Jeviza tidak menyangka, persetujuannya mengikuti Keandra-sang mantan kekasih berkunjung ke rumah eyangnya di suatu kota membuatnya semakin terjebak lebih serius dan intim dengan Keandra.
Setelah dipertemukan dan tinggal satu atap dengan mantan kekasih, sekarang justru lebih serius, nama Jeviza dan Keandra tercatat dalam buku pernikahan.
Sama-sama masih memiliki rasa, tetapi gengsi dan ego masih saja membumbui rumah tangga dadakan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih di Bengkel
Di meja makan yang tidak terlalu besar. Kean makan mie buatan Jeviza, sesekali melirik ke arah pintu kamarnya yang kini terdapat mahluk cantik itu. Lalu pada Bian yang sedang mengetik di keyboard laptop.
"Udah mau go publik?" tanya Bian menatap Kean sekilas. Lalu kembali fokus pada layar laptop.
"Belum siap," balas Kean kembali menyuapkan mie ke dalam mulutnya. "Jeviza, bukan gue," lanjutnya meneguk minuman yang tadi juga Jeviza siapkan untuknya.
Semua rasa mie instan itu sama jika dimasak, tetapi entah kenapa ketika Jeviza yang memasaknya lebih masuk di lidah Kean, padahal Bian saja tadi sudah menggoda melihat mie yang terlalu matang, sementara Kean sendiri tidak suka mie yang kadar kematangannya terlalu berlebihan, tetapi tetap saja dimakan dan habis.
Mendengar jawaban Kean seketika membuat Bian menggeleng dengan sedikit senyum. "Bulol juga ternyata," komentarnya menatap Kean yang sudah beranjak untuk menaruh mangkok kotornya.
Sembari mencuci mangkok bekas makannya, Kean berucap. "Bukan bulol, gue hargai apa yang istri gue buat."
Bian mengangguk, lalu melirik Kean yang sudah selesai dengan kegiatannya. "Mau nginep sini? Apa bawa pulang?"
"Pulang," balas Kean singkat, sebelum akhirnya melangkah dan masuk ke dalam kamarnya.
Sampai di kamarnya yang tidak terlalu luas itu, Kean melihat Jeviza yang sudah tertidur di ranjang kecil miliknya. Kean mendekat, berjongkok di depan tubuh Jeviza yang sudah terbaring di ranjang, mengamati wajah cantik dengan mata tertutup itu, tangannya bergerak untuk mengusap pelan pipi Jeviza.
"2 tahun menunggu, i've got you now."
Sebuah kecupan lembut Kean berikan pada kening Jeviza. Tidak ada hasrat seperti tadi malam, tetapi rasa tulus yang penuh dengan kasih sayang.
"Mimpi indah, Je," ujarnya menyelimuti tubuh terbaring Jeviza. Sebelum akhirnya ia keluar untuk menelpon Arlo, memberitahu jika mereka menginap di bengkel malam ini.
Sebenarnya bisa saja Kean membawa Jeviza ke apartemennya, tetapi mengingat kejadian tadi malam, Kean berpikir panjang untuk membawa Jeviza ke sana. Ia takut tidak bisa menahan sebelum Jeviza siap.
Pagi ini hari minggu, harusnya Jeviza bisa bermalas-malasan, tetapi saat mendapati ruangan asing di sekitarnya seketika membuat Jeviza langsung bangkit, ia mengamati ruangan sekitar, dan baru menyadari masih berada di kamar Kean yang berada di bengkel.
"Gue ditinggal?" gumamnya sebelum akhirnya samar mendengar suara tawa dari luar.
Jeviza mengerjap beberapa kali, bingung harus melakukan apa, membayangkan jika Kean sekarang di rumah Arlo, sementara dirinya masih terdampar di sana dan banyak anak bengkel yang belum Jeviza kenal.
Saat ia mencari ponsel miliknya, hatinya langsung merasa lega, ia segera mengambilnya dan berniat mengirim pesan pada Kean.
Jeviza
Kak, gue ketiduran di kamar bengkel
Getaran dari atas nakas keci terdengar. Jeviza menoleh dan mendapati ponsel milik Kean di sana. Itu berati Kean juga masih berada di sana dan tidak meninggalkannya sendiri, kepalanya menggeleng mengingat kebodohannya sendiri. Memang tidak mungkin Kean meninggalkannya begitu saja. Pikiran Jeviza sangat berlebihan. Merasa aman karena sadar Kean juga berada di sana, Jeviza segera bangkit untuk menuju kamar mandi, ia akan membersihkan diri sebelum keluar mencari keberadaan cowok itu.
