NovelToon NovelToon
Aversion To You

Aversion To You

Status: tamat
Genre:Angst / Dark Romance / Cintapertama / Tamat
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Pernikahan Aurora dengan Jonathan Carser—menjadi neraka saat ia menjadi korban pengkhianatan dan manipulasi.

Puncaknya, ia dipaksa menghadapi keraguan sang suami atas bayi laki-laki nya yang terlahir dengan paras begitu mirip dengan mantan kekasih masa lalunya, Braxley Valerio-Desmon.

Ketika kebenaran mulai terkuak dan Jonathan semakin brutal meluapkan amarahnya, Siapkah Aurora menghadapi kenyataan pahit, menerima kebenaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

033

Keheningan malam yang pekat menyelimuti Mansion Valerio-Desmon saat jarum jam dinding bergeser tepat menunjukkan pukul tiga pagi. Angin malam yang dingin menyusup samar melalui celah jendela kamar tamu yang tertutup rapat, membawa aroma embun subuh yang menembus kehangatan di dalam ruangan.

Di atas ranjang king-size yang berantakan, Lynzzie terbangun. Manik matanya perlahan terbuka, menatap langit-langit kamar yang remang. Rasa pegal dan hangat sisa penyatuan panas mereka beberapa jam lalu masih menyelimuti seluruh tubuhnya. Namun, kesadarannya yang berangsur pulih membawa gelombang ketakutan yang mendadak.

Ia memiringkan kepala dan mendapati lengan tegap Draco masih melingkar erat di pinggangnya. Pria itu tertidur pulas dengan wajah tenang—sebuah pemandangan langka yang memperlihatkan sisi rapuh sang pangeran Desmon tanpa topeng keangkuhannya.

Dengan hati-hati, Lynzzie menggerakkan tangannya, menepuk pelan bahu tegap Draco.

"Hey... bangun, sudah jam tiga pagi. Kembali ke kamarmu," bisik Lynzzie parau, suaranya sarat akan kepanikan yang tertahan. Jika ada pelayan yang terbangun lebih awal atau jika Celestia keluar kamar dan melihat Draco keluar dari kamar ini saat subuh, semua kenyamanan palsu ini akan hancur berantakan.

Draco tidak membuka matanya. Ia justru mempererat pelukannya di pinggang Lynzzie, menyembunyikan wajah tampannya di leher mulus gadis itu dan menghirup aroma vanilla khas yang selalu membuatnya tenang.

"Aku masih mengantuk, Sayang..." gumam Draco dengan suara serak khas bangun tidur. Tone suaranya begitu rendah dan manja, sangat bertolak belakang dengan citra iblis yang melekat padanya di kampus.

Lynzzie mendesah frustrasi, mencoba mendorong chest tegap pria itu. "Kumohon... aku belum ingin mati, Sialan. Ayo bangun—"

Gerakan dan gumaman Draco seketika terhenti.

Mata cokelat gelap pria itu terbuka lebar. Kelopak matanya yang tajam menatap lurus ke dalam iris Lynzzie dengan pendar kegelapan yang pekat.

Dalam hitungan detik, aura manja itu menguap, berganti dengan dominasi yang menuntut. Draco mencengkeram rahang Lynzzie dengan lembut namun tegas, mengunci pergerakan gadis itu.

"Ulangi!" perintah Draco dingin, suaranya pelan namun menusuk hingga ke dasar dada. "Kubilang ulangi!"

Lynzzie menahan napasnya, terkejut oleh perubahan atmosfer yang begitu mendadak. "Apa? Ulangi yang mana?" tanya Lynzzie bingung bercampur takut.

Draco memajukan wajahnya hingga napas hangat mereka beradu di udara subuh yang dingin. "Aku tidak suka kau menggunakan bahasa sampah seperti itu di depanku. Panggil aku 'Sayang', atau 'Suami' saja. Lupakan kata brengsek dan kata sialan itu. Aku benci kata-kata itu."

Lynzzie terdiam seribu bahasa. Tenggorokannya terasa tersumbat gumpalan emosi yang tak bisa ia jelaskan.

Tatapan mata Draco malam ini tidak lagi menyiratkan ancaman tentang video atau rahasia masa lalu. Ada batas ketegasan yang aneh—sebuah tuntutan penghormatan dari seorang pria yang ingin dianggap utuh oleh wanita yang dicintainya. Lynzzie tidak berani menjawab.

Di bawah intimidasi rasa hangat yang aneh itu, ia hanya bisa mengangguk pelan.

