Hati Lilian hancur seketika setelah sang suami, "Alen" kembali dari dinas di luar kota membawa seorang perempuan hamil bersama nya.
"Siapa wanita itu mas? Kenapa kau membawanya pulang ke rumah kita?"
Tiga tahun pernikahan Lilian tidak memiliki anak, karena itu ia memiliki untuk mengabdi sebagai menantu, ipar serta istri yang baik di keluarga "Bayron" ia tidak pernah membocorkan tentang siapa dirinya dan siapa keluarganya, sehingga mereka semua menganggap Lilian sebagai yatim piatu yang tunduk dan patuh.
"Dia istri asisten ku, sesuatu terjadi di luar kota, asisten ku meninggal karena menyelamatkan ku dan sekarang istrinya hanya punya aku dan keluarga ini untuk melanjutkan hidup, atas wasiat asisiteku dia meminta ku untuk menjaga anak dan istrinya,"
Dilanda keputusan suami yang begitu menyakitkan, akan kah Lilian tetap bertahan? Apalagi setelah kedatangan wanita itu, Alen selalu mengabaikan nya.
Penasaran? Ayo baca kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Raya mematung sejenak setelah melihat sisa-sisa benda yang terbakar di dalam tong sampah tersebut.
"I-ini, bukan kah ini foto pernikahan kak Alen dan Lilian?" ucap Raya sambil mengambil sisa serpihan dari foto yang terbakar itu.
Karna penasaran Raya pun mengambilnya kayu dan kemudian mengorek-ngorek isi tong sampah tersebut, namun apa yang terjadi? Dia mematung sejenak karena semua yang ada di dalam tong sampah tersebut adalah foto-foto pernikahan, baju-baju Lilian, sendal mahal, tas dan intinya semua yang ada di dalam tong sampah tersebut yang separuhnya sudah jadi abu itu semua barang milik Lilian.
"Lilian, apa dia sudah gila? Ternyata dia membakar semua barang-barang nya sebelum dia pergi, kak Alen harus tau ini," Ucap Raya.
Ia segera menyimpan tong sampah tersebut di sudut taman dan kemudian kembali masuk ke dalam rumah.
Sementara itu di perusahaan Pratama grup.
"Nona besar, maaf aku agak lama," ucap Dimas yang saat itu baru saja tiba di ruangan CEO, tempat dimana kini Lilian berada.
"Tidak masalah, kau mengurus kakaku, jangan terlalu sungkan padaku," jawab Lilian.
"Silahkan duduk Dimas," lanjut nya.
"Benar-benar keluar wibawa nya, dia sangat berbeda dengan Lilian yang sebelumnya tingal di keluarga Bayron," batin Dimas.
"Dimas? Kenapa kau malah melamun?" tanya Lilian lagi.
"Ah, iya-iya, nona maaf," ucap Dimas yang kemudian duduk berhadap-hadapan dengan Lilian.
"Baiklah Dimas, aku ingin menanyakan sesuatu tentang perempuan yang bernama Ayu, dia kelihatan sangat sombong dan angkuh," ucap Lilian kepada Dimas.
"Oh, ayu ya? Dia itu memang agak di takuti karyawan bawahan di sini, dia sebenarnya juga sangat sering mengejar-ngejar pak Karen, tapi perusahaan tidak bisa memecat nya karena semua pekerjaan yang dia lakukan sangat bagus, di tambah lagi sekarang sulit untuk mencari pengganti," jelas Dimas panjang lebar.
"Begitu ya, baik lah lupakan saja, sekarang aku ingin bicara tentang proyek tempo hari, apa kau ingat?" tanya Lilian lagi.
"Proyek yang kau mohonkan kepada tuan besar untuk diberikan kepada perusahaan mantan suamimu itu nona?" tanya Dimas dengan polos nya.
"Ya, bagus kau masih ingat, aku ingin bahas tentang proyek itu sekarang dan aku ingin kau pergi ke perusahaan mereka, cari-cari kesalahan dan aku mau kau membatalkan proyek itu dan buat perusahaan Alen rugi besar," ucap Lilian dengan tatapan tajam.
Sisi kejam seorang Lilian kini mulai terlihat, kali ini dia tidak lagi berbelas kasih, mungkin ini adalah awal dari kehancuran keluarga Bayron.
"Apakah aku harus langsung pergi kesana nona?" Tanya Dimas agak sedikit ngerti dengan tindakan Lilian yang menurut nya terlalu sat set itu.
