Sebuah novel fantasi mitologi Nusantara (Batak). Berikut salah satu petikannya:
"Sebelum matahari mengenal pagi, langit telah lebih dahulu mengenal doa. Di Banua Ginjang, doa tidak diucapkan melalui bibir, melainkan tumbuh menjadi bunga-bunga cahaya yang bermekaran di antara akar bintang. Setiap kelopaknya membawa harapan, dan setiap harapan akan jatuh ke dunia bawah sebagai embun kehidupan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13. Sidang (Bagian I)
...Sidang para Penjaga Keseimbangan...
..."Semesta tidak pernah retak oleh pertanyaan. Semesta retak ketika mereka yang memegang kebijaksanaan berhenti mendengarkan."...
Belum pernah sejak Deak Parujar dilahirkan, seluruh Lonceng Angin Banua Ginjang berbunyi pada saat yang bersamaan.
Lonceng-lonceng itu bukan dibuat oleh tangan. Ia tumbuh dari bunga kristal yang menggantung di cabang-cabang tertinggi Hariara Bolon.
Biasanya hanya beberapa yang berdenting, mengikuti arah angin. Namun pagi itu, ribuan lonceng berdenting serempak. Tidak keras. Tidak pula mengagetkan, justru terdengar lembut. Seperti panggilan seorang ibu kepada anak-anaknya.
Seluruh penghuni Banua Ginjang menghentikan pekerjaannya. Parhobas Rambu menurunkan tongkat kristalnya. Parmanurung Rambu menghentikan tarian fajar. Siboru Rintik menutup kendi embunnya. Sitabeak Bintang meletakkan serpihan cahaya yang sedang mereka susun. Bahkan Burung Erung yang sedang terbang tinggi segera berbalik menuju Hariara Bolon.
Semua mengetahui arti denting itu. Mulajadi Nabolon memanggil para Penjaga Keseimbangan.
Sidang kali ini tidak dilangsungkan di Balai Hasurungan. Hari itu, seluruh akar Hariara Bolon seakan berubah. Akar-akar raksasa yang biasanya menjulur tenang perlahan melengkung, membentuk lingkaran-lingkaran alami seperti kursi batu yang diselimuti lumut bercahaya.
Cabang-cabang pohon agung itu merapat, menjalin kubah raksasa dari daun-daun zamrud yang memantulkan sinar matahari menjadi ribuan berkas cahaya keemasan.
Air Terjun Cahaya yang mengalir di kejauhan mendadak membelok perlahan. Alirannya melingkari tempat sidang sebelum kembali ke jalurnya semula, seolah turut memberikan hormat.
Puluhan Parjaga Holong berdiri tanpa suara di setiap penjuru. Tubuh mereka yang tersusun dari bayangan mengangkat lentera-lentera biru keperakan. Api di dalam lentera tidak bergoyang sedikit pun.
Hari itu, bahkan angin memilih untuk duduk dan mendengarkan.
...****************...
Satu demi satu para Penjaga Keseimbangan datang. Ompu Sinar melangkah paling awal, membawa tongkat cahaya yang memantulkan warna fajar. Nai Api hadir dengan rambut emasnya yang menyala lembut, menghangatkan udara tanpa membakar. Ompu Tiktik memeluk Jam Pasir Bintang, yang butiran cahayanya mengalir perlahan seperti napas semesta. Nai Tonun membawa gulungan Ulos Cahaya yang belum selesai ditenun. Burung Erung turun dari langit dan bertengger di dahan tertinggi yang menaungi lingkaran sidang.
Terakhir, datanglah Ompu Ragidup. Langkahnya pelan. Mantap. Tatapannya teduh. Namun semua seakan mengetahui, hari ini beliau akan menjadi suara yang paling keras menjaga hukum-hukum lama Banua Ginjang.
Tak lama kemudian, cahaya memenuhi seluruh ruang di bawah Hariara Bolon. Bukan berupa cahaya yang menyilaukan. Melainkan cahaya yang membuat setiap hati merasa dikenal.
Tak seorang pun melihat dari mana datangnya. Tak seorang pun mendengar langkah kaki. Namun seluruh penghuni sidang serempak berdiri. Mulajadi Nabolon telah hadir.
Tidak ada mahkota. Tidak ada singgasana. Yang tampak hanyalah sosok bercahaya yang wajahnya tidak dapat dipandang sepenuhnya, seakan setiap makhluk melihat-Nya sesuai dengan keluasan hatinya masing-masing.
Keheningan turun. Begitu hening hingga jatuhnya sehelai daun Hariara terdengar seperti alunan musik.
"Ompu Ragidup." Suara Mulajadi Nabolon menyapa lembut. Namun memenuhi seluruh Banua Ginjang, "Apa yang menjadi kegelisahanmu?" tanyanya kemudian.
Ompu Ragidup melangkah maju. Beliau membungkukkan badan dengan hormat, "Tuanku... Putri Deak Parujar telah bertumbuh sebagaimana musim bertumbuh. Namun pertanyaan-pertanyaannya telah menjadi gema. Gema itu mulai mengubah cara generasi muda memandang keseimbangan."
Beliau berhenti sejenak, "Aku khawatir... mereka akan memaksa membuka pintu yang belum waktunya dibuka."
Nai Api melangkah maju, "Tuanku... Api memang dapat membakar. Tetapi tanpa api... tidak akan ada kehidupan yang hangat."
