NovelToon NovelToon
Suamimu Kau Jual Takdir Menjadikannya Milikku

Suamimu Kau Jual Takdir Menjadikannya Milikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di balik kesuksesan dan harta melimpahnya, Nadya hidup dalam kesepian dan tekanan keluarga. Suatu malam, ia tak sengaja menyerempet Sarah, teman masa sekolahnya yang hidup dalam kesulitan. Di luar dugaan, Sarah yang putus asa menawarkan suaminya sendiri, Armand—pria tampan yang taat beribadah—kepada Nadya seharga 2 miliar rupiah, disertai ancaman laporan polisi jika menolak.
Ketika Nadya mendatangi rumah mereka untuk menemui Armand, situasi berubah menjadi bencana bagi Sarah. Armand yang mengetahui istrinya tega memperjualbelikan martabat rumah tangga demi uang merasa harga dirinya diinjak-injak, dan seketika menjatuhkan talak kepada Sarah. Pada akhirnya, Nadya tetap menyerahkan uang tersebut kepada Sarah, sementara sebuah takdir baru mulai terajut di antara Nadya dan Armand.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Setelah beberapa hari mendapatkan perawatan intensif dan memastikan kondisi fisik keduanya stabil, Dokter Hendra akhirnya memperbolehkan Armand dan Nadya untuk pulang.

Senyum lega tak lepas dari paras mereka saat melangkah keluar dari Rumah Sakit Harapan Utama, meninggalkan seluruh ketegangan yang sempat mencengkeram.

Sesuai petunjuk dokter, mereka menghabiskan waktu dua hari penuh untuk beristirahat total di rumah.

Kebersamaan yang tenang di hunian mereka menjadi obat paling mujarab untuk memulihkan trauma dan mengumpulkan kembali stamina yang terkuras.

Di hari ketiga, roda kehidupan dan bisnis mereka kembali berputar.

Armand dan Nadya melangkah bersama memasuki area pabrik konveksi.

Kedatangan mereka disambut hangat dan penuh haru oleh Siska serta seluruh staf produksi yang membentangkan spanduk penyambutan sederhana.

Namun, Nadya tetaplah seorang istri yang protektif sekaligus CEO yang tegas.

Sebelum Armand melangkah lebih jauh ke area kerja, Nadya menahan langkah suaminya dan menatapnya penuh penekanan lembut.

"Ingat janji Mas, ya," bisik Nadya seraya merapikan letak penyangga gips di tangan kanan Armand.

"Mas cuma boleh melihat, memantau, dan memberikan arahan secara lisan ke tim produksi. Tidak boleh menyentuh kain, gunting, apalagi mesin jahit sedikit pun."

Armand melirik tangan kanannya yang masih terbalut gips putih tebal dan tersangga rapi di dadanya, lalu terkekeh pelan melihat raut wajah istrinya yang tidak bisa dibantah.

"Iya, Siap, Bu CEO," jawab Armand penurut seraya mengecup pelipis Nadya dengan tangan kirinya.

"Mas janji cuma pakai mata dan suara."

Nadya tersenyum puas, lalu menggandeng lengan kiri Armand menuntunnya menuju area produksi utama.

Di dalam ruangan yang luas itu, dua puluh penjahit baru tampak cekatan mengoperasikan mesin jahit di bawah bimbingan Siska dan kepala produksi.

Pola-pola busana seragam Pak Dermawan yang sempat dirancang Armand sebelum insiden penculikan sudah terpampang jelas di papan petunjuk.

Armand memperhatikan setiap gerakan jemari para penjahitnya dengan cermat.

Meski jemari kanannya belum bisa memegang pensil pola atau memotong kain, sorot matanya yang tajam dan berpengalaman masih bekerja dengan sangat sempurna.

Dari balik meja pengawasan, Armand mulai memberikan instruksi demi instruksi, memastikan setiap detail jahitan memenuhi standar kualitas tinggi yang ia tetapkan—dibantu sepenuhnya oleh Nadya yang selalu setia mendampingi di sisinya.

Pintu area pengawasan terbuka pelan, dan Siska melangkah mendekati Armand dan Nadya dengan senyum sumringah yang tak bisa disembunyikan.

Ia membawa papan jalan berisi lembar pengawasan kualitas (quality control) yang sudah penuh dengan centang hijau.

