Laluna Roselyn memiliki karier yang sempurna sebagai aktris terkenal, sampai sebuah pengkhianatan menghancurkan hidupnya. Ia memergoki kekasihnya berselingkuh dengan asistennya sendiri. Dalam amarah yang tak terkendali, Laluna menyerang keduanya hingga kejadian itu terekam dan tersebar luas.
Dalam sekejap, citranya hancur. Dunia hiburan berbalik meninggalkannya, dan karier yang ia bangun bertahun-tahun berada di ujung kehancuran karena skandal tersebut.
Saat tidak memiliki pilihan lain, Laluna menerima perjodohan dari ibunya dengan Nathan Adikara, seorang pengusaha kaya yang terkenal dingin, kejam, dan sulit didekati.
Pernikahan mereka seharusnya hanya menjadi kesepakatan untuk menyelamatkan nama Laluna. Namun, hidup bersama Nathan membuatnya menemukan sisi lain dari pria itu. Di balik sikap dinginnya, Nathan ternyata adalah satu-satunya orang yang berdiri di sisinya ketika seluruh dunia menentangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Penjaga
Laluna menggeleng pelan. "Tidak. Aku sudah lebih baik."
Nathan masih menatapnya seolah tidak sepenuhnya percaya. Ia kemudian duduk di sisi ranjang, menjaga jarak di antara mereka.
"Kalau begitu, kenapa dari tadi melamun?"
Laluna terdiam. Ia jelas tidak mungkin mengatakan bahwa pikirannya justru sibuk memikirkan pria yang kini duduk di sampingnya.
"Aku cuma kepikiran syuting besok," jawabnya asal.
"Syuting?" Nathan mengangkat alis. "Dalam keadaan seperti ini kamu masih memikirkan pekerjaan?Apa kamu tidak peduli dengan kondisimu?"
Laluna mengangguk kecil. "Aku tidak mau merepotkan semua orang. Kalau aku tidak datang besok, syuting besok pasti akaan tertunda."
Nathan menghela nafas sejenak. "Kamu terlalu memaksakan diri. Kalau belum benar benar sembuh,lebih baik kamu beristirahat saja."
Laluna menoleh. "Sejak kapan kamu peduli?Besok aku akan tetap berangkat ke lokasi syuting."
Pertanyaan itu membuat Nathan diam sesaat.
Tatapan mereka bertemu. Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara.
"Saya tidak peduli," jawab Nathan akhirnya, tetapi suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya. "Saya hanya tidak mau di anggap bos kejam yang tidak mengizinkan karyawannya istirahat. Kalau besok kamu belum sehat, saya akan meminta kru film lain untuk libur."
Laluna mendengus, ia memunggungi Nathan dengan ekspresi kesalnya.
"Ternyata kamu hanya tidak mau di cap bos kejam," gerutunya yang masih bisa di dengar Nathan.
Nathan menahan senyum melihat ekspresi kecewa di wajah wanita itu.
"Kenapa?" tanyanya. "Kamu berharap aku mengatakan sesuatu yang lain?"
"Tidak," jawabnya cepat
Nathan justru semakin yakin ada sesuatu yang disembunyikan wanita itu. Ia sedikit mencondongkan tubuh,mendekat ke arab gadis itu. Ia menatap wajah Laluna yang tengah membelakanginya.
"Kamu yakin tidak ada apa-apa?" tanyanya tepat di hadapan wajah Laluna.
Laluna menelan salivanya, matanya membesar saat melihat Nathan berada di jarak yang begitu dekat dengannya bahkan ia bisa merasakan hembusan nafas pria itu yang mengenai wajahnya.
"Yakin," ujarnya, sambil mendorong dahi Wulan dengan telunjuknya. "Tidak usah begutu dekat seperti itu," kesalnya.
Nathan segera menjauh dari gadis itu, ia segera merebahkan dirinya tepat di samping Laluna.
"Cepat tidur, agar cepat sembuh," ujarnya, sebelum ia memejamkan matanya.
...
Laluna yang sudah enakan, segera menuju ke lokasi syuting bersama Rina. Namun kali ini Nathan memberikan satu pria berbadan besar untuk menjaganya sekaligus melindunginya.
"Kenapa kamu bawa bawa penjaga seperti itu?wajahnya saja terlihat seram?" bisik Rina.
Laluna hanya mendengus, sejujurnya ia juga tidak suka kalau harus di kawal kawal seperti ini. Tetapi ia tidak ingin berdebat dengan suami kontraknya itu, toh suaminya itu sudah baik memberikan penjaga untuk melindunginya.
"Nathan yang memberikannya kepadaku, katanya untuk melindungiku," jelasnya.
Rina yang mendengar itu hanya tersenyum tipis ke arah Laluna, ia tidak menyangka pria dingin seperti rumor rumor yang bertebaran itu bisa juga peduli kepada istri kontraknya.
"Jangan senyum begitu," tegur Laluna ketika melihat ekspresi Rina.
"Aku tidak bilang apa-apa."
"Tapi wajahmu mengatakan banyak hal."
