NovelToon NovelToon
Diantara Dua Bayangan

Diantara Dua Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:831
Nilai: 5
Nama Author: Fazry Fazriyah

Nara menatap Zaid dengan perasaan campur aduk. Pria berhati dingin ini baru saja melemparkan skenario paling menakutkan dalam hidupnya, memaksa Nara untuk memilih. "terus bersembunyi dalam ketakutan, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang selama ini ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2. Gelombang Yang Mulai Menyapu

Sesuai dengan rencana orang tua kedua belah pihak, Nara diminta untuk menemui Zaid di sebuah kafe di pusat kota. Alasan resminya adalah untuk "saling mengenal lebih dekat."

Namun bagi Nara, ini terasa seperti eksekusi pelan-pelan terhadap kebebasannya.

Nara tiba lebih awal sepuluh menit, memilih meja di sudut yang agak tersembunyi. Ia sengaja memesan es kopi hitam untuk menahan rasa kantuk akibat tidak bisa tidur semalaman.

Tepat pada waktu yang dijanjikan, sosok Zaid muncul. Pria itu mengenakan kemeja putih kasual yang digulung hingga ke siku, namun kesan kaku dan formal tetap terpancar kuat dari gesturnya. Langkah kakinya mantap saat mendekati meja Nara.

"Sudah lama menunggu?" tanya Zaid singkat sembari menarik kursi di hadapan Nara.

"Tidak, baru beberapa menit," jawab Nara formal.

Zaid mengangguk pelan, lalu memanggil pelayan untuk memesan americano tanpa gula. Setelah pelayan pergi, suasana di antara mereka kembali diselimuti canggung yang pekat.

 Zaid hanya menatap keluar jendela glass-house kafe tersebut, seolah kehadiran Nara di depannya tidak terlalu penting.

Nara yang merasa tidak nyaman dengan keheningan ini akhirnya memberanikan diri untuk membuka suara. Jika ia ingin menyelesaikan benang kusut ini, ia harus jujur—setidaknya pada Zaid.

"Pak Zaid," panggil Nara.

Zaid menoleh, alisnya terangkat sebelah.

"Zaid saja. Kita tidak sedang di kantor."

"Baik, Zaid," Nara berdehem pelan, mengumpulkan keberaniannya. "Soal perjodohan ini... apakah kamu sebenarnya menyetujuinya?"

Zaid menatap Nara lurus-lurus. Pandangannya tenang, namun sangat intens hingga membuat Nara harus menahan diri untuk tidak mengalihkan pandangan.

"Pernikahan bagi saya adalah sebuah komitmen dan keputusan rasional," jawab Zaid dingin. "Orang tua saya percaya pada keluarga Anda, dan orang tua Anda percaya pada saya. Bagi saya, itu sudah cukup menjadi landasan."

Nara tertegun mendengar jawaban yang begitu mekanis.

"Hanya karena itu? Bagaimana dengan perasaan? Cinta? Apakah kamu mau menikah dengan seseorang yang tidak kamu cintai, bahkan belum kamu kenal?"

Zaid menyandarkan punggungnya di kursi, melipat kedua tangannya di dada. "Cinta adalah konsep yang terlalu dilebih-lebihkan, Nara. Perasaan bisa berubah seiring waktu, tapi komitmen dan kesamaan latar belakang adalah hal yang menjaga sebuah hubungan tetap stabil."

"Tapi saya tidak bisa seperti itu!" cetus Nara, emosinya mulai terpancing oleh kepasifan pria di hadapannya.

 "Saya tidak bisa menikah tanpa ada rasa. Ini masa depan saya, Zaid. Bukan transaksi bisnis!"

Zaid tidak tampak terkejut atau marah dengan reaksi Nara. Ia hanya menatap gadis di depannya dengan tatapan menelisik.

 "Kalau begitu, kenapa kamu tidak menolaknya langsung di depan ayahmu kemarin?"

Kata-kata Zaid bagaikan tamparan keras yang tepat mengenai sasaran. Nara terdiam. Bibirnya terkunci rapat.

Ia tahu persis jawabannya: karena ia takut pada ayahnya. Karena ia tidak memiliki keberanian untuk mendobrak aturan yang telah mengekangnya sejak kecil.

"Kamu tidak berani menolak orang tuamu, tapi kamu berharap saya yang membatalkan perjodohan ini," lanjut Zaid dengan suara datar, namun sangat menohok. "Jangan membebankan ketakutanmu pada orang lain, Kaynara."

Nara mengepalkan tangannya di bawah meja. Rasa kesal dan malu bercampur menjadi satu. Pria di hadapannya ini benar-benar tidak memiliki empati, dingin, dan sangat tajam dalam menilai orang.

"Aku punya seseorang yang aku cintai," pengakuan itu akhirnya meluncur dari mulut Nara, menjadi benteng pertahanan terakhirnya. "Kami sudah berhubungan selama dua tahun. Aku tidak bisa menerima perjodohan ini."

Zaid merespons pengakuan itu hanya dengan senyuman tipis—jenis senyum sinis yang sangat tipis hingga hampir tak terlihat.

"Kalau begitu, buktikan," tantang Zaid pelan. "Bawa pria itu ke hadapan ayahmu. Minta dia memperjuangkanmu secara terhormat. Jika ayahmu menyetujuinya dan membatalkan perjodohan ini, saya akan mundur dengan senang hati."

