Zara Adhitama, ia dijodohkan dengan seorang pria bernama Regantara Benedict. Seharusnya perjodohan itu dilakukan oleh saudari tiri Zara, yaitu Selene namun Selene menolak keras dengan alasan takut karena Regantara terkenal kejam. Pada akhirnya mau tak mau Zara lah yang dipilih untuk menikahi pria itu.
"Selamat datang, Nyonya Benedict." ucap Regantara saat itu.
Namun ternyata kehidupan baru tidak membuat Zara menjadi sosok yang lemah, saat Regantara pergi meninggalkannya di altar waktu itu dan tak terlihat di kediaman Benedict karena ia pergi melakukan perjalanan bisnis. Zara langsung memanfaatkan waktu kekosongan itu untuk membalas dendam pada Ibu tirinya dan tentu saja saudari tirinya yang tersayang.
Bagaimana kehidupannya Zara setelah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Romanova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Sementara itu, di dalam ruangan yang sekarang kembali hening, Zara perlahan melepaskan cengkeraman Regantara dari pinggangnya.
Sensasi hangat dari tangan pria itu masih terasa di kulitnya, namun ingatan saat Regantara mendorongnya membuat Zara sadar jika ini juga salah satu permainan peran.
Zara berjalan mengambil kartu itu, lalu memasukkannya ke dalam tas tangannya.
"Kakek jauh lebih memiliki tata krama dibanding cucunya." ujar Zara, ia menatap Regantara yang berdiri di tengah ruangan.
Regantara menyipitkan matanya, ia mendekat hingga bayangan tubuhnya sepenuhnya mengurung Zara.
"Kamu memanfaatkan kehadiran Kakek untuk menyindirku, Zara?"
"Aku hanya menyatakan kenyataan, beberapa menit lalu kamu mendorongku seolah aku barang tak berguna hanya karena mendengar nama Kakekmu. Lalu sekarang kamu berakting seolah-olah pria yang paling peduli padaku?" balas Zara tanpa gentar sedikit pun, matanya menatap lurus ke dalam mata gelap Regantara.
Regantara terpaku sejenak, ada kilatan rasa bersalah yang melintas di matanya sebelum akhirnya ia menepisnya dengan keangkuhannya.
"Aku punya cara sendiri untuk menyikapi situasi di keluarga ini, dan kamu tidak perlu membandingkanku dengan siapa pun." potong Regantara.
"Kalau begitu biarkan aku pulang, urusan pameran kekuasaanmu dengan Natasha sudah selesai, dan Kakekmu juga sudah pergi. Aku butuh istirahat." sahut Zara sambil membetulkan ikatan jas di pinggangnya agar tidak merosot.
Tanpa menunggu persetujuan Regantara, Zara langsung melangkah melewatinya menuju pintu keluar. Namun, saat jari tangan Zara menyentuh gagang pintu, lengan kokoh Regantara mendahuluinya dan menahan pintu agar tetap tertutup dari atas kepala Zara.
"Alaric sudah menyiapkan mobil di bawah, aku yang akan mengantarmu pulang ke mansion." bisik Regantara tepat di samping telinga Zara.
"Alaric bisa mengantarku sendiri, kamu punya banyak urusan keluarga yang harus kamu selesaikan, seperti yang kamu katakan tadi." potong Zara cepat tanpa menoleh sedikitpun.
"Alaric adalah sekretaris pribadiku, bukan sopirmu, dan aku tidak suka mengulang ucapanku, Zara." bisik Regantara.
Zara memutar tubuhnya, tangannya terlipat di depan dada.
"Kalau begitu aku bisa naik taksi." balas Zara cepat, sambil menatap lurus ke dalam mata Regantara tanpa ada keraguan sedikit pun.
Ekspresi Regantara mengeras seketika, sebelum Regantara sempat membuka suara untuk membalas, pintu ruang kerja diketuk pelan dari luar.
"Tuan, mobil di basement sudah siap." suara Alaric terdengar hati-hati.
Zara menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kemenangan.
"Buka pintunya, Regantara." ujar Zara pelan namun penuh penekanan.
Regantara menatap Zara selama beberapa detik, sebelum akhirnya mundur satu langkah.
"Alaric, antar istriku sampai ke dalam kamar mansion. Pastikan dia tidak kekurangan apa pun hari ini." panggil Regantara dingin saat pintu terbuka, matanya tak lepas dari sosok Zara.
"Baik, Tuan." sahut Alaric.
Zara tidak mengucapkan sepatah kata pun lagi.
Ia melangkah keluar ruangan, meninggalkan Regantara yang berdiri sendirian sambil menatap lurus punggung wanita itu dengan tatapan yang dipenuhi rasa frustrasi yang tertahan.
.
Sekitar 15 menit setelah kepergian Zara...
Tok tok tok!
Prang!
Gelas kristal di tangan Regantara melayang dan hancur berkeping-keping menghantam pintu, tepat sesaat setelah ketukan dari luar terdengar.
Serpihan kaca dan sisa cairannya berhamburan membasahi lantai.
Di luar pintu. Alaric, sekretaris kepercayaan itu menghela napas pendek sambil mengurut pelipisnya sejenak.
"Tuan, ini saya."
Di dalam ruangan, Regantara berdiri membelakangi pintu dengan napas memburu.
Dada tegapnya naik turun menahan gumpalan amarah, gengsi, dan rasa frustrasi yang campur aduk menjadi satu.
Ditolak terang-terangan oleh Zara, disindir habis-habisan oleh Kakeknya, dan kenyataan bahwa ia sendiri yang merusak situasi dengan dorongan kasarnya tadi membuat egonya hancur lebur.
"Masuk." desis Regantara.
Pintu terbuka pelan.
Alaric melangkah masuk dengan tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh pecahan gelas di dekat kakinya.
"Tuan, nyonya sudah aman berada di dalam mobil bersama tim pengawal. Saya memastikan beliau akan langsung beristirahat begitu sampai di mansion." ucap Alaric sambil menunduk sopan.
Regantara menyapu rambut hitamnya ke belakang dengan kasar, kemudian berbalik menatap Alaric dengan mata dingin yang menyala pekat.
"Siapa yang menyuruhmu berlutut di depannya tadi, Alaric?" tanya Regantara dingin.
Alaric paham betul maksud pertanyaan itu. Tapi ia tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun, dan langsung merespons dengan profesionalisme tingkat tinggi.
"Nyonya kesulitan mengikat jas Anda karena ukurannya yang terlalu besar. Jika saya tidak membantunya merapikan ikatan itu, rok Nyonya yang ternoda bisa terlihat oleh Tuan Besar dan staf lainnya saat keluar dari lorong, tugas saya adalah menjaga kehormatan Anda dan Nyonya di depan semua orang." jawab Alaric jujur dan lugas.
Jawaban Alaric yang telak membuat Regantara bungkam sejenak.
Pria itu mengepalkan jemarinya hingga buku-buku jarinya memutih.
Alaric sebenarnya benar.
Jika bukan karena bantuan Alaric, kehormatan Zara dan harga dirinya sebagai suami mungkin sudah tercoreng hari ini karena kelalaiannya sendiri.
"Panggil petugas kebersihan untuk membersihkan ini, dan siapkan dokter pribadi keluarga untuk datang ke mansion malam ini. Pastikan kondisi Zara diperiksa secara menyeluruh." gumam Regantara datar, ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela kaca besar yang menampilkan lanskap kota.