Beranjak dari takhtanya sebagai penguasa berdarah di perbatasan selatan.
Lin Xiao kini melangkahkan kaki ke dalam pusaran konspirasi mematikan Kota Awan Suci, tempat di mana eksistensi Jiwa Murni berkeliaran layaknya prajurit biasa dan Empat Sekte Suci mengendalikan langit.
Di musim kedua ini, tirai misteri Makam Para Raja perlahan ditarik lebih lebar melalui sebuah ekspedisi menegangkan ke dalam reruntuhan dimensi kuno yang tidak hanya menguji batas kekuatannya untuk menembus ranah Jiwa Murni, tetapi juga menguak luka, penyesalan, serta masa lalu dari para roh kaisar yang bersemayam di dalam tubuhnya.
Ditemani oleh Xue Mingyue, raksasa setia Meng Shan, dan seorang gadis bercadar misterius yang menyimpan rahasia terdalam dari pusat benua, Lin Xiao harus menyeimbangkan ambisi penaklukannya dengan ikatan emosional yang semakin kuat, membuktikan bahwa di balik arogansi dan kekejaman seorang Kaisar Bayangan, terdapat jiwa manusiawi yang terus berjuang mendobrak takdir para dewa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Malam itu, lima puluh kereta kuda mewah bergerak perlahan melintasi jembatan kristal yang menghubungkan distrik luar dan distrik inti Kota Awan Suci.
Rombongan itu menyamar sebagai kafilah pedagang sutra dari wilayah barat yang sangat kaya raya.
Di dalam kereta utama yang paling mewah, Lin Xiao duduk bersandar sambil menikmati anggur merah kualitas terbaik.
Xue Mingyue duduk di seberangnya dengan mengenakan gaun sutra merah yang sangat menggoda dan topeng setengah wajah.
"Kau terlihat sangat nyaman dengan peran sebagai gundik saudagar kaya ini, Xue'er." goda Lin Xiao memutar gelas anggurnya.
"Tutup mulutmu atau aku akan membekukan anggur itu beserta lidahmu sekalian." ancam Xue Mingyue dengan tatapan tajam yang mematikan.
"Kita menghabiskan jutaan batu spiritual hanya untuk menyuap komandan gerbang agar kafilah palsu ini bisa masuk tanpa pemeriksaan." keluh gadis es tersebut.
"Uang hanyalah batu tidak berguna jika tidak digunakan untuk membuka jalan menuju kekuasaan." jawab Lin Xiao dengan sangat rasional.
Kereta mereka akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan megah berlantai lima yang dihiasi oleh ratusan lampion merah.
Tempat itu adalah Paviliun Teratai Merah, sebuah rumah bordil dan penginapan kelas atas yang sering dikunjungi oleh para tetua sekte.
Meng Shan yang menyamar sebagai kepala pengawal membuka pintu kereta dengan gerakan kaku.
"Tuan, kita sudah tiba di tempat maksiat yang Anda pesan." lapor Meng Shan dengan wajah sedikit memerah melihat para wanita penghibur di depan pintu.
"Kerja bagus, Meng Shan." ucap Lin Xiao turun dari kereta sambil merangkulkan tangannya ke pinggang ramping Xue Mingyue.
Xue Mingyue menegang sesaat, namun dia memaksa dirinya untuk tersenyum manis demi menjaga penyamaran mereka di depan umum.
"Singkirkan tangan kotormu dari pinggangku begitu kita masuk ke dalam kamar." bisik Xue Mingyue di telinga Lin Xiao dengan nada membunuh.
"Aku hanya mencoba menjadi saudagar hidung belang yang profesional, Nona Es." bisik balik Lin Xiao sambil tertawa pelan.
Mereka menyewa seluruh lantai lima paviliun tersebut dengan harga yang sangat fantastis, mengusir semua tamu lain tanpa ragu.
Begitu pintu kamar utama ditutup rapat dan segel kedap suara diaktifkan, Lin Xiao langsung melepaskan rangkulannya dan berjalan menuju balkon.
