stabil. Margin menurun. Biaya vendor meningkat tidak wajar.】

Pintu lift terbuka.

Kantor CEO luas, tapi Arya tidak berhenti lama. Ia meminta langsung berkeliling.

R&D di lantai dua belas.

Para engineer berdiri canggung.

Arya melihat papan sprint, bug list, dan prototipe dashboard logistik.

"Siapa lead backend?"

Seorang pria muda mengangkat tangan. "Saya, Pak. Nama saya Andi."

"Stack utama?"

"Node, PostgreSQL, Redis, beberapa modul Python untuk forecasting."

Arya mengangguk.

"Nanti saya ingin lihat dokumentasi API dan backlog teknis."

Andi tampak kaget. "Baik, Pak."

Di lantai sales, beberapa orang tersenyum terlalu lebar. Di support klien, wajah karyawan lebih jujur: lelah, sibuk, dan sedikit berharap.

Di lantai finance, pintu tertutup lebih lama sebelum dibuka.

Seorang pria berusia empat puluhan keluar dengan senyum licin.

"Pak Arya. Saya Herman Wijaya, finance director. Selamat datang. Kami semua sangat senang akhirnya punya pemilik muda yang visioner."

Kalimatnya manis.

Matanya menghitung.

Arya menjabat tangannya.

"Terima kasih, Pak Herman. Saya akan membutuhkan laporan keuangan tiga tahun terakhir, daftar vendor, kas kecil, kontrak konsultan, dan mutasi rekening perusahaan."

Senyum Herman berhenti sepersekian detik.

"Tentu, Pak. Mungkin butuh waktu."

"Jam dua siang cukup?"

"Hari ini?"

"Iya."

Pak Budi menunduk sedikit, menahan reaksi.

Herman tertawa halus.

"Bisa kami usahakan."

"Terima kasih."

Saat mereka meninggalkan lantai finance, panel sistem menyala lebih tajam.

【Peringatan: pola anomali keuangan terdeteksi.】

【Vendor berulang dengan harga tidak wajar.】

【Pembayaran konsultan tanpa output jelas.】

【Rekomendasi: audit tiga tahun.】

Arya tidak berhenti berjalan.

Di ruang rapat kecil, Pak Budi menutup pintu.

"Pak Arya, saya tahu ini hari pertama. Saya seharusnya menyambut Bapak dengan laporan positif."

"Lanjutkan."

Pak Budi menarik napas.

"Perusahaan ini punya produk bagus dan klien setia. Tapi dua tahun terakhir ada kebocoran. Saya tidak punya akses penuh ke finance. Setiap kali saya tanya, Herman bilang semua atas persetujuan pemilik lama."

"Anda punya bukti?"

"Sebagian. Email, selisih invoice, vendor yang alamatnya sama dengan rumah saudara Herman. Saya simpan karena takut salah langkah."

Arya menatapnya lebih tajam.

"Kenapa berani bicara sekarang?"

Pak Budi menjawab tanpa menghindar.

"Karena Bapak tadi meminta laporan dalam empat jam. Orang yang datang untuk main-main tidak melakukan itu."

Arya membuka laptop.

"Kirim semua ke saya. Hari ini."

"Baik, Pak."

Pak Budi berdiri, lalu ragu.

"Ada satu hal lagi."

"Apa?"

"Herman Wijaya belakangan sering bertemu orang Hartono Group. Saya belum tahu urusannya. Setelah Bapak masuk, informasi itu terasa penting."

Nama Hartono membuat ruangan terasa lebih sempit.

Panel sistem muncul.

【Misi utama diperbarui.】

【Bangun sumber kekuatan ekonomi yang sah sebelum kelahiran kembar.】

【Sub-misi pertama: bersihkan PT Surya Teknologi dari anomali internal.】

Arya menatap Pak Budi.

"Mulai sekarang, semua data lewat jalur saya."

"Siap, Pak Direktur."

Ponsel Arya bergetar.

Pesan dari Kirana.

Sudah jadi CEO sungguhan?

Arya membalas: Sepertinya iya.

Kirana: Jangan lupa makan siang, Pak Direktur.

Arya melihat pesan itu dan hampir tertawa di tengah ruang rapat.

Ia membalas: Siap, Bu Direktur Rumah.

Kirana mengirim foto perutnya dengan caption pendek.

Dua komisaris kecil menunggu laporan.

Arya menyimpan ponsel.

Satu pesan itu mengingatkannya pada alasan ia berada di gedung ini.

Untuk pertama kalinya, panggilan itu tidak terasa asing.

Arya berdiri di depan jendela kantor CEO.

Surabaya terbentang di bawah.

Kemarin ia lulus.

Hari ini ia punya perusahaan.

Dan di dalam perusahaan itu, sudah ada musuh yang menunggu dibuka.

1
Ria Gazali Dapson
kirana bnyak tanya ya, udh untung arya mo tanggung jawab, dg fasilitas wow , ga da rasa syukur nya ,cuma penasaran⁹ doang , liatin ja dulu , bersama dg waktu akn mnjawab semua , karena suatu anugerah, sedang tercurah k arya
Maulana Sejati
buruk
Maulana Sejati
ni yg nggak masuk akal, punya sistem,sdh tau ada ancaman tpi trnyata msh dbuat cerita yg bgini...prettt
penggemar_Uangkecil?!
👍👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
sitanggang
gak seru, kok system org Lain ad yg tau🤣🤣🤣🤣🤣
σяιмσтσ (^• . •^)
.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!