NovelToon NovelToon
The Hidden Truth

The Hidden Truth

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:872
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Di balik hilangnya seorang gadis, tersimpan rahasia yang selama ini disembunyikan. Seorang ibu bertekad mengungkapnya, meski harus melawan kekuasaan yang selama ini tak tersentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah baru

"Sayang, kamu kenapa?"

Elea menatap bingung putrinya yang sedari tadi bolak-balik menatap ponsel dan televisi dengan raut wajah yang sulit diartikan.

Lyn tak langsung menjawab. Ia hanya mengganti-ganti channel TV dengan ekspresi datar.

Elea mendekat, duduk di sisi putrinya. "Ada apa, Lyn?"

"Bu, Daddy-nya Clarisa belum bertanggung jawab dengan apa yang ia janjikan," jawab Lyn akhirnya, nadanya kesal, matanya lepas bergantian menatap layar televisi dan ponselnya.

Elea terdiam sejenak, lalu ikut menatap layar televisi di hadapannya, dan baru menyadari, sudah berhari-hari ia terlalu sibuk mengurus pemulihan Lyn hingga lupa memantau perkembangan kasus Cakra.

"Ini udah lebih dari seminggu, Bu," lanjut Lyn, suaranya semakin kesal. "Tapi dia belum muncul di televisi atau media mana pun untuk memberikan klarifikasi. Nggak ada berita, nggak ada apa-apa. Seolah-olah semuanya nggak pernah terjadi."

Elea mengambil ponsel putrinya, ikut menelusuri berita-berita terbaru yang Lyn kumpulkan. Alisnya mengerut semakin dalam melihat betapa minimnya informasi yang beredar, bahkan kasus penculikan yang seharusnya jadi berita besar pun seolah sengaja ditenggelamkan.

"Sial, dia mempermainkan kita," desis Elea, rahangnya mengeras menahan amarah.

Lyn menatap ponselnya dengan tatapan kosong. "Harusnya waktu itu aku setuju sama Ibu buat langsung habisin dia aja."

Elea menoleh cepat, menggenggam tangan putrinya erat. "Jangan bilang begitu, Nak. Waktu itu, keputusan kamu udah benar. Kamu yang ngingetin Ibu buat tetap jadi manusia."

"Tapi, lihat sekarang, Bu," Lyn mendengus, rahangnya mengeras. "Dia malah mempermainkan kita. Aku kasih dia kesempatan, eh dia malah kabur dari tanggung jawab."

Elea menghela napas panjang, mencoba menenangkan putrinya sekaligus dirinya sendiri. "Ibu ngerti kamu kecewa, Nak. Tapi tenang, Ibu akan minta bantuan Opa. Kalau Opa turun tangan, Cakra nggak akan bisa lari lagi."

Lyn terdiam sejenak, matanya menerawang jauh, seolah sedang memikirkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar menunggu bantuan orang lain.

"Bu," ucapnya pelan, nadanya berubah lebih tenang. "Aku punya ide lain."

Elea mengernyit bingung. "Ide apa, Nak?"

Lyn menatap Ibunya lurus-lurus, ada kilat tekad yang berbeda di matanya, sesuatu yang belum pernah Elea lihat sebelumnya.

"Aku nggak cuma mau Cakra yang bertanggung jawab. Aku juga mau kasih pelajaran sama orang-orang yang sudah bikin hidupku susah selama ini."

"Maksud kamu?" Elea semakin bingung, mencoba mencerna arah pembicaraan putrinya.

Lyn menghela napas, ingatan-ingatan pahit mulai berputar di kepalanya, tatapan merendahkan Clarisa dan teman-temannya, perlakuan tidak adil yang selama bertahun-tahun ia telan diam-diam.

"Clarisa dan teman-temannya," jawab Lyn akhirnya, suaranya dingin dan penuh perhitungan. "Mereka udah nge-bully aku selama aku sekolah, Bu, karena aku anak beasiswa."

Elea terdiam, terkejut mendengar pengakuan itu, baru kali ini ia tahu, ternyata Lyn selama ini menyembunyikannya rapat-rapat.

"Kenapa kamu nggak pernah cerita soal ini, Nak?" tanya Elea, suaranya bergetar antara terkejut dan sedikit menyalahkan diri sendiri.

"Aku nggak mau Ibu khawatir," jawab Lyn pelan, menunduk sejenak. "Aku pikir aku bisa tahan sendiri. Tapi ternyata... semuanya berujung kayak gini. Mereka bukan cuma melakukan bully biasa, Bu. Mereka yang bikin aku hampir kehilangan nyawa."

Elea menggenggam tangan putrinya lebih erat, rasa bersalah menjalar di dadanya. Terlalu fokus melindungi Lyn dari bahaya besar, hingga tak menyadari luka kecil yang lama tertanam dalam diri putrinya.

