NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Langitan

Pendekar Pedang Langitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Penyelamat
Popularitas:184
Nilai: 5
Nama Author: Heryando Palar Vinkoert

Kisah Pendekar Pedang Langitan, merupakan petualangan Bagaga di Jawa Dwipa bersama Ngo Cian, gadis cantik yang mungil dari negeri Champa.
Bagaga di Jawa Dwipa lebih dikenal dengan Pendekar Pedang Langitan, karena itulah senjata yang selalu dia gunakan.
Bagaga dan Ngo Cian terlibat dalam upaya menyelamatkan kelahiran bayi suci yang membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa dan Nusantara.
Semua berawal dari Bagaga mengalami peristiwa barasihan dan menerima wangsit dari Maharesi Pawitra alias Maharesi Semeru Anakan.
Banjir darah melanda Jawa Dwipa bagian timur karena perbedaan cara pandang para Maharesi dan juga para Penguasa.
Mari nikmati kisah Pendekar Pedang Langitan Bagaga dan Dewi Pengendali Api Ngo Cian menjelang kelahiran Ken Arok, bayi suci yang akan membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa.

Seperti biasa. Pendekar Pedang Langitan adalah sekelumit kisah fiksi dengan latar belakang sejarah.

Terimakasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heryando Palar Vinkoert, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11. Meninggalkan Sunda Kelapa

Malam itu berlalu dengan tergesa gesa. Menjelang pagi, Bagaga Alam sudah rapi dan duduk menikmati poci bersama ki Ageng.

Aroma teh yang segar dilapisi oleh aroma bunga melur. Menyusup dan memenuhi lobang hidung Bagaga Alam. Namun dia kaget ketika menyesap teh poci pertama. Rasanya sangat pahit.

Ki Ageng lalu menjelaskan kenapa dia mengundang Bagaga dengan cara unik begitu. Bagaga hanya diam mendengar penuturan dari ki Ageng.

"Jadi ki Ageng memang telah menunggu kedatangan ku ke Jawa Dwipa ini ?"

"Begitulah. Maha Resi Pawitra memang meminta aku mengatur perjalanan Pandeka ke wilayah timur. Tentunya ke candi Kendalisono di bukit Bekel Penanggungan tempat Maha Resi Pawitra."

Bagaga Alam mengangguk. Dia kembali menuang teh poci ke cangkir tembikar. Matanya membulat penuh keheranan. Ki Ageng tersenyum melihat tingkah Bagaga.

"Kau kaget dengan teh poci ini Pandeka ?". Palimo Alam tersenyum dan mengangguk.

"Kenapa rasa teh ini awalnya begitu pahit. Namun tuangan terakhir terasa manis. Bahkan sangat manis."

"He he hee... Pandeka, karena itulah minum teh poci ini harus sedikit demi sedikit."

"Kenapa begitu ?  Apakah aku...?"

"Itu mestinya karena engkau tidak tahu dan belum mengerti dengan filosofi teh poci."

"Heee...,?  Apakah minum teh poci ini ada filosofi nya juga ?"

Ki Ageng tersenyum penuh kearifan. Memang, suatu tradisi atau budaya dari satu daerah tidak akan diketahui kalau tidak dipelajari dan dilihat langsung. Pria tengah baya yang tenang itu mengangguk.

"Aku akan menjelaskan tentang filosofi teh poci ini Pandeka."

Pandeka Pedang Suling Kumala yang diberi gelar baru selesai Pendekar Suling Perak oleh Ni Kirana mengangguk dan terlihat lebih serius. Ki Ageng tersenyum dan menghela nafas panjang lebih dulu. Ni Kirana dan Danang Wesi memperbaiki posisi duduk mereka.

"Menikmati teh poci kenapa harus sedikit demi sedikit supaya terasa nikmat...?

Itu karena menyesap teh poci adalah cerminan kehidupan kita di dunia ini. Seperti bentuk jalan hidup seorang pendekar.

Awalnya brrasa sangat pahit. Bagaimana tidak pahit. Meski kau adalah keturunan bangsawan tinggi. Namun saat pertama mulai belajar kanuragan, atau ilmu silat.

Kau pasti akan menemukan kepahitan. Mungkin sedikit atau sangat banyak; mungkin sebentar, tapi bisa juga lama.

Karena tahap awal akan dipenuhi dengan kerja keras, berat dan amat sangat melelahkan. Bukankah itu sangat pahit ?"

Bagaga Alam terdiam memikirkan. Ni Kirana dan Danang Wesi terlihat agak bingung. Ki Ageng menghela nafas dalam. Dia melanjutkan...

"Pada intinya begini. Segala sesuatu itu dimulai dengan kesulitan (pahit). Secara bertahap itu akan menjadi biasa, mudah dan lebih mudah (manis). Begitulah kehidupan berjalan.

Itulah kenapa menikmati teh poci harus sedikit demi sedikit. Karena itu seperti satu perjalanan dari perjuangan."

Setelah merenungkan semua pemaparan ki Ageng. Secara perlahan Bagaga Alam tersenyum. Dia mulai paham filosofi teh poci. Dia bisa melihat perjalanan hidup dirinya sendiri. Ketika ikut rombongan Abak jo Mandeh. Mereka dirampok oleh sekte Bukik Tambun Tulang. Kedua orangtuanya tewas... (Lihat kisah Pandeka Pedang Suling Kumala)

Ki Ageng tersenyum. Pria tengah baya itu melirik sekilas keluar rumah.

