NovelToon NovelToon
SETELAH KITA MEMILIH

SETELAH KITA MEMILIH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:714
Nilai: 5
Nama Author: yavarnie

Pernikahan Ardan dan Naresa dimulai dengan duka.

Namun, rumah tangga yang mereka bangun perlahan kembali diuji oleh cinta lama yang seharusnya telah menjadi masa lalu, serta cinta dari seseorang yang seharusnya tidak mencintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yavarnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kale & Naresa

“Mau kemana, Res?”

Langkah Naresa seketika terhenti. Ia berbalik ke belakang dan mendapati Kale sedang berjalan mendekat ke arahnya dengan penampilan serba hitam yang dipadukan jaket denim biru. Kacamata hitam bertengger di atas rambutnya, sementara salah satu tangannya dimasukkan ke saku celana, sedangkan tangan satunya memegang ponsel.

“Mau kerja,” jawab Naresa. Ia sedikit mundur ketika Kale berhenti tepat di hadapannya. Jarak mereka terlalu dekat hingga Naresa harus mendongak untuk menatap wajah Kale karena perbedaan tinggi badan yang cukup mencolok.

“Kerja?” Kale mengernyit bingung. “Bukannya lo penulis?”

“Iya,” Naresa mengangguk singkat. “Yaudah duluan, ya.” Ia baru saja hendak berbalik, tetapi Kale lebih dulu mencengkeram pergelangan tangannya.

“Kalau mau keluar, bareng aja. Sekalian gue mau nyari tempat studio.” Kale segera melepaskan pegangannya. “Emang lo mau ke mana emang?”

“Mau ke rumah aku.”

“Nah, bagus dong kalau gitu, kita searah. Semalam si Ardan ngasih tahu, katanya di sekitar rumah lo ada. Gue nggak hapal jalan, biar sekalian lo yang ngasih tau jalannya.” Kata Kale lalu pergi melewati Naresa begitu saja keluar rumah.

Naresa pun berbalik, memandangi punggung Kale selama beberapa detik sebelum akhirnya mengikuti.

Sejujurnya, ia sedikit tidak nyaman membayangkan harus pergi berdua dengan adik iparnya. Bukan karena apa-apa, hanya saja ia khawatir suasananya akan canggung dan tidak tahu harus membicarakan apa. Namun, pada akhirnya Naresa memilih tidak terlalu memikirkannya.

Kini kedua sudah berada di dalam mobil. Kale duduk di balik kemudi, sementara musik mengalun dari pengeras suara. Sesekali, ia ikut bernyanyi mengikuti lagu yang sedang diputar.

Naresa hanya diam di kursi penumpang. Pandangannya lurus ke depan, melewati kaca mobil yang memantulkan cahaya matahari siang yang terik. Jalanan di hadapan mereka tampak berkilau diterpa panas, seolah jarak matahari begitu dekat.

“Dari kapan lo jadi penulis?” tanya Kale akhirnya. Ia melirik sekilas sebelum memusatkan pandangan ke jalan.

“Udah lama sih,”

Kale hanya mengangguk-angguk kecil. sebelum kembali bertanya. “Emang harus banget ya nulis di rumah lo? Maksud gue, kan jaraknya lumayan jauh.”

“Biar nggak suntuk aja sih.” Naresa menoleh kepadanya. “Kayak, biar vibesnya tuh ya kerja. Jadi aku bisa ngebedain mode santai sama mode nulis. Terus nggak sesering itu juga sih, pokoknya kalau lagi mau pergi, ya pergi aja. Kadang ide juga malah lebih ngalir kalau nggak terus-terusan di tempat yang sama.”

Kale mengangguk pelan, seolah baru memahami kebiasaan Naresa. “Bener juga ya kalau di pikir-pikir. Hidup lo kayaknya terstruktur banget.”

“Kalau nggak gitu, ya pusing sendiri, nggak sih? Apalagi nulis itu pekerjaan mandiri. Beda sama pekerjaan kantor, ada jam masuk, jam pulang, dan tugas yang kalau udah selesai, ya selesai. Kalau nulis, lagi ngak nulis pun otak masih mikirin ceritanya. Belum lagi semuanya dimulai dari nol. Karakter, tempat, masalah, sampai hal-hal kecil yang mungkin nggak semua masuk ke cerita. Ibaratnya menciptakan dunia sendiri. Pokoknya banyak lah.” Nada suaranya terdengar jauh lebih hidup dibandingkan ketika ia membicarakan hal-hal lain.

Memang begitulah Naresa jika sudah membicarakan dunia kepenulisan. Ia bisa berbicara banyak tanpa sadar, menjelaskan segala sesuatu dengan lancar, bahkan lebih panjang dari biasanya. Ada antusiasme yang selalu muncul setiap kali membicarakan hal itu.