"Eeh tunggu, jangan begitu, kemari, aku akan bisikan sesuatu padamu," ucap Lilian seketika berubah pikiran, dia ingin melakukan sesuatu yang mungkin akan lebih membuat kepala Alen meledak sangking pusing nya.
"Nahhh, itu baru keren, kalau begitu aku setuju," jawab Dimas setelah menerima bisikan tersebut.
"Oke lakukan," ucap Lilian sambil tersenyum tipis.
"Siap laksanakan nona," ucap Dimas yang kemudian berdiri dari duduknya dan berlalu pergi dari ruangan Lilian.
Sementara itu di kediaman keluarga Pratama.
"Jadi sebenarnya maksud kedatanganmu kali ini untuk menuntut kembali soal perjodohan yang tertukar Erlan?" tanya papa Ardan kepada Erlan.
Saat ini, pemanasan mereka sudah beralih ke jenjang yang lebih serius.
"Ya, bukan kah sebelumnya perjodohan itu milikku dan Lilian? Sekarang dia sudah kembali," jawab Erlan dengan mantap.
"Sebenarnya sebesar apa cinta anak muda ini kepada putriku, bahkan ketika dia tau Lilian sekarang berstatus janda, dia masih mau, sedangkan dirinya sendiri adalah putra dari keluarga terpandang, apa yang harus aku jawab sekarang?" batin papa Ardan terasa serba salah.
"Aku minta maaf kalau ini terkesan tidak sopan, dan terlalu terburu-buru, tapi aku tidak mau kehilangan Lilian untuk yang kedua kalinya," ucap Erlan lagi sambil menatap wajah calon papa mertuanya.
"Tapi Erlan, bagaimana dengan keluarga mu? Apakah mereka kedepannya masih bisa menerima putriku dengan baik? Sedangkan Lilian sekarang status nya sperti apa kau sudah tau kan? Lagipula Lilian sendiri sama sekali tidak tau tentang perjodohan itu nak," ucap papa Ardan dengan suara pelan dan lembut.
"Aku tau om, tapi keluargaku sudah mengenal Lilian dan mama tidak akan pernah mempermasalahkan hal apapun, sedangkan Karin, dia adalah sahabat Lilian," ucap Erlan yang tampak sangat berusaha untuk meyakinkan papa Ardan.
Papa Ardan sebenarnya sangat salut akan keteguhan hati Erlan, sosok laki-laki tampan sepertinya seharusnya bisa mencari seorang gadis yang lebih baik, tapi cintanya kepada Lilian ternya sama sekali tidak pernah pudar sampai saat ini.
"Huh, baiklah Erlan, jika kau benar-benar ingin mengembalikan perjodohan itu, om setuju, tapi satu hal yang tidak bisa om lakukan adalah, meyakinkan Lilian untuk memilih dirimu dan juga membuat Lilian menerima perjodohan ini, dia sudah cukup menderita sebelumnya, om sudah tidak sanggup mengatakan banyak hal untuk itu, kau harus berjuang sendiri," ucap papa Ardan dengan tatapan serius.
"Baiklah, aku mengerti om, yang aku butuhkan hanya restu dan izin darimu, sisa nya biarkan aku yang berjuang sendiri," jawab Erlan yang kini tampak senang dari raut wajahnya.
"Satu lagi, kau harus menghadapi kakak nya yang overprotektif itu," goda papa Ardan sambil sedikit tertawa kecil.
"Aku akan menghadapi apapun itu om," ungkap Erlan lagi, hatinya kini terasa tenang setelah membicarakan hal tersebut kepada papa Ardan.
Sementara itu di perusahaan Alen.
"Apa!? Bagaimana bisa perusahaan Pratama grup menarik investasi mereka tanpa konfirmasi terlebih dahulu pada ku?" Ucap Alen yang saat ini terkejut setelah menerima kabar dari asisten nya.
Lutut Alen gemetar, ia bahkan terduduk kembali ke atas kursi setelah menerima kabar tersebut.
****
bikin kwatir orang yang menyanyinya tapi
jiwa nya memang sudah seperti itu bukan jahat atau menjadi wanita ga benar cuma
orang nya kepingin tau saja gitu kadang
mengabaikan nasehat ,,
punya nama. jadi bagus ,,,ehhh malah berhianat sekarang belum tau siapa Lilian
enakan,,,coba loe kelurahan anaknya abis lah nasib loe,,,,