NovelToon NovelToon
Jejak Di Pinggir Hutan

Jejak Di Pinggir Hutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:381
Nilai: 5
Nama Author: Thomaz3235

Rangga Hidayat, anak tunggal konglomerat properti, kehilangan kedua orang tuanya dalam pembunuhan berencana yang dikamuflase sebagai kecelakaan. Ia sendiri hampir tewas, lalu dibuang di tepi hutan dekat Desa Sumbermulyo. Seorang nenek miskin, Saroh, menemukannya dan merawatnya dengan penuh kasih. Di desa terpencil itu, Rangga belajar hidup sederhana: bertani, beternak, bermain, dan berteman. Ia mengalami ejekan, candaan, persahabatan, dan cinta pertama. Perlahan ia tumbuh menjadi pemuda tang gigih. Ketika dewasa, ia merantau ke kota untuk bekerja, menyelidiki kematian orang tuanya, dan menghadapi konflik batin antara balas dendam dan pengampunan. Novel ini mengikuti perjalanan emosionalnya dari anak manja menjadi lelaki dewasa yang bijaksana, dengan latar pedesaan yang hangat dan intrik kota yang kelam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thomaz3235, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 : PRESTASI DAN KONFLIK DI SEKOLAH

Rangga semakin bersinar di SMP Negeri 1 Kecamatan seperti bintang yang semakin terang di langit malam. Nilai-nilainya selalu berada di peringkat teratas di setiap ujian, dan guru-guru sering memujinya di depan kelas dengan penuh kebanggaan. Ia menjadi kebanggaan sekolah—seorang siswa dari desa terpencil yang berhasil mengalahkan siswa-siswa dari kota dalam berbagai mata pelajaran, mulai dari matematika, IPA, bahasa Indonesia, hingga sejarah. Namanya mulai dikenal tidak hanya di kalangan siswa, tetapi juga di kalangan guru, staf sekolah, dan bahkan orang tua siswa lainnya. Setiap kali ada lomba atau kompetisi akademik, Rangga selalu menjadi pilihan utama untuk mewakili sekolah. Ia tidak pernah mengecewakan—selalu pulang dengan membawa piala atau piagam penghargaan.

Namun, di balik semua prestasi gemilang itu, ada masalah yang mulai muncul seperti awan gelap di langit cerah. Rizki, anak pedagang kaya yang pernah mengejek sepatu Rangga di hari pertama sekolah, merasa iri dengan popularitas Rangga yang semakin melambung. Rizki terbiasa menjadi pusat perhatian di sekolah karena kekayaan keluarganya yang melimpah. Ia memiliki ponsel terbaru yang selalu berganti setiap bulan, sepatu mahal bermerek yang harganya setara dengan gaji seorang pegawai selama sebulan, dan selalu mentraktir teman-temannya makanan dan minuman di kantin. Namun, ketika Rangga mulai mendapat pujian dari guru-guru dan perhatian dari siswa-siswa lain, terutama dari Anisa, Rizki merasa tergeser dari posisinya. Ia tidak tahan melihat anak desa miskin seperti Rangga lebih dihargai daripada dirinya.

Suatu hari, saat jam istirahat dan suasana sekolah sedang ramai, Rizki dan beberapa temannya mendekati Rangga yang sedang duduk di bangku taman sambil membaca buku matematika untuk persiapan lomba berikutnya. Wajah Rizki merah padam karena amarah yang tertahan. "Hei, Rangga si anak desa," kata Rizki dengan nada sinis yang cukup keras agar didengar oleh siswa-siswa lain di sekitar. "Kau pikir kau hebat hanya karena kau pintar? Di dunia ini, uang lebih berharga daripada otak. Kau hanya anak miskin yang tidak punya apa-apa. Keluargamu miskin, nenekmu miskin, dan kau tidak akan pernah menjadi siapa-siapa."

Rangga menutup bukunya perlahan, menatap Rizki dengan tenang tanpa sedikit pun rasa takut. "Aku tidak berpikir aku hebat, Rizki. Aku hanya berusaha belajar dan memberikan yang terbaik. Dan uang memang penting untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi kehormatan dan kejujuran jauh lebih berharga daripada harta. Kau bisa membeli segalanya dengan uang, tetapi kau tidak bisa membeli rasa hormat yang tulus dari orang lain. Rasa hormat harus diperoleh melalui perbuatan baik, bukan melalui kekayaan."