"Bu Nadya, Pak Armand," panggil Siska bersemangat.

"Saya mau melaporkan kalau seluruh seragam untuk karyawan perusahaan Bu Nadya sudah selesai dikerjakan dan lolos pemeriksaan akhir!"

Nadya menganggukkan kepalanya puas. Senyum lega terukir di paras cantiknya melihat efisiensi kerja tim baru mereka yang begitu luar biasa di bawah arahan Armand.

"Bagus sekali, Siska," puji Nadya tegas namun hangat.

"Tolong panggil tim management sekarang. Minta mereka untuk segera mendistribusikan seragam yang sudah selesai ini ke seluruh divisi karyawan."

"Baik, Bu! Segera saya laksanakan," sahut Siska sigap seraya mencatat instruksi tersebut.

Armand melangkah mendekati jendela kaca yang mengarah langsung ke area jahit, memandang dua puluh penjahit baru yang kini mulai merapikan meja kerja mereka untuk bersiap memindahkan fokus produksi.

Armand menoleh ke arah Nadya yang berdiri anggun di sampingnya.

"Sekarang tinggal seragam milik Pak Dermawan," ujar Armand mantap.

Tangan kanannya yang terbalut gips tebal memang belum bisa bergerak bebas, namun sorot matanya memancarkan keyakinan penuh.

Dengan seragam internal perusahaan yang berhasil dituntaskan tanpa kendala, fokus penuh seluruh tim kini tercurah untuk menyelesaikan seribu potong pesanan utama yang akan menjadi tonggak sejarah baru bagi kejayaan bisnis mereka bersama.

Nadya menyunggingkan senyum tipis seraya merogoh ponsel dari dalam tas mewahnya.

Dengan beberapa sentuhan cepat pada aplikasi perbankan di layarnya, ia memproses pengiriman dana dalam jumlah besar.

Tak beberapa lama, ponsel Siska berdering nyaring diiringi notifikasi masuk.

Siska membelalakkan matanya lebar-lebar saat melihat nominal transferan yang masuk ke rekening kas produksi.

"B-Bu Nadya, ini bonus untuk anak-anak tim produksi?" tanya Siska tak percaya, suaranya sampai bergetar.

"Iya, Siska," jawab Nadya tenang seraya memasukkan kembali ponselnya.

"Itu bonus untuk seluruh karyawan produksi yang sudah bekerja keras dan membantu Mas Armand menyelesaikan seragam karyawan tepat waktu. Bagikan secara merata hari ini juga."

"Terima kasih banyak, Bu Nadya! Anak-anak pasti senang sekali!" seru Siska penuh kegirangan sebelum bergegas keluar untuk membagikan kabar bahagia itu.

Belum sempat Armand mencerna kemurahan hati istrinya, ponsel di dalam saku celananya mendadak bergetar halus.

Armand merogoh ponselnya menggunakan tangan kiri.

Layar menunjukkan notifikasi pesan masuk dari bank: sebuah transferan dana bernominal fantastis baru saja masuk ke rekening pribadinya.

Armand tertegun. Ia menatap layar ponselnya, lalu menatap Nadya bergantian.

"Dek, ini uang apa?" tanya Armand bingung.

"Kenapa kamu transfer uang sebanyak ini ke rekening Mas?"

Nadya melipat kedua tangannya di dada, melangkah mendekati Armand dengan tatapan penuh kebanggaan dan senyum manis yang menggoda.

"Itu bayaran profesional atas karya dan rancangan Mas Armand," sahut Nadya mantap.

"Mas sudah merancang seragam terbaik untuk seluruh karyawanku. Di bisnis, profesionalitas tetap nomor satu. Mas berhak menerima bayaran terbaik atas karya hebat Mas."

Armand menatap nominal di layarnya sekali lagi, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tertawa renyah.

Rasa haru dan kagum bercampur jadi satu di dadanya.

Ia menyandarkan tubuhnya di tepi meja, menatap istri cantiknya yang begitu tangguh, dermawan, dan selalu menghargainya setinggi langit.

"Ternyata seperti ini mempunyai istri CEO," bisik Armand terkekeh pelan, menggelengkan kepala dengan sorot mata penuh rasa syukur.

Nadya mendekat, merapikan letak gips di dada Armand seraya menyandarkan kepalanya sejenak di bahu kiri suaminya.