"Pemandangan distrik inti ini benar-benar membuat mataku sakit karena terlalu banyak emas yang memantulkan cahaya." komentar Lin Xiao melihat ke bawah.
"Fokuslah pada misi utama kita, Lin Xiao." tegur Xue Mingyue melebarkan sebuah peta raksasa di atas meja bundar.
"Ini adalah denah Perpustakaan Rahasia Sekte Langit yang berhasil dicuri oleh mata-mata kita kemarin malam."
Lin Xiao berjalan mendekati meja dan menatap peta yang menunjukkan sebuah pagoda raksasa dengan penjagaan berlapis tersebut.
"Kenapa kita harus repot-repot merampok perpustakaan sekte pembaca buku itu?" tanya Meng Shan menggaruk kepalanya yang botak.
"Karena ototmu yang besar itu tidak akan berguna untuk melawan ahli Transformasi Jiwa di turnamen nanti, raksasa bodoh." jawab Lin Xiao dengan ketus.
"Sekte Langit menyimpan gulungan teknik terlarang yang berisi kelemahan dari hukum Transformasi Jiwa." jelas Xue Mingyue menunjuk titik tengah pagoda.
"Jika kita bisa mendapatkan gulungan itu, Lin Xiao akan memiliki peluang untuk membunuh ketua sekte suci meskipun perbedaan kultivasi mereka sangat jauh."
Lin Xiao menyeringai lebar, matanya memancarkan ambisi gelap yang selalu haus akan kekuatan absolut.
"Persiapan yang sangat matang, aku semakin menyukai caramu bekerja, Xue'er." puji sang Kaisar Bayangan dengan tulus.
"Lalu bagaimana cara Anda melewati formasi tingkat suci yang mengelilingi pagoda itu, Tuan?" tanya Meng Shan penasaran.
"Aku akan masuk lewat pintu depan layaknya hantu kelaparan." jawab Lin Xiao mengeluarkan pedang peraknya dari sarung.
Wush.
Jubah hitam Lin Xiao langsung melebur ke dalam bayangan ruangan, menghilangkan eksistensinya hingga tidak bisa dideteksi oleh indra spiritual mana pun.
"Tunggu aku di sini dan pastikan tidak ada pelayan paviliun yang masuk ke lantai ini." perintah Lin Xiao dari balik kegelapan.
"Jangan mati konyol karena tersandung buku tua di sana." balas Xue Mingyue meminum teh hangatnya dengan anggun.
Tanpa suara sedikit pun, Lin Xiao melompat dari balkon lantai lima dan melayang melintasi atap-atap bangunan di distrik inti.
Kecepatan ilusinya di bawah pengaruh Kaisar Bayangan dan manipulasi ruang Jiwa Murni membuatnya bergerak lebih cepat dari kedipan mata.
Dalam waktu singkat, dia tiba di depan gerbang utama Sekte Langit yang dijaga oleh dua patung singa batu raksasa.
Tring. Tring.
Lapisan energi biru yang transparan menyelimuti seluruh area sekte, menandakan bahwa Formasi Kubah Suci sedang aktif penuh.
"Formasi yang cukup merepotkan untuk ukuran sekte pembuat puisi." batin Lin Xiao bersembunyi di balik bayangan pohon besar.
"Gunakan Rantai Kutukan Makam untuk menyerap energi formasi itu seukuran tubuhmu, bocah." saran Kaisar Pedang Haus Darah dari dalam Dantian.
"Lalu padukan dengan teknik distorsi ruang milik kakek ilusi bintang agar formasi itu tidak menyadari ada lubang yang terbuka." sambungnya memberikan instruksi.
Lin Xiao mengangguk pelan, dia mengangkat tangan kirinya dan memanggil rantai besi hitam pekat dari dalam jiwanya.
Srak.
Rantai kutukan itu melesat tanpa suara, menempel pada lapisan energi biru tersebut seperti lintah yang menghisap darah.