Hari minggu bengkel hanya buka setengah hari, itu saja permintaan dari pegawai, mereka lebih baik terus bekerja di hari minggu dari pada libur untuk istirahat. Kebanyakan pegawai Kean memang masih kuliah dan juga dari anak-anak yang kurang beruntung di dunia ini.
Kean sedang sibuk dengan salah satu mesin motor milik pelanggannya. Meski yang sedang Kean lakukan terbilang kotor, tetapi tidak mengurangi kesan bos muda pada auranya. Kean tetap terlihat keren bahkan sekalipun oli di tangannya mengotori baju dan juga telapak tangannya.
"Mas, itu di depan ada yang nyariin," ujar salah satu pegawainya.
"Terusin, ya?" ujar Kean diangguki oleh pegawai tersebut.
Tidak langsung ke depan untuk menemui, Kean mencuci tangannya terlebih dahulu, baru setelah Kean menemui orang yang dimaksud keningnya mengernyit, menatap seorang gadis yang berdiri tidak jauh dari mobil berwarna merahnya.
"Ke, ban mobil gue kempes," ujar Vio melirik pada ban mobilnya, sebelum akhirnya kembali menatap ke arah Kean.
"Cuma itu?" tanya Kean diangguki Vio.
"Bentar," ujar Kean menatap salah satu pegawainya yang terlihat sedang menata ban di bengkelnya. Lalu memanggilnya. "Zudit!"
Yang dipanggil namanya menoleh, mendekat ke arah Kean. "Ada apa? mas?"
Kean menoleh pada mobil berwarna merah itu, tanpa melirik sedikitpun pada yang mempunyai mobil.
"Coba cek, kayaknya ada yang kena paku," ujar Kean diangguki Zudit patuh.
"Bentar ya, mbak, saya cek sebelah mana?" ujar Zudit sopan, tetapi Vio hanya mengangguk saja.
Vio inginnya Kean yang mengerjakannya, bukan menyuruh pegawai, tetapi sepertinya kejadian beberapa waktu lalu dimana ia dan Jeviza mendapat surat teguran masih belum Kean maafkan sepenuhnya.
"Lo masih marah sama gue? Ke?" pertanyaan Vio seketika membuat Kean yang tadinya akan kembali ke dalam terhenti.
"Nggak, itu udah basi. Vi, gue bahkan udah lupa kalau lo nggak ngingetin lagi."
Setelah mengatakannya, Kean pergi begitu saja, meninggalkan Vio yang menghela napas dalam, mencoba mereda amarah dan rasa kecewanya.
Baru saja akan masuk ke ruang tengah. Kean dikejutkan dengan adanya Jeviza yang sibuk dengan pengisi daya di ponselnya. Jakun Kean naik turun melihat paha Jeviza dari belakang. Ia buru-buru mendekat, khawatir jika saja Bian tiba-tiba muncul dari kamarnya, atau pegawainya yang masuk dan melihat keadaan Jeviza seperti sekarang ini.
Merasa ada sesuatu di belakangnya, Jeviza menoleh, mulutnya ternganga melihat penampilan Kean dengan kaos tanpa lengan berwarna hitam, juga rambut yang acak-acakan, wajahnya tidak sebersih ketika ia di ruang rapat BEM, tetapi ketampanan Kean justru berkali lipat dengan keadaan seperti sekarang ini.
Ini yang namanya tampan ada brengsek-brengseknya
"Kalau butuh sesuatu bilang," bisik Kean seketika mengundang gelenyar aneh pada tubuh Jeviza.
"Masuk dulu, jangan sampai ada yang lihat," ujarnya sebelum akhirnya mengangkat tubuh Jeviza untuk dibawa masuk ke dalam kamarnya lagi.
Tidak ada penolakan atau tubuh berontak Jeviza. Bahkan saat Kean mengangkat tubuhnya, tangan Jeviza secara reflek langsung melingkari leher Kean, membuat sudut bibir Kean sedikit tertarik ke atas.
"Lo nggak jijik sama gue?" pertanyaan yang membuat Jeviza langsung menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Ganteng yang ada brengsek-brengseknya," cicitnya secara jujur.
Satu alis Kean tertarik ke atas, membuat Jeviza baru menyadari jawabannya yang terlampau frontal untuk di depan Kean, ia menutup rapat mulutnya bersamaan dengan Kean yang mendudukannya di tepi ranjang. Tidak langsung pergi, Kean menatap Jeviza lamat, membuat Jeviza yang mendapat tatapan dalam dari Kean merasa semakin gugup dan salah tingkah.
"Lo boleh pakai baju gue, tapi jangan keluar dari kamar."
pake nanya mau ngapain
MANDI sonoo🤣🤣🤣
bahaya ikii
calon " ulet bulu nih pasti 🤣
hareudang kak🤭😍🤭🤭🤭
lanjut maljum😁