"Enak, kan? Makanya, Mas fokus sembuh saja. Urusan kesejahteraan dan perlindungan Mas, biar aku yang atur."

Armand merengkuh pinggang Nadya erat dengan tangan kirinya, mengecup puncak kepala istrinya dengan cinta yang semakin membuncah dalam kebersamaan mereka.

Nadya menepuk pelan bahu kiri Armand seraya mengedipkan sebelah matanya.

"Aku ke ruangan dulu ya, Mas. Kalau ada apa-apa atau merasa lelah, langsung panggil Siska."

"Iya, Sayang. Jangan terlalu memaksakan diri juga," balas Armand lembut, mengiringi langkah istrinya dengan tatapan hangat.

Nadya membalikkan badan dan melangkah keluar dari area produksi. Dengan langkah anggun dan percaya diri, ia menyusuri koridor utama menuju ruangan kerjanya.

Setiap karyawan yang berpapasan dengannya menunduk hormat, menyapa sang CEO dengan penuh rasa segan dan kagum atas ketangguhan yang baru saja ia tunjukkan beberapa hari lalu.

Pintu kayu jati tebal bernuansa modern itu terdorong pelan. Nadya melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya yang luas, dingin, dan tertata rapi.

Aroma harum bunga melati menyambut indra penciumannya, memberikan rasa tenang yang menyegarkan pikiran.

Ia berjalan menuju meja kerja besarnya, melepas jas hitam yang mengenakan bahunya, lalu menyangkutkannya di sandaran kursi kulit.

Nadya mendaratkan tubuhnya di kursi kebesarannya.

Ia menarik napas dalam-dalam, meresapi keheningan ruangan itu sejenak.

Nyeri memar di dadanya akibat hantaman peluru kemarin masih sesekali terasa menyengat, namun fokus pikirannya telah kembali sepenuhnya sebagai seorang pemimpin tertinggi perusahaan.

Ia menyalakan komputer jinjing di mejanya dan membuka berkas-berkas laporan keuangan serta pemantauan proyek seragam Pak Dermawan yang menumpuk.

Di atas meja, berdiri tegak sebuah bingkai foto kecil berisi foto dirinya dan Armand yang tersenyum bahagia saat momen pernikahan mereka.

Nadya mengusap kaca bingkai foto itu dengan jemarinya, menyunggingkan senyum tipis penuh ketetapan hati.

Badai besar telah berlalu, Rian dan Sarah kini mendekam di balik jeruji besi, dan kini saatnya ia memastikan masa depan bisnis serta kehidupan rumah tangganya bersama Armand berjalan jauh lebih gemilang tanpa ada satupun ancaman yang tersisa.

1
Muft Smoker
semoga semua bnr2 berakhir ,,
gx da drama2 lgi Dr trio Medusa itu😒😒😒
Wayan Suryani
gampang banget nyuliknya TDK masuk akal
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
konflik udh mulai kerasa nii ,,
Muft Smoker
itu laa kalo rasa dendam Dan iri udh berkerak di hati ,,
semua cara pastiii di lakukan ,,
akhirny menjerumuskan sang pelaku sendiri ,,
Muft Smoker
lanjuuuut kak ,
makin penasaran ma kelanjutan ny
Muft Smoker
Sarah memilih lawan yg salah ,,
Muft Smoker
jgn sampai km terpengaruh arman ,, kalo gx nnti aq slepet km pake nuklir ,, 😒😒😒😒
Muft Smoker: 🤭🤭🤭🤭😁😁😁😁😁😁
total 2 replies
Muft Smoker
Ceuk kuring mah Sarah geus meunang 2 milyar rupiah, mimitian usaha, ulah miceunan sagalana tanpa alesan, usahakeun ngatur hirup anjeun sangkan leuwih hade,
Muft Smoker
dulu Armand km tukar dg uang 2 miliar ,, skrang dg tdk tau malu ny km ingin mengambil ny kembali krn melihat Armand sudah berbeda ,,
Muft Smoker
mak ma ank sama aj ,,
awas jgn boros2 ,, nnti cepat abis ,, mau minta ma sypa lgii
Muft Smoker
awas aja nnti liat si Armand udh sukses ,, ente minta balik lgi ,,
,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!