Kale yang sejak tadi mendengarkan hanya tersenyum tipis. Namun, beberapa detik kemudian, matanya melirik ke arah Naresa. “Salfok ya sama tato gue?”

“Eh?” Naresa langsung menoleh. Matanya membelalak kecil.

Kale terkekeh. “Dari tadi juga gue notice kali lo liatin tato gue.”

Naresa terdiam. Memang benar ia beberapa kali melirik tangan Kale. Lengan jaket denim yang digulung sampai siku membuat deretan tato di lengannya terlihat jelas. Beberapa gambar cukup menarik perhatiannya, terutama tato ular dan mata yang ukurannya jauh lebih besar dibandingkan gambar lainnya.

Bukan karena Kale. Naresa hanya penasaran dengan gambarnya. Desainnya memang mencolok, dan sejak tadi tanpa sadar matanya selalu kembali ke sana. Namun, Kale rupanya menangkapnya dengan cara berbeda.

Saat mobil berhenti di lampu merah, Kale memiringkan tubuhnya pada Naresa, lalu menyeringai jahil. “Kenapa? Mau pegang?”

Naresa langsung menggeser tubuhnya menjauh hingga menempel pada pintu mobil. “PD banget,” kata Naresa tak terima.

“Masa?” Dengan sengaja, Kale mengulurkan tangan dipenuhi tato itu ke arahnya.

“Apaan sih, Kal?” Naresa berusaha menjauh, meskipun ruang di dalam mobil jelas tidak memberinya banyak pilihan. “Telpon kak Ardan, nih,” tangan Naresa mengangkat ponselnya.

Kale malah semakin iseng. Tangannya didekatkan ke wajah Naresa, seolah sengaja memberinya kesempatan untuk melihat tato-tato itu dari jarak dekat. “Nih, lihat. Bagus, kan?”

“Awas! Nggak sopan banget, ih!” kening Naresa sudah kesal dilihat dari keningnya yang berkerut serta bibirnya yang mengerucut ke depan.

Alih-alih menurut, Kale semakin ngeyel. Tangannya yang tadi hanya menunjukkan tato malah berpindah menyentuh rambut panjang Naresa, memainkan beberapa helainya begitu saja.

“Nggak sopan!” Naresa langsung menipis tangan Kale, tetapi laki-laki itu masih sempat tertawa kecil melihat reaksinya.

Karena sudah tidak tahan, Naresa akhirnya memukul tangan Kale menggunakan ponselnya.

Tak.

“Awww, sakit!” Kale langsung menjauhkan tangannya sembari mengusap bagian yang dipukul Naresa.

TIN.

Suara klakson dari kendaraan di belakang mereka memecah suasana. Kale segera kembali memegang kemudi dan menjalankan mobil.

“Nyebelin banget, lo,” gerutunya.

“Kamu juga nyebelin,” Jawab Naresa masih memasang wajah kesal. “Nggak boleh gitu! Aku ini kakak iparmu.”

Bibir Kale komat-kamit tanpa suara, memasang wajah meledek seolah ceramah Naresa sama sekali tidak masuk ke kepalanya. “Berisik. Ini kemana jalannya? Kiri atau kanan?”

“Kalau orang ngomong tuh dengerin.”

“Iya deh, si paling tua.” Kale menoleh sekilas pada Naresa dengan wajah tengilnya yang menurut Naresa benar-benar menyebalkan. “Ke mana ini, oy?”

“Kanan.”

1
tak tahu
kale bawelnya minta ampun
tak tahu
modus?
tak tahu
aku pun begitu tau, kek GK enggeh sama lingkungan sekitar
tak tahu
kale jailnya minta ampun
tak tahu
gila sih, si Ardan kuat bener nahannya 🤣
Yavarnie: Ardan kan laki-laki Sholeh 🤭
total 1 replies
tak tahu
giliran sama orang gaenakan, sama istri seenaknya🙄
Yavarnie: kebanyakan gitu, tapi Ardan enggak kok😍
total 1 replies
tak tahu
hati seorang istri itu luas bgt
Yavarnie: seluas samudera
total 1 replies
tak tahu
nah iya aku pun penasaran, why?
tak tahu
hah? serius?
tak tahu
bener
Yavarnie
apakah Ardan ingin mempunyai istri 2👀
tak tahu
ini mah kesukaan nya si ardan🤭
tak tahu
si Ardan tuh manja bgt ya sis
tak tahu
pewaris pun ada enak gak enaknya ya
tak tahu
ya jangan dibiarin atuh
tak tahu
mantan atlet gak tuh? wkwk🤣🤣
tak tahu
nah bener tuh, bisa sendiri kerjain sendiri
tak tahu
suami kalo di minta tolong emang suka dinanti nantikan
tak tahu
strong women njh ceritanya
tak tahu
ayok kak semangat terus💪 lanjutin ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!