Seorang pelayan yang dihina dan dikhianati bangkit sebagai CEO konglomerat misterius demi membalas dendam, namun takdir penyesalan dan pengorbanan mengubah rasa benci tersebut menjadi perjuangan cinta sejati yang mendewasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang atoom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15: Sifat asli Danang
Siska berlutut di atas lantai marmer, memunguti pecahan kaca porselen dengan jemarinya yang gemetar dan melepuh. Rasa panas dari luka bakar di tangannya menjalar perih, namun rasa sakit di dadanya jauh lebih menyiksa. Pria yang dulu begitu lembut dan rela mengorbankan apa saja demi dirinya, kini menatapnya seperti orang asing yang tak berharga.
Setelah membersihkan tumpahan kopi tanpa suara, Siska melangkah ragu keluar ruangan menuju klinik staf. Dengan mata sembab dan pakaian yang kotor oleh debu gudang, ia menjadi pusat perhatian para karyawan yang lalu lalang di lorong. Bisik-bisik penasaran terdengar dari setiap sudut, menambah rasa malu yang kian menghimpit dadanya.
Di dalam klinik, saat perawat membalut tangannya yang melepuh, Siska memejamkan mata. Ingatannya melayang ke masa-masa manis bersama
Danang. Dulu, Danang selalu membawakan bunga, memujinya setinggi langit, dan berjanji akan menjaganya selamanya. Namun, setiap kata manis itu kini terasa seperti racun yang baru saja ia sadari keberadaannya.
Apakah dia pernah benar-benar mencintaiku? Atau aku hanyalah pion dalam permainan kekuasaannya? batin Siska.
Sementara itu, di dalam ruang kerjanya, Rendy berdiri menatap jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota. Wajahnya tetap datar, namun tangannya yang tersimpan di saku celana mengepal erat. Ia tidak menikmati penderitaan Siska, tetapi luka tiga tahun penindasan dan penghinaan bukanlah hal yang bisa sembuh dalam semalam.
Pintu ruangan terbuka pelan. Pak Irwan melangkah masuk membawa sebuah dokumen baru bernuansa merah.
"Tuan Muda," panggil Pak Irwan dengan nada matang. "Perkembangan baru dari pihak Tuan Danang. Kami menemukan sesuatu yang menarik."
Rendy membalikkan badan, kembali ke kursi kebesarannya. "Ada apa dengan Danang?"
"Dia bukan hanya arogan, Tuan Muda. Dia adalah seorang oportunis yang sangat berbahaya," Pak Irwan menyerahkan dokumen tersebut. "Kami melacak aliran dana pribadinya. Ternyata selama satu tahun terakhir, saat dia masih berstatus sebagai tunangan Nona Siska, dia diam-diam telah melikuidasi aset perusahaan keluarga Nona Siska ke rekening luar negeri atas namanya sendiri."
Rendy membaca berkas tersebut, matanya menyipit.
"Jadi dia tidak hanya gagal mengelola perusahaan, dia memang merampoknya dari dalam?"
"Benar. Dia tahu perusahaan itu akan bangkrut, jadi dia memindahkan dana cadangan darurat ke rekening pribadinya untuk melarikan diri jika keadaan memburuk. Dia tidak pernah berniat menikahi Nona Siska. Dia hanya menunggu waktu untuk menguras habis kekayaan keluarga Pratama Karya sebelum meninggalkannya," tegas Pak Irwan.
Rendy meletakkan berkas itu ke atas meja. Danang yang arogan dan selalu merasa berada di atas angin ternyata memiliki sifat asli yang jauh lebih busuk dan rakus dari yang mereka duga. Dia bukan pria yang gagal, dia adalah pencuri yang terencana.
Tepat saat itu, pintu ruangan kembali terbuka. Siska
masuk dengan tangan kanan yang sudah terbalut perban putih. Wajahnya pucat, namun ia berusaha berdiri tegak di depan meja Rendy.
"Tuan Adhitama... tugas membersihkan sudah selesai," suara Siska terdengar sangat pelan.
"Apakah ada perintah selanjutnya?"
Rendy menatap perban di tangan Siska sejenak, lalu beralih menatap matanya yang sembab. Dia mengambil dokumen yang baru saja dibawa Pak Irwan dan melemparkannya ke depan Siska.
"Baca itu, Siska. Baca bukti betapa 'setianya' tunanganmu itu pada keluargamu," perintah Rendy datar.
Siska membuka dokumen itu dengan tangan yang gemetar. Saat matanya menyapu angka-angka dan bukti transaksi transfer ilegal yang dilakukan Danang ke rekening pribadinya, napasnya tersengal.
"D-Dana ini... ini seharusnya dana untuk gaji karyawan dan modal produksi bulan depan..." bisik Siska, suaranya pecah oleh isak tangis yang tertahan. "Danang... dia mencurinya saat dia memelukku dan bilang bahwa dia akan selalu melindungiku?"
"Danang tidak pernah mencintaimu," suara Rendy memecah keheningan dengan kejujuran yang pahit.
"Kamu hanyalah pintu masuknya menuju kekayaan keluarga Pratama Karya. Sekarang, setelah kamu tahu sifat aslinya, apakah kamu masih ingin membela pria seperti itu?"
Siska menjatuhkan dokumen itu ke lantai. Ia tertawa getir di sela tangisnya. Topeng Danang telah retak sepenuhnya, dan di baliknya, hanya ada kekosongan dan kerakusan yang mengerikan. Siska sadar, ia tidak hanya kehilangan perusahaan ayahnya, ia juga kehilangan seluruh masa mudanya untuk mencintai seorang penipu yang bahkan tidak memiliki hati.