"Sebaiknya kalian segera berangkat. Perjalanan kalian akan sangat jauh."

Bagaga Alam mengangguk dan bangkit. "Baiklah ki Ageng. Terimakasih untuk semuanya. Kalau begitu kami pamit."

"Kami pergi Romo, mohon restu."

Danang Wesi dan Ni Kirana juga mohon izin dan restu Ayahanda mereka.

 

Matahari baru saja muncul ketika tiga penunggang kuda meninggalkan wilayah Sunda Kelapa. Kuda kuda itu berlari dengan cepat. Mereka adalah Bagaga Alam dan Danang Wesi serta Ni Kirana.

Menjelang sore, setelah melewati kawasan hutan rawa yang luas. Mereka mulai menemukan ladang dan kebun penduduk.

"Mestinya kita sudah dekat dengan desa Pabuaran.  Kita bisa singgah untuk mengisi perut dan istirahat."

"Mudah mudahan bisa mandi air hangat disitu. Tubuhku terasa lengket oleh keringat." Ni Kirana menanggapi ucapan Danang Wesi.

Tidak berapa lama kemudian, gerbang desa Pabuaran rmulai terlihat. Ni Kirana menggeber lari kudanya agar lebih cepat.

Begitu sampai di desa Pabuaran, mereka langsung menuju penginapan Buaran. Penginapann yang paling besar dan juga ada  Pawon  alias rumah makan yang luasnya ada setengah lantai pertama bangunan itu.

Penginapan Buaran sangat besar dan cukup megah. Bangunan empat lantai dan merupakan bangunan paling besar dan paling megah di desa Pabuaran.

"Selamat datang di penginapan Buaran. Apakah Anda semua mau menginap atau sekedar singgah untuk makan ?"

Danang Wesi segera melompat turun dari punggung kudanya.

"Apakah masih ada tiga kamar kosong untuk kami, Mang ?" Danang Wesi bertanya kepada pria yang menyambut kedatangan mereka.

"Hari ini desa Pabuaran sangat ramai. Hanya ada dua kamar yang masih belum tersewa."

"Baiklah, berikan kamar itu untuk kami."

"Mari, silahkan ikuti saya." Pria pelayan itu berbalik dan menuju ruang penerimaan tamu.

Malam telah tiba ketika Bagaga Alam, Danang Wesi dan Ni Kirana turun dari lantai tiga menuju Pawon di lantai satu.

Pawon Buaran telah ramai oleh pengunjung ketika mereka bertiga memasukinya.

"Masih ada meja kosong untuk kami Neng ?" Danang Wesi bertanya kepada gadis pelayan yang berdiri dekat pintu. Gadis hitam manis itu tersenyum dan membungkuk sedikit.

"Masih Tuan Muda. Mari saya antar."

Gadis pelayan yang manis itu mengantar Bagaga Alam dan dua rekannya kesebuah meja yang agak di tengah. Setelah mereka bertiga duduk, gadis pelayan baru bertanya.

"Tuan muda dan nona hendak pesan apa ?"

"Tolong bawakan beberapa makanan yang paling terkenal di pawon ini. Juga bawakan tiga gelas besar bir pletok." Ucap Danang..

"Bawakan untuk ku teh kelor juga." Ni Kirana menambahkan.

Gadis pelayan itu segera pergi. Tidak lama kemudian dia kembali bersama dua rekannya membawa beberapa jenis makanan dan minuman yang di pesan.

"Silahkan Tuan Muda dan Nona."

Bagaga Alam, Danang Wesi dan Ni Kirana makan dengan lahap. Mereka tidak menyadari jika lima meja dari mereka. Ada lima pria yang memperhatikan mereka bertiga dan saling berbisik. Sikap lima orang itu mencurigakan. Bagaga Alam sempat melirik sekilas, namun mengacuhkan saja.

Malam berlalu dengan tergesa gesa. Pagi usai menikmati secangkir kopi dan kerak telor. Bagaga Alam, Danang Wesi dan Ni Kirana melanjutkan perjalanan. Mereka menuju kota Jayagiri yang juga dikenal dengan kota Daeyuh Sundasebawa. Itu adalah kota besar, bekas ibu kota kerajaan Tarumanegara sebelum pindah.

Menjelang siang mereka sampai di sebuah sungai kecil yang airnya sangat bening. Ada belantara lebat di balik sungai kecil. Sesekali terdengar lolongang anjing hutan dan auman harimau.

Baru saja kuda mereka menapak pinggiran sungai. Tujuh belas orang bertampang kasar muncul mengurung mereka.

"Serahkan semua barang berharga dan kuda kalian. Setelah itu, kalian berdua boleh pergi." Seorang pria dengan kumis tebal melintang berkata dengan suara berat.

Tangan pria itu memegang pangkal golok, sedangkan tangan yang satunya memuntir kumisnya. Sementara matanya jelalatan melihat seluruh tubuh Ni Kirana dengan rakus.

\=\=\=\=\=***\=©

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!