Amanda yang seorang guru, dihadapkan pada lika-liku sekolah yang semakin hari semakin kehilangan arahnya.
Beban tanggung jawabnya sebagai wali kelas 1A benar-benar tak mudah, karena ia juga mendapatkan tekanan dari berbagai sisi, hingga membuatnya stress dan frustasi.
Disaat Amanda sedang pusing menghadapi berbagai masalah dalam sekolah tempatnya mengajar dan juga masalah bersama sang mantan yang masih kekeh meminta balikan dengannya.
Pertemuanya yang tak terduga dengan Reihan yang merupakan kakak dari salah satu muridnya menambah drama baru dihidupnya.
Membangkitkan kembali kenangan masa kecil yang telah terkubur lama ditambah bayang-bayang masa lalu antara dirinya dan Aqila, teman Reihan membuat hubungan mereka jadi penuh drama.
Kira-kira apa yang terjadi di antara mereka? Apa yang membuat Amanda sampai terlibat dengan Reihan dan Aqila?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biru_Muda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebaikan Yang Disyukuri
Amanda masih berbincang bersama bu Rosita dirumahnya. Ia masih tak menyangka bahwa statusnya juga ikut dipulihkan dan ia bisa kembali mengajar seperti dulu lagi.
"Terimakasih banyak bu Rosita, saya merasa bersyukur akhirnya masalah ini bisa selesai juga, walau saya tahu pasti anda juga tidak mudah untuk membereskannya." Amanda mengucapkan rasa terimakasihnya pada bu Rosita karena sudah menyelesaikan masalah disekolah.
"Ini sudah menjadi tanggung jawab saya sebagai direktur yayasan sekolah." balas Dewi Rosita yang telah berhasil menyelesaikan masalah perundungan disekolah hanya butuh waktu 3 hari saja.
Keduanya masih mengobrol dengan cukup akrab. Obrolan keduanya tak hanya seputar masalah disekolah, namun juga tentang Amanda yang sangat menarik perhatian bagi Dewi Rosita.
Tentang bagaimana awalnya Amanda bisa menjadi seorang guru, mengapa memilih menjadi guru dan lainnya yang ternyata banyak membuat Dewi Rosita ingin terus bertanya pada kehidupan Amanda, hingga membuat Amanda sedikit malu karena terlalu sering ditanya tentang hidupnya yang menurutnya tak menarik itu.
"Wah, ternyata kamu hidup sendiri." Dewi Rosita sedikit terkejut saat Amanda mengatakan bahwa ia hidup sendiri. Terlebih, tentang Amanda yang ternyata sudah tak memiliki orang tua.
"Iya, bu." senyum canggung masih mengiringi Amanda bisa mengobrol sedekat ini dengan direktur yayasan sekolah.
Ada perbedaan dari nada kalimat yang Dewi Rosita katakan, sebelumnya ia cukup formal dan kaku saat mengobrol dengan Amanda, tapi sekarang terlihat cukup santai saat mereka sudah banyak berbincang bersama. Memutuskan jarak yang sebelumnya cukup kental di antara mereka yang baru pertama kali bertemu secara tatap muka.
Walau sudah lama mengajar di SMA Mutiara, Amanda memang belum pernah bertemu secara langsung dengan direktur yayasan sekolah, karena itu ia sangat gugup ketika mengobrol dihadapan beliau secara langsung.
"Bagaimana Raisa kalau disekolah?" kali ini Dewi Rosita ingin mengetahui bagaimana sikap anaknya disekolah.
"Raisa anak yang baik, kok bu. Justru Raisa anaknya sangat rajin jika disekolah."
"Kalau anak itu membuat masalah, jangan sungkan untuk melaporkannya padaku." Dewi Rosita tak akan membedakan anaknya dengan murid lain, jika mereka membuat masalah harus siap untuk dihukum.
Mendengar itu, Amanda mengangguk dengan senyum simpulnya.
Meow... Meow...
Kucing berbulu putih lembut, tiba-tiba datang menghampiri keduanya yang sedang berbincang diruang tamu. Kucing itu langsung menemplok dikaki milik Dewi Rosita dengan begitu manja.
"Ini kucing peliharaan kami, namanya Bubul." ucap Dewi Rosita yang langsung memangku kucingnya.
Mata Amanda langsung terpanah begitu melihat kucing yang super lucu.
"Apa kamu suka kucing?" tanyanya pada Amanda.
"Iya, saya sangat menyukainya." jawab Amanda dengan ekspresi yang tak bisa menyembunyikan kebahagiaanya bisa melihat kucing jenis anggora.
Dewi Rosita tersenyum melihat wajah Amanda yang sangat terlihat antusias ketika melihat kucing.
"Kamu mau coba elus punggungnya?" Dewi Rosita memberikan izin pada Amanda untuk mengelus Bubul.
"Eh, apa boleh?" Amanda terkejut, tapi ia tak ingin melepaskan kesempatan itu.
Duduk disamping bu Rosita dan mulai mengelus lembut punggung kucing yang bernama Bubul itu.
Kedekatan yang tak terduga dari keduanya, yang sudah seperti anak dan ibu. Selama obrolan dari dua orang yang memiliki jarak usia yang cukup jauh itu, ternyata obrolan mereka cukup nyambung satu sama lain.
Ada banyak kesamaan yang mereka punya. Mulai dari sama-sama dari background pengajar, sama-sama suka baca, dan sangat menyukai bintang. Terlebih, keduanya ternyata juga suka memasak.
"Menantu idaman sekali kamu ya.. " gurau bu Rosita membuat Amanda tersenyum malu.
Dewi Rosita terlihat begitu ramah, hingga membuat Amanda begitu nyaman mengobrol dengannya. Walau ada perbedaan soal usia di antara mereka, namun Dewi Rosita tak pernah memberikan kesan kaku, seolah ingin berbaur dengan anak muda. Mengingat ia juga masih memiliki anak yang masih remaja, membuatnya paham akan pola pikir anak jaman sekarang.
"Maaf, ya. Mungkin karena sudah terlalu tua, aku tidak sadar sudah terlalu cerewet begini." Dewi Rosita menyadari bahwa ia sudah terlalu sering banyak bertanya pada Amanda.
"Iya, tidak apa-apa, bu." jawab Amanda, bersamaan dengan senyumannya.
"Oh iya, apa kamu sudah makan?" tanya Dewi Rosita tiba-tiba.
"Saya sudah makan, tadi siang." jawab Amanda agak pelan, yang masih duduk disamping beliau.
"Berarti sekarang belum makan, kan? Kalau begitu sebelum pulang, makan dulu saja disini." Dewi Rosita berdiri dari sofa menawarkan Amanda untuk makan bersama.
"Eh, tidak perlu, bu. Terimakasih banyak atas tawarannya, saya bisa makan dirumah, kok." Amanda menolak panik.
"Tidak usah sungkan, anggap saja ini rumah sendiri." Dewi Rosita tersenyum ramah, membuat Amanda jadi tak enak untuk menolak.
Saat keduanya masih berbincang dengan cukup dekat, bersama Bubul yang ada ditengah-tengah mereka, tiba-tiba suasana rumah menjadi ramai ketika Raisa masuk kedalam rumah setelah pergi keluar sebentar. Disusul oleh Reihan dan Aqila yang ikut masuk ke dalam secara bergantian.