Rina terkekeh kecil. "Aku cuma baru sadar kalau ternyata Tuan Nathan tidak sedingin yang orang-orang bilang."
Laluna langsung memutar bola matanya. "Jangan mulai membicarakannya."
Mereka akhirnya sampai di depan lokasi syuting, baru saja ia turun dari mobilnya. Penjaga itu segera berlari keluar untuk mengekorinya.
Laluna yang melihat penjaga itu terus mengikutinya segera membalikkan badannya.
"Bapak penjaga, bapak tunggu di mobil saja bareng bapak supir. Aku akan syuting bersama Rina, tenang saja bapak penjaga Rina yang akan menjagaku nanti," jelasnya.
Penjaga itu buru buru menggeleng, "Tidak bisa nona Luna, tuan Nathan yang memerintahkan saya untuk menjaga nona dari dekat. Bahkan tuan meminta untuk memberikan pap nona Laluna setiap hari," jelasnya.
Laluna langsung terdiam.
"Foto?"
"Iya, Nona."
Rina yang berdiri di sampingnya langsung menahan tawa. "Wah, ternyata ada laporan harian juga. Jadi seperti ini rasanya menjadi nyonya muda Adikara."
"Rina!" Laluna melotot saat mendengar ocehan dari sahabatnya itu.
"Aku cuma bilang fakta. Lagi pula tuan Nathan terlihat peduli sekali denganmu."
Laluna menghela nafas panjang. Ia kemudian menatap penjaga itu dengan tatapan memohon.
"Tapi kalau Bapak terus mengikuti aku seperti ini, semua orang di lokasi syuting akan memperhatikanku. Aku merasa tidak nyaman."
Penjaga itu tampak berpikir sejenak.
"Kalau begitu saya akan menjaga dari jarak yang tidak terlalu dekat."
"Benarkah?"
"Iya. Tapi Nona tetap harus berada dalam pengawasan saya."
Laluna akhirnya mengangguk pasrah. "Baiklah," ujarnya, pelan.
Ia kemudian berjalan memasuki lokasi syuting bersama Rina. Namun baru beberapa langkah, Rina tiba-tiba menyenggol lengannya.
"Luna."
"Apa?"
"Kamu sadar tidak?"
"Sadar apa?"
Rina menunjuk diam-diam ke arah penjaga yang kini berdiri beberapa meter di belakang mereka.
"Suamimu ternyata benar-benar khawatir sama kamu."
Laluna mendengus kecil. "Dia cuma takut investasinya bermasalah kalau aku kenapa-kenapa."
Rina mengernyit, "Benarkah? Tetapi keliatannya tidak seperti itu."
Laluna hanya memutar bola matanya malas, "Dia sendiri yang mengatakannya."
Laluna segera berjalan lebih dahulu meninggalkan Rina dan bapak penjaga. Sesampainya di dalam lokasi syuting, Selena segera menghampirinya. Bapak penjaga yang sudah diberikan amanat oleh tuan Nathan segera menghadang Selena.
"Maaf nona, anda dilarang untuk mendekati nona Luna," jelasnya.
Selena yang tiba-tiba dihadang sontak menghentikan langkahnya. Ia menatap penjaga itu dengan alis terangkat.
"Maaf? Maksud Anda apa?Aku hanya ingin berbincang dengan Laluna."
"Saya hanya menjalankan perintah Tuan Nathan. Selama Nona Laluna berada di lokasi syuting, saya bertugas memastikan keselamatannya."
Selena melirik ke arah Laluna yang berada di belakang penjaga itu. Laluna hanya menatap Selena dnegan tatapan datar.
"Jadi sekarang bahkan aku tidak boleh mendekatinya?"
"Benar, anda dan pria bernama Kevin dilarang untuk mendekati nyonya Laluna."
Selena tertawa kecil, tetapi senyumnya terlihat dipaksakan.
"Luna, kenapa kamu membawa penjaga seperti ini?"
Laluna yang mendengar namanya dipanggil segera menatapnya. Ia segera menoleh ke arah bapak penjaga itu.
"Bapak, tidak perlu seperti itu. Selena adalah rekan satu produksi."
Penjaga itu masih terlihat ragu. "Tuan Nathan meminta saya untuk tidak membiarkan siapa pun yang berpotensi membahayakan Nona mendekat."
Selena langsung menyipitkan mata. "Berpotensi membahayakan?"
Rina yang baru tiba di belakang Laluna segera menyadari suasana mulai memanas.
"Lupakan saja," ujar Laluna cepat. "Bapak cukup mengawasi dari sana."
Penjaga itu akhirnya mengangguk dan mundur beberapa langkah. Selena kemudian menatap Laluna dengan senyum tipis.
"Sepertinya sekarang kamu dijaga sangat ketat."
Laluna menghela napas. "Kenapa?lagi pula kehadiranmu memang membuat masalah untukku?kali ini kau mau apa?" ujarnya.
Selena segera menunjukkan jemari tangannya, ia menujuk ke cincin yang melingkar di jarinya.
"Luna, Kevin sudah melamarku. Ini baru permulaan,aku akan merenggut semua ketenaranmu," jelasnya, sambil tersenyum tipis.