Melihat anggukan itu, cengkeraman Draco melunak. Pria itu akhirnya bergeser, membiarkan Lynzzie duduk di tepi ranjang.

Dengan jemari yang sedikit gemetar karena sisa adrenalin dan kelelahan fisik, Lynzzie meraih gaun tidurnya dan memakainya kembali dengan terburu-buru. Setelah merapikan pakaiannya, ia berbalik, mengambil celana bahan dan kemeja milik Draco yang berserakan di lantai marmer, lalu menyodorkannya pada pria itu.

"Pakai dan segera keluar," bisik Lynzzie lirih, menghindari kontak mata langsung.

Draco menerima pakaiannya tanpa memprotes. Ia berdiri tegap, mengenakan celana dan kemejanya dengan gerakan anggun dan tenang yang alami. Setelah kancing kemejanya terpasang rapi, Draco tidak langsung melangkah menuju pintu. Pria itu mendekati Lynzzie yang berdiri mematung di samping meja kecil.

Tanpa peringatan, Draco meraih dagu Lynzzie, menegakkan wajah gadis itu, lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat dan dalam di bibirnya. Sebuah ciuman yang tidak lagi membawa pendar gairah liar, melainkan sebuah kepastian yang menenangkan.

"Aku mencintaimu," bisik Draco tepat di depan bibir Lynzzie. Suaranya terdengar begitu jernih, mengikis seluruh keraguan yang bertumpuk selama bertahun-tahun. "Dan jangan lupa... kau kekasihku. Bersikap manislah mulai pagi ini."

Draco menyunggingkan senyum tipis yang amat tampan—senyuman tulus yang sangat jarang ia tunjukkan pada dunia.

"Cup."

Satu kecupan singkat kembali mendarat di dahi Lynzzie.

"Aku pergi," ujar Draco singkat.

Pria itu berbalik, memutar kunci pintu tanpa menimbulkan suara berisik, lalu menyelinap keluar menyusuri koridor yang remang, menghilang di balik kegelapan lorong mansion.

Pintu kamar kembali tertutup rapat. Keheningan subuh menyergap ruangan itu sekali lagi.

Lynzzie berdiri terpaku di tempatnya. Tubuhnya terasa begitu ringan sekaligus berat di saat yang bersamaan. Kata-kata yang baru saja diucapkan Draco—Aku mencintaimu... Kau kekasihku—bergema tanpa henti di dalam kepalanya, memicu getaran hebat di dalam dadanya.

Setetes air mata yang hangat dan bening lolos dari sudut matanya, meluncur perlahan menyusuri pipinya yang polos. Itu bukan lagi air mata ketakutan atau rasa hina karena diancam. Itu adalah air mata dari sebuah benteng pertahanan yang akhirnya runtuh sepenuhnya.

Di tengah lelehan air mata itu, perlahan-lahan, sebuah senyuman mekar di bibir Lynzzie. Senyuman pertama yang paling tulus dan paling indah yang pernah terukir di wajahnya selama tiga ratus enam puluh lima hari terakhir.

Rasa takut akan masa lalu ayahnya, bayangan kotor tentang asal-usulnya, dan ketakutan akan ancaman Draco yang selama ini menjadi belenggu, seolah meluap begitu saja digantikan oleh pendar harapan baru.

Pria yang selama ini ia anggap sebagai iblis pencabut nyawa, ternyata adalah satu-satunya sosok yang memberinya tempat bernaung, yang memeluknya tanpa menghakimi, dan yang berani mengakuinya di hadapan keluarganya sendiri.

Lynzzie berjalan perlahan menuju jendela kamar yang besar. Ia menyibak sedikit tirai sutra tebal itu, memandangi pendar sinar subuh yang mulai membelah kegelapan langit di luar sana.

Dengan tangan yang mengusap air mata di pipinya dan dada yang bergetar parau, Lynzzie berbisik lirih ke arah kegelapan malam yang perlahan memudar:

"Aku tidak tahu masa depan seperti apa di depan sana... Jika takdir mengizinkanku untuk jatuh cinta, perasaan itu tetap kulabuhkan... tentu hanya kepadamu, Draco."

...ΩΩΩΩ...

Pendar sinar matahari pagi menembus jendela-jendela kaca tinggi Mansion Valerio-Desmon, memantulkan pendar keemasan di atas meja makan panjang berukir elegan.

Aroma kopi arabika yang baru diseduh, hidangan omelet hangat, panggangan roti, dan buah-buahan segar memenuhi udara, menciptakan atmosfer pagi yang semestinya hangat dan menenangkan.

