NovelToon NovelToon
Lilin Terakhir EMEI

Lilin Terakhir EMEI

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:626
Nilai: 5
Nama Author: Chandra Arbara

Di malam terakhir, kepala biara wafat di aula yang kosong dan dingin.

Tidak ada murit, tidak ada upacara, hanya Jingyue yang menemani sampai fajar.

Sebelum menghembus kan nafas terakhir nya, sang guru berbisik:
"selama masih ada satu orang yang menyapu pelataran ini.... Emei belum mati"

Bukan untuk mencari ketenaran.
Bukan karena dia kuat.
Tapi karena kalau dia juga pergi, maka emei akan benar-benar hilang dari dunia.

Di Jianghu yang berisik, seorang gadis paling tenang berjalan....

Untuk membuktikan bahwa sekte nya belum padam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18. Batu Pertama dan Surat Kedua

..."Surat pertama menyuruh kami turun, surat kedua menyuruh kami melangkah lebih jauh, maka kami melangkah, karena tanah tidak akan pernah rata kalau tidak ada yang mau berjalan di atasnya."...

Pagi hari di perkemahan bukit Desa Qinghe dimulai dengan suara yang sudah lama tidak terdengar, yaitu suara palu memukul kayu dan suara tawa anak-anak yang berlari membawa ember berisi lumpur untuk dijadikan bahan plester, karena air Sungai Min sudah surut sampai ke batas normal dan untuk pertama kalinya dalam hampir sebulan tanah kembali bisa dipijak tanpa sepatu langsung tenggelam.

Jing yue berdiri di atas tanah yang masih becek, menatap barisan rumah-rumah yang tinggal kerangka, atap yang runtuh, dan tiang yang miring, lalu dia menghela napas panjang karena dia tahu bahwa menyembuhkan demam lebih mudah daripada membangun kembali tempat tinggal bagi tiga ratus orang yang sudah kehilangan segalanya.

Tetua Pertama datang membawa gulungan denah yang digambar semalam di atas kulit kayu, dan dia berkata bahwa mereka akan mulai dari sepuluh rumah untuk keluarga yang paling banyak anaknya, lalu dilanjutkan ke balai desa, lalu ke dapur umum, dan semua itu harus selesai sebelum musim hujan kedua datang dalam dua bulan.

Semua murid Emei dibagi tugas, ada yang menebang bambu di hutan, ada yang mengangkut batu dari sungai, ada yang mencampur lumpur dengan jerami untuk membuat dinding, dan Jing yue sendiri memimpin kelompok yang paling berat, yaitu mengangkat balok utama untuk rumah pertama yang akan ditempati oleh Nenek Sun dan lima cucunya yang selama ini tidur di bawah terpal.

Saat balok pertama berhasil ditegakkan dan diikat dengan tali, seluruh warga bertepuk tangan, bahkan beberapa orang tua menangis karena melihat ada atap baru yang akan menaungi mereka, dan anak-anak berteriak bahwa rumah itu akan dicat warna biru seperti langit setelah hujan.

Jing yue tersenyum untuk pertama kalinya dengan tulus sejak turun gunung, dia mengusap kepala anak yang memberikan paku kepadanya, lalu dia mengambil sapu bambu dan mulai menyapu halaman rumah itu agar tidak ada paku atau pecahan genting yang bisa melukai kaki telanjang.

Tepat ketika matahari berada di atas kepala dan semua orang berhenti sebentar untuk makan siang berupa bubur dan ikan asin, terdengar suara terompet dari arah jalan, dan dua orang penunggang kuda dengan baju zirah ringan muncul membawa bendera kuning kecil yang sama seperti bendera yang datang tiga minggu lalu.

Suasana yang tadinya ramai langsung hening, palu berhenti, orang berhenti mengunyah, dan semua mata menatap ke arah dua utusan itu yang turun dengan wajah tegang dan membawa gulungan kuning lain di tangan yang disegel dengan lilin merah yang lebih besar dari sebelumnya.

Jing yue mengelap tangannya di jubah, berjalan maju, dan berlutut menerima surat itu, dan ketika dia membuka segelnya di depan semua orang, tangannya tidak gemetar, tapi hatinya terasa seperti ditimpa batu karena dia sudah bisa menebak bahwa surat dari langit tidak pernah datang untuk memuji.

Dengan suara yang terdengar sampai ke barisan paling belakang, utusan itu membacakan bahwa karena keberhasilan Emei dalam menangani banjir dan wabah di Desa Qinghe, maka Kaisar memutuskan untuk memperpanjang tugas Emei selama tiga bulan lagi, dan bukan hanya di Qinghe, tetapi juga di lima desa lain di sepanjang Sungai Min yang juga terkena dampak dan sampai sekarang belum mendapat bantuan.

Surat itu juga menyatakan bahwa Emei harus mendirikan pos kesehatan di setiap desa, harus membangun jembatan darurat, harus mencatat semua kepala keluarga yang kehilangan rumah, dan harus mengirim laporan setiap sepuluh hari langsung ke ibu kota, dan jika gagal maka hukuman pencoretan dari daftar sekte resmi tetap berlaku ditambah denda beras sebesar seribu karung.

Begitu pembacaan selesai, tidak ada yang bersorak, tidak ada yang protes, hanya ada suara angin yang menggerakkan bambu dan suara anak kecil yang bertanya pelan kepada ibunya apakah mereka harus pindah lagi.

Utusan itu menyerahkan surat, memberi hormat kaku, lalu naik kuda dan pergi tanpa menunggu jawaban, meninggalkan debu dan keheningan yang lebih berat daripada lumpur seminggu lalu.

