Akira Yoshikawa, pengurung diri yang menghabiskan waktunya selama 4 tahun untuk menamatkan sebuah game yang hanya dimainkan oleh satu orang, dan orang itu adalah dirinya. Namun, setelah ia menamatkan game itu, hal mustahil mulai terjadi, Benua, Monster dan Raja Iblis yang ada di game semuanya menjadi nyata, bahkan beberapa orang dipilih menjadi Pahlawan untuk melawan para Monster, termasuk Akira, dan mereka yang dipilih sebagai pahlawan akan mendapatkan sebuah sistem.
Berbeda dengan Pahlawan yang lain, Akira ditakdirkan sebagai seseorang yang dapat menyelamatkan manusia dengan persentase tertinggi, walau dia tau, terkadang dia tidak menyadari, betapa kuat dirinya di hadapan orang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laten Kishi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nahas
Perjalanan dengan mobil berlalu, Amamiya memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, lalu Mereka bertiga turun dan jalan kaki menuju ke dalam hutan, di dalam hutan yang lebat mereka bertiga bertemu dengan Kato.
Setelah itu tanpa basa basi mereka mendiskusikan posisi masing-masing untuk menahan serangan invasi.
Beberapa Menit Berlalu...
Setelah diskusi beberapa menit, mereka sudah menentukan posisinya masing masing, Akira dan Lumina pun pergi ke posisinya, meninggalkan Kato dan Amamiya.
Setelah Akira dan Lumina sudah cukup pergi jauh dari pandangan Amamiya dan Kato, Amamiya berbicara,
“Kenapa dia memilih tempat itu? Walau bagus untuk seorang Mage, tapi begitu monster keluar dari portal, monster bisa lolos dengan mudah."
Kato yang mendengar hal tersebut menjawab dengan tersenyum,
“Entahlah, kita tidak akan mungkin bisa menebak apa yang dipikirkannya, jadi lebih baik kita segera ke posisi masing-masing sesuai rencana.”
......................
Di atas tebing, tempat dimana bisa melihat seluruh hutan dengan jelas, Akira berdiri diam disertai angin yang bertiup kencang mengibarkan mantel panjangnya yang disampirkan di bahu.
Akira menatap hutan di hadapannya sambil berpikir,
“Tempat yang nyaman, sulit dijangkau, dan aman, jika ditanya alasanku memilih tempat ini, tentu saja itulah alasannya, lagian aku ini yang paling lemah di antara mereka."
Ding...
[Invasi akan terjadi 1 Menit lagi]
Sistem berwarna biru tiba tiba muncul di hadapan Akira, ia melihat sistem itu sambil berpikir,
"Selama 4 Minggu, yang menginvasi adalah Monster Tikus yang besarnya sekitar 1 meter atau setengah tinggi rata rata orang dewasa, harusnya ini mudah, kalo bukan Bos Monster yang muncul..."
Akira kembali melihat ke arah hutan, jauh di hadapannya dia melihat sebuah retakan yang cukup besar di udara.
"Semoga saja firasat buruk ku sebelumnya tidak benar benar terjadi…” pikirnya.
TRAKK!
PRANNGGG!
Suara Retakan Portal terdengar keras membuat burung burung di hutan berterbangan bersamaan dengan langit yang tiba-tiba berubah menjadi gelap, selain itu, portal yang jauh dihadapannya berukuran sekitar 10 meter.
Mereka berempat yang berada di 4 titik berbeda merasakan satu hal yang sama, aura yang keluar dari Retakan Portal bukanlah aura monster yang lemah.
Akira tetap tenang berdiri diam dan sedikit berkeringat.
“Tidak mungkin kan…” gumamnya.
BUM!
Suara hentakan kaki yang berat terdengar bersamaan keluarnya kaki yang besar dari Portal setinggi 10 meter.
BUM! BUM!
HUUURGGHH!!!
Keluar dari portal seekor monster berbentuk Tikus besar setinggi 10 meter, monster itu sedang mengaung keras hingga suaranya terasa terdengar dari sudut manapun di hutan yang luas.
Sekujur tubuh Monster itu dilengkapi sebuah zirah besi seolah tidak ada celah sedikitpun, di bagian matanya menampilkan sedikit cahaya merah, monster itu juga membawa sebuah senjata pedang yang besar berukuran 6 meter.
Ding...
[Peringatan! Kepada Seluruh Pahlawan Bumi!]
[Bos Monster Rank B telah muncul di Jepang, Prefektur Oku-Nikko]
[Harap seluruh Pahlawan segera membantu untuk melawan Bos Monster]
Sistem Bumi muncul di hadapan Akira, setelah ia melihat peringatan yang diberikan, dia mencoba mengecek status Monster yang berada jauh di hadapannya.
“Yang benar saja… walau lebih lemah dari Blade Tail, dilihat sekilas saja sudah jelas pertahanannya sulit untuk ditembus."
[Bos Monster:Iron Clad Rat
Tingkat Bahaya:C
Umur:???
Level:86
STR:???
DEF:???
DEX:???
INT:???
Skill:
(Terkena Batasan Otoritas)]
HUUURRGGHH!!!
Monster itu berteriak sambil mengayunkan senjatanya ke atas.
BOOOOM!
Dengan cepat dia menghantamnya ke tanah membuat getaran yang kuat hingga muncul debu yang menghalangi pandangan.
BUM! BUM! BUM!
Dalam debu yang menghalangi, Monster itu berlari hingga terdengar suara keras dari hentakan kakinya bersamaan dengan tanah yang bergetar, Monster itu berlari menuju ke suatu arah, dan arah tujuan itu adalah tempat dimana Lumina berada.
