Di Kekaisaran Tianming, Pangeran Ke-14 bernama Mu Xuanyuan dikenal oleh seluruh penjuru istana sebagai pangeran yang "cacat": bodoh, tidak bisa bertarung, gila, dan selalu tersenyum ceria tanpa peduli situasi. Ia menjadi bahan tertawaan para pejabat dan target perundungan utama dari Pangeran Ke-3 (Lu Cangqiong) yang arogan. Dari 21 bersaudara (8 kakak laki-laki, 5 kakak perempuan, 4 adik laki-laki, dan 3 adik perempuan), hampir tidak ada yang menganggap Xuanyuan sebagai ancaman.
Namun, di balik topeng ceria dan tingkah konyolnya, Mu Xuanyuan adalah entitas paling berbahaya di seluruh benua. Ia secara rahasia telah mencapai ranah Immortal Emperor Puncak (Ranah Kaisar Abadi). Tak hanya itu, ia adalah pemilik sah dari Paviliun Lelang Xingzhou (balai lelang terbesar di benua) dan raja di balik Pasukan Bayaran Po Jun (tentara bayaran paling menakutkan). Ia juga memiliki Ruang Dimensi Portabel yang berisi ladang tanaman obat langka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fresh Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Overpowered in Silence
Keheningan yang mencekam mendadak melingkupi seluruh halaman belakang kediaman Pangeran Ke-14. Rantai-rantai energi merah darah dari Formasi Pemutus Qi Jiwa yang meluncur deras untuk menghancurkan kening Mu Xuanyuan mendadak terhenti begitu saja, tergantung kaku beberapa sentimeter di udara seolah-olah waktu telah dibekukan oleh tangan tak kasat mata. Tidak ada dentuman keras, tidak ada gelombang ledakan yang membahana, dan tidak ada pameran taktik kultivasi yang menyilaukan mata. Namun, udara di sekitar tempat itu mendadak menjadi sangat berat, membawa tekanan absolut dari ranah Immortal Emperor Puncak yang merembes halus melalui celah-celah ruang dan waktu, membungkam seluruh benua dalam diam.
Dua belas pembunuh bayaran dari Sekte Pembunuh Bayangan Bintang yang tadinya melayang di udara dengan raut wajah kejam mendadak membeku. Mata mereka membelalak selebar-lebarnya di balik topeng hitam, memancarkan rasa takut yang teramat pekat. Aliran Qi di dalam meridian tubuh mereka yang tadinya bergolak hebat tiba-tiba berhenti berputar secara mendadak, seolah-olah dipaksa tunduk oleh entitas yang berada ribuan tingkat di atas ranah mereka. Tubuh mereka yang melayang roboh jatuh ke tanah satu per satu dengan dentuman berat, tidak mampu menggerakkan bahkan seujung jari pun di bawah penekanan aura abadi yang tersembunyi tersebut.
Pemimpin pembunuh bayaran itu berlutut secara paksa di tanah, dengan wajah yang menempel erat pada rumput. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya saat ia merasakan jiwanya bagaikan diremas oleh telapak tangan raksasa dari langit. Ia mencoba mendongak untuk melihat apa yang sedang terjadi, tetapi takis aura yang mengimpit pundaknya begitu luar biasa hingga tulang-tulang di sekujur tubuhnya terdengar meretak halus. Tidak ada satu pun kata yang sanggup keluar dari tenggorokannya yang mendadak kering; suaranya tertahan di dada bersama rasa kebas yang menjalar ke seluruh organ dalamnya.
Di sisi lain, Leng Yan yang tadinya bersiap pasang badan untuk melindungi Xuanyuan tertegun di tempatnya berdiri. Kipas emas di tangannya tergantung kaku seraya matanya menyipit penuh rasa heran. Meskipun aura keagungan Immortal Emperor milik Xuanyuan dikendalikan dengan sangat presisi hingga hanya menargetkan para penyusup, Leng Yan yang memiliki kepekaan insting kultivasi sangat tajam tetap merasakan adanya pusaran gravitasi spiritual yang amat dahsyat berpusat dari arah gazebo. Pria flamboyan itu menoleh perlahan ke arah Xuanyuan, menatap pangeran muda tersebut dengan tatapan yang dipenuhi gabungan antara keterkejutan yang mendalam dan kepasrahan yang tak terlukiskan.
Leng Shuang yang berada di atas atap gazebo juga merasakan getaran tak kasat mata tersebut. Sepasang pedang pendeknya bergetar halus di dalam genggamannya, memancarkan dengungan gelisah seolah-olah senjata baja berkualitas tinggi itu sedang menyatakan ketundukannya pada Penguasa Sejati yang bersembunyi di dekat mereka. Leng Shuang menelan ludahnya secara kasar, mengerutkan kening seraya menatap ke arah dua pengawal pribadi Xuanyuan—Feng Wuchen dan Gu Juechen—yang tetap berdiri tenang tanpa menunjukkan sedikit pun riak terkejut. Dari raut wajah kedua pengawal tersebut, Leng Shuang sadar bahwa fenomena mengerikan yang membungkam belasan pakar ranah Soul Transformation ini bukanlah hal yang baru bagi lingkaran dalam sang pangeran.
Mu Xuanyuan sendiri masih duduk bersandar di tiang gazebo dengan gaya yang amat santai dan tidak elegan. Ia memutar-mutar ukiran burung kayunya di antara jemari tangan kanannya, sementara tangan kirinya meraih sebutir buah anggur keemasan dari dalam kantong bajunya. Dengan wajah yang tetap memasang senyum konyol dan mata polos tanpa dosa, Xuanyuan meniup pelan ke arah burung kayu di tangannya.