Tetua Kedua adalah yang pertama bicara, dan dia berkata dengan marah bahwa ini tidak adil, bahwa mereka baru saja mulai membangun, bahwa persediaan mereka sudah habis, dan bahwa Kaisar seperti sedang menguji sampai di mana batas manusia bisa bertahan.

Tetua Ketiga menimpali bahwa lima desa artinya lima kali lipat kerja, dan dengan jumlah murid yang ada sekarang itu mustahil tanpa bantuan dari luar, sementara Tetua Keempat hanya diam dan menatap tumpukan obat yang tersisa yang bahkan tidak cukup untuk satu desa lagi.

Jing yue tidak langsung menjawab, dia melipat surat itu pelan, memasukkannya ke dalam dada dekat lencana, lalu dia naik ke atas tumpukan kayu agar semua orang bisa melihatnya, dan dia berkata bahwa dia tahu semua orang lelah, dia juga lelah, tangannya sakit, kakinya penuh luka, dan tidurnya tidak pernah lebih dari tiga jam.

Tetapi dia juga berkata bahwa tiga minggu lalu mereka menerima satu desa dan mereka hampir menyerah, namun hari ini satu desa itu sudah mulai berdiri lagi, dan itu artinya mereka bisa, bukan karena mereka kuat, tapi karena mereka tidak punya pilihan lain selain terus berjalan.

"Kalau kita berhenti sekarang," katanya, "maka lima desa itu akan menunggu sampai kapan, dan kalau kita gagal maka bukan hanya nama Emei yang hilang, tapi juga kepercayaan orang-orang yang sudah mulai percaya kepada kita."

Dia lalu membagi rencana baru, bahwa mereka akan membagi seratus murid menjadi lima kelompok, masing-masing dua puluh orang dipimpin oleh satu Tetua, dan setiap kelompok akan dikirim ke satu desa, sementara dia sendiri akan berkeliling mengawasi dan membawa surat laporan ke kabupaten setiap sepuluh hari.

Bai Ling akan tetap di Qinghe untuk mengawasi pembangunan dan dapur, karena di sini sudah ada sistem yang berjalan, dan anak kecil yang selama ini mengikutinya akan dititipkan kepada Nenek Sun agar tidak ikut berkelana ke tempat yang lebih berbahaya.

Malam itu tidak ada api unggun besar, tidak ada nyanyian, yang ada hanya obor yang menyala di setiap tenda karena semua orang sibuk mengepak, membagi obat, membagi beras, dan menulis nama-nama desa di atas bambu agar tidak tertukar.

Jing yue duduk di luar paling akhir, menulis di bukunya dengan lampu minyak yang hampir padam, dan dia menulis bahwa hari ini batu pertama rumah diletakkan, dan hari ini juga batu kedua berupa tanggung jawab baru diletakkan di punggungnya.

Dia menulis bahwa dia takut, takut tidak cukup, takut mengecewakan, takut ada orang mati karena keputusannya, tapi dia juga menulis bahwa takut itu tidak boleh menghentikan tangan, karena tangan yang berhenti tidak akan pernah bisa membangun apa-apa.

Sebelum tidur, dia keluar dan berjalan ke rumah pertama yang rangkanya sudah jadi, dia menyentuh tiang kayu itu, merasakan kasarnya, dan dia berbisik bahwa rumah ini akan selesai, dan empat rumah lain juga akan selesai, dan lima desa lain juga akan selesai, satu per satu, seperti anak tangga di Shaolin.

Fajar berikutnya datang lebih cepat, dan sebelum matahari naik penuh, lima kelompok sudah berangkat ke arah yang berbeda, membawa perahu, membawa alat, membawa surat, dan membawa janji bahwa mereka akan kembali setiap sepuluh hari dengan laporan.

Jing yue berdiri di persimpangan jalan tanah, menatap kepergian mereka satu per satu, lalu dia mengambil sapu bambunya, menaruhnya di punggung, dan mulai berjalan sendirian ke arah desa pertama di daftar, yaitu Desa Majia yang katanya paling parah karena berada di tikungan sungai.

Di tengah jalan dia bertemu dengan Lei Feng dari Pedang Langit yang sedang menunggang kuda membawa dua karung obat, dan Lei Feng berkata bahwa dia mendengar perintah baru itu dan dia datang bukan untuk mengawasi lagi, tapi untuk membantu, karena katanya dia malu kalau Emei bekerja sendirian sementara dia hanya bisa bicara.

Jing yue mengangguk, tidak banyak bicara, lalu mereka berdua berjalan berdampingan, dan di belakang mereka debu mengepul, di depan mereka jalan panjang, dan di dada Jing yue ada surat kedua yang beratnya sama seperti balok kayu yang tadi pagi dia angkat.

Malam itu, ketika dia bermalam di sebuah kuil kecil yang atapnya bocor, dia bermimpi tentang Gunung Emei, tentang lonceng, tentang kabut, dan tentang ibunya yang dulu berkata bahwa menjadi kuat bukan berarti tidak jatuh, tapi berarti bangun setiap kali jatuh dengan tangan yang masih mau menolong orang lain.

Dia bangun sebelum ayam berkokok, menulis satu baris terakhir di bukunya: "Hari ini kami mulai membangun, dan hari ini juga kami mulai berjalan lebih jauh, karena tugas seorang penjaga tidak pernah selesai di satu tempat."

Lalu dia melipat bukunya, mengikat tali di pinggang, dan melanjutkan perjalanan, karena di depan sana ada lima desa yang menunggu, dan di belakangnya ada satu desa yang akhirnya punya harapan.

1
Oppojaya
👍👍
Oppojaya
👍👍👍
Oppojaya
ditunggu karya selanjutnya
Oppojaya
🤗
Pena Quality
👍
Oppojaya
Keren... ditunggu lagi lanjutan episode berikutnya 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!