Namun, bagi Lynzzie, melangkah menuju ruang makan itu terasa seperti berjalan di atas hamparan kaca tebal yang bisa pecah kapan saja.

Dengan rambut kecokelatannya yang terurai rapi dan gaun kasual bermotif bunga yang kembali mengenakan kerapiannya, Lynzzie berjalan perlahan di samping Celestia.

Gadis muda itu sejak tadi tak berhenti mengoceh tentang betapa nyenyaknya ia tidur, seolah-olah suasana kecanggungan semalam sudah sepenuhnya menguap.

"Pagi, Mom!" sapa Celestia ceria, langsung menarik kursi di sisi kiri meja makan.

Aurora Desmon, yang duduk di ujung meja sembari menyesap cangkir porselennya, mendongak. Anggun seperti biasa, wajah sang ratu mansion menyunggingkan senyuman hangat begitu matanya beradu dengan pandangan Lynzzie.

"Selamat pagi, Sayang. Duduklah, Lynzzie. Kamu pasti lapar setelah belajar semalam," ujar Aurora dengan nada suara yang sangat lembut, seolah menyambut anggota keluarga sendiri.

"Selamat pagi, Tante... Terima kasih," jawab Lynzzie canggung. Ia membungkuk sopan sebelum menarik kursi kayu jati di sebelah Celestia.

Tepat saat Lynzzie hendak menuangkan air putih ke gelasnya, langkah kaki yang tegap dan teratur terdengar mendekati ruang makan.

Draco melangkah masuk.

Pria muda itu sudah mengenakan kemeja putih bersih dengan kancing atas yang sedikit terbuka dan celana bahan gelap—penampilan khas pangeran kampus yang selalu sempurna. Wajahnya datar dan dingin, namun begitu iris cokelat gelapnya menangkap sosok Lynzzie yang duduk di seberangnya, ada pendar kehangatan tipis yang tertangkap di sana.

Draco tidak mengucapkan kata-kata puitis. Pria itu hanya menarik kursinya tepat di hadapan Lynzzie, menyandarkan punggungnya dengan anggun, lalu menatap gadis itu tanpa kedip.

"Pagi, Draco," sapa Aurora singkat, menatap putranya dengan pendar mata yang menyimpan sejuta makna setelah pengakuan semalam.

"Pagi, Mom," balas Draco datar. Pandangannya bergulir, menatap Lynzzie yang mendadak salah tingkah dan memilih menunduk berpura-pura sibuk memotong roti panggang di piringnya.

Melihat tingkah Lynzzie yang begitu kaku dan memerah di pelipisnya, sudut bibir Draco terangkat sangat tipis. Mengingat janji dan perkataannya sendiri tadi subuh—Panggil aku Sayang... Bersikap manislah mulai pagi ini—Draco dengan sengaja melancarkan provokasi manis di depan keluarganya.

"Kenapa diam saja? Mau kuambilkan omeletnya?" tanya Draco dengan suara bass-nya yang tenang, namun sarat akan kehangatan yang tak biasa.

Ugh! Celestia yang sedang mengunyah rotinya hampir tersedak. Ia menoleh cepat pada kakaknya dengan mata membelalak heran. "Tunggu... Kak Draco menawarkan mengambilkan makanan untuk orang lain? Ini benar-benar keajaiban dunia! Biasanya kau bahkan malas menggeser piringmu sendiri!"

Aurora hanya terkekeh pelan, menyesap tehnya sembari menikmati pemandangan langka tersebut. "Biarkan saja, Celestia. Kakakmu hanya sedang berusaha menjadi tuan rumah yang baik... atau mungkin kekasih yang perhatian."

Wajah Lynzzie seketika membara merah padam. Rasa panas menjalar cepat hingga ke ujung telinganya. Jemari tangan yang memegang pisau roti gemetar halus. Kalimat terstruktur dari sang ibu dan tatapan penuh dominasi dari pria di hadapannya membuat jantungnya berdegup kencang bagaikan maraton.

"Tidak... tidak usah, Draco. Aku bisa mengambilnya sendiri," bisik Lynzzie parau, berusaha sekuat tenaga menjaga suaranya agar tetap terdengar profesional dan tidak bergetar.

Namun, bukannya berhenti, Draco justru mengulurkan tangannya yang panjang. Tanpa memedulikan tatapan godaan dari adiknya, pria itu meraih piring Lynzzie, mengambilkan sepotong omelet terbaik beserta irisan daging asap, lalu meletakkannya kembali di hadapan Lynzzie dengan gerakan yang luar biasa lembut.

