NovelToon NovelToon
Lima Tahun Dipenjara, Kini Seluruh Keluarga Berlutut

Lima Tahun Dipenjara, Kini Seluruh Keluarga Berlutut

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Putri asli/palsu / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:28.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vira Dusk

Lima tahun dipenjara. Enam puluh bulan tanpa satu pun kunjungan.

Keira Pratama keluar dengan kaki pincang, ginjal yang hilang, dan hati yang sudah membeku. Dia putri kandung keluarga konglomerat Pratama, tetapi sejak kecil dibuang ke panti asuhan, sementara Vanessa, anak orang lain, dimanjakan sebagai putri kesayangan.

Dulu, Vanessa mendorong seseorang dari tangga, tetapi Keira yang dipenjara. Mama-nya menghapus CCTV. Papa-nya menyuruhnya diam. Lucas, pria yang pernah dia cintai, justru menjadi orang yang mengirimnya ke balik jeruji.

Namun Keira yang kembali bukan lagi gadis penurut.

Saat rahasia mulai terbongkar, keluarga yang dulu membuangnya satu per satu hancur oleh penyesalan. Dan di saat semua orang meninggalkannya, Rayhan Hartono, pewaris Hartono Group, diam-diam berdiri di sisinya.

Kini mereka semua berlutut di bawah hujan.

Tapi bagi Keira, satu hal tetap belum terjawab: **apakah penyesalan mereka datang terlambat?**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 6

Tulang yang Hancur

Dokter Ryan Lukas tiba pukul tujuh pagi dengan koper medis dan wajah yang sama seriusnya dengan nada Kevin di telepon.

Keira sudah terbangun ketika ia masuk ke kamar. Ia duduk bersandar, selimut menutupi kaki sampai mata kaki. Amplop Rp 500 ribu masih berada di bawah telapak tangannya.

"Keira," sapa Ryan. "Aku Ryan, kakak Lucas. Kevin memintaku memeriksa kakimu. Tapi aku hanya akan melakukannya kalau kamu setuju."

Nama Lucas membuat jari Keira menegang.

"Ko Ryan tidak perlu datang."

"Aku datang sebagai dokter, bukan sebagai kakaknya." Ryan meletakkan koper tanpa mendekat. "Kamu boleh menyuruhku berhenti kapan saja."

Keira menatap Kevin di dekat jendela. Kakaknya tidak memaksa. Ia hanya berdiri dengan mata merah karena tidak tidur.

Setelah beberapa detik, Keira menarik selimut sedikit.

"Periksa."

Ryan mengenakan sarung tangan. Setiap kali hendak menyentuh, ia menyebutkan bagian dan menunggu anggukan. Ia memeriksa gerak lutut, suhu kulit, denyut di pergelangan kaki, lalu meminta Keira menggerakkan jari-jari kakinya.

Keira tidak bersuara ketika rasa sakit datang. Hanya rahangnya yang mengeras.

"Aku membawa alat radiografi portabel," kata Ryan. "Gambarnya masuk ke tablet. Tidak perlu membawamu ke rumah sakit pagi ini."

Beberapa menit setelah pemindaian, citra tulang muncul di layar. Ryan memperbesarnya, lalu diam terlalu lama.

Kevin mendekat. "Seberapa parah?"

Ryan menunjuk garis-garis bekas patahan yang telah dipenuhi kalus. "Ini fraktur kominutif. Bukan jatuh biasa. Ada beberapa titik benturan."

"Berapa?"

"Enam."

Suara pendingin udara tiba-tiba terdengar sangat keras.

Ryan menatap Keira. "Seperti dipukul dengan tongkat sampai patah enam kali. Tulangnya tidak dikembalikan ke posisi yang benar. Ia dibiarkan menyatu dalam keadaan bergeser, kemungkinan sekitar tiga bulan."

Kevin memegang sandaran kursi. "Bisa diperbaiki?"

"Operasi rekonstruksi mungkin membantu nyeri dan fungsi, tapi bentuknya tidak akan pulih sempurna. Ada kerusakan saraf dan penyusutan otot. Aku harus melakukan pemeriksaan lengkap sebelum memberi prognosis."

"Jadi permanen?"

Ryan tidak menjawab langsung. Tatapannya sudah cukup.

Ia menyimpan citra itu ke rekam medis terenkripsi, lalu menulis rujukan pemeriksaan saraf dan rehabilitasi. "Untuk hari ini, jangan paksa kaki kiri menahan beban. Bahkan satu kali jatuh bisa menambah kerusakan."

Kevin berbalik kepada Keira. "Di mana ini terjadi?"

Keira menurunkan selimut. "Sudah selesai."

"Kei, enam tulangmu dihancurkan."

"Enam puluh bulan aku tidak punya keluarga. Tidak perlu mulai berpura-pura sekarang."

Ryan melepas sarung tangan. "Aku tidak akan memaksamu bercerita. Tapi luka seperti ini harus dicatat. Kalau terjadi di lapas, ini perkara pidana."

Keira memandang lurus ke depan.

Kevin keluar kamar dan langsung menghubungi Sekretaris Nia.

"Aku mau semua catatan Keira di Lapas Perempuan Tangerang," katanya. "Petugas blok, catatan klinik, transfer uang, nama pengunjung, semua. Hari ini."

"Baik, Pak Kevin."

"Jangan beri tahu Papa."

Menjelang sore, Sekretaris Nia datang membawa map hitam ke ruang kerja Edmond yang sedang kosong. Kevin menutup pintu dan menerima laporan itu dengan kedua tangan.

Nia tetap berdiri. Wajahnya lebih pucat daripada biasanya.

"Apa yang kamu temukan?" tanya Kevin.