Energi formasi itu mulai tersedot masuk ke dalam rantai, menciptakan sebuah lubang seukuran manusia yang sangat stabil.
"Domain Ilusi Bintang: Manipulasi Ruang Hampa." rapal Lin Xiao dalam hati.
Wush.
Pemuda itu melompat menembus lubang tersebut tepat sebelum energi formasi kembali menutup dengan sendirinya.
Tidak ada alarm yang berbunyi, dan tidak ada penjaga yang menyadari bahwa seekor monster baru saja menyusup ke halaman rumah mereka.
Lin Xiao mendarat dengan ringan di atap sebuah kuil kecil, lalu merayap menuju pagoda raksasa yang menjulang tinggi di tengah sekte.
Pintu masuk pagoda itu dijaga oleh dua orang tua berjanggut putih yang memancarkan aura Jiwa Murni tingkat akhir.
"Penjaga yang cukup solid, tapi aku tidak punya waktu untuk bermain pedang dengan kakek-kakek malam ini." gumam Lin Xiao.
Dia kembali menggunakan manipulasi gravitasi untuk membuat tubuhnya seringan udara, lalu melayang naik ke lantai tertinggi pagoda tersebut.
Kriet.
Lin Xiao membuka sebuah jendela kecil di lantai sembilan dan menyelinap masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi oleh bau kertas kuno.
Ribuan gulungan bambu dan buku kulit monster tersusun rapi di rak-rak kayu yang menjulang hingga ke langit-langit.
Di tengah ruangan itu, sebuah pilar kristal berdiri kokoh, menyimpan tiga buah gulungan emas yang memancarkan cahaya suci.
"Itu pasti gulungan teknik terlarang yang dibicarakan Xue'er." ucap Lin Xiao melangkah mendekati pilar kristal tersebut.
Namun saat dia hendak mengulurkan tangannya, insting membunuhnya mendadak berteriak memberikan peringatan bahaya yang luar biasa.
Sring.
Sebuah pedang energi transparan menebas udara tepat di tempat Lin Xiao berdiri sedetik yang lalu.
Lin Xiao melakukan salto ke belakang, menghindari tebasan mematikan itu dengan gerakan akrobatik yang sangat sempurna.
"Refleks yang sangat mengesankan untuk seekor tikus kecil." suara tua dan serak bergema dari sudut gelap ruangan.
Seorang pria tua keriput dengan mata yang tertutup rapat melangkah keluar dari kegelapan, mengenakan jubah kelabu yang sederhana.
"Aku adalah Penjaga Paviliun Langit, dan kau baru saja melangkah ke dalam makammu sendiri, penyusup." ancam pria tua buta tersebut.
Lin Xiao menyipitkan matanya, merasakan tekanan aura yang memancar dari pria tua itu jauh melampaui Jiwa Murni.
"Tahap Transformasi Jiwa setengah langkah." nilai Lin Xiao dengan senyum psikopat yang mulai mengembang di balik topeng rubahnya.
"Tepat seperti yang aku harapkan dari sebuah sekte suci, kalian selalu menyembunyikan monster tua di loteng rumah kalian."
Pria tua buta itu mendengus kasar, auranya langsung mengunci seluruh pergerakan dimensi di dalam ruangan lantai sembilan tersebut.
"Kau tidak akan bisa melarikan diri menggunakan sihir ruangmu di sini, iblis muda." ucap sang penjaga dengan penuh keyakinan.
"Aku tidak pernah berniat untuk melarikan diri, kakek buta." jawab Lin Xiao mencabut pedang peraknya secara perlahan.
"Aku justru berniat untuk menguji apakah pedangku cukup tajam untuk memotong leher seseorang yang berada di ambang kedewaan."
Pertarungan antara Kaisar Bayangan yang baru naik tahta dan monster tua penjaga sekte akhirnya tidak bisa dihindari lagi.
Malam ini, darah seorang ahli elit akan kembali tumpah untuk menjadi pijakan Lin Xiao menuju puncak dunia kultivasi.