Zaid menyesap kopinya yang baru saja diantarkan pelayan, lalu menatap Nara kembali.

 "Tapi jika kamu tidak berani, atau priamu itu tidak sanggup menghadapi ayahmu... maka terima kenyataan bahwa perjodohan ini akan tetap berjalan."

Nara menatap Zaid dengan perasaan campur aduk. Pria berhati dingin ini baru saja melemparkan skenario paling menakutkan dalam hidupnya, memaksa Nara untuk memilih. Terus bersembunyi dalam ketakutan, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang selama ini ia sembunyikan.

.

.

Tantangan dari Zaid terus bergema di kepala Nara sepanjang perjalanan pulang. Suara baritonnya yang tenang namun menusuk itu seolah terus mengejar.

“Bawa pria itu ke hadapan ayahmu... Jika tidak sanggup, terima kenyataan.”

Di dalam taksi yang membelah kemacetan kota, Nara mengepalkan jemarinya hingga buku-buku jarinya memutih.

Haruskah ia benar-benar membawa Devino ke hadapan Ayah? Membayangkan wajah tegas Pak Rahardja saja sudah membuat nyali Nara menciut, apalagi membayangkan reaksi sang ayah saat mengetahui putri tunggalnya telah berbohong selama dua tahun penuh.

Ponsel di genggamannya bergetar. Nama Devino kembali menyala di layar.

"Halo, Dev..." panggil Nara, suaranya terdengar sangat lelah.

"Nara? Kamu dari mana? Bagaiamana pertemuanmu dengan pria itu?".

Cecar Devino tanpa basa-basi. Ada nada gelisah yang samar-samar ditutupi oleh ketegasannya.

Nara menarik napas panjang, mencoba menata kalimatnya agar tidak membuat Devino panik.

"Kami baru saja selesai bicara, Dev. Dia... dia pria yang sangat kaku dan dingin. Tapi, dia mengatakan sesuatu yang membuatku berpikir."

"Berkata apa dia?" suara Devino terdengar menajam.

"Dia tahu kalau aku menyukai orang lain. Dan dia menantangku... dia bilang, kalau kamu benar-benar serius, bawalah kamu bertemu Ayah secara jantan. Kalau Ayah merestui, Zaid akan mundur."

Hening merayap di seberang telepon. Hening yang terasa jauh lebih lama dari biasanya.

"Dev? Kamu masih di sana?" panggil Nara cemas.

"Aku di sini, Nara," sahut Devino pelan. "Tapi... apakah ini saat yang tepat? Kamu tahu sendiri bisnis kulinerku baru saja mau ekspansi cabang ketiga. Aku sedang butuh modal besar dan fokus penuh. Kalau aku datang ke rumahmu sekarang tanpa persiapan yang benar-benar matang, ayahmu pasti akan memandang sebelah mata."

Mendengar jawaban itu, ada sesuatu yang mengganjal di dada Nara. Sebuah rasa kecewa tipis yang merambat perlahan.

"Dev, ini bukan soal bisnismu. Ini soal kita. Zaid memberikan celah agar kita bisa keluar dari perjodohan ini!"

"Nara, dengarkan aku dulu," potong Devino lembut, mencoba memetakan logika.

"Aku hanya ingin datang dengan posisi yang kuat. Aku ingin ayahmu melihatku sebagai pengusaha yang setara, bukan pemuda biasa yang nekat. Beri aku waktu beberapa bulan lagi, ya? Kita ulur waktu perjodohan itu."

"Mengulur waktu?" Nara tertawa sumbang, air mata mulai menggenang di sudut matanya.

"Ayah tidak bisa diulur, Dev. Pernikahan ini sedang disiapkan!"

"Nara, tolong mengerti posisiku..."

"Aku selalu mengerti posisimu selama dua tahun ini, Dev," bisik Nara lirih, rasanya sangat menyakitkan. "Tapi saat aku paling membutuhkanmu untuk berdiri di sampingku, kamu justru minta waktu."

Tanpa menunggu balasan Devino, Nara mematikan sambungan telepon. Ia menyandarkan dadanya yang terasa sesak pada pintu taksi, menatap rintik hujan yang mulai membasahi kaca luar.

Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, Nara merasakan keraguan yang sangat besar terhadap sosok Devino.

1
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
knp kamu gak jujur SM Zaid nar
Apriyanti
semoga butir² cinta muncul di hati mereka berdua
Apriyanti: siaap thor🥰🙏
total 2 replies
Apriyanti
thor jgn lama² ya bikin mereka bersatu nya,, lanjut thor 🙏
Apriyanti
semoga lama² mereka bisa bersatu🙏💪🥰
Apriyanti
udalah Zaid buang ego mu Ayuk dekat kan dirimu ke nara🤣
Apriyanti
semoga kalian berdua secepat nya timbul perasaan cinta
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
Alhamdulillah dah jg akhirnya
selamat ya Nara dan Zaid semoga samawa ya🙏
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
nah gitu dong Nara ,,mending jamu pilih Zaid drpd devino
Apriyanti
di situbkanu harus SDH bisa melihat Nara kesengguhan Zaid sm kamu di banding kan devino yg pengecut itu
Apriyanti
bodoh kamu Nara KLO sampe menolak Zaid,, lanjut thor 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!