"Catatan resminya sangat sedikit, Pak. Tapi kami menemukan tiga mantan petugas dan dua napi yang sudah bebas. Kesaksian mereka konsisten."

Kevin membuka halaman pertama.

Foto-foto bekas luka Keira yang diambil diam-diam oleh salah satu napi memenuhi lembar berikutnya. Kevin membaliknya sekali, lalu tidak sanggup melihat lebih lama.

"Bacakan."

Nia menarik napas. "Nona Keira dipukuli secara berkala. Dipaksa minum air toilet, berlutut berjam-jam, dan ditusuk jarum ketika menolak mengakui bahwa ia mendorong Nona Evelyn. Pada tahun ketiga, enam tongkat digunakan untuk memukul kaki kirinya."

Kertas di tangan Kevin bergetar.

"Siapa?"

"Para napi menerima perintah melalui petugas. Aliran uangnya berasal dari beberapa rekening perantara. Total satu miliar rupiah."

"Siapa yang membayar?"

Sekretaris Nia meletakkan satu lembar bukti transfer di meja.

"Daniel Adiputra."

Kevin membaca nama itu dua kali.

"Pewaris Adiputra Corporation?"

"Ya, Pak. Adik perempuannya adalah Evelyn Adiputra, korban dalam kasus lima tahun lalu."

Kevin berdiri begitu cepat hingga kursinya terdorong ke belakang.

"Batalkan semua kontrak Pratama Group dengan Adiputra Corporation. Hentikan proyek bersama, bekukan pembayaran yang masih bisa ditahan secara legal, dan minta tim hukum meninjau gugatan."

Nia terkejut. "Nilai kerja sama aktif kita cukup besar, Pak."

"Aku tidak peduli."

Pintu ruang kerja terbuka.

Edmond berdiri di sana. "Kamu tidak peduli pada miliaran rupiah milik perusahaan?"

Kevin menutup map. "Daniel Adiputra membayar orang untuk menyiksa Keira di lapas."

"Dia membalas apa yang terjadi pada adiknya."

Jawaban yang keluar tanpa jeda membuat dada Kevin terasa kosong.

"Keira dipukul sampai kakinya hancur."

"Kalau dia tidak mendorong Evelyn, semua itu tidak akan terjadi."

"Kita bahkan tidak pernah memeriksa CCTV!"

"Jangan membatalkan kontrak hanya karena kamu tiba-tiba merasa bersalah." Edmond mengambil map dari meja, tetapi Kevin menahannya. "Di mana Keira sekarang?"

Kevin tidak menjawab.

Edmond melihat koper medis Ryan di koridor, lalu berjalan cepat menuju kamar Kevin. Ketika pintu dibuka, Keira sedang tidur karena obat nyeri ringan yang diberikan Ryan.

Wajah Edmond berubah merah.

"Kamu tidur di kamar kakakmu?"

Keira terbangun dan berusaha duduk. "Aku tidak memilih berada di sini."

"Tidak tahu malu. Baru kembali sudah mengambil kamar orang lain."

Edmond mencengkeram lengannya dan menarik.

Kaki Keira belum menyentuh lantai dengan benar ketika tubuhnya jatuh di sisi ranjang. Bahunya menghantam karpet tebal. Rasa sakit menjalar dari pinggang ke lutut.

"Papa!"

Kevin mendorong tangan ayahnya menjauh, lalu berlutut di samping Keira. Ia tidak langsung menyentuh. "Kei, boleh aku membantumu?"

Keira mengangguk kecil.

Baru setelah itu Kevin menopang bahunya.

Edmond mencibir. "Sekarang kamu membelanya? Karena beberapa foto dari penjara?"

"Karena dia adikku."

"Dia seorang narapidana. Jangan lupa itu."

Kevin berdiri menghadapi ayahnya. "Dan Papa adalah ayahnya. Papa juga lupa?"

Rahang Edmond mengeras. "Anak yang membuat keluarga malu tidak berhak menuntut apa pun."

"Dia bahkan tidak menuntut. Dia cuma ingin pergi. Kita yang menahannya."

"Dia tidak akan pergi sebelum memperbaiki kerusakan yang dibuatnya."

Edmond membungkuk, meraih lengan Keira lagi. Kevin menahan pergelangan tangannya.

Keduanya saling menatap. Untuk pertama kalinya, Kevin tidak mundur.

"Jangan sentuh dia lagi," katanya.

"Kamu berani mengaturku di rumahku sendiri?"

"Kalau Papa menariknya sekali lagi, aku akan membawa laporan Ryan dan laporan Nia ke polisi malam ini."

Keheningan jatuh di antara mereka.

Edmond melepaskan lengannya, tetapi hanya untuk menunjuk Keira.

"Besok kamu harus ke rumah sakit, berlutut di depan Evelyn, dan minta maaf."

Keira menatap mata dingin lelaki itu.

Saat itulah ia akhirnya mengerti. Edmond tidak pernah melihatnya sebagai anak. Hanya sebuah tubuh yang harus patuh ketika keluarga membutuhkannya.

1
Intan Marliah
mewekkk banget... ceritanya disusun seepik ini.
Iba Sa Iba Daud
apa ginjal tu tuk bokapnya ato evelyn
Iba Sa Iba Daud
Kluarga bangat iblis... si kevin ni ga bs apa" klo udh depan bokapny.. bilang priksa CCTV tp bentakn bokap diam..
Iba Sa Iba Daud
sungguh orgtua yg pling kejam.. tunggu sj katmamu tua bngka
Iba Sa Iba Daud
kavin klo lo sayg kaira cari tau ksuus 5 thn llu dn sobeknya baju adk tiri manja lo tu
Rina Arie
good book
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!