Rizki tertawa sinis, tertawanya terdengar palsu dan dipaksakan. "Kau sok bijak seperti orang tua! Aku tahu semua tentangmu, Rangga. Aku tahu kau anak yatim piatu yang orang tuanya dibunuh—aku dengar dari teman ayahku yang kenal dengan polisi. Aku tahu kau tinggal di gubuk reot di desa terpencil dengan nenek tua yang miskin. Nenekmu miskin, kau miskin, dan kau tidak akan pernah menjadi apa-apa. Kau hanya akan menjadi kuli atau buruh tani seperti orang-orang desamu yang bodoh!"

Kata-kata Rizki menusuk hati Rangga seperti belati yang berulang kali ditusukkan. Dadanya sesak, dan untuk sesaat ia merasakan amarah yang membara. Namun ia ingat nasihat Nenek Saroh yang selalu ia pegang erat: "Nak, jangan balas kejahatan dengan kejahatan. Balaslah dengan kebaikan dan kesabaran. Orang yang sabar akan menang pada akhirnya." Rangga menarik napas dalam-dalam, menenangkan hatinya yang bergejolak.

"Kau boleh mengatakan apa pun tentang aku, Rizki," kata Rangga dengan suara yang tetap tenang meskipun hatinya terluka. "Aku tidak peduli apa yang kau katakan tentang diriku. Tapi jangan pernah menghina desaku, nenekku, dan orang-orang desa. Mereka adalah orang-orang yang membesarkanku dengan kasih sayang yang tulus, tanpa pamrih. Mereka mengajariku arti kerja keras, kejujuran, dan ketulusan. Dan suatu hari, aku akan membuktikan bahwa anak desa juga bisa menjadi orang sukses dan berguna bagi banyak orang. Aku akan membuktikan bahwa kemiskinan bukanlah penghalang untuk meraih mimpi."

Rizki dan teman-temannya terdiam. Mereka tidak menyangka Rangga akan merespons dengan setenang dan sebijak itu. Biasanya, anak-anak yang diejek akan marah, menangis, atau bahkan berkelahi. Namun Rangga berbeda. Ia tetap tenang, percaya diri, dan bahkan mampu membalas dengan kata-kata yang menusuk balik. Beberapa siswa lain yang mendengar percakapan itu mulai berbisik-bisik, dan tatapan mereka mulai beralih dari Rangga ke Rizki—seolah mereka mulai mempertanyakan siapa sebenarnya yang pantas dihormati.

"Sudahlah," kata salah satu teman Rizki, menarik lengannya dengan cemas. "Biarin dia. Kita tidak perlu membuang waktu dengan anak desa seperti dia. Nanti kita yang kena masalah."

Rizki mendengus kesal, lalu berbalik dan pergi meninggalkan Rangga. Namun sebelum benar-benar pergi, ia menoleh dan berbisik dengan nada mengancam, "Awas kau, Rangga. Suatu hari kau akan menyesal telah melawanku. Aku punya banyak cara untuk membuat hidupmu sengsara."

Rangga tidak menggubris ancaman itu. Ia kembali membaca bukunya, tetapi pikirannya tidak tenang. Ia tahu Rizki dan teman-temannya akan terus mengganggunya di masa depan. Namun ia tidak mau membiarkan mereka menghancurkan semangat dan tekadnya. Ia datang ke sekolah untuk belajar, bukan untuk terlibat dalam permusuhan yang tidak berguna.

Sore harinya, Rangga menceritakan kejadian itu kepada Anisa saat mereka belajar bersama di perpustakaan. Wajah Anisa berubah cemas mendengar cerita itu. "Rangga, kau harus benar-benar hati-hati. Rizki itu punya pengaruh besar di sekolah. Ayahnya adalah salah satu donatur utama sekolah dan sering memberikan sumbangan besar untuk kegiatan sekolah. Jika Rizki melaporkanmu ke guru atau kepala sekolah dengan cerita yang diputarbalikkan, bisa saja kau mendapat masalah besar."

"Tapi aku tidak melakukan apa-apa, Anisa. Aku hanya membela diri dan tidak membiarkan dia menghinaku," jawab Rangga, sedikit frustrasi.

"Aku tahu, Rangga. Aku percaya padamu. Tapi di dunia ini, tidak selalu kebenaran yang menang di permukaan. Kadang orang kaya dan berkuasa bisa memutarbalikkan fakta dengan uang dan pengaruh mereka. Kau harus lebih berhati-hati dan tidak memberikan mereka alasan untuk menyerangmu," kata Anisa dengan nada khawatir, tangannya meraih tangan Rangga dengan lembut.