Burung Erung menambahkan, "Seekor anak burung yang tidak pernah bertanya tentang langit... tidak akan pernah berani meninggalkan sarangnya."
Ompu Tiktik mengusap Jam Pasir Bintang, "Butiran waktu terus jatuh. Tidak satu pun yang dapat dihentikan. Mungkin... pertumbuhan juga demikian."
Namun Ompu Ragidup tetap berdiri teguh dan ia berkata tegas; "Aku tidak menolak pertumbuhan. Aku hanya khawatir, bila pertumbuhan itu lebih cepat tumbuh daripada kebijaksanaan."
Kalimat itu menggantung di udara. Tidak seorang pun dapat segera membantahnya.
Mulajadi Nabolon tidak langsung berbicara. Beliau hanya mengangkat tangan.
Dari salah satu dahan Hariara Bolon, sebuah kepompong kecil perlahan melayang turun. Warnanya keemasan. Terlihat tipis. Di dalamnya tampak seekor kupu-kupu sedang berjuang untuk keluar. Tubuh kecilnya bergerak perlahan. Sesekali berhenti. Lalu kembali mendorong dinding kepompong dengan seluruh tenaganya.
Mulajadi Nabolon memandang para tetua, "Siapa di antara kalian, yang ingin menolongnya?"
Hampir semua tangan terangkat: Nai Api, Nai Tonun, Ompu Sinar. Bahkan Burung Erung mengepakkan sayapnya pelan seakan ingin ikut juga membantu.
Ompu Ragidup ikut mengangguk, "Tentu kami ingin menolongnya."
Mulajadi Nabolon bertanya lagi, "Bagaimana kalian akan menolong?"
Ompu Sinar menjawab, "Kami akan membantu membuka kepompongnya. Agar ia tidak perlu bersusah payah untuk keluar."
Yang lain mengangguk setuju.
Mulajadi Nabolon tersenyum. Beliau menyentuhkan satu jari pada kepompong itu.
Seketika, semua penghuni sidang melihat sebuah penglihatan. Mereka menyaksikan seekor kupu-kupu yang dibantu keluar dari kepompongnya. Ia memang bebas lebih cepat. Namun sayapnya tetap kusut. Tubuhnya melemah. Ia mencoba terbang. Lalu jatuh. Mencoba lagi. Jatuh lagi. Tak lama kemudian, ia berhenti bergerak.
Penglihatan itu lenyap. Keheningan kembali memenuhi lingkaran sidang.
Mulajadi Nabolon berbicara perlahan, "Perjuangan keluar dari kepompong... bukan suatu hukuman. Itulah jalan semesta mengajari sang kupu-kupu untuk dapat hidup, yang membuat darah mengalir ke seluruh sayapnya. Tanpa upaya yang keras dan perjuangan untuk keluar dari kepompongnya, ia tidak akan pernah mampu terbang."
Beliau memandang seluruh Penjaga Keseimbangan, "Kalian ingin melindungi. Itu lahir dari kasih. Sangatlah baik. Tetapi ingatlah... Kasih tidak selalu berarti mengurangi perjuangan. Terkadang... kasih sejati adalah keberanian untuk percaya. Bahwa mereka yang kalian kasihi, mampu bertumbuh sendiri dan berjuang."
Tak seorang pun berbicara.
Ompu Ragidup menundukkan kepala. Bukan karena merasa dikalahkan. Melainkan karena memahami bahwa kasih ternyata memiliki wajah yang lebih luas daripada rasa takut.
Burung Erung menatap langit. Nai Api memejamkan mata. Ompu Tiktik membiarkan sebutir cahaya jatuh dari Jam Pasir Bintang ke telapak tangannya.
Sementara jauh di luar lingkaran sidang, tanpa diketahui siapa pun... Deak berdiri di balik rimbun bunga langit. Ia tidak sengaja mendengar bagian akhir petuah Mulajadi Nabolon.
Bukan seluruh percakapan. Hanya satu kalimat.
..."Kasih adalah keberanian untuk percaya."...
Kalimat itu menetap di dalam hatinya. Ia belum memahami arti kalimat itu sepenuhnya. Tetapi ia merasa, suatu hari nanti, kata-kata itu akan menjadi pelita saat ia harus berjalan sendirian.
...****************...
Sebelum cahaya Mulajadi Nabolon akhirnya memudar, terdengar satu kalimat terakhir, "Besok..." Seluruh Banua Ginjang kembali hening ketika ia melanjutkan berkata: "...biarlah seluruh penghuni Banua Ginjang ikut mendengar."
Lonceng-lonceng angin kembali berdenting. Hariara Bolon menggugurkan tiga helai daun emas. Jam Pasir Bintang mengalir sedikit lebih cepat.
Dan untuk pertama kalinya sejak awal penciptaan, seluruh penghuni Banua Ginjang mengetahui bahwa esok hari akan diadakan Sidang Agung Semesta.
Tak hanya bagi para tetua. Melainkan bagi setiap makhluk yang hidup di bawah naungan Hariara Bolon.
Dan di kedalaman Banua Tonga, riak-riak kecil kembali menari di atas samudra purba.
Seolah dunia yang belum bernama itu, ikut menunggu keputusan yang akan mengubah sejarah semesta.
...****************...
Horas! 🌿
Mauliate godang.. 🤎
📖 Bersambung ke BAB 13, Bagian 2. Sidang Agung Semesta.
😏/CoolGuy//Casual//Shhh/
/Grin//Tongue//Facepalm//Joyful/