"Aku nggak akan diam lagi, Bu," lanjut Lyn, suaranya kini lebih mantap, penuh tekad. "Aku akan balas semua yang sudah mereka lakuin. Orang-orang yang sudah bikin aku menderita, mereka harus tahu rasanya!"

Elea menatap putrinya, lalu mengangguk pelan, kali ini ia memilih berdiri di sisi Lyn, apa pun risikonya dan siap melindunginya.

"Baiklah," ucap Elea akhirnya, suaranya tegas. "Kalau itu yang kamu mau, Ibu akan bantu kamu."

Lyn mengangkat wajahnya, sedikit terkejut mendengar persetujuan ibunya secepat itu.

"Beneran, Bu?"

"Beneran," Elea mengangguk mantap, matanya menyala penuh keyakinan. "Tapi kita lakukan ini dengan cerdas, Nak. Bukan asal balas dendam buta. Kita pastikan mereka semua dapat balasan yang setimpal, tanpa membuat kita jadi pihak yang disalahkan."

Lyn tersenyum tipis, ada kepuasan yang mulai tumbuh di dalam dirinya. "Makasih, Bu. Aku janji, ini bukan cuma soal balas dendam. Ini soal keadilan yang selama ini nggak pernah aku dapetin."

Elea merengkuh putrinya erat, kali ini bukan dengan kekhawatiran, melainkan dengan keyakinan bahwa mereka berdua akan menghadapi ini bersama.

"Ibu selalu ada di sisi kamu, Nak. Apa pun yang terjadi."

••●••

"Daddy!"

Clarisa dan Citra bergegas menghampiri, langsung memeluk Cakra yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.

Cakra terkejut dengan kedatangan mereka yang tiba-tiba. "Kalian..."

"Mas, kenapa nggak bilang kalau kamu dirawat, hah?!" Citra langsung menatap tajam, suaranya bergetar antara marah dan khawatir.

"Maaf, Sayang. Mas nggak mau bikin kamu repot," jawab Cakra lemah, mencoba menenangkan.

"Justru dengan begini, aku malah ngerasa bersalah, Mas," balas Citra, air matanya mulai menggenang.

Clarisa memeluk ayahnya lebih erat, wajahnya penuh kecemasan. "Dad, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Daddy bisa sampai kayak gini?"

Cakra terdiam sejenak, matanya perlahan berubah dingin, penuh kebencian yang tersimpan. "Ini semua gara-gara ibunya gadis itu."

"Maksud Mas siapa?" Citra mengernyit bingung.

"Lyn," desis Cakra tajam.

Clarisa membeku. "Lyn? Bukannya dia udah—"

"Dia selamat," potong Cakra cepat, suaranya penuh amarah tertahan. "Dia dan ibunya yang membuat Daddy sampai masuk rumah sakit. Mereka bahkan hampir membunuh semua anak buah Daddy."

"APA?!" Citra menutup mulutnya, tak percaya.

Clarisa menggeleng, mencoba menyangkal kenyataan yang baru saja ia dengar. "Daddy bercanda, kan? Ibunya itu cuma penjual kue biasa. Nggak mungkin dia bisa ngalahin anak buah Daddy sendirian."

"Tapi itu yang sebenarnya terjadi, Clarisa," ucap Cakra tegas, matanya menyala penuh dendam yang belum terbalaskan.

Ruangan itu hening sejenak, hanya suara napas mereka bertiga yang saling beradu, mencoba mencerna kenyataan pahit yang baru saja terungkap.

"Jadi..." Citra akhirnya bersuara, suaranya bergetar, "wanita itu yang bikin kamu sampai kayak gini?"

Cakra mengangguk pelan, rahangnya mengeras. "Dan aku tidak akan tinggal diam."

"Dad, apa yang akan Daddy lakukan?" tanya Clarisa.

Cakra menatap keluar jendela, senyum tipis nan dingin mulai terukir di bibirnya yang masih penuh luka. "Mereka pikir sudah menang. Mereka pikir aku akan diam setelah semua penghinaan ini." Ia menoleh, tatapannya penuh perhitungan licik. "Tapi mereka salah besar. Aku akan pastikan, Elea dan seluruh keluarganya akan menyesal telah berani menyentuhku."

1
Anne Rukpaida
smngat lyn 💪
Nona Jmn: Terima kasih
total 1 replies
Anne Rukpaida
akhirnya lyn ketemu juga 😇
Nona Jmn: Akhirnya🫰😁...
Ikutin terus yah... masih ada plot twist kebelakangnya🤭
total 1 replies
Anne Rukpaida
critanya luar biasa keren 😎
Nona Jmn: Terima kasih🫰🫰
total 1 replies
Anne Rukpaida
smangat ka, jadi smkin penasaran ma jln ceritanya asal muasal ortunya Lyn bisa punya keahlian bela diri gitu🔥
Nona Jmn: Sabar yah🤭🤭😁😁
total 1 replies
Anne Rukpaida
ceritanya bkin deg²n 🔥 smangat ka
Nona Jmn: Terima kasih kak😊😊🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!