"Makan yang banyak," ucap Draco pelan. "Kau butuh tenaga untuk kuliah siang nanti."

Tatapan mata Draco saat mengucapkan kalimat itu begitu dalam—sebuah perhatian terselubung yang merujuk pada kelelahan fisik gadis itu setelah pergumulan panas mereka hingga jam dua pagi tadi. Lynzzie tahu betul arti di balik pendar mata itu, dan hal tersebut sukses membuat tenggorokannya makin tersumbat oleh rasa malu yang membakar.

"Terima kasih..." gumam Lynzzie lirih, tak berani menatap mata Draco lebih lama.

Celestia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyuman jahil yang mengembang lebar. "Astaga, aku tidak percaya ini. Kak Lynzzie, kau benar-benar membuat iblis dingin ini jinak dalam semalam! Jika Bianca melihat ini, dia pasti akan pingsan di tempat!"

Nama 'Bianca' yang meluncur dari mulut Celestia sempat membuat atmosfer meja makan hening selama beberapa detik. Lynzzie mendongak pelan, merasakan sedikit rasa getar cemas yang kembali menyusup ke dadanya.

Namun, sebelum rasa cemas itu berkembang, Draco menanggapi ucapan adiknya dengan nada suara yang begitu dingin dan acuh tak acuh:

"Jangan sebut nama yang tidak penting di meja makan, Celestia."

Aurora tersenyum tipis, lalu meletakkan cangkir tehnya. Sang ibu menatap Lynzzie dengan pandangan tulus. "Lynzzie, mulai sekarang, pintu mansion ini selalu terbuka untukmu. Kalau Draco nakal atau menyusahkanmu di kampus, katakan pada Tante, ya?"

Lynzzie menatap ibu Draco dengan rasa haru yang membuncah di dalam dadanya. Di tengah meja sarapan yang mewah ini, di antara pangeran Desmon yang memujanya secara protektif dan keluarga yang menyambutnya tanpa menghakimi asal-usulnya, Lynzzie merasakan satu hal yang sudah lama hilang dari hidupnya: rasa aman.

Dari balik meja, Draco menggerakkan kakinya sedikit, menyentuh lembut ujung kaki Lynzzie di bawah meja—sebuah sentuhan rahasia yang mengisyaratkan kepemilikan dan janji bahwa mulai pagi ini, seluruh takdir mereka telah terikat utuh di bawah naungan namanya.

1
azzura faradiva
tak terasa udah tamat aja😔
nayla tsaqif
Emak sama anaknya sama2 gilaaa,,
Rosdianah 🌷: wkwkw🤭
total 1 replies
Astrid Kucrit
keren draco gentleman
nayla tsaqif
Bianca udah tau kah,, klo dia ternyata jg anak napi jonathan,, apa q bacanya ada yg kelewat yaaa,,?? 🤔🤔🤔🤔
Rosdianah 🌷: Belum kak 🤭
total 1 replies
Astrid Kucrit
wkwkek bucin 😂
Astrid Kucrit
🤣🤣
Astrid Kucrit
🤣🤣 mommy ki jan
Astrid Kucrit
bagus desmon 👏
Astrid Kucrit
makin seru
Astrid Kucrit
bagus draco, lindungi lynzzie
Astrid Kucrit
syukurlah lynzzie aman dan draco juga mencintainya. semoga keluarga desmon melindungi lynzzie
Astrid Kucrit
wah wah wah kejutan apa ini.ternyata lyn dan bianca saudara 1 ayah
Rosdianah 🌷: happy reading kak 🫶
total 1 replies
Astrid Kucrit
tapi brenda udah jujur ke lynzie gimana ayahnya
Mei TResna Rahmatika
fix sih ini Jonathan bapak nya lynzie
Rosdianah 🌷: hihi🤭
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
ibunya lynzie apakah Brenda thor? brarti bapaknya Jonathan kah🤭
Rosdianah 🌷: author lg mode silent 🤣
total 1 replies
azzura faradiva
Lynzze ini pasti anaknya Brenda dengan Jonathan carser
Astrid Kucrit
kamu cuma tameng bi...
Rosdianah 🌷: ma'aciww komentar nya kak 🫶
total 1 replies
Astrid Kucrit
semoga kalian berjodoh
Astrid Kucrit
menunggu saat bapaknya lyn bebas. hmmm.....bakal gimana
Astrid Kucrit
draco modus gak tuh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!