Rangga mengangguk, merasakan hangatnya dukungan dari Anisa. "Aku akan berhati-hati, Anisa. Tapi aku tidak akan membiarkan mereka mengintimidasi aku atau membuatku takut. Aku datang ke sini untuk belajar dan meraih mimpiku, bukan untuk bermain politik atau terlibat dalam permusuhan anak-anak."

Anisa tersenyum, mengagumi keteguhan hati dan keberanian Rangga. "Kau memang kuat, Rangga. Itu yang membuatku kagum padamu. Kau tidak pernah menyerah, tidak peduli seberapa sulit keadaannya."

Rangga tersenyum, dan untuk sesaat, masalah dengan Rizki terlupakan. Ia merasa beruntung memiliki Anisa di sisinya.

Beberapa hari kemudian, kabar baik datang untuk Rangga. Ia terpilih untuk mewakili sekolah dalam lomba matematika tingkat kabupaten—sebuah kompetisi bergengsi yang diikuti oleh puluhan sekolah dari seluruh kabupaten. Ini adalah kesempatan besar untuk menunjukkan kemampuannya di hadapan siswa-siswa dari sekolah lain. Rangga berlatih dengan sangat giat setiap malam, mengerjakan soal-soal latihan yang jauh lebih sulit dari biasanya. Anisa membantunya dengan menjadi teman diskusi, memberikan semangat, dan kadang mengingatkannya untuk beristirahat.

Hari lomba tiba dengan cuaca cerah. Rangga datang dengan penuh percaya diri, membawa pensil, penggaris, dan penghapus. Di ruang lomba, ia melihat Rizki juga ikut serta—sebagai peserta dari sekolah yang sama. Rizki tersenyum sinis saat melihat Rangga. "Kau pikir kau bisa menang? Aku sudah les privat dengan guru terbaik di kota selama setahun penuh. Aku akan mengalahkanmu di hadapan semua orang."

Rangga tidak menjawab. Ia hanya fokus pada soal-soal di hadapannya. Lomba dimulai, dan Rangga mengerjakan setiap soal dengan tenang dan teliti. Beberapa soal terasa sangat sulit dan membutuhkan pemikiran mendalam, tetapi ia tidak menyerah. Ia terus berpikir, terus menghitung, sampai akhirnya semua soal selesai ia kerjakan dengan waktu yang masih tersisa.

Pengumuman pemenang dilakukan di akhir acara dengan penuh ketegangan. "Juara pertama lomba matematika tingkat kabupaten adalah… Rangga Hidayat dari SMP Negeri 1 Kecamatan!"

Rangga tidak percaya. Ia berdiri dari kursinya dengan gemetar, menerima piala dan piagam penghargaan dari kepala dinas pendidikan dengan tangan yang sedikit bergetar. Sorak-sorai dari siswa-siswa lain memenuhi ruangan. Anisa berteriak kegirangan dari kursi penonton, melompat-lompat seperti anak kecil. Namun di sudut ruangan, Rizki menatap Rangga dengan mata penuh kebencian dan amarah yang membara.

"Kau beruntung," kata Rizki setelah acara selesai, mendekati Rangga dengan langkah tegas. "Tapi ingat, keberuntungan tidak akan selalu berpihak padamu. Suatu hari kau akan jatuh, dan aku akan ada di sana untuk melihatnya."

Rangga menatap Rizki dengan tenang, tidak terpengaruh oleh ancamannya. "Ini bukan keberuntungan, Rizki. Ini adalah hasil dari kerja keras, latihan tanpa henti, dan doa. Dan aku tidak takut padamu. Jika kau ingin bersaing, lakukanlah dengan cara yang sehat dan sportif. Bukan dengan intimidasi dan kebencian. Itu tidak akan membawamu ke mana pun."

Rizki mendengus, lalu pergi meninggalkan Rangga. Namun Rangga tahu bahwa ini bukan akhir dari masalah. Rizki akan mencari cara lain untuk menjatuhkannya. Tapi ia tidak peduli. Ia memiliki Nenek yang selalu mendoakannya, Anisa yang selalu mendukungnya, dan tekad yang tidak bisa dipatahkan oleh siapa pun.

---

[Bersambung...]

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!