Lumina yang tidak bisa melihat apa-apa di depannya, dia hanya bisa bersiap memegang pedang dengan kedua tanganya, ia mendengar suara itu semakin dekat bersamaan dengan tanah yang dipijaknya terasa berguncang.
BUM!
Keluar monster itu dari debu yang menghalangi sambil mengangkat senjatanya bersiap menghantamnya dengan keras ke bawah.
WUUSSH!
SKRRRTTT!
Saat senjata itu dihantamkan Lumina berhasil menahan dengan pedangnya hingga muncul percikan api dan tanah yang dipijaknya langsung mengalami keretakan.
Saat monster itu sedang sibuk menembus pertahanan Lumina, Amamiya keluar dari debu di belakang monster, mencoba menyerang lehernya dengan dua belati tajam, tapi—
TANG!
“Keras sekali…” Ucap Amamiya.
Belatinya justru terpelanting dan membuat Amamiya melayang di udara, Monster yang sebelumnya terfokus menembus pertahanan Lumina langsung menyadari serangan Amamiya, dengan cepat monster itu memutar balikan badannya, mencoba menyerang Amamiya dengan mengayunkan pedangnya dari atas.
Amamiya yang masih berada di udara matanya membulat dan pupil matanya mengecil melihat pedang besar dihadapannya.
“Aku, tak bisa menghindar..."
BAM!
Dalam waktu singkat Kato muncul menangkis sisi pedang monster itu dengan tinjunya yang dilapisi sarung besi, mereka berdua yang sebelumnya berada di udara, berhasil mendarat dengan selamat.
“Terimakasih,” ucap Amamiya.
“Bukan masalah, yang lebih penting kita harus bertahan selama mungkin sampai bala bantuan datang."
HUURRGGH!!!
Monster itu kembali mengaung keras membuat mereka bertiga yang berada di dekatnya menutup telinga.
Setelah mengaung, Monster itu mengayunkan senjatanya ke atas dan langsung menghantamnya ke bawah.
BOOOOM!
Begitu senjatanya dihantamkan ke bawah, guncangan kuat terasa dan menciptakan debu yang menghalangi pandangan.
Belum sempat mengangkat senjatanya kembali, tikus itu melihat Lumina di hadapannya, menembus debu yang menghalangi, Lumina sedang bersiap mengayunkan pedangnya dari samping kiri.
[Skill Heavy Slash:Aktif]
Saat dekat dengan kepala tikus itu, Lumina mengayunkan senjatanya dengan kuat.
TRANG!!!
Kepala tikus itu yang terlindung zirah menahannya dari cedera, namun tetap terpental ke arah kanan, kembali ke posisi awalnya muncul dekat portal dengan posisi terbaring jatuh.
Akira yang melihat dari kejauhan di tebing berpikir,
“Gawat, masa aku diam saja.”
Akira menelan ludahnya karena takut yang akan dia lakukan selanjutnya tidak sesuai harapan.
“Aku tidak tau apa ini akan berhasil, tapi harus kucoba.”
Akira melebarkan pijakan kakinya, meletakan tangan kanannya yang terbuka di bagian kiri pinggang, lah tangan kirinya memegang telapak tangan kanannya, hingga terlihat seperti sebuah pedang yang tersarung.
Dia bernafas panjang dan memejamkan matanya, sambil berpikir,
“Pertama, Membuat.”
Sebuah angin kencang terbentuk di tangan kanannya, membuat di sekitar tempatnya berpijak muncul angin yang berputar seperti angin puyuh.
“Kedua, Modifikasi, aku harus membuat angin ini setajam mungkin hingga dapat menembus benda sekeras apapun.”
Angin yang sebelumnya hanya tersebar di tangannya sekarang membentuk seperti sebuah bilah pedang kabur yang tajam.
“Aku masih perlu memodifikasinya, hingga saat dilepaskan dapat mencapai tempat yang jauh.”
Ukuran bilah pedang anginnya masih sama namun angin disekitar Akira yang bertiup kencang berkumpul memutari bilah pedang anginnya.
Perlahan Akira kembali membuka matanya.
“Ini sudah cukup," gumamnya.
Dari kejauhan Monster itu sedang bangkit kembali lalu berteriak keras karena marah.
HUUURGGHH!!!
“Berisik sekali, mungkin ini akan sedikit menenangkanmu.”
Akira menatap tajam ke arah leher Monster dihadapannya lalu mengucapkan,
“Wind Blade."
Tanpa jeda, tangannya yang seperti pedang tersarung langsung dihunuskan ke depan, tepat mengincar leher Monster itu.
Monster itu menyadari sesuatu yang aneh dari kejauhan membuat ia melihat ke arah Akira, namun—
CRASSSHH!
Dalam waktu singkat, kepala tikus itu terjatuh bersamaan dengan tubuhnya yang mengeluarkan banyak darah bercucuran kemana mana.
Sedikit jauh dari tempat monster itu berada, yang lain melihat kejadian itu.
“Apa yang terjadi?” tanya Amamiya dengan kebingungan.
Kato yang berada di sebelah Amamiya sedikit berkeringat dan tersenyum tipis sambil melihat jauh ke arah tebing tempat Akira berada.
“Apa lagi kalau bukan ulahnya.”
Di tebing, Akira hanya berdiri diam dengan muka datar seolah tak terjadi apa-apa ketika melepaskan serangannya.
“Hmm, ini bagus karena aku masih bisa bergerak, tapi..." pikir Akira dengan kaki yang terlihat sedikit gemetar.