Fuuuu...
Tiupan napas sederhana itu membawa untaian riak bening yang menyusup masuk ke dalam inti Formasi Pemutus Qi Jiwa. Tanpa suara ledakan ataupun percikan cahaya, susunan formasi merah darah yang rumit tersebut runtuh dan terurai menjadi debu spiritual yang melayang kabur tertiup angin pagi. Rantai-rantai energi yang tadinya hendak melilit jiwa Xuanyuan hancur berkeping-keping, lenyap seolah-olah tidak pernah tercipta di dunia ini. Pangeran Ke-14 itu lalu tertawa cempreng seraya bertepuk tangan gembira, memecah keheningan yang mencekam di halaman tersebut dengan nada suara yang teramat lugu.
"Wah! Kembang apinya tidak jadi meletus, tetapi patung-patung hitam ini lucu sekali!" seru Xuanyuan gembira seraya menunjuk ke arah dua belas pembunuh bayaran yang masih tertahan kaku di tanah. "Lihat! Mereka semua sedang bermain sembunyi muka di tanah! Siapa yang bangun duluan, dia yang kalah!"
Mendengar celetukan konyol itu, pemimpin pembunuh bayaran yang berada di bawah penekanan aura Immortal Emperor merasakan keputusasaan yang teramat sangat. Di dalam benaknya yang kian mengabur, ia akhirnya menyadari kebenaran yang teramat mengerikan. Pangeran Ke-14 yang selama ini dikenal oleh seluruh Kekaisaran Tianming sebagai pangeran yang cacat, gila, dan tidak bisa bertarung, sebenarnya adalah sosok iblis purba yang kekuatannya telah melampaui batas logika dunia manusia. Keberadaan mereka di tempat ini bukan untuk mengeksekusi mangsa yang lemah, melainkan melangkah secara sukarela ke dalam sarang pembantai tanpa jalan kembali.
Sebelum pembunuh bayaran itu sempat memikirkan cara untuk mengakhiri hidupnya sendiri demi menjaga rahasia majikannya, Feng Wuchen telah bergerak cepat seperti bayangan. Dengan gerakan jemari yang amat presisi, Feng Wuchen mengetuk titik meridian di tengkuk belasan musuh tersebut, melumpuhkan kesadaran mereka secara total dalam hitungan detik. Tubuh-tubuh berkerudung hitam itu seketika terkulai lemas di atas tanah, sepenuhnya tak berdaya.
Gu Juechen melangkah maju seraya mengibaskan kipas lipatnya santai, tersenyum tipis ke arah Xuanyuan. "Yang Mulia, patung-patung hitam ini sepertinya sudah tertidur lelap. Apakah Anda ingin saya dan Wuchen mengemas mereka untuk dikirimkan kembali sebagai 'hadiah ucapan terima kasih' kepada Pangeran Ke-3?"
"Jangan lupa selipkan ubi manis yang sudah agak busuk di dalam kantong mereka!" sahut Xuanyuan dengan cengiran lebar, kembali memasang akting anak kecil yang sibuk mengorek hidungnya konyol. "Supaya Kakak Ke-3 tahu kalau aku sangat menyayangi patung-patung hadiah darinya ini!"
Leng Yan akhirnya melangkah mendekati gazebo setelah mengatur kembali napas dan detak jantungnya yang sempat tertahan. Ia menutup kipas emasnya seraya menatap Xuanyuan dengan mata yang berbinar-binar penuh kekaguman yang kian tidak terkendali. Pria flamboyan itu menyangga dadanya seraya membungkuk dramatis di hadapan Xuanyuan, mengabaikan fakta bahwa jubah sutra mewahnya kini sedikit kotor akibat debu spiritual.
"Luar biasa... Sungguh keagungan yang tiada tandingannya!" puji Leng Yan dengan nada puitis yang penuh gairah. "Membungkam musuh dalam keheningan tanpa perlu mengotori jemari Anda yang indah... Yang Mulia, tindakan Anda barusan benar-benar mendefinisikan puncak dari sebuah seni keindahan! Hamba yang tidak berguna ini kian yakin bahwa seluruh jiwa dan raga hamba memang ditakdirkan untuk mengabdi pada keagungan Anda!"
Leng Shuang melompat turun dari atap gazebo, mendarat di samping kakaknya seraya menghela napas panjang penuh kelelahan mental. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, wanita tomboi itu langsung menempeleng belakang kepala Leng Yan dengan cukup keras.
Plak!
"Hentikan ocehan konyolmu itu, Kakak Bodoh!" omel Leng Shuang seraya merapikan kembali sepasang pedangnya ke dalam sarung di pinggangnya. "Situasi di ibu kota sedang memanas. Pembunuhan yang gagal ini pasti akan memicu reaksi berantai dari kubu Pangeran Ke-3 dan Putra Mahkota."
Xuanyuan melompat turun dari kursi gazebonya, mengusap-usap perutnya seraya tersenyum polos ke arah mereka semua. Kebengisan tak terukur yang baru saja menelan dua belas pakar kultivasi dalam diam beberapa menit lalu telah lenyap tanpa bekas, menggantikannya kembali dengan sosok Pangeran Si Cacat yang riang dan tidak berbahaya. Di balik keheningan yang baru saja tercipta, fajar di Kekaisaran Tianming kini menyingsing, membawa badai politik baru yang siap diputarbalikkan oleh sang Pangeran Ke-14